Love Me Please, Hubby!

Love Me Please, Hubby!
Bertahap Menyakiti Hati


__ADS_3

Ana masih berusaha melepaskan diri dari cengkeraman Anton. Anton yang seperti kerasukan setan, semakin mengencangkan cengkeramannya. Cairan bening lolos begitu saja dari mata Ana. Ana pasrah jika nyawanya berakhir di tangan Anton.


Tiba-tiba pintu kamar mereka dibuka. Masuklah Bu Jenny dengan membawa kue brownis di nampannya. Heran melihat apa yang dilakukan anak dan menantunya itu. Refleks, Anton mendekap erat Anton dalam pelukannya. Ana pun menghembuskan nafasnya. Bersyukur masih bisa bernafas lagi.


"Ikh, kalian ini kalo mau bermesraan, jangan lupa kunci pintu dulu!" goda Bu Jenny, mama Anton.


"Mama ngapain ke sini?" tanya Anton.


"Mau anter kue brownis. Tadi siang mama bikin kue. Dicobain yah. Kalo enak berarti kursus masak mama berhasil." jawab Bu Jenny.


Ana bersembunyi dalam pelukan Anton. Mana bisa ia menunjukkan tangisnya di depan ibu mertuanya yang sangat dihormatinya itu. Ia tak ingin Anton kena masalah lagi. Karena pasti dirinyalah yang akan kena imbasnya nanti.


"Mama turun yah! Kasian tuh Ana diumpetin!" goda Bu Jenny.


Anton tersenyum. Bersyukur aktingnya bisa membohongi mamanya. Ia tak ingin mamanya mengetahui kejadian yang sebenarnya. Bisa celaka dia nanti jika diadukan ke sang papa.


Suasana sudah aman. Mama Anton sudah keluar kamar. Kini tinggal Anton dan Ana yang masih menyimpan ketakutan dan kesakitan. Lalu Anton menghempaskan tubuh Ana sembarangan. Bahu Ana menabrak dinding. Ana hampir menjerit kesakitan. Tapi tangannya menutupi mulutnya agar tak mengeluarkan suara.


Anton menatap Ana sekilas, lalu pergi ke balkon kamarnya. Ana menangis seorang diri. Menahan sesak di dada yang semakin dirasa semakin sakit. Ana berusaha bangkit, berjalan tertatih memasuki toilet untuk membersihkan diri.


Anton sudah duduk di sofa balkon kamarnya. Ia menyesap rokoknya yang sebelumnya memang sudah ia taruh di meja. Ada sedikit penyesalan sudah membanting tubuh Ana sedemikian rupa. Tapi ia mencoba meyakinkan diri bahwa apa yang dilakukan sudah benar. Agar Ana tidak ikut campur lagi dengan urusan pribadinya.


...****************...

__ADS_1


Beberapa hari kemudian, Ana mengajak Anton untuk menginap di rumah papa Radit. Tapi Anton menolaknya mentah-mentah dengan dalih ada urusan bisnis yang harus diselesaikan terlebih dahulu. Mungkin jika selesai lebih cepat, Anton akan menyusul.


Ketika sudah sampai di rumahnya, Ana berdiam diri memandangi pintu rumahnya. Ia tak kunjung masuk, hingga Pak Kiman membuka pintu itu.


"Non Ana silakan masuk!" ujar Pak Kiman, petugas keamanan di rumah Ana.


"Iya Pak. Apa Papa ada di rumah?" tanya Ana.


"Tuan Besar sedang keluar kota, Non. Kalo nggak nanti malam, mungkin besok baru pulang. Apa Non belum ngabarin Tuan Besar kalo mau pulang ke sini?"


"Belum Pak. Yaudah, aku masuk dulu ya, Pak." kata Ana.


Ana memasuki rumahnya untuk pertama kali setelah menikah. Ia tersenyum memandangi ruangan besar yang masih dihiasi pajangan yang sama. Ana melihat-lihat pajangan foto yang tergantung di dinding sepanjang anak tangga.


Sekilas, Ana terlihat seperti melakukan tapak tilas di tempat yang pernah ia singgahi. Sesekali ia menyunggingkan senyumnya walau hanya melihat foto sang mama bersama papanya.


Tak terasa air matanya menetes membasahi pipi mulusnya. Ia menyekanya perlahan.


