
Setelah puas berkunjung ke RS ABC, akhirnya Ana berpamitan pulang dengan Tata dan Kinan.
"Terima kasih kalian sudah mau aku repotkan ke sini. Aku mengganggu istirahat kalian!" ujar Ana.
"Tidak. Aku dan Tata sangat senang dengan kehadiranmu. Karena biasanya kami hanya berdua, tapi sekarang bisa bertiga denganmu." ujar Kinan.
"Iya itu benar. Kami bahagia mendapat tamu istimewa yang berkunjung sepertimu. Jangan lupa untuk datang lagi." kata Tata.
"Jangan lupa berkirim pesan denganku juga yah! Aku menantikan itu." kata Kinan.
"Dokter Kinan dan Dokter Tata, kalian sangat serasi jika dilihat dari berbagai sudut pandang. Sama-sama masih jomblo dan sama-sama cari jodoh. Menurutku cobalah kalian intens ketemuan janjian gitu. Sering nongkrong ataupun jalan bareng, aku pikir itu bisa mendekatkan hati kalian." nasehat Ana.
Tata dan Kinan saling berpandangan, lalu menatap Ana tak percaya.
"Uhm, itu sedikit saranku. Baiklah, aku pergi sekarang. Supirku sudah menungguku. Sampai jumpa!" seru Ana berpamitan.
Ana bergegas ke lobby. Supir sudah menunggunya di sana.
"Pak, tolong antarkan saya ke kantor Mas Anton yah." perintah Ana.
"Baik Non."
Hanya butuh waktu sekitar lima belas menit untuk sampai di kantor Anton. Kantor yang sama dengan Pak Mirza dan Arga.
"Pak, saya akan pulang bersama Mas Anton. Jadi Bapak pulang duluan aja yah." ujar Ana.
"Baik Non Ana."
Akhirnya supir yang mengantar Ana pulang duluan. Ana pun segera menemui Anton di ruangannya. Selama perjalanan menuju ruangan Anton, Ana disapa oleh para karyawan yang bekerja di sana.
"Ibu Ana, mohon maaf. Pak Anton masih ada tamu di dalam. Kalau berkenan, mohon ibu menunggu dulu." kata Yuni, sekretaris Anton.
"Aku hanya melihatnya sebentar kok." kata Ana.
Yuni mengiyakan saja apa kata istri bossnya. Ana sudah sampai di depan pintu ruangan Anton. Dari luar terdengar suara Anton yang memberikan tanggapan mengenai penjualan produk.
__ADS_1
'Apakah aku harus masuk sekarang atau nanti saja? Mungkin jika masuk setelah urusan pekerjaan Anton selesai, lebih baik. Tapi nggak ada salahnya jika aku hanya mengintip sedikit bagaimana ekspresi Anton saat ini. Nggak masalah kan?' batin Ana.
Ana membuka pintu ruangan Anton. Terlihat Anton tampak detail menjelaskan dengan menatap lembaran-lembaran berwarna di meja kerjanya. Tapi yang menjadi titik fokus Ana bukan soal ketampanan ataupun kepintaran Anton, melainkan apa yang dilakukan oleh lawan bicara Anton.
Lawan bicara Anton yang tak lain adalah seorang wanita. Wajahnya sangat familiar bagi Ana. Sepertinya Ana pernah melihatnya di layar kaca. Tapi entah, tak tahu siapa namanya. Awalnya si wanita hanya menatap intens wajah Anton. Lama kelamaan ia semakin mendekati Anton. Lalu mencari kesempatan hendak mencium pipi Anton.
Karena tak tahan melihat apa yang akan terjadi selanjutnya, Ana langsung menutup kembali pintu itu dan pergi. Ia berjalan cepat agar segera meninggalkan kantor itu. Bahkan Yuni, sekretaris Anton diabaikan oleh Ana begitu saja.
Ana sudah sampai di lobby. Kebetulan ada taksi yang baru saja menurunkan penumpang. Ana langsung masuk ke taksi itu dan memberitahukan kemana tujuannya. Pikiran Ana begitu kalut dan kesal saat mengingat kejadian barusan yang menurutnya di luar nalar.
"Apa yang mereka pikirkan? Bisa-bisanya bermesraan saat bekerja. Apa mereka sengaja melakukannya? Atau ini sudah sering terjadi? Kalau dipikir bagaimanapun, aku sangat kesal!" keluh Ana.
Supir taksi bingung mendapati penumpangnya yang gelisah dan kesal. Meski begitu, ia tak berani untuk menenangkan Ana karena tak mau ikut campur.
"Maaf Pak, anggap saja Bapak tak mendengar ocehan saya." kata Ana.
