
Ana sudah selesai menikmati makanannya. Perutnya mulai terasa begah oleh aneka jajanan. Beberapa kali Ana mengelus perutnya yang sedikit membuncit.
"Haduh, kenyang banget. Begah! Bagaimana nanti aku jalannya? Duh, nggak kuat deh kayaknya." keluh Ana.
Anton mendekati Ana dan menepuk bahu Ana dengan lembut.
"Mau aku gendong?" tawar Anton.
"Tidak perlu. Aku bisa sendiri." jawab Ana jutek.
"Baiklah. Ayo jalan pelan-pelan." kata Anton.
Sebenarnya Ana sangat ingin digendong Anton. Tapi karena dia gengsi dan tak mau dianggap lemah, akhirnya menolak tawaran Anton.
Ana berjalan pelan sesuai arahan Anton. Mereka menuju mobil yang disewa oleh Anton.
"Bagaimana, apakah kita bisa melanjutkan perjalanan?" tanya Anton pada Ana yang terlihat tak nyaman.
"Bagaimana ya, aku sedikit mual. Perutku nggak nyaman banget. Aku salah nih, makan kebanyakan tadi." Ana hampir menangis.
"Yaudah, kita istirahat sebentar." ujar Anton.
"Tapi aku ngantuk. Aku tidur dulu ya."
Ana pun langsung menyandarkan kepalanya di bahu Anton. Tak berselang lama, Ana pun terlelap.
"Dia sudah tidur." lirih Anton.
"Tuan, apa perlu kita kembali ke hotel? Sepertinya istri Tuan kelelahan."
"Tidak perlu. Dia masih mau jalan-jalan. Lalu, antarkan kami ke toko pernak-pernik. Istriku itu pengoleksi barang unik. Siapa tau dia nanti bisa mendapatkan barang bagus."
"Baik Tuan. Saya tau toko pernak-pernik yang bagus." kata sopir.
Mobil melaju perlahan. Sang sopir mengatur kecepatan agar mobil melaju tak terlalu kencang. Butuh waktu setengah jam untuk sampai di lokasi tujuan. Sebenarnya tidak terlalu jauh. Tapi karena lalu lintas ramai, perjalanan mereka sedikit terhambat.
Ana membuka matanya. Dia begitu heran dengan pemandangan di luar mobil.
"Ini dimana? Kok kayak beda sama yang tadi?" tanya Ana.
"Iya, kita sudah sampai di toko pernak-pernik. Kamu mau masuk?"
"Iya mau. Tapi, aku pingin kamu beliin minuman segar itu!" tunjuk Ana pada sebuah gerai yang menjual aneka minuman segar dengan berbagai varian rasa.
__ADS_1
Tanpa basa-basi, Anton segera keluar mobil menuju gerai yang ditunjuk Ana.
"Wah, dia gercep sekali! Langsung kesana tanpa menolak."
"Non, saya izin merokok sebentar ya." izin sang sopir, yang kemudian keluar dari mobil.
"Baiklah. Silakan!" jawab Ana.
Ana sendirian. Ia kemudian mengeluarkan ponselnya dari tasnya. Memainkan ponsel adalah cara terbaik untuk melewatkan waktu senggang dengan cepat.
Saat itulah Ana melihat ponsel Anton tergeletak di sebelah tas Ana. Ana langsung meraihnya dan menatap wallpaper di ponsel Anton. Ada gambar dirinya bersama Anton.
Tiba-tiba ada pesan masuk di ponsel Anton. Ana sebenarnya tak berniat membacanya, tapi karena notifikasi tampak di layar depan, Ana pun bisa dengan jelas tau isi pesan itu.
'Hai Anton. Apa kabar? Bagaimana harimu? Apakah kamu sudah memutuskan kemana kita akan menghabiskan waktu bersama kita?' pesan dar**i Tia.
'Siapa Tia?' pikir Ana.
Ana menaruh kembali ponsel Anton di kursi mobil. Ia tak mau berpikiran macam-macam. Selain itu, menurut Ana tak baik terlalu kepo dengan privasi suaminya. Siapa tau Tia adalah relasi kerja Anton. Atau teman lamanya yang mungkin sebentar lagi akan menggelar reuni. Ah, siapa yang tau?
Beberapa saat kemudian, ada pesan masuk lagi di ponsel Anton. Masih dari seseorang bernama Tia.
'Jangan khawatir, aku akan sabar menunggu balasanmu yang selalu lama. Kau tau, akulah wanita yang senantiasa mendukung apapun keinginanmu. Jika bisa, aku yang akan menjadi kandidat istri sahmu!'
JEDER! Hati Ana langsung mendidih oleh chat dari wanita yang tak dikenalnya itu. Ana juga menduga bahwa seseorang bernama Tia pasti bukan dari kalangan karyawan pada umumnya. Melihat dari chat yang ditujukan kepada Anton, tergolong berani dan santai.
