Love Me Please, Hubby!

Love Me Please, Hubby!
Beralih Cemburu


__ADS_3

Pagi harinya, Ana sedang menyiapkan sarapan untuk papa dan suaminya. Beberapa ART yang biasa masak hanya melihat apa yang dilakukan Ana. Sebab Ana menyuruh mereka istirahat saja atau melakukan pekerjaan lain selain memasak.


Anton duduk di kursi makan. Menyaksikan hidangan spesial buatan Ana. Ia kagum melihat penataan hidangan yang artistik. Beberapa kali Ana tampak bolak balik untuk menyempurnakan hidangan di meja makan. Ana ingin masakannya selain enak juga sedap dipandang.


"Apakah sudah siap, Sayang?" tanya Pak Radit yang langsung duduk di kursinya.


"Iya Papa. Sudah siap." jawab Ana yang akhirnya ikut duduk.


"Papa terkejut melihat hasil masakanmu semenarik ini! Sepertinya kemampuanmu plating makanan sangat bagus. Papa yakin rasanya nggak akan mengecewakan. Boleh kita mulai sarapannya?"


"Iya Papa." ujar Ana.


Akhirnya mereka bertiga menikmati sarapannya. Sebenarnya Ana hanya memasak menu nasi goreng. Berhubung ia menambahkan topping dan penataan yang menarik, terlihat istimewa bagi Anton dan papanya.


"Nasi gorengmu enak. Papa selalu suka. Ditambah lagi tampilan sosis, telur, dan potongan ayam yang luar biasa ini, membuat papa lupa kalo ini hanya nasi goreng. Masakanmu luar biasa, Ana. Menurutmu bagaimana Anton?"


Anton menatap Pak Radit dan Ana bergantian. Senyuman manis terukir di wajahnya. Sepersekian detik, Ana meleleh dengan hanya melihat senyuman Anton. Lalu Ana sadar dan membenarkan posisi duduknya sambil berdehem.


"Menurut Anton, apapun masakan Ana, selalu enak. Sederhana tapi istimewa." kata Anton.


"Terima kasih atas pujian kalian. Tapi Ana memasaknya untuk dimakan saja. Tak perlu dipuji setinggi itu. Menurut Ana ini masih biasa saja. Bahkan masih kalah jauh dengan nasi goreng buatan penjual nasi goreng keliling." kata Ana.


"Ana Sayang, kamu masih kesal, Nak?" tanya Pak Radit.


"Pasti Pa. Wanita mana yang tak kesal. Sekelas wanita cantik seperti Lady Diana saja bisa cemburu pada suaminya. Apalagi aku yang remahan rengginang ini." jawab Ana.


"Astaga. Benar kamu boleh cemburu pada suamimu sendiri. Tapi please, kamu bukan remahan rengginang. Kamu berlian mahal, Sayang!" tutur Pak Radit.


"Papa kenapa sih belain Mas Anton terus? Anak Papa itu Ana." kata Ana menahan kesal.


"Papa hanya ingin kalian berdamai. Papa rasa kalian hanya sebatas salah paham." ujar Pak Radit.


"Pa, Anton juga salah sih. Pernah membuat Ana kecewa, jadi kali ini pun pasti sulit bagi Ana untuk memaafkan Anton." kata Anton.


"Apa maksudmu?" seru Ana.


"Ana dan Anton, lebih baik kita teruskan sarapannya saja. Kalian bicaralah berdua nanti. Papa nggak mau terlalu mencampuri urusan rumah tangga kalian." kata Pak Radit.


"Baik Pa." ujar Anton.


Keheningan pun terjadi. Tak ada obrolan lagi sampai sarapan selesai. Hanya bunyi dentingan sendok dan garpu yang bersentuhan dengan piring.


"Papa berangkat kerja dulu yah!" kata Pak Radit pada Ana.

__ADS_1


"Iya Papa. Ana masih boleh menginap di sini kan?" tanya Ana sambil bergelayut manja.


"Iya boleh. Asal suamimu mengizinkanmu." jawab Pak Radit.


"Pasti boleh Pa, selama Anton juga diajak menginap." kata Anton.


Ana segera menatap Anton dengan sinis. Lalu bergegas ke kamarnya.


"Kamu ke kantor nggak?" tanya Pak Radit pada Anton.


"Sepertinya tidak, Pa. Lebih penting membujuk agar Ana nggak marah lagi. Lagipula Anton bukan orang penting. Masih ada Papa Mirza dan Kak Arga. Anton bisa meng-handle via online jika diperlukan." jawab Anton.


"Oh baiklah. Jaga Ana baik-baik yah. Ana adalah wanita yang baik. Dia hanya sedang kesal saja padamu. Pintar-pintarlah mengambil hatinya. Kalian berhak bahagia!" nasihat Pak Radit.


Anton hanya mendengarkan sungguh-sungguh dan menganggukkan kepalanya. Lalu Pak Radit menepuk bahu Anton dan pergi.


