
Ana dengan sabar mendengarkan cerita Anton. Lebih tepatnya curahan hati setelah putus dengan Alana. Ana berusaha menyemangati Anton agar tak terbelenggu oleh kesedihan mendalam. Tidak mudah bagi Ana untuk terlihat tegar di mata Anton, padahal sebenarnya Ana lah yang lebih terluka.
Bagaimana tidak? Ana bahkan dengan setia mendengarkan kenangan bahagia Anton bersama Alana. Itupun Anton sendiri yang bercerita. Ana harus mengesampingkan sakit hatinya sendiri demi menyemangati Anton yang patah hati.
"Terima kasih sudah mendengarkan ceritaku. Aku tau ini memalukan. Tapi setelah aku ceritakan masalahku padamu, rasanya aku lega. Ada sedikit ketenangan yang ku dapat. Setidaknya beban di dadaku terasa lebih ringan. Terima kasih, Ana!" ujar Anton.
"Tidak masalah. Meski aku belum bisa menjadi istri yang sebenarnya. Setidaknya aku bisa berguna menjadi teman curhatmu." ucap Ana dengan senyuman khasnya.
Ana meneguk sisa minuman di tangannya. Dihabiskannya tanpa sisa.
"Mau minum lagi?" tanya Anton.
"Ah tidak. Ini sudah cukup. Setelah ini kita mau kemana? Ah maaf, kamu kan belum pasti menjemputku."
"Aku kesini memang mau menjemputmu. Aku sudah menyuruh supir Papa untuk pulang." kata Anton.
"Oh gitu. Lalu kita langsung pulang?" tanya Ana.
"Iya. Tapi aku ingin pergi ke suatu tempat dulu. Apa kamu mau ikut?"
"Kemana?"
"Ke mall."
"Ngapain? Belanja?" tanya Ana.
"Banyak hal. Bisa jadi belanja, makan, atau sekedar cuci mata."
"Tumbenan? Biasanya kan kamu mainnya jauh. Kayak anti banget sama yang namanya mall. Sekalinya main ke villa." goda Ana.
"Itu kan si Alana yang ngajak. Pertama dan terakhir kalinya itu."
"Oke deh. Ayo deh ke mall. Sekalian beliin aku tas baru yah. Lama nggak beli tas baru." ujar Ana.
"Kenapa nggak beli pake black card dariku?"
"Hei Mas Anton, aku nggak beli dalam waktu yang lama, bukan karena nggak ada uang. Jangankan blaxk card punyamu, aku pun juga punya tabungan sendiri. Aku nggak bisa sembarangan membelanjakan uangmu sesukaku." kata Ana.
"Aku sudah memberikannya padamu. Jadi pakailah semaumu. Jika itu untukmu, aku memberikan black card secara cuma-cuma. Mungkin karena Alana nggak dapetin itu, jadinya dia lari ke pria lain."
"Bukan masalah black card. Menurutku kamu pun bukan selera Alana. Jika pria yang dicintainya itu kamu, pasti dia takkan menghianatimu. Uang adalah alasan terbaik untuk meninggalkanmu. Tapi ku pikir Alana itu wanita yang rugi. Dia mencampakkan pria sepertimu yang bahkan rela menduakan aku demi dia. Lucu bukan?"
"Kau benar Ana." lirih Anton.
Anton mengemudikan mobilnya. Menuju ke sebuah mall yang berada di pusat kota. Sepanjang perjalanan tak ada obrolan dari Ana ataupun Anton. Keduanya larut dengan pemikiran masing-masing. Saat sudah sampai di mall, Ana menggandeng tangan Anton. Awalnya Anton menolak, tapi saat Ana hanya bilang 'pura-pura', Anton menerimanya.
"Apa kamu risih digandeng olehku?" tanya Ana pelan.
__ADS_1
"Bisa dibilang begitu. Apalagi ini di tempat umum. Canggung rasanya." jawab Anton.
"Aku hanya menggandeng tanganm, bukan menciummu. Jadi tak perlu canggung lagi. Apa karena aku bukan Alana, jadi kamu merasa risih. Begitukah?" tanya Alana lagi.
"Bukan begitu. Aku tak mau terlihat berlebihan di mata orang." jawab Anton.
"Tidak mau terlihat berlebihan tapi selingkuh..." lirih Ana.
"Apa?" tanya Anton.
"Gapapa." jawab Ana.
Padahal Anton mendengar perkataan Ana.
"Eh itu ada toko tas branded. Ayo kita ke sana!" ajak Ana antusias.
