Love Me Please, Hubby!

Love Me Please, Hubby!
Pengakuan Ana


__ADS_3

Sebagai kakak ipar yang baik, sebenarnya Arga tak mau ikut campur terhadap permasalahan Ana dan Anton. Tapi karena ia sangat mengkhawatirkan keberadaan Ana, terpaksa ia menanyakan secara langsung pada Ana.


Dengan Arga, Ana tak bisa menyembunyikan keberadaannya. Ana terang-terangan menyebutkan lokasi hotel tempatnya menginap. Dengan catatan, jangan sampai Arga atau yang lainnya menemui Ana. Ana memang dalam posisi sulit untuk ditemui. Sebab luka di tubuhnya masih dalam proses penyembuhan.


Pagi ini, Ana hanya bersantai di dalam kamar hotelnya. Tak ada aktivitas penting seperti biasanya. Tak ada lagi mempersiapkan keperluan Anton sebagaimana biasanya ia lakukan. Hari ini Ana benar-benar bebas tanpa tuntutan.


Sebenarnya, meski ia kesal dengan perlakuan Anton, Ana masih menyimpan rindu dengannya. Terlebih ada pengikat hubungan di antara mereka. Ya, janin di perut Ana.


"Oh, jadi kamu bersantai di sini?"


Ana segera bangkit dari ranjangnya. Kaget melihat kedatangan seseorang yang baru saja ia pikirkan.


"Ka... Kamu?" tanya Ana.


"Kenapa? Tak menyangka aku bisa datang ke sini menemuimu?" tanya Anton.


Ana terdiam. Sesaat kembali ingat pada Arga yang pasti membocorkan keberadaannya pada Anton.


"Kak Arga yang memberitahuku. Aku sangat berterima kasih padanya. Bagaimana? Aku beruntung kan punya Kakak sebaik dia?"


Anton mendekati Ana. Ana sedikit menghindar. Tapi dengan sigap, Anton berhasil memeluk Ana. Awalnya Ana berharap Anton akan meminta maaf padanya. Terlebih Anton membelainya perlahan. Namun Ana salah besar. Anton hanya mengelabuhi Ana.


Tanpa aba-aba, Anton segera mencekik Ana. Kembali melakukan kekerasan pada Ana. Tak peduli meski luka sebelumnya masih membekas di tubuh Ana.


"Aku kesal setiap melihatmu begini. Aku kesal melakukan kebodohan ini. Aku tak berniat menyakitimu. Tapi, dendamku seakan tak terbalas jika ku diamkan saja dirimu!" seru Anton.


Ana hampir kehilangan nafasnya sebelum akhirnya Anton melepaskan cengkeraman tangannya di leher Ana.


"Aku tak tau apa salahku. Tapi kenapa kamu tega menyakitiku? Aku istrimu!" teriak Ana.


Ana pun menangis. Menahan sakit sekaligus perih luka di hati. Anton kasian melihat Ana menangis. Tapi emosinya yang sudah bercampur dendam, seakan membutakan mata hatinya.


"Ada baiknya kamu tak pulang. Sehingga keluargaku tak tau wujudmu sekarang. Lihat saja, betapa berantakannya dirimu sekarang. Aku hampir tak mengenalimu." ejek Anton.


Ana mengelap sisa air mata di pipinya.


"Aku salah besar sudah menjatuhkan hatiku padamu. Tapi biarlah, suatu saat nanti kamu akan menyesal. Kamu akan bersujud memohon ampun padaku." lirih Ana.


"Apa? Kamu? Tak mungkin!" sergah Anton.

__ADS_1


Anton kembali mendekati Ana. Ana menghindari Anton dengan bangkit dari ranjangnya. Tapi sia-sia saja. Anton kembali menangkapnya dan berhasil mengunci Ana dalam kungkungannya.


"Apa lagi? Kamu belum puas menyakitiku? Tolong jauhkan tubuhmu itu dariku. Perutku sedang sakit sekarang!" seru Ana.


Sebenarnya bukan sakit. Tapi Ana takut jika tanpa sengaja Anton menyakiti janin di perut Ana. Ana pun tak mau mengungkap keberadaan janin itu. Ana masih ingin menyembunyikan fakta bahwa dia sedang hamil.


"Kamu sedang sakit yah? Tapi kenapa yah, aku ingin menidurimu sekarang? Apa kamu terlalu menggemaskan? Uhm, pesonamu masih terpancar dengan jelas meski wajahmu banyak goresan luka lebam." kata Anton.


"Kamu mau apa?" tanya Ana.


"Aku bilang, aku mau tidur denganmu sekarang. Mau tak mau, suka tak suka, bukankah sudah jadi kewajiban bagimu untuk menuruti kemauanku itu? Iya kan?"


