
Setelah tau sang istri tak berselingkuh, rupanya Anton merasa bersalah pada Ana. Berbagai cara telah ia lakukan demi kembali meluluhkan hati Ana. Tapi usaha Anton sepertinya belum berhasil. Harus lebih ekstra berjuang demi kedamaian hati antara dirinya dan Ana.
"Ma, tadi kalian ngobrolin apa?" tanya Anton pada Bu Jenny.
"Kalian? Maksudnya mama sama Ana?"
Anton hanya mengangguk dengan mata penuh harap atas jawaban Bu Jenny.
"Kami hanya membahas bagaimana kami bisa melewati ujian rumah tangga dengan baik. Ana meminta saran pada mama. Ia ingin belajar banyak dari mama. Padahal mama tak lebih baik dari Ana. Mama hanya menang lebih lama saja menjalaninya." ujar Bu Jenny.
"Jadi begitu..."
"Kamu kenapa? Nggak ada masalah kan dalam hubungan kalian? Meski mama lihat nih, Ana sedikit mendiamkanmu dalam berbagai kesempatan. Mama pikir itu bukan karena Ana cuek terhadapmu. Tapi karena dia ingin keterbukaan di antara kalian. Mungkin selama ini kamu kurang perhatian atau kurang terbuka dengannya. Mungkin juga karena dia lebih sensitif akhir-akhir ini. Kayak mama pas hamil kamu dulu juga begitu. Tapi kondisi bisa berbeda untuk setiap orang. Jangan bahas tentang kehamilan jika Ana tak hamil. Pembicaraan seperti ini bisa memicu pertengkaran." nasehat Bu Jenny.
"Kalo Ana hamil?" tanya Anton.
"Lebih bagus lagi jika begitu. Tapi yah, kamu jangan terlalu mendesak Ana untuk segera hamil atau semacamnya. Biarlah semua berjalan apa adanya. Dia hamil sekarang atau nanti, bagaimanapun dia tetap menantu kesayangan mama. Kamu paham kan maksud mama?"
"Anton paham, Ma." jawab Anton.
Anton belum berniat mengumumkan kehamilan Ana. Dia merasa tak ada hak untuk mengatakannya. Kecuali Ana sendiri. Lagipula, suasana penyambutan kehamilan kurang mendukung jika mereka belum berbaikan.
"Anton ke kamar dulu ya Ma. Mau nyusulin Ana."
"Iya."
Anton bergegas menaiki anak tangga. Menuju kamarnya demi bertemu dengan Ana. Namun setelah sampai kamar, Anton tak mendapati Ana. Tak ada tanda-tanda keberadaan Ana. Anton pun kembali ke luar kamar. Saat perjalanan hendak menuju ke lantai bawah, Anton melihat Ana sedang duduk di teras belakang rumah dari balik jendela.
Anton mempercepat langkahnya. Sesekali memikirkan ucapan pembuka untuk memulai pembicaraan dengan Ana. Anton memang berniat berdamai dengan Ana.
"Kamu di sini?" tanya Anton saat sudah dekat dengan Ana.
Ana tak menyahut. Anton duduk di seberang Ana.
"Udara di sini agak panas. Tapi lumayan menghangatkan badan kita." kata Anton.
Ana hendak berdiri, tapi langsung dicegah oleh Anton.
"Lepasin!" pinta Ana lirih.
__ADS_1
"Jangan pergi. Aku hanya ingin mengobrol denganmu. Sebentar saja."
Ana kembali duduk di kursinya. Menatap lurus ke depan seolah mengabaikan Anton yang sedari tadi fokus melihatnya.
"Mama dan Papa belum tau tentang kehamilanmu. Aku pun belum berniat memberitahukan pada mereka tanpa seizinmu." ucap Anton.
"Aku rasa itu bukan berita penting bagi mereka. Tak perlu dibesar-besarkan. Anggap saja tak terjadi apa-apa. Mereka tau ataupun tidak, tak menjamin janin ini akan bahagia." kata Ana.
"Ya aku paham kemana arah pembicaraanmu. Kamu sudah menutup bahkan mengunci dirimu sendiri. Aku tak masalah jika kamu memang membenciku. Aku pantas dibenci. Aku sudah jahat padamu."
"Syukurlah jika kamu paham! Sudah ya, aku lelah dan bosan di sini. Aku akan kembali ke kamarku."
"Aku ikut denganmu!" seru Anton.