Anton mengikuti Ana yang menariknya menuju sebuah toko tas branded. Ana menyuruh Anton duduk di kursi tunggu yang disediakan toko. Sementara Ana memilah tas yang akan dibelinya. Tepatnya dibelikan oleh Anton.
"Jangan kemana-mana yah!" pesan Ana yang hanya diangguki oleh Anton.
Anton merasa jenuh hanya menunggu. Lantas ia mendekati Ana yang masih sibuk memilih tas. Ana tampak kesulitan menentukan satu diantara dua pilihan favoritnya.
"Pilih yang warna maroon saja!" kata Anton.
"Yang ini?" tanya Ana sambil mengangkat tas warna maroon pilihan Anton.
Deg! Dalam sepersekian detik Ana seperti sedang melambung tinggi oleh perkataan Anton. Ana sangat bahagia dalam hatinya. Meski ia menyembunyikan senyumannya agar tak terlihat oleh Anton.
"Atau beli keduanya aja. Daripada nanti nyesel." kata Anton.
"Enggak. Aku pilih yang warna maroon aja seperti katamu." kata Ana dan langsung menuju kasir.
Ana meletakkan tasnya di kasir untuk discan barcode sebelum pembayaran.
"Pakai kartu saya saja, Mbak!" kata Anton sambil menyerahkan kartu debitnya.
"Kan aku udah punya black card pemberianmu." ujar Ana.
"Gapapa. Itu bisa kamu pake kalo kamu sedang pergi sendiri. Jika sama aku, ya pake punyaku aja." kata Anton.
"Silakan masukkan PIN-nya, Kak!" ujar kasir ramah.
Anton segera memencet PIN kartu debitnya. Ana melihat dengan jelas bahwa PIN yang Anton pencet adalah tanggal pernikahan mereka.
'Iya, katanya nggak ada perasaan apapun padaku. Tapi PIN yang ia pencet tadi kan tanggal pernikahanku dan dia. Apa dia melakukan itu agar ingat saja atau ada alasan lain. Padahal bukan tanggal cantik. Tapi wajar sih jika ia melakukan itu. Mau penting atau tidak, takkan jadi soal jika aku tanya alasannya. Pasti dia akan bilang tak alasan khusus. Nggak penting juga aku pikirin soal ini!' batin Ana.
"Hei, ayo!" ajak Anton.
__ADS_1
Ana tersadar dari lamunannya. Ia mengikuti Anton membawanya ke luar toko.
"Selanjutnya kemana lagi ya?" tanya Ana.
"Apa kau mau es krim?" diangguki Ana.
Anton membawa Ana ke aebuah gerai yang menjual es krim cone dengn aneka topping pilihan.
"Wow, sepertinya enak. Sudah lama nggak makan es krim ini!" bisik Ana pada Anton.
Lalu Anton memesan ea krim sesuai permintaan Ana. Ana senang menerima es krim itu dan langsung memakannya.
"Enak sekali!" seru Ana dan tak sadar mulutnya belepotan.
"Udah gede tapi makan es krim masih belepotan." ujar Anton yang mengelap belepotan di bibir Ana.
"Eh apa yang kamu lakukan?"
"Aku hanya mengelapnya saja." kata Anton.
Ana malu dan berjalan cepat-cepat. Sengaja menjauhi Anton.
"Hei tunggu!" seru Anton yang merasa ditinggalkan.
Ana berjalan semakin cepat dan akhirnya ia menabrak seseorang yang dikenalnya, Alana.
"Kamu lagi! Lihat, baju mahalku kotor gara-gara ulahmu!" kata Alana sewot.
Sementara pria yang menggandeng Alana mencoba menenangkannya.
"Gapapa. Nanti Om belikan yang baru lagi."
'Om katanya? Jangan-jangan pria itu Sugar daddy Alana? Pria yang mengalahkan Anton?' pikir Ana.
"Beneran Om?" tanya Alana dengan gaya manja dan centilnya.
"Sungguh! Ayo!"
Alana dan pria yang usianya terpaut belasan tahun itu meninggalkan Ana. Ana cukup syok melihat pemandangan aneh itu.
"Apa aku tak salah liat? Alana jalan sama Om-om begitu?" tanya Ana pada dirinya sendiri.
"Itulah kenyataannya. Sudahlah, ayo jalan lagi. Aku mau mengajakmu ke suatu tempat. Aku yang akan pilihkan!" kata Anton berbinar.
"Hei, bukannya kamu abis patah hati ya? Mantan pacarmu baru saja lewat dengan Sugar daddy-nya. Kamu tak cemburu atau sakit hati?" tanya Ana geram.
"Kenapa kamu yang kesal? Aku tak sekesal itu sekarang. Ayo!" ajak Anton.
__ADS_1