Ana berusaha menjauhkan tubuhnya dari Anton. Tapi tak bisa. Bahkan Anton sudah berhasil melucuti baju tidur Ana.


"Wah, terlihat beberapa luka memar di beberapa titik. Aku rasa karena kulitmu terlalu putih saja. Bersiaplah, aku akan memberikan kenikmatan dunia untukmu." kata Anton menyeringai.


Ana pasrah menerima perlakuan Anton. Menolak pun percuma. Tak ada alasan bagi Ana menolak berhubungan badan dengan Anton.


"Kenapa? Bukankah biasanya kamu selalu bahagia setelah kita bercinta? Kenapa kamu seperti kesakitan begitu?" tanya Anton.


"Gapapa. Perutku sedikit kram. Pergilah!"


"Aduh, sakit banget. Apa aku telpon Jane ya?"


Ana segera meraih ponselnya dan menghubungi dokter Jane.


"Jane, perutku sakit. Bahkan lebih sakit setelah berhubungan intim dengan suamiku. Lalu, keluar flek juga. Apakah keadaan ini berbahaya?" tanya Ana.


"Menurutku, kamu kurangi aktivitas bercintamu dulu. Janinmu mungkin butuh penyesuaian. Jadi, jangan terlalu sering bercinta. Bercinta pun dalam batas aman. Jangan gunakan gerakan liar yang membahayakan kandunganmu. Mengerti?"


"Apa sih. Aku akan menjaganya." kata Ana.


Ana menutup panggilan telponnya. Percakapan Ana dan dokter Jane didengar oleh Anton.


"Kamu sedang hamil?" tanya Anton.


"Iya. Aku hamil." jawab Ana.


"Kenapa tak memberitahuku?" tanya Anton.

__ADS_1


"Apa gunanya? Kamu bahkan tega menyiksaku semaumu. Apa gunanya kamu tau?"


"Apa itu darah dagingku?" tanya Anton.


"Kamu gila ya? Dengan siapa lagi aku bercinta selain denganmu?"


"Aku tak yakin. Beberapa waktu yang lalu, seseorang mengirim foto mesramu bersama pria yang bahkan tak ku ketahui wajahnya. Kamu sudah pasti berselingkuh dariku."


"Mas Anton, aku tak pernah bermesraan dengan pria lain seperti yang kamu bilang. Aku masih menjaga kehormatanku sebagai istrimu." kata Ana.


"Omong kosong! Kamu memberikan senyuman manismu untuk pria lain. Kamu pikir aku tak cemburu? Aku kesal dan hampir gila. Tak heran aku menghajarmu karena itu."


"Tapi aku tak pernah menghianatimu."


Anton kembali menampar pipi Ana. Ana menangis menahan kesakitan.


"Sakit Mas...." rintih Ana.


"Aku tak ingin menyakitimu. Tapi begitu mengingat kamu bermesraan dengan pria lain, aku sangat kesal. Jika tau siapa pria itu, aku akan membunuhnya."


"Bunuh saja aku. Aku juga tak punya harapan hidup bahagia bersamamu. Bahkan pengakuan hamilku pun tak ada gunanya bagimu!" kata Ana.


"Bunuh? Aku tak bisa membunuhmu! Siapa lagi yang akan memuaskanku jika bukan dirimu? Aku masih membutuhkanmu." kata Anton.


"Aku lelah disakiti lahir batin seperti ini. Atau ceraikan saja aku! Mungkin lebih baik kita berpisah saja daripada bersama tapi membawa luka."


"Tidak Sayang. Sayang sekali jika harus melepaskanmu semudah itu. Bahkan seumur hidupku aku ingin kamu tetap bersamaku."


"Mas... Aku tertekan jika kamu memperlakukanku seperti binatang. Aku lelah. Dalam keadaan hamil begini, harusnya sebagai suami kamu lebih perhatian padaku. Bukan sesukamu menyakitiku. Aku lelah Mas..." rintih Ana.


"Meski aku ingin peduli, untuk saat ini aku akan mengabaikanmu!" kata Anton.


"Mulai saat ini, aku akan menganggap aku sebagai wanita tak bersuami. Ada suami pun tetap saja aku harus berjuang sendiri. Suami tak berguna!" umpat Ana.


"Apa kau bilang? Suami tak berguna? Ayo katakan sekali lagi?" tantang Anton.


"Iya, kamu suami tak berguna!" seru Ana sambil mengelus perutnya yang nyeri.


"Sumpah ya, aku ingin sekali menendang tubuhmu yang polos itu. Berhubung tubuhmu sudah lemah, maka akan aku maafkan kali ini. Jangan harap aku akan melepaskanmu. Ingat, tetaplah di sini! Karena kemana pun kamu pergi, aku pasti akan menemukanmu dengan mudah!" ancam Anton.

__ADS_1


__ADS_2