"Papa hati-hati yah!" ujar Anton melepas kepergian papa mertuanya.


Anton kembali ke kamarnya. Menghampiri Ana yang berdandan di depan cerminnya. Sementara Anton hanya berdiri di belakang Ana tanpa ekspresi.


"Ada apa?" tanya Ana karena risih melihat Anton menatapnya tanpa jeda.


"Gapapa. Tapi apa ada pekerjaan hari ini?"


"Benarkah? Pasti produk kecantikan!" tebak Anton.


"Hah, kamu benar." kata Ana.


"Oke. Aku yang akan mengantarmu. Aku siap-siap dulu ya!" ujar Anton.


"Nggak usah. Dokter Tata mau jemput aku. Kami sudah buat janji."


"Nggak boleh! Siapa dia mau mengantarmu? Kamu masih punya suami yang bisa diandalkan. Jangan sama dia lagi. Aku nggak suka!" seru Anton.


"Tapi kami sudah buat janji. Dia mau kok! Kamu nyantai aja di sini. Atau pergi ke kantor lagi gih! Ketemu Catleya lagi sana! Aku juga nggak keberatan kok. Kamu bebas sih!" kata Ana.


"Ana, kenapa sih kamu susah diatur? Selalu bikin aku kesal!" teriak Anton mulai marah.


Ana menggelengkan kepalanya. Ia yang tadinya menatap Anton dari pantulan gambar di cerminnya, kini beralih menatap Anton secara langsung.


"Anton, aku juga manusia. Sama sepertimu." seru Ana.


"Lalu kenapa susah sekali membuatmu sedikit luluh denganku. Apa salahnya jika kamu mendengarkanku?" tanya Anton.

__ADS_1


"Bukan aku tak mau mendengarkanmu. Iya, aku dengar. Aku hanya melakukan apa yang aku inginkan. Kamu harusnya sadar posisi kita." jawab Ana.


"Karena aku sadar, makanya aku nggak mau kamu dekat dengan pria lain selain aku dan keluarga kita." ujar Anton.


"Apa kamu mulai cemburu?" tanya Ana, kali ini sengaja menatap Anton lebih dekat dengan berdiri di depan Anton.


"Siapa yang cemburu? Aku? Aku hanya kesal" seru Anton.


Ana terbelalak kaget dengan suara Anton. Lalu kembali duduk di kursi riasnya. Ana kembali sibuk dengan membereskan peralatan make up nya yang berantakan.


"Aku sangat kesal setiap kali kamu dekat dengan pria itu. Jelas-jelas dia menyukaimu." kata Anton.


"Aku tau. Dia bahkan sudah menyatakan perasaannya padaku. Katanya sudah lama memendam perasaan sukanya padaku." ujar Ana seperti tanpa beban.


"Lalu apa tanggapanmu?" tanya Anton dengan memegang bahu Ana.


"Aku hanya bilang..."


"Kamu bilang apa?" tanya Anton mendesak karena penasaran.


"Aku bilang, dia harus melupakan perasaannya padaku. Aku kan sudah menikah. Tak pantas menerima pernyataan cintanya. Mungkin lain ceritanya jika aku belum menikah. Mungkin aku menerimanya dengan senang hati. Wanita mana yang bisa menolak pesonanya. Dia baik, sopan, humoris, pintar, karirnya bagus, dan pastinya juga tampan. Satu lagi, aku sudah lama mengenalnya dengan baik." jawab Ana.


Ana dan Anton masih saling bertatapan.


"Kenapa kamu bilang begitu? Kamu menyukainya? Sungguh?" tanya Anton.


Belum sampai Ana menjawab lagi, Anton buru-buru pergi meninggalkan Ana. Ana baru bisa menghentikan Anton setelah sampai di teras rumah.


"Mau kemana?" tanya Ana yang mengekori Anton dari belakang.


"Aku akan menghajarnya!" jawab Anton mantap.


"Siapa?" tanya Ana lagi.


"Dokter sialan itu. Siapa lagi? Aku pastikan dia akan babak belur hari ini! Jam berapa dia ke sini?" seru Anton.


'Anton semarah itu hanya karena aku akan bertemu pria lain? Apa benar dia cemburu? Benarkah seperti itu? Yey, akhirnya! Tapi aku akan bersikap biasa saja. Siapa Ana yang harus lebih dulu menyerah? Lihat saja!' batin Ana.


"Silakan saja kamu menghajarnya! Toh dia sudah datang dengan gaya casualnya itu. Dia jauh-jauh ke sini hanya untuk memenuhi panggilanku. Ku harap kamu mengizinkanku dijemput olehnya. Perhatikan pria tampan di belakangmu! Apa mungkin kamu tega menghajarnya?" ujar Ana.


"Aku akan menghajarnya!" kata Anton.


Anton berbalik ke belakang. Ia melihat sosok pria tampan yang Ana maksudkan.

__ADS_1


__ADS_2