Love Me Please, Hubby!

Love Me Please, Hubby!
Masih Nama Wanita Lain


__ADS_3

"Sudahlah Anton, akhiri saja pijatanmu. Aku sudah agak membaik sekarang. Terima kasih! Istirahat dan tidurlah! Aku juga mau tidur." ujar Ana seraya menepis tangan Anton.


Anton menyudahi pijatannya. Ia ikut merebahkan diri di samping Ana. Memeluk Ana dari samping.


"Apakah pijatanku enak?" tanya Anton.


"Iya lumayan untuk seorang amatir sepertimu. Lain kali harus lebih baik dari ini ya!" jawab Ana.


"Baiklah." kata Anton.


Beberapa saat kemudian, keduanya sudah berhasil tidur. Namun belum lama tidur, Anton mulai mengigau. Awalnya Ana tak terganggu. Namun karena suara Anton semakin keras, otomatis Ana terganggu dan akhirnya bangun.


"Alana... Alana...!" ceracau Anton dalam tidurnya.


Ana tertegun dengan Anton yang menyebut nama Alana terus. Ingin segera membangunkan Anton agar segera bangun dan sadar.


"Alana... Jangan tinggalkan aku!" lirih Anton.


Ana menarik nafas kasar. Diurungkannya membangunkan Anton.


"Lihatlah dia, dalam dunia mimpi saja dia masih memikirkan cintanya pada Alana. Wanita yang sudah jelas menyakitinya. Lisannya yang tak mau mendengar nama Alana, mungkin hanya alibi menutupi cintanya yang sangat besar pada Alana." gumam Ana.


Ana memandangi langit-langit kamarnya. Berpikir apakah posisinya sudah benar. Apakah dengan hidup bersama Anton adalah takdir yang harus ia jalani sampai akhir hayatnya? Ataukah boleh berpisah jika dirinya sudah tak bisa sabar menahan semuanya?


"Alana...." gumam Anton lagi dalam tidurnya.


Ana sedikit kesal mendengar suaminya berkali-kali menyebut nama wanita lain.


"Kenapa harus nama wanita itu yang selalu disebutnya? Apa tidak bisa dia menyebutnya dalam mimpi saja? Aku tau dia sedang tertidur. Tapi aku sangat menyayangkan dia terus menyebut nama wanita itu. Apa dia tak memikirkan bagaimana perasaanku. Aku kesal!" seru Ana.


Ana hendak bangkit dari ranjangnya. Tanpa sengaja ia menyenggol gelas kaca yang berada di nakas. Gelas itu jatuh dan pecah berhamburan di lantai. Suara pecahan gelas itulah yang akhirnya membangunkan Anton dari tidurnya.


"Apa yang terjadi?" tanya Anton yang sudah bangun.


"Hanya gelas yang pecah. Tidurlah lagi dan sebut nama kekasih yang kau cintai itu!" jawab Ana kesal, lalu mencoba bangkit.


"Apa maksudmu?" tanya Anton seraya menahan Ana agar tetap di sampingnya.


Mata mereka saling bertemu.

__ADS_1


"Sudahlah. Abaikan saja ucapanku barusan. Aku mau ke bawah." ujar Ana.


"Apa aku tadi menyebut nama wanita itu?" tanya Anton lagi.


"Hmm..."


"Aku bermimpi dia mengalami kecelakaan hebat dan mati di tempat. Aku memanggil namanya yang sudah tak bernyawa. Aku memang kesal dengannya. Tapi bagaimana bisa aku biasa-biasa saja saat dia mati. Pasti aku sedih kan?" cerita Anton.


"Iya, silakan bersedih. Pastikan kau bertemu dengannya sebelum dia mati." kata Ana frontal.


"Dia pasti baik-baik saja." ujar Anton.


"Hei Anton! Jika kamu memang mencintai wanita bernama Alana itu, maka dapatkanlah dia! Buat wanita itu menjadi milikmu seutuhnya. Jangan lampiaskan kecintaanmu pada orang lain! Orang lain itu juga punya perasaan."


"Ana, apa maksudmu?" tanya Anton.


Ana bukannya menjawab pertanyaan Anton, ia justru meninggalkan Anton sendirian di kamar. Ana turun ke bawah. Membuka kulkas di dapur. Lalu menuangkan air dingin ke dalam gelas dan meminumnya secepat mungkin. Andre yang kebetulan lewat langsung menyapa Ana.


