
Setelah tau bahwa hubungan percintaan kakaknya dan Alana telah putus, Anton mengatur pertemuan dengan Alana. Mereka membuat janji temu di sebuah cafe yang terkenal dengan sebutan Cafe Sultan.
"Tumben kamu mengajakku ketemuan secara privasi begini. Apa ada hal penting?" tanya Alana to the point.
"Sebelum berbicara lebih jauh, aku ingin bertanya. Apakah kamu dan kakakku sudah putus?" tanya Anton.
"Jauh-jauh kita ke sini hanya ingin bertanya tentang itu? Hahaha... Jujur iya! Aku sudah putus dengan kakakmu! Sejak kemaren kami sudah putus. Alasannya adalah..."
"Kamu minta dibeliin penhouse yah?" tanya Anton memastikan.
"Iya itu benar. Penhouse sengaja aku sebut karena tak ada pilihan lain. Aku sudah bosan berpacaran dengan pria macam kakakmu itu. Kakakmu terlalu over protektif dalam segala hal. Dia kaku, keras kepala, dan terlalu mengatur hidupku. Aku sudah nggak tahan terus menjadi kekasih yang terluka. Makanya aku pilih putus hubungan dengannya. Buat apa aku menginginkan penhouse? Apartemen saja sudah sangat istimewa bagiku. Terlebih apartemen yang aku tempati sekarang, boleh dibilang sangat elit. Masih untung banyak jika aku bisa menjualnya. Aku tak sematre itu!" tegas Alana mencoba membantah.
"Kamu sering minta hadiah sama kakakku?" tanya Anton lagi.
"Hadiah mahal dari segi nominal. Untuk urusan perhatian, cinta, kasih sayang, dan waktu misalnya, jauh lebih berharga. Aku pun sering memberinya hadiah yang mahal juga. Orang bilang ekonomi sulit, gaya selangit, tapi bikin hutang menjerit. Oh tidak!" kata Alana.
"Kamu tak mencintai Kakakku?"
"Ya aku menyukainya. Gatau kalo masalah cinta. Rasanya aku tak secinta itu dengan kakakmu." ujar Alana dengan senyum yang tak bisa diartikan.
"Lalu kamu mencintai siapa?" tanya Anton penuh harap.
"Aku mencintaimu, Anton!" seru Alana.
Anton membelalakkan matanya. Ia tak percaya jika Alana yang selama ini dicintainya juga turut mencintainya.
"Kenapa?" tanya Anton lagi.
"Tak perlu kau tanyakan lagi. Wanita mana yang bisa menolak pesonamu? Ketampananmu terkadang hanya tersembunyi di balik topengmu. Kamu cuek, dingin, kaku, mana ada yang berani terang-terangan mengaku mencintaimu?" jawab Alana.
"Tapi tidak dengan Ana. Dia sama sekali tak mencintaiku." ujar Anton.
"Lalu apakah kamu juga mencintaiku?" tanya Alana dengan tatapan manja.
Deg. Anton tak bisa berkutik lagi. Masih ada cinta di hatinya untuk Alana. Itu benar.
"Aku juga mencintaimu." jawab Anton.
__ADS_1
"Tapi kenapa ekspresimu tak mengartikan kamu mencintaiku?"
"Karena aku sudah menikahi wanita lain. Tak mungkin aku sesenang itu mengaku cinta padamu." kata Anton.
"Lalu, apakah kita harus berkencan?" tanya Alana menggoda.
"Aku tak mau menyakiti yang lain. Mungkin Ana akan biasa saja. Tapi bayangkan bagaimana reaksi Kak Arga saat tau hubungan kita?"
"Rahasiakan saja dari mereka!" tukas Alana.
...****************...
Ana menyisir rambut panjangnya yang sedikit basah karena keramas. Ia mengingat betapa lelahnya aktivitas syutingnya tadi siang. Adegan berlarian kesana dan kemari membuatnya kelelahan. Untung saja tadi ia sempat dipijat oleh tukang pijat langganan Nabila.
Anton masuk ke kamar. Baik Anton dan Ana tak saling sapa. Lalu Anton merebahkan tubuhnya di ranjang. Ana hanya meliriknya dari pantulan. cermin di depannya.
"Bagaimana bisnis yang kamu jalankan bersama Papa Mirza dan Papaku? Apakah lancar?" tanya Ana.
"Hmm..." hanya itu jawaban Anton.
Anton masih memejamkan matanya. Pertanyaan Ana ibarat angin lalu yang akan segera memuai oleh masa.
