Love Me Please, Hubby!

Love Me Please, Hubby!
Membalas Dengan Kata


__ADS_3

Ana dan Anton sedang sarapan bersama keluarga Novero. Tidak ada obrolan diantara mereka. Hanