
Sore harinya, Anton lebih dulu bangun daripada Ana. Tapi ia enggan bangun. Tiba-tiba rasanya malas untuk beranjak dari ranjangnya. Ia masih betah memeluk Ana yang sedang pulas tertidur. Berkali-kali ia ganggu, Ana tak kunjung membuka mata.
Anton meraih ponselnya di nakas. Ia memfoto dirinya berdua dengan Ana. Kebetulan posisi mereka sangat intim meski sedang berpakaian lengkap. Lalu tak lupa mengunggahnya di status WA. Sebenarnya tujuan awalnya hanya ingin memperlihatkan kemesraan hubungan mereka untuk kedua keluarga besar. Sayangnya ia lupa jika Alana sudah pasti akan melihatnya juga.
Tak lama dari ia memposting foto, Alana langsung menghubungi Anton. Alana marah dan tak terima. Anton membujuknya bahwa apa yang ia lakukan hanyalah kamuflase agar terlihat baik di mata keluarga besarnya. Akhirnya Alana mentoleransi alasan Anton dan berbaikan lagi.
Ana membuka matanya. Dalam sayup-sayup setengah sadarnya, ia disuguhi wajah tampan. Ana tersenyum manis. Beberapa detik kemudian ia melotot tajam. Sudah sadar bahwa wajah tampan yang dilihatnya adalah Anton.
"Astaga, bayanganku aku melihat Chanyeol EXO. Ternyata aku salah paham. Minggir sana, kenapa juga masih memelukku begini? Bukannya di belakangmu itu ada guling yang empuk?" seru Ana.
Anton berusaha menahan tawanya, tapi kelepasan juga. Ia menyentil jidat Ana. Ana mengaduh meski tak sakit.
"Kamu pergi saja deh! Aku nggak nyaman nih. Lebih baik sendiri bisa bebas sesuka hati. Daripada begini, harus jadi wanita pengganti." keluh Ana.
"Kan sudah aku bilang, lupakan tentang cinta. Kita kan tak saling mencintai. Jadi anggap saja kita sedang berada dalam satu tim yang sama. Oh iya, karena kamu aktris, aktingmu pasti lebih bagus dari aku. Jalankan saja sesuai rencana. Pastikan keluarga besar kita masih menganggap kita adalah pasangan yang serasi, harmonis, dan berbahagia." kata Anton.
"Huft... Bisa-bisanya orang sepertimu menasehatiku. Percuma juga jika kita berakting bagus tapi kebusukanmu kamu umbar di publik!" ujar Ana.
"Oh tidak! Aku takkan posting kisah cintaku dengan Alana. Sebaliknya, aku akan memperbanyak postingan kisah cinta palsu kita. Anggap saja demi konten!" ucap Anton santai.
"Kamu sepertinya sudah kehilangan otakmu!" ledek Ana dan beranjak dari ranjangnya.
"Mau kemana?" Anton mencekal tangan Ana.
"Aku mau ke bawah. Aku mau menemui Papa. Sudah lama aku tak berjumpa dengannya."
"Nanti saja. Aku masih ingin bermain-main denganmu."
"Hah? Mau mergerjaiku lagi? Oh tidak! Ini aja masih sakit bukan main. Masih mau nambah lagi." tolak Ana.
"Makanya jangan ditolak. Lakukan dengan sukarela dan senang, nanti pasti akan jadi enak. Nggak ada sakit sama sekali. Coba lagi deh!" ujar Anton dengan tatapan nakal.
__ADS_1
"Nggak mau!" Ana tetap bersikukuh.
"Ini perintah! Suka atau tidak suka, kamu harus menurutiku. Coba saja adukan pada Papamu, pasti kamu akan diminta menurutiku." kata Anton percaya diri.
"Oh ya? Apa perlu aku ceritakan tentang perselingkuhanmu dengan Alana?" ancam Ana.
"Ya itu jika kamu memintaku bercerai lebih awal. Tapi sepertinya kamu nggak akan melakukannya. Pernikahan ini kan harapan keluarga kita. Terlebih antara Papamu dan Papaku. Yakin mau buka aibku secepat itu?" ujar Anton.
Ana meremas bajunya. Kesal semua ancamannya tak mempan bagi Anton.
"Terserahlah, lalukan sesuka hatimu. Aku lelah menghadapimu!"
"Jangan pergi! Siapa yang mengizinkanmu pergi? Tetaplah di sini!" seru Anton.
Ana akhirnya mengalah. Duduk kembali di ranjangnya. Anton tersenyum penuh kemenangan.
"Sesungguhnya apa yang ingin kamu cari? Kamu hanya memanfaatkan tubuhku demi tujuan tak pastimu. Tubuhku hanya sarana mencapai klimaksmu bukan?" tanya Ana.