Anton sebenarnya mendengar perkataan Ana, tapi sudah sangat malas untuk meladeni Ana yang baginya sok akrab. Lalu Ana menuju ranjangnya, di sebelah Anton. Tentu saja masih ada batas guling di antara mereka berdua.
Tak lama kemudian, ada notifikasi pesan di ponsel Anton. Anton segera mengecek ponselnya. Sebuah senyuman terukir di bibirnya.
"Aku mau pergi dulu!" ujar Anton sambil mengambil jaketnya yang digantung di dalam lemari.
"Mau kemana? Bukankah kamu baru pulang?" tanya Ana penasaran.
"Bukan urusanmu!" jawab Anton dingin.
"Apa salahnya? Kan aku hanya bertanya. Sesusah itukah untukmu menjawab?" tanya Ana.
"Bukan perkara receh untuk kamu ketahui. Pergi saja tidur dan bermimpilah bertemu pacar khayalanmu! Karena suami nyatamu ini akan..." tak diteruskan oleh Anton.
'Karena suami nyatamu ini akan bertemu pacar rahasianya!' batin Anton.
__ADS_1
Ana hanya menghela nafas. Ia tak mengerti kemana arah pembicaraan Anton Pacar mana yang ia maksudkan. Tapi Ana tak mau bersitegang dengan mengutarakan pertanyaannya lagi. Dibiarkan Anton pergi begitu saja.
Tengah malam Ana terbangun dari tidurnya. Ia mengerjapkan matanya. Silau karena efek cahaya lampu yang begitu terang benderang. Lampu kamar masih menyala dan Anton tak terlihat di sebelahnya.
'Apakah dia belum pulang?' batin Ana.
Karena pintu menuju balkon kamarnya terbuka, ia lantas berinisiatif untuk menutupnya. Tanpa disangka ia melihat Anton tengah bertelepon dengan seseorang. Ana mengendap-endap mendekatkan dirinya di balik pintu yang terbuat dari kaca itu.
Sayup-sayup Ana mendengar Anton sedang mengobrol dengan wanita. Terdengar dari suara tertawa dari seberang telepon. Ia tak begitu jelas apa yang mereka obrolkan. Hanya saja Anton terlihat begitu bahagia dan antusias. Berbeda saat ia mengobrol dengan dirinya.
Ana memutuskan kembali ke ranjangnya. Ia hendak melanjutkan tidurnya kembali. Namun karena rasa penasaran tentang siapa wanita yang mengobrol dengan Anton via telepon, ia kesulitan tidur. Memejamkan mata hanya menambah rasa penasarannya.
"Ada apa?" tanya Anton yang sudah masuk ke kamar dan bersiap untuk tidur.
"Kamu sudah pulang?" kata Ana balik tanya.
Ana gugup melihat Anton sudah berada di dekatnya. Ia langsung duduk dan mencoba bersikap tenang. Jangan sampai Anton tau jika ia baru saja mendengarvpercakapan Anton dam seorang wanita via telpon.
"Iya. Ada apa? Apa kamu menungguku?" tanya Anton lagi.
"Ti... Tidak. Aku hanya kepikiran sesuatu. Sudahlah, jangan pikirkan aku." jawab Ana.
Ana kembali merebahkan tubuhnya. Ia membelakangi Anton.
'Sebenarnya siapa wanita itu? Apakah itu Alana? Aku hanya tau Anton mencintai Alana dan Alana bahkan sudah putus dari Kak Arga. Apa iya antara Anton dan Alana terjadi sesuatu? Mereka berkencan misalnya?' batin Ana.
Ana membolak balikkan badannya. Dirinya tak tenang meski hanya membayangkan.
"Aku terganggu dengan pergerakanmu!" ujar Anton.
"Aku kesulitan tidur." kata Ana.
Mereka saling berpandangan. Ana ingin bertanya tentang rasa penasarannya. Tapi ia tak sampai hati menanyakannya pada Anton. Mana bisa ia berlagak sebagai istri yang mengintrogasi suaminya. Mereka saja hanya suami istri bisnis. Apapun yang dilakukan tak masalah asalkan bisnis tetap berjalan.
"Tanyakan jika ada sesuatu yang perlu ditanyakan!" perintah Anton.
"Tidak." kata Ana.
__ADS_1
Kemudian ada notifikasi pesan di ponsel Anton. Anton dengan sigap membuka pesan itu. Ana ikut melihat dari samping. Pesan yang diterimanya adalah pesan dari Alana. Dari sinilah Ana mulai berpikiran hal yang aneh-aneh mengenai Anton dan Alana. Tentang mereka yang berkencan dan tentang mereka yang merajut asmara.