
"Astaga! Kamu tega banget sama aku! Kenapa tak membangunkanku tadi? Aku belum mandi dan dandan. Bagaimana ini? Pasti aku kucel banget ini..." rengek Ana yang bersembunyi di lengan Anton.
"Gapapa. Kamu tetep cantik meski belum mandi. Lagipula, tak ada waktu lagi. Yang penting kita akan segera terbang ke Jogja."
"Secepat itukah?" tanya Ana.
"Iya. Tak ada waktu lagi. Makanya aku segera membawamu ke sini. Tak masalah jika kamu belum bersiap sama sekali. Bagiku, penampilanmu tak ada cela. Semuanya oke dan berkelas." jawab Anton sedikit berbisik.
"Apa sih? Aku jadi malu tau...."
Anton menarik tangan Ana. Menggenggam erat agar tetap dalam genggamannya. Mereka menuju terminal keberangkatan nomor 3 untuk selanjutnya melakukan proses cek in. Tak butuh waktu lama, sebab tak banyak yang mengantre.
Lima belas menit mereka menunggu, akhirnya mereka memasuki pesawat. Pesawat yang mereka pesan adalah pesawat kelas bisnis.
"Maaf, hanya penerbangan ini yang tersisa. Nggak masalah kan aku memesan yang ini?" tanya Anton.
"Iya tak apa. Semua sama saja. Tergantung kita bisa membawa diri. Tapi aku laper nih." jawab Ana.
"Iya. Sebentar lagi akan aku pesankan makanan."
Ternyata sebelum Anton memesan, pramugari membawakan makanan untuk mereka. Menu yang disajikan adalah steak ayam berikut kentang goreng, camilan kue, jus buah, dan air kemasan.
"Apakah ada menu lainnya?" tanya Anton.
"Kebetulan selain menu ini, kami ada spagetti, pizza original, iga bakar, dan..."
"Tolong bawakan spagetti dengan saos bolognese yang pedas. Uhm, sosis panggang juga boleh deh. Lalu, susu coklat hangat dengan sedikit gula. Tolong yah Mba...!" pinta Ana meminta dengan manja.
Pramugari bernama Lili hanya bisa tersenyum seraya mencatat permintaan Ana. Ia sudah terbiasa menerima permintaan penumpang seperti Ana.
"Istri saya sedang hamil. Mohon maklumi yah!" kata Anton.
"Baik Bapak dan Ibu, mohon ditunggu."
Sembari menunggu pesanannya datang, Ana segera memakan sajian makanan di depannya. Ia makan dengan lahap.
"Pelan-pelan saja. Aku tak akan merebut makananmu. Bahkan jika kurang, aku akan menyerahkan makananku untukmu." kata Anton.
__ADS_1
Ana pun menatap Anton dengan mulut masih mengunyah makanannya.
"Kenapa dengan tatapanmu?"
"Aku ingin memakanmu! Bahkan aku akan membunuhmu jika perlu!" sarkasme Ana.
Anton cukup kaget dengan perkataan Ana. Tidak biasanya Ana sekasar itu dalam berkata.
"Aku maklumi. Pasti berat menahan amarahmu itu. Yah, kamu bisa membunuhku jika perlu. Aku tak sungkan menyerahkan nyawaku jika kamu memintanya." kata Anton.
Ana tak enak hati mendengarnya. Meski Anton baginya kasar dengan kelakuan jahatnya saat marah, tapi tetap saja perkataan Anton barusan sangat menyentil hati Ana.
"Makan saja makananmu! Tak perlu hiraukan aku. Aku akan pesan lagi jika masih lapar. Aku tak akan menyentuh makanan orang lain." ujar Ana.
Anton pun segera menyendokkan makanan ke dalam mulutnya. Tak ada pembicaraan lagi selama mereka makan. Bahkan saat mereka selesai makan, pesanan Ana belum datang juga.
"Apakah ribet banget yah menyiapkan pesananku. Sampai makananku habis, pesananku belum juga datang. Ya, aku memang sudah kenyang. Tapi tentu saja, sepertinya anakku ini masih lapar." gerutu Ana sambil mengelus perutnya yang masih rata.
"Masih laper banget? Aku samperin deh biar cepet!" kata Anton yang mulai beranjak dari bangkunya.