"Kenapa ada manusia semenyebalkan dìrimu? Andai saja kamu punya sifat setengah dari Kak Arga saja. Atau seperempat dari pembawaan positif dari Andre. Aku pasti tak terlalu menyesal hidup bersama denganmu. Ini udah sifat dan perilakunya buruk, ditambah lagi kebiasaan buruk pula. Berselingkuh. Menjijikkan!"
"Ana, kamu tak tau apa-apa! Orang sepertimu mana tau cinta sejati. Bagiku, cinta sejati adalah bayaran pengorbanan yang senilai dengan harga nyawa. Aku sangat menghargai Alana. Dialah yang pernah menolongku saat aku masih kecil. Aku dulu pernah pingsan di jalan. Dialah yang mengantarku menuju rumah sakit untuk pengobatan. Padahal dulu dia sangat ketakutan melihat darah di jidatku. Tapi dibiarkan begitu saja. Aku bahkan selalu ditemaninya hingga sembuh."
Ana tampak penasaran dengan cerita Anton.
"Aku pikir karena hubungan kami dekat, dia hanya menganggapku sebagai sahabat. Sampai suatu ketika, Kak Arga mengutarakan perasaan cinta padanya. Dan yah, setelah itu mereka pacaran. Selama beberapa tahun itu, aku seperti tertekan saat melihat keakraban hubungan mereka. Bayangkan saja, gimana perasaanmu jika jadi aku? Ah, maaf! Kamu pasti tau rasanya sekarang. Memiliki suami yang tak mencintaimu. Sudahlah, kamu temui saja Papamu. Aku mau bersantai di sini dulu!" ujar Anton.
Ana bangkit dari ranjangnya. Segera ke luar untuk menemui Pak Radit di ruang kerjanya.
"Papa....!" panggil Ana pada papanya yang sedang membaca indeks perkembangan saham perusahaan.
"Oh putri kesayanganku. Kemarilah Nak!" seru Pak Radit bahagia.
__ADS_1
Mereka berpelukan. Melepas rindu yang tertahan.
"Papa apa kabar? Apa semuanya baik-baik saja? Maaf ya, Ana baru bisa berkunjung dan menginap sekarang. Sebelumnya Ana tak sempat karena..."
"Gapapa. Papa mengerti. Suamimu mana?"
"Dia sedikit pusing, Pa. Makanya tiduran aja sedari tadi. Dia bilang Ana ya yang manja? Padahal dia tuh Pa yang lagi manja-manjanya. Papa pasti capek yah? Ana pijitin yah!"
Dari balik pintu, Anton mengintip kedekatan antara Ana dan sang papa. Ia tak ingin mengganggu mereka. Jadi ia kembali ke kamarnya lagi.
"Apa kamu bahagia?" tanya Pak Radit.
Ana menghentikan pijatannya. Ia berpikir apa jawaban yang pantas ia ucapkan.
"Aku bahagia, Pa. Meski dari kami berdua masih banyak hal yang bertolak belakang. Kami masih berusaha menyatukan visi dan misi demi tujuan yang sama." jawab Ana.
"Papa yakin kalian akan mampu melewati segala bentuk ujian pernikahan. Perbedaan itu pasti. Tapi menyamakan tujuan itu keharusan. Jalur pernikahan kalian memang melalui kesepakatan para orang tua. Papa harap kalian bisa mencari cara untuk meraih kebahagiaan sendiri. Papa belum bisa memberimu banyak bekal ilmu berumah tangga yang baik. Tapi Papa yakin, kalian pasti bisa menghadapinya. Papa percaya karena kamu adalah permata yang bersinar." ujar Pak Radit.
Ana kembali memijat bahu papanya.
"Meskipun di antara kami belum ada kata cinta. Apakah bisa hubungan kami langgeng, Pah?" tanya Ana dengan nada canggung dan malu.
Pak Radit menghentikan pergerakan tangan Ana. Ia menoleh ke arah Ana. Meraih pergelangan tangan Ana dan menatapnya lekat-lekat.
"Ana, lakukan saja tugasmu sebagai istri yang baik. Entah besok, lusa, atau kapanpun nanti, Papa yakin suamimu akan membalasmu dengan menjadi suami yang baik juga untukmu. Jadi kuncinya cuma sabar dan terua berusaha. Jangan menyerah meski ada batu kerikil yang menghadang." ujar Pak Radit.
"Meski Ana harus bercucuran darah sekalipun?" tanya Ana lagi.
"Kamu pandai sekali melebih-lebihkan keadaan. Memangnya suamimu itu pria kasar yang tega menyakitimu? Pokoknya, layani dia. Penuhi segala kebutuhannya. Jangan biarkan dia kekurangan perhatian darimu. Oke?"
"Baik Pa. Terima kasih nasehat bijaknya. Ana akan berusaha menjadi istri yang baik bagi Mas Anton." kata Ana.
__ADS_1