"Terserah kau saja!" seru Ana kesal.
Ana berlari kecil demi menghindari Anton yang berjalan di belakangnya. Karena kurang berhati-hati, kaki Ana tersandung sandalnya sendiri. Hampir jatuh.
"Kenapa kamu menolongku? Seharusnya kamu membiarkan aku jatuh. Jadi jika janin di perutku hilang, bukankah kamu akan menyukainya? Jadi tak ada lagi penghubung di antara kita."
"Kamu ngomong apa sih?"
"Sepertinya aku mendengar kata 'janin' dari ucapan Ana. Apa aku salah dengar? Pasti aku salah dengar. Kalo iya beneran hamil, pasti mereka memberitahukannya bukan?" kata Bu Jenny yang kebetulan berada tak jauh dari Ana dan Anton.
Sesampai di kamar, Anton merebahkan tubuh Ana perlahan. Ia tahu bagaimana cara memperlakukan seorang ibu hamil dengan benar.
"Kenapa sih pake digendong segala?" tanya Ana dengan ketus.
"Aku hanya menjagamu. Kamu mau apa istriku? Adakah makanan yang kamu inginkan? Biasanya jika hamil muda itu pasti ada kayak ngidam gitu kan?"
Ana berpikir sejenak. Ia berniat mengerjai Anton dengan permintaan ngidamnya.
"Aku mau kamu bawakan bakpia. Tapi belinya harus langsung dari Jogja. Trus aku maunya kamu yang harus membelinya." kata Ana.
"Harus aku sendiri yang ke sana? Baiklah!" seru Anton.
"Kamu nggak nolak?"
"Iya. Aku akan segera ke sana begitu mendapatkan tiketnya."
__ADS_1
Anton memesan tiket via aplikasi di online. Sebelum pemesanan selesai, Ana merebut ponsel Anton.
"Kamu ikut?" tanya Anton.
"Yaiyalah. Bagaimana aku bisa tau kamu membelikanku langsung dari Jogja jika aku tak ikut ke sana? Aku harus memantaumu secara langsung!" seru Ana.
"Lalu apa tak mempengaruhi kehamilanmu? Apa tidak apa-apa?"
Anton mendekati Ana dan mencium tengkuk Ana berkali-kali.
"Ish geli!" tolak Ana.
"Ya aku akan menjagamu dan calon buah hati kita. Ayo kita berkemas. Nanti malam kita langsung berangkat. Aku mau malam ini kita sudah sampai di sana. Menghabiskan malam di sana juga bagian dari honeymoon kita juga kan? Belum terlambat untuk melakukan hal-hal yang belum kita lakukan. Bagaimana? Rencanaku bagus juga kan?" tanya Anton.
"Aku harap kamu sadar diri saja. Aku terlanjur sakit hati dengan perlakuanmu." jawab Ana.
Anton bergegas menyiapkan kopernya. Ia memasukkan baju-baju yang akan dibawanya. Begitu pula dengan Ana. Ana tak mau kalah. Ia juga berkemas dengan koper yang berbeda.
"Kita satu koper saja. Biar bawaan kita tak terlalu berat." kata Anton.
"Baiklah."
"Kamu siapin apa saja yang ingin kamu bawa. Aku yang akan menyusunnya di koper." kata Anton.
"Tapi bagaimana bilang ke Mama dan Papamu?" tanya Ana.
"Tak masalah. Aku akan bilang urusan pekerjaan. Sekalian ngajak kamu buat jalan-jalan. Bagaimana?"
"Iya deh kamu atur aja. Aku rebahan dulu ya. Kepalaku pusing. Nanti bangunin aku." kata Ana.
"Baiklah. Kamu istirahat saja." kata Anton.
Tak butuh waktu lama bagi Ana untuk menuju dunia mimpinya. Sementara Anton dengan cepat memasukkan barang-barang mereka ke dalam koper besar.
Satu setengah jam kemudian, Anton sudah berada di bandara. Dia tengah menunggu giliran penerbangan. Dimanakah Ana? Tentu saja berada dalam gendongan Anton. Anton sengaja menggendong Ana begitu saja. Ana dibiarkan dalam posisi tidur.
"Hah? Kita ada di mana? Turunkan aku!" pinta Ana.
Ana kaget dengan keramaian sekitarnya. Ia tak habis pikir kenapa Anton masih membiarkannya tertidur pulas sampai bandara.
__ADS_1