Love Me Please, Hubby!

Love Me Please, Hubby!
Fakta Yang Tertunda


__ADS_3

Anton melepas jaketnya. Bukan karena gerah, tapi untuk dipakaikan ke Ana yang masih pingsan. Menurutnya pakaian Ana terlalu terbuka pada bagian atas. Ia meraih tas Ana dan dikalungkan di lehernya. Meski agak ragu, akhirnya ia tetap menggendong Ana ala bridal.


Ia terus berjalan tanpa peduli reaksi orang-orang yang melihatnya. Ia hanya fokus dengan tujuannya: membawa Ana pulang! Tidak seperti saat ia datang, saat ia pulang, tak ada hambatan yang berarti. Ia dengan leluasa meninggalkan diskotik dengan aman dan lancar.


"Ana kenapa?" tanya Nabila yang memergoki Anton membawa Ana.


"Bukan urusanmu. Minggi!" seru Anton dengan wajah kesal.


Anton segera memasukkan Ana ke mobilnya yang diparkir sembarangan. Jangankan parkir yang benar, sebelumnya pikiran Anton adalah membawa Ana pulang dengan selamat.


"Menyusahkanku saja!" keluh Anton saat memasang seatbelt Ana.


Beberapa pengawal masih standby mengawasi gerak-gerik Anton. Anton tak terlalu memperhatikan mereka. Ia segera melajukan mobilnya secepat mungkin agar segera sampai rumah. Namun tetap sesuai protokol keamanan mengendarai mobil ya.


"Tidak ku sangka, wanita ini hampir saja celaka. Apa jadinya dia jika aku tak datang tepat waktu tadi? Argh, membayangkannya saja sudah membuatku bergidik dan kesal. Keputusanku menyelamatkan dia sudah benar. Meski harus repot membujuk Alana yang pasti akan merajuk." ujar Anton.


Anton memberhentikan mobilnya tepat di teras rumah. Ia segera menurunkan Ana dari mobilnya. Karena Ana masih pingsan, mau tak mau ia tetap menggendongnya. Tidak berat baginya menggendong Ana yang badannya langsing.


"Apa semua orang di rumah ini sudah tidur?" tanya Anton pada dirinya sendiri.


Anton membaringkan tubuh Ana di ranjangnya. Ia melepas sepatu Ana dengan hati-hati. Selanjutnya ia membuka dress Ana. Menggantinya dengan baju tidur agar nyaman saat tidur nanti. Tak lupa ia mengelap wajah dan tubuh Ana dengan hati-hati agar tak membangunkan Ana.


"Bajumu sudah ku ganti. Jangan tanya kenapa aku bisa melakukannya tanpa seizinmu! Pasti nanti jawabanku adalah karena kamu milikku! Aku sudah pernah melihat tubuhmu, jadi jangan sampai kamu nanti bilang risih atau semacamnya yah! Sekarang kamu bisa tidur dengan nyenyak. Tak ada b*jingan yang akan mengganggumu." kata Anton.


Anton menelpon Alana yang tak kunjung membalas pesannya.


"Kan benar dia marah. Ana, kamu berhutang budi denganku hari ini. Suatu saat aku akan minta balasan yang setimpal!" seru Anton.


Anton keluar dari kamarnya. Ia kembali ke mobilnya sembari berusaha menelpon Alana.


"Dia kemana sih? Kenapa tak menjawab telponku? Pesanku juga hanya dibaca." gumam Anton.

__ADS_1


Anton menyalakan mesin mobilnya. Tapi sebelum ia melajukan mobilnya, Arga membuka mobilnya dan menyuruhnya turun.


"Aku mau bicara! Turun!" perintah Arga.


Meski bingung, tapi Anton menuruti perintah sang kakak. Mereka berdua duduk di bangku yang berada di teras rumah.


"Kakak ada apa?" tanya Anton.


"Kamu mau pergi menemui Alana?" Arga balik tanya.


Anton hanya mengngguk dan memainkan kunci mobilnya.


"Jangan temui dia lagi!"


"Apa masalahnya? Toh Ana sudah tau tentang kami." ujar Anton.


Arga menyerahkan amplop coklat kepada Anton. Meski ragu, tapi Anton tetap menerimanya. Anton menatap Arga dan Arga mengangguk. Mengisyaratkan untuk segera membuka amplop itu


Anton membuka amplop coklat dengan penasaran apa isinya. Perlahan ia mengintip. Lalu dikeluarkan isi di dalamnya. Ternyata isinya adalah foto-foto Alana bersama pria lain yang berbeda-beda.