"Kak Ana kehausan banget yah? Emang di kamar Kak Anton nggak ada air? Biasanya kan Kak Anton nyetok segala macem minuman dingin." kata Andre sembari memainkan handuk kecilnya.


"Oh di atas ada. Cuma lagi pingin minum air putih dingin aja. Di atas kan variasi minuman manis aja."


"Kak Ana pasti udah bosen sama yang manis. Iya kan?"


"Karena Kak Ana sudah manis." sahut Andre.


"Halah, kamu ini bisa aja! Lah tumben belum tidur? Abis ngapain?" tanya Ana.


"Abis latihan basket, Kak. Latihan sebentar aja udah keringetan begini. Mumpung cuaca malam lagi asyik." jawab Andre.


"Oh gitu. Yaudah kamu segera bersih-bersih dan langsung tidur yah!" perintah Ana.


"Iya Kak Ana. Kakak juga segera balik ke kamar ya! Sebelum ditarik sama suaminya." ujar Andre menggoda.


"Enggak!" seru Ana.


"Noh yang di atas sedang siaga 24 jam!" tunjuk Andre ke arah atas dimana Anton berada.


Ana langsung melihat Anton yang berdiri di depan kamar. Tatapan Anton fokus memata-matai pergerakan Ana.

__ADS_1


"Kan benar dugaanku. Kak Anton orangnya terlalu posesif sama Kak Ana. Buktinya ya itu. Ambil minum aja dipantengin ampe segitunya." kata Andre.


"Jangan salah paham. Mungkin dia khawatir aku takut ke sini sendirian. Kan malem-malem gini udah sepi. Ini jadi rame aja kebetulan pas ada kamu."


"Iya deh Kak Ana. Buruan naik aja Kak. Mata Kak Anton udah nggak santai. Ini baru ketemu Andre, adiknya sendiri aja dicemburuin ampe segitunya. Gimana kalo Kak Ana bertemu cowok tampan lain?" tanya Andre.


"Cowok tampan mana lagi? Nggak ada yang tertarik sama aku." kata Ana.


"Nanti juga ada. Kak Ana selalu merendahkan diri. Andre aja demen liat Kak Ana yang cantik!" seru Andre yang sengaja agar ucapannya didengar oleh Anton.


Anton menatap tajam Andre yang sudah berani menggoda istrinya. Andre langsung memohon ampun dengan gestur tangannya. Barulah Anton mulai tenang. Andre meninggalkan Ana untuk kembali ke kamarnya. Sebenarnya Ana masih ingin berada di lantai bawah. Berhubung Anton terlihat masih standby di depan kamarnya, Apa pun langsung naik ke lantai dua.


"Ada apa?" tanya Ana.


"Gapapa. Buruan masuk!" perintah Anton.


Ana masuk ke kamar diikuti Anton setelahnya. Anton buru-buru mengunci pintu dan kembali tidur di ranjangnya.


"Kenapa dikunci?" tanya Ana.


"Kan biasanya juga dikunci."


"Trus kuncinya kenapa diumpetin?"


"Biar kamu nggak kabur."


"Lari dari kenyataan mungkin lebih baik daripada bertahan pada penyesalan." ujar Ana.


"Apa?" tanya Anton.


Ana tak menjawab pertanyaan Anton. Dirinya segera merebahkan tubuhnya di ranjang. Memejamkan mata dan mencoba melanjutkan tidur malam yang sempat tertunda.


"Kenapa sih seperti menghindar terus setiap aku tanya?" tanya Anton bingung.


"Tanpa perlu kamu tanyakan, sebenarnya kamu udah tau jawabnya. Itupun jika kamu peka! Eh salah, kamu mana ada kepekaan sih?" jawab Ana.


"Serius aku nggak tau? Aku saja dimanfaatkan sepihak oleh orang yang aku sayangi, jadi gimana bisa memahami perasaan wanita?" ujar Anton.


"Udahlah jangan bicara lagi. Aku mau tidur. Lalu, singkirkan tanganmu itu dari tubuhku. Jangan berpura-pura dekat denganku jika hubunganmu denganku saja sebenarnya jauh." kata Ana.

__ADS_1


"Tidak mau." lirih Anton.


Anton semakin mengeratkan pelukannya di tubuh Ana. Meskipun Ana mencoba melepaskan pelukan itu, nyatanya Anton tetap memeluknya.


__ADS_2