Anton sudah kembali dan duduk di samping Ana. Ia membeli minuman segar untuk Ana.
"Sebanyak ini?" tanya Ana.
"Iya. Ada sepuluh rasa dan aku membelinya masing-masing satu. Kamu bisa memilih yang kamu suka. Jika ada lebih, kamu bisa membagi untuk sopir. Jadi nggak ada yang terbuang. Oh iya, ponselku ada di tanganmu? Apa tadi ada seseorang yang menelpon? Apakah Mama?"
"Tidak ada panggilan dari siapapun. Hanya beberapa pesan yang belum aku buka, tapi aku sempat membaca sekilas isi pesannya." kata Ana.
"Baiklah. Tak masalah. Kamu bebas membukanya jika mau. Tak ada rahasia di antara kita. Ini, silakan diminum es nya!" tawar Anton dengan menyelipkan senyuman manisnya.
Ana mengambil salah satu minuman di depannya. Tak peduli apa rasa yang dipilih. Ana masih kepikiran soal siapa Tia dan apa hubungan Tia dengan Anton, suaminya.
"Kenapa bengong? Ayo diminum!"
"Baiklah!" ujar Ana dengan tatapan kesal pada Anton.
Ana hanya minum sedikit, lalu masuk ke toko pernak-pernik. Ana tak mau ditemani Anton. Ia ingin berkeliling sendirian dulu. Tetapi jika ia tak kunjung ke luar, Anton boleh menghampirinya nanti.
__ADS_1
"Kenapa dia kesal padaku? Apa ada yang membuatnya sedih?" tanya Anton pada dirinya sendiri setelah Ana masuk ke toko pernak-pernik.
Anton membuka pesan yang belum terbaca. Tak banyak pesan yang masuk. Hanya ada satu pesan dari orang yang sama.
"Tia? Dia kirim pesan apa? Tumbenan banget."
Perlahan, Anton membuka isi pesannya. Betapa kagetnya Anton mendapati isinya. Tak biasanya Tia mengirim pesan sevulgar dan seberani itu.
"Apa gara-gara ini Ana kesal padaku? Wajar sih jika demikian. Tapi dia hanya diam saja. Memendam sendiri rasa kesalnya."
Sementara itu, Ana sibuk mencari gantungan kunci. Ia ingin membagikannya untuk beberapa teman, termasuk Nabila. Teman syutingnya yang selalu ada untuknya.
BRUGH. Ana menabrak seseorang hingga orang itu terjatuh.
"Aduh!" seru wanita yang terjatuh.
Ana lantas menolong wanita itu. Membantunya berdiri dengan hati-hati. Saat itulah Ana teringat dengan Tia. Wajah wanita di hadapannya terlalu mirip dengan foto profil Tia di ponsel suaminya.
"Maafkan aku..." ujar Ana merasa bersalah.
"Tak apa. Aku tadi tak liat jalan." kata wanita itu sembari mengulas senyum.
"Oh baik. Silakan lanjutkan belanjanya." kata Ana yang mencoba menjauh.
Ana mencoba menenangkan dan meyakinkan diri bahwa wanita itu bukan Tia. Jika benar dia adalah Tia, mungkin hanya kebetulan semata.
Tia sudah lebih dulu keluar dari toko. Matanya terbelalak melihat pria yang disukainya ada di depan mata. Yah, Anton tengah berdiri bersandar di mobil. Anton terlihat sedang bertelepon hingga tak sadar jika Tia sudah berada di dekatnya.
"Sedang apa di sini?" tanya Tia usai Anton memutus panggilannya.
"Tia? Kenapa kamu di sini?" kata Anton balik tanya.
"Aku? Bukankah kamu ke sini untuk menemuiku? Aku kan sudah pernah bilang bahwa ada agendaku di kota ini. Jadi, kamu berniat untuk menemuiku di sini?" cerocos Tia penuh percaya diri.
"Bukan begitu. Aku ke sini hanya karena ada urusan pekerjaan. Selain itu, aku..." Anton tak melanjutkan kalimatnya karena melihat Ana berjalan ke arahnya.
"Siapa dia?" tanya Ana begitu sampai di dekat Anton.
"Aku adalah Tia. Senang berkenalan denganmu, uhm namamu siapa ya?"
"Aku Ananda Ranita. Istri Anton Novero. Lalu ada urusan apa kamu dengan suami tercintaku?" ucap Ana bernada sinis.
"Aku tak sengaja bertemu suamimu. Dia pria idamanku. Makanya, aku sering mengajaknya untuk bertemu. Jangan berpikiran aneh tentangku. Nggak salah kan jika aku mengagumi pria tampan ini yah meski masih berstatus sebagai suamimu."
__ADS_1
"Ku bilang jangan! Cari saja pria lain selain Mas Anton!" seru Ana.
Ana pun menarik tangan Anton untuk segera masuk ke dalam mobil. Meninggalkan Tia yang masih terpaku mendapati dirinya ditinggalkan begitu saja.