"Kakak? Ini beneran Alana? Ini pasti editan kan Kak? Kakak sengaja membuatku menjauhi Alana kan? Ayolah Kak, Anton yakin Alana bukan seperti yang ada di foto ini. Ini pasti bukan Alana!"


"Aku berharap juga demikian. Ini semua rekayasa dan editan seperti yang kamu bilang. Tapi kenyataannya memang seperti itu. Itu dia yang sesungguhnya!" kata Arga.


Hancur sudah hati Anton. Bagaimana tidak, wanita yang digadang-gadang akan menjadi ratu di istana hatinya suatu saat nanti, ternyata adalah seorang kupu-kupu malam. Anton tak perlu tau alasan apa yang melatarbelakangi, yang jelas profesi Alana sangat memalukan baginya.


"Sekarang terserah padamu. Mau tetap mengejar wanita itu atau menjauhinya. Kakak sudah menceritakan kenyataan yang harus kamu tau dan memperingatimu." ucap Arga.


"Aku tetap harus menemuinya!" seru Anton.


"Kalo sekarang sepertinya sulit. Dia sedang ke luar kota." kata Arga serius.

__ADS_1


"Kemana?" tanya Anton.


"Aku taunya kota P. Tapi nggak tau juga. Aku nggak mau menyelidikinya lebih lanjut. Takut makin sakit hati. Cukup kakak saja yang sudah dibodohinya. Kamu jangan yah." jawab Arga.


"Huft..." Anton menghembuskan nafasnya.


"Sudahlah, lebih baik kamu masuk saja dan istirahat. Jaga istrimu. Dia lebih membutuhkanmu sekarang. Untuk meminta penjelasan Alana, masih bisa diwaktu lain. Ayo masuk!"


Arga masuk lebih dulu. Anton frustasi setelah mendengar cerita dari sang kakak. Sulit baginya untuk percaya. Tapi ia yakin Arga tak akan membohonginya. Ucapan sang kakak selalu bisa dipercaya. Akhirnya Anton tak jadi pergi, ia masuk ke rumah lagi.


Anton sudah berada di kamarnya lagi. Ia mencuci wajahnya di toilet dan berganti baju tidur. Ia ikut merebahkan tubuhnya bersama Ana yang lebih dulu tidur di ranjang yang sama.


"Memang, rasa cintaku pada Alana tak sekuat dulu. Tapi tetap saja aku tak terima setelah tau cerita aslinya. Kenapa dia sejahat dan semurah itu? Apa materi dan kenyamanan yang ku berikan tak cukup? Dia sudah punya segalanya. Masih kurang apa lagi?" tanya Anton pada dirinya sendiri.


Lalu Anton menoleh ke samping. Ada Ana yang masih tidur.


"Tidur pun terlihat cantik. Bahkan aku sudah membersihkan make up di wajahnya. Tanpa make up pun, semua orang pasti akan menilainya kalo dia memang cantik. Apa susahnya sih aku bisa mencintainya?" ujar Anton pelan.


Anton merapikan anak rambut yang menutupi pipi Ana. Perlahan ia membelai pipi Ana. Tanpa sadar ia tersenyum.


"Apa yang sudah ku pikirkan?" Anton menarik kembali tangannya, membenarkan posisi tidurnya dan menyelimuti dirinya sendiri dengan selimut yang dipakai Ana.


Menjelang pagi, Ana membuka matanya. Samar-samar ia yakin sudah berada di kamarnya. Tapi ia ingat terakhir kali sedang berada di pesta ulang tahun teman Nabila.


"Bagaimana aku bisa sudah sampai di kamar? Seingatku masih berada di diskotik. Aku lagi pesan minum. Setelahnya nggak inget lagi. Dan ini..."


Ana dipeluk Anton yang masih tidur. Ana tak bisa bergerak. Anton benar-benar memeluknya dengan erat.


"Tidur lagi! Ini belum pagi." perintah Anton dalam keadaan masih menutup matanya.


"Ba... Baiklah." kata Ana menurut.

__ADS_1


Ana kembali memejamkan matanya. Diakuinya, ia juga masih sedikit mengantuk dan kepalanya masih pusing. Mereka pun tidur dengan posisi Anton memeluk Ana. Kenapa Ana tidak memberontak? Karena Ana tak berhak menolak sentuhan dari suaminya. Setidaknya Ana diajarkan itu oleh agama dan nasihat sang papa.


__ADS_2