Sampailah Ana di depan rumah Papanya. Malam ini ia tak ingin pulang ke rumah keluarga Novero. Ia ingin menghindari melihat wajah Anton untuk sementara waktu. Ana memasuki kembali rumah yang banyak memberinya kenangan. Ia berjalan gontai dan tak bertenaga.
"Ana, kamu kenapa?" tanya Pak Radit yang baru keluar dari kamarnya.
Ana langsung memeluk sang papa. Ia tau, papanya adalah keluarga terdekat satu-satunya yang takkan pernah menghianatinya.
"Malam ini Ana mau tidur di sini ya, Pa?" pinta Ana.
"Boleh saja. Tapi apa suamimu sudah tau? Dia menyusul ke sini juga kan?"
"Papa jangan bilang kalo Ana menginap di sini. Kalo seandainya dia telpon Papa, bilang aja Papa nggak tau. Itu kalo dia nelpon Papa. Boleh ya Pa? Malam ini aja! Besok Ana akan cari penginapan atau hotel deh." kata Ana.
"Kenapa begitu? Kalian sedang bertengkar? Coba ceritakan pada Papa!"
Akhirnya Ana menceritakan apa yang ia lihat di kantor Anton. Pak Radit mendengarkan cerita Ana dengan seksama.
"Kamu yakin?" tanya Pak Radit.
"Yakin Pa. Tapi Ana tak melihat apa yang terjadi selanjutnya. Ana nggak kuat melihatnya pasti. Jadi Ana kabur gitu aja." jawab Ana.
__ADS_1
"Ya kalo ceritamu benar, Papa yang akan menghajar suamimu untuk pertama kalinya. Lalu bagaimana jika itu hanya salah paham. Misalnya kamu salah lihat. Kan kamu pergi gitu aja tadi. Hayo gimana kalo begitu?"
"Yah Papa.... Anak Papa kan Ana. Kenapa belain Mas Anton? Ana perlu dan wajib Papa bela loh!" ujar Ana.
"Papa selalu membela dan mendukungmu apapun yang terjadi. Masalahnya Papa belum yakin kalo belum ada bukti konkret. Takut salah nebak aja. Kamu juga jangan asal menyimpulkan suamimu berselingkuh jika belum ada bukti nyata. Kamu mengerti?"
Ana membuang nafasnya. Ternyata Papanya sama sekali tak membelanya.
"Ana ke kamar dulu ya Pa." ujar Ana.
Di kamarnya, Ana tak bisa tidur cepat. Ia masih kepikiran dengan Anton. Berkali-kali Anton menghubunginya, ia sama sekali tak meresponnya selain mendiamkannya. Lalu ada pesan dari Anton bahwa ia sudah di bawah bersama sang papa.
Mau tak mau Ana segera turun ke bawah. Bergabung dengan Anton dan Pak Radit yang sedang mengobrol seru.
"Kenapa ke sini?" tanya Ana to the point.
"Ana!" seru Pak Radit mengingatkan Ana.
"Tidak apa, Papa. Ana berhak marah pada saya. Jika saya ada di posisi Ana, pasti saya juga akan marah." kata Anton.
Ana menatap Anton tak percaya.
"Sebenarnya tadi memang apa yang Ana lihat adalah benar. Saya hampir dicium oleh seorang wanita yang berprofesi sebagai model. Dia brand ambassador produk di perusahaan saya. Namanya Cattleya. Posisi duduk kami memang sangat dekat waktu itu. Jadi hal tersebut membuatnya ingin intens dengan saya. Sayangnya Ana keburu pergi. Padahal kejadian setelah ia pergi adalah saya menampar wanita itu. Refleks saja saya melakukannya. Saya sungguh tak suka dengan wanita yang mencoba menggoda saya selain Ana." kata Anton menjelaskan pada Ana dan papa mertuanya.
"Dan aku harus percaya semua perkataanmu?" tanya Ana.
"Enggak. Cukup kamu jangan lari dariku." kata Anton pada Ana.
"Oke. Sekarang sudah jelas yah. Lalu kalian segera masuk ke kamar kalian! Papa juga mau istirahat. Selamat malam!"
Pak Radit meninggalkan Ana dan Anton yang masih bersitegang.
"Sudah ku duga, Papa lebih percaya pada perkataanmu." kata Ana.
"Aku tak hanya berkata omong kosong. Aku bawa bukti rekaman CCTV. Pasti papa mertua akan percaya dengan apa yang dilihatnya." ucap Anton.
__ADS_1
"Katakanlah kamu benar. Kenapa kamu perlu menjelaskan semua ini padaku?" tanya Ana.
"Intinya aku nggak mau ada salah paham. Aku pun tau kamu datang dari Yuni. Kata Yuni kamu bersikeras ingin menemuiku tadi. Nyatanya kamu bahkan tak menemuiku dan langsung pergi begitu saja. Karena itulah aku menduga kamu pergi sebab cemburu." jawab Anton