"Aku bukan Ana yang lemah. Jadi harus kuat sekuat baja, baik fisik dan mentalku. Aku juga bukan Ana yang gegabah. Jadi harus bersabar untuk mendapatkan apa yang aku mau. Kebahagiaan itu sejatinya ada waktu pastinya. Aku hanya menunggu saat yang tepat." ujar Ana.


Meski yakin tak dipedulikan, Ana tetap mengabari Anton melalui pesan WA jika dirinya sudah sampai di rumah Papa Radit. Lalu ia kembali mengamati foto-foto masa lalu yang menurutnya sangat berharga untuk dikenang.


Puas memandangi foto kenangan, lantas Ana menuju kamarnya. Ia rindu akan betapa hangat dan nyamannya kamarnya sendiri itu. Kamarnya masih terjaga dengan rapi. Ia memang jauh-jauh hari sudah berpesan pada ART untuk membersihkannya setiap hari.

__ADS_1


Ana merebahkan tubuhnya diranjang. Ia tampak menikmati waktu bersantainya itu. Tanpa diganggu jadwal syuting ataupun jadwal rutin harian sebagai seorang istri. Seperti memasak, menyiapkan pakaian, serta berpura-pura menjadi istri yang perhatian di depan keluarga besar.


Bosan tanpa melakukan apapun, Ana berselancar di dunia maya. Termasuk menyaksikan status WA teman terdekatnya. Saat itulah ia mengetahui status WA Alana. Alana memposting foto dirinya dan seorang pria yang sengaja diblur wajahnya. Alana menambahkan caption: Bahagia meski status masih bayangan!


Deg! Hati Ana langsung terasa perih saat melihat postingan Alana. Bagaimana tidak, meski wajah pria itu diblur dengan mozaik, tetap saja ia yakin jika itu adalah Anton, suaminya. Bukan perkara cinta, tapi Ana merasa tak rela jika miliknya dijamah orang lain. Ana belum terpikirkan apakah itu cinta atau bukan.


Di tempat lain, Anton memang sedang bertemu dengan klien. Sebagai perwakilan resmi dari perusahaan sang papa, Anton bisa melakukan pekerjaannya dengan baik. Dia bersungguh-sungguh agar kerja sama bisa berjalan lancar tanpa kendala. Sehingga bisa dipastikan bahwa sang papa akan lebih menghargainya.


Seusai bertemu klien, Anton segera membuat janji temu dengan Alana. Meski dunia menyebutnya sebagai pelakor atau selingkuhan, bagi Anton, Alana adalah wanita yang dicintainya. Tidak mungkin ia akan diam saja jika terjadi sesuatu pada Alana.


Anton belum siap jika perselingkuhannya diketahui publik, termasuk sang papa. Pun dengan Alana, ia masih enggan mengungkap sosok pria yang dekat dengannya. Padahal para fans garis keras Alana, terus mendesaknya untuk mengungkap identitas sang kekasih. Intinya, keduanya memang sudah ketangkap basah oleh Ana dan Arga, tapi belum mau diketahui oleh publik.


Tempat bertemunya Anton dan Alana adalah tempat sepi yang privasi. Jauh dari ranah publik yang mengenali mereka. Seperti saat ini, mereka bertemu di sebuah tempat karaoke yang lokasinya dekat dengan apartemen Alana.


"Gapapa kan kita ketemuan di sini?" tanya Anton yang memeluk Alana karena kangen.


Alana mengelus punggung Anton. Ia tersenyum karena bahagia bisa bertemu Anton lebih sering dari biasanya.


"Nggak masalah. Aku juga belum mau publik tau tentangmu. Bisa-bisa aku disebut pelakor sama netizen. Aku belum siap. Nanti seusai kamu cerai dari Ana, boleh deh aku muncul sebagai kekasihmu! Aku tak sabar menunggu waktu itu." jawab Alana manja.


"Manjamu itu adalah candu yang membuatku rindu!" kata Anton.


Dalam suasana seintim itu, tiba-tiba Anton teringat Ana. Bagaimana jadinya jika Ana ada di posisi Alana sekarang? Ana dipeluk Anton dan juga berbicara semanja Alana. Apakah dirinya akan menyukainya atau malah jijik melihatnya? Entahlah! Anton hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Memikirkan apa? Kok diam?" tanya Alana.


Seketika bayangan tentang Ana langsung buyar. Anton tersenyum pada Alana. Menunjukkan bahwa dirinya tak memikirkan hal lain selain Alana.


__ADS_2