"Nggak usah! Tunggu saja. Jangan biasakan anak ini terlalu manja. Dia hanya perlu bersabar menunggu makanannya datang." kata Ana.
"Maaf Ibu, saya lama membawakan pesanan Ibu. Sebagai gantinya, saya menambahkan hidangan dimsum yang lezat. Silakan dimakan ya, Bu. Semoga Ibu suka dengan makanan kami. Juga, semoga janin dalam perut Ibu senantiasa sehat." kata Lili, sang pramugari.
"Terima kasih Mbak Lili. Semoga Mbak Lili sehat dan selalu bahagia." balas Ana.
Tak menunggu waktu lama, Ana segera mengeksekusi makanan yang tersaji di hadapannya. Ia begitu antusias menikmati satu demi satu makanan dengan perasaan bahagia.
"Wah, sepertinya enak. Apa aku boleh minta?" goda Anton.
"Ambil saja! Aku tak mengajari anak ini untuk pelit. Lagian jika masih kurang, aku masih bisa pesan lagi. Makan saja, jangan sungkan!" suruh Ana.
"Aku hanya bercanda. Aku sudah kenyang." kata Anton.
Selesai makan, Ana merasa kantuknya kembali datang. Ia pun memutuskan kembali memejamkan matanya.
"Ana, bangunlah! Ini sudah pagi." bisik Anton.
__ADS_1
"Apa? Sudah pagi? Kita belum sampai juga? Ini kita masih di pesa... Ini dimana?" tanya Ana.
"Kita sudah berada di hotel." jawab Anton.
"Lagi? Aku tak sadar kamu membawaku ke sini? Apa aku minum obat tidur yah semalam? Kenapa selalu tak sadar begini? Tau-tau udah di bandara. Tau-tau udah di hotel. Tau-tau udah pagi aja. Kenapa bisa begitu?"
"Mungkin kamu hanya kecapean. Tidurlah lagi jika masih lelah. Tapi, tentu saja setelah sarapan dulu yah. Aku sudah pesan banyak makanan untukmu." kata Anton sembari mengusap lembut anak rambut Ana yang terurai di pipi Ana.
"Terima kasih. Tapi sebelum itu, bolehkah kita..." Ana mengkodekan untuk tidur bersama.
"Baiklah, dengan senang hati."
Anton segera mengambil tindakan dengan cepat. Menuruti permintaan sang istri untuk bercinta. Memang, bercinta di pagi hari adalah waktu terbaik dan berkualitas bagi pasangan suami istri.
"Pelan-pelan saja, aku masih terlalu lemas." rintih Ana.
"Iya, paham. Aku akan berhati-hati agar tak ada yang tersakiti."
Ana memejamkan matanya. Menikmati setiap detail perlakuan Anton yang membuatnya mabuk kepayang.
Sejam berperang melawan bara api kenikmatan dunia, akhirnya mereka menyudahinya. Anton membantu Ana membersihkan diri. Ana tak menolak. Perlakuan Anton sangat manis kali ini.
"Apa kita akan langsung jalan-jalan hari ini?" tanya Ana.
"Istirahatlah dulu jika tubuhmu masih lelah. Kesehatanmu dan anak kita lebih penting."
"Tapi aku maunya sekarang!"
"Oke. Kamu dandan yang cantik yah. Aku akan mencari destinasi yang menarik untuk kita kunjungi." kata Anton.
Anton pun berselancar ke dunia maya. Ia fokus dengan ponselnya. Sementara Ana mulai berdandan natural seperti biasanya.
"Mas, tolong jangan menamparku lagi. Wajahku pernah lebam dengan tamparanmu." pinta Ana.
"Iya aku janji. Tapi aku tak bisa menahan emosi jika wanitaku seolah seperti dimiliki pria lain." kata Anton yang masih menatap ponselnya.
"Ku tegaskan, aku tak berselingkuh dan takkan mau selingkuh!" seru Ana.
__ADS_1
"Iya. Teruskan dandanmu. Aku sudah menemukan beberapa tempat menarik yang akan kita kunjungi hari ini. Semoga saja tempat aslinya sesuai deskripsi dan ekspektasiku." seru Anton.
Ana menghela nafasnya. Ia akan memberikan kesempatan kesekian kali untuk Anton.