
Mungkin karena di luar sedang hujan dan ditambah suhu AC yang dingin, Ana sudah lebih dulu tidur dengan nyenyak. Ia tak peduli meski seranjang dengan Anton. Ia yakin Anton tak berani macam-macam dengannya.
Sementara Anton yang masih terjaga, sulit memejamkan matanya. Padahal ia sudah mematikan lampu kamarnya dan hanya menyisakan lampu nakas di sebelahnya. Ia membolak-balikkan badannya mencari kenyamanan. Suatu ketika Ana terganggu oleh pergerakan Anton.
"Kenapa ada guncangan? Apa ada gempa?" tanya Ana yang masih memejamkan matanya.
Dalam kondisi setengah sadar, Ana kembali menyelimuti dirinya. Lalu ia melanjutkan tidurnya. Anton yang berada di sebelahnya, hanya menatap Ana tanpa berkata. Ia merasa bersalah sudah mengganggu tidur Ana.
"Apakah semua wanita begitu yah saat sudah tidur?" gumam Anton pelan.
Kini Anton menghadap ke arah Ana yang tidur menghadapnya. Anton memandangi wajah cantik Ana. Meski tanpa polesan make up, kulit wajahnya sudah terlihat cantik. Tanpa sadar ia tersenyum sendirian.
"Mikir apa aku?" tanya Anton menyadarkan dirinya sendiri.
Lalu ia kembali tidur terlentang. Memandangi langit-langit kamarnya. Tiba-tiba ia mendapat kejutan yang tak diduga. Ana memeluknya seperti halnya guling. Terlalu erat, sampai Anton kesulitan bernafas. Namun ia pasrah. Tak mungkin mendorong tubuh Ana begitu saja kan?
Meski dadanya sedikit sesak, tapi ia malah tersenyum melihat kekonyolan Ana yang lepas kendali. Bukankah sebelumnya Ana yang membuat batasan untuk mereka? Tapi kenapa Ama sendiri yang justru melewati batasannya sendiri? Begitu pikir Anton.
Akhirnya Anton berusaha memejamkan matanya. Ia pun membalas pelukan Ana agar Ana tidurnya lebih nyaman. Tadinya ia berniat menggeser tubuh Ana di tempatnya semula, namun diurungkan. Entah kenapa rasanya sulit baginya untuk mengganggu tidur Ana. Jadi dibiarkan saja Ana maunya bagaimana.
Keesokan harinya, Ana bangun lebih dulu. Betapa kagetnya ia mendapati dirinya tidur dalam pelukan Anton. Berkali-kali ia mengerjapkan matanya, tapi tetap Anton yang dilihatnya. Itu artinya ia sedang berada dalam dunia nyata, bukan dunia mimpi.
Ana melihat wajah Anton yang menurutnya tampan. Kulit putih, hidung mancung, bulu mata yang lentik, alis yang tebal, dagu yang kokoh, serta bibir yang seksi. Ana gemas ingin menyentuh wajah itu.
"Sudah puas memandangiku?" tanya Anton dengan mata masih terpejam.
Ana buru-buru memejamkan matanya lagi.
"Tak perlu pura-pura tidur! Buka matamu!" perintah Anton.
Ana membuka matanya. Anton menatapnya dalam-dalam. Ana menjadi salah tingkah dan berusaha melepaskan pelukannya. Tapi nyatanya Anton justru menahannya.
"Ada apa di wajahku? Adakah yang salah menurutmu?" tanya Anton sambil tersenyum nakal.
"Ti... Tidak! Aku hanya kaget bisa berada dalam pelukanmu." jawab Ana.
"Lebih tepatnya kamu yang lebih dulu memelukku. Bukannya kamu sudah menaruh guling di tengah sebagai pembatas? Kenapa bisa melewati batasmu?" tanya Anton.
Ana menundukkan kepalanya. Ia bingung harus menjawab apa. Ia tak ingat bagaimana tidurnya hingga bisa melewati batasannya.
"Maaf. Aku tak sadar sudah melewati batas. Aku pun tak ingat tidurku semalam. Lalu, kenapa kau diam saja saat tau aku melakukan kesalahan? Seharusnya kamu bangunkan aku! Atau kalau kau risih, geser saja tubuhku!" jawab Ana.
"Mana bisa aku sekasar itu!" ujar Anton.
"Kau bisa sedingin itu. Seharusnya pura-pura saja tak peduli!" keluh Ana.
"Ya, itu sudah jelas. Itulah sifatku. Dan lagi, jangan salah paham. Aku memelukmu bukan karena aku ingin. Aku hanya kasian melihatmu." ucap Anton tanpa rasa bersalah.
"Aku tau. Aku juga tak berharap dicintai olehmu. Selama ini aku baik-baik saja tanpa mencintai lawan jenis. Sekarang dan seterusnya pun, aku pasti akan baik-baik saja." kata Ana berusaha tegar.
__ADS_1
"Coba kita lihat nanti. Siapa di antara kita yang lebih dulu mencintai? Aku atau kamu?" kata Anton.
"Pasti kamu yang akan mencintaiku nantinya. Ini hanya masalah waktu." ujar Ana yakin.
"Seyakin itu? Padahal dari matamu, aku tau kamu mengagumiku. Benar kan?" tanya Anton sembari membenarkan rambutnya yang tergerai ke depan.
"Sudahlah. Aku tak percaya dengan penilaian konyolmu. Kamu hanya asal berpendapat." ucap Ana seraya bangkit dari kasurnya.
"Kenapa buru-buru? Mau kemana? Bukankah hari ini kamu tak ada syuting?" tanya Anton.
"Ah itu, aku hanya ingin ke toilet." jawab Ana ngasal.
"Bohong. Kenapa gugup begitu?" tanya Anton.
"Sudahlah! Jangan halangi aku, singkirkan tangan kokohmu itu!" seru Ana.
Setelah Anton melepaskan pelukannya, Ana berlari menuju toilet. Bukannya selamat sampai toilet, ia justru terpeleset. Mungkin rasanya tak sesakit yang dibayangkan, tapi sungguh ia sangat malu pada Anton.
"Makanya hati-hati. Tak perlu berlari. Sini aku bantu!" ujar Anton membantu Ana bangkit dari jatuhnya.
"Aku bisa sendiri. Kamu nggak usah bantuin aku." tolak Ana.
Anton tetap membantu Ana. Ia tak mengindahkan penolakan Ana. Bahkan ia menggendong Ana menuju toilet.
"Loh kok ke sini?" tanya Ana.
"Bukankah tadi kamu mau ke toilet?" kata Anton balik tanya.
Lalu Anton menurunkan Ana di dekat closet dan ia segera keluar.
"Kenapa aku ditinggal? Aku kesulitan jalan. Kakiku masih keram." seru Ana.
Anton berbalik dan mendekati Ana.
"Iya, aku paham kakimu sedang sakit. Lalu apakah aku tetap diijinkan berada di toilet ini bersamamu?" tanya Anton yang membuat wajah Ana bersemu merah.
"Tidak! Silakan keluar!" teriak Ana.
Tiga kali sudah Ana dibuat malu oleh kebodohannya sendiri. Meski status mereka adalah suami istri, Anton tetaplah orang asing bagi Ana.
...****************...
Keluarga Novero sedang sarapan bersama. Semuanya berkumpul tak terkecuali Ana dan Anton.
"Aku udah selesai sarapannya. Boleh nggak Pa, hari ini Andre minta dianter supir aja. Andre nggak mau dianter sama Kak Arga hari ini." pinta Andre.
"Loh kenapa?" tanya Pak Mirza.
"Papa nggak lihat mukanya Kak Arga lagi kusam begitu?" jawab Andre.
__ADS_1
Arga yang disebut namanya tampak diam saja. Masih fokus sama sarapannya.
"Yasudah. Minta tolong dianterin sama Taslim aja!" kata Pak Mirza.
"Makasih Papa..." ujar Andre.
Andre segera berpamitan dan berlalu menuju sekolahnya.
"Kamu kenapa, Arga?" tanya Pak Mirza mode serius.
Arga menghentikan sarapannya. Ia meletakkan garpu dan sendoknya.
"Arga diputusin Alana, Pa." lirih Arga.
Tampak sekali kesedihan dari balik wajah Arga. Bu Jenny langsung menyunggingkan senyumnya.
"Putus gegara masalah apa? Apa dia minta sesuatu tapi kamu nggak nurutin? Benar kan?" tanya Bu Jenny spontan.
"Benar Ma. Dia minta dibelikan penhouse. Apartemen yang Arga kasih sebelumnya, katanya sudah tak bagus lagi." jawab Arga.
"Dia bilang apartemen elit itu tak bagus lagi? Apa dia tau berapa harga jualnya sekarang?" seru Bu Jenny naik darah.
"Lumayanlah untuk beli mobil sport keluaran terbaru!" celetuk Anton.
"Kamu taunya mobil aja! Pikirin bagaimana bisa membahagiakan Ana!" kata Bu Jenny.
"Apa Ana terlihat tak bahagia, Ma?" tanya Ana sendu.
"Bukan begitu Ana Sayang... Mama ingin putra kedua Mama lebih perhatian padamu. Kamu tau kan apa permintaan Mama?" tanya Bu Jenny memgerlingkan matanya.
"Cucu!" jawab Ana dan Anton kompak.
"Nah itu kalian paham! Pinter." kata Bu Jenny.
"Lalu Arga harus gimana, Ma? Alana itu wanita yang Arga cintai. Tapi nggak mungkin kan beli penhouse. Tabungan Arga tak sebanyak itu!" ujar Arga.
"Yaiyalah nggak sebanyak itu. Kamu kan sering foya-foya ngabisin duit buat wanita matre itu. Gimana nggak habis?"
"Maksud Mama, Alana itu matre?" tanya Anton.
"Iya Sayang. Kamu udah bener dapat wanita berkelas seperti Ana. Untuk wanita seperti Alana, Mama nggak yakin tentang dia. Kakakmu saja yang udah dibuat gila olehnya!" seru Bu Jenny.
"Cinta buta, Ma..." ujar Pak Mirza.
"Sama ajalah, Pa. Mama awalnya suka sama dia. Film-filmnya bagus semua. Tapi setelah review keaslian sifat, sikap, dan perilakunya, Mama nggak setuju kalo dia jadi mantu Mama." ujar Bu Jenny.
"Mama mungkin salah paham. Alana anaknya baik kok Ma." kata Anton membela Alana.
"Kok kamu belain dia? Mantan pacarnya aja nggak ada pernyataan membela dia, gimana bisa kamu membela dia? Siapa Alana bagimu?" tanya Bu Jenny.
__ADS_1
"Hanya sahabat." jawab Anton.
'Sahabat yang dicintai lebih tepatnya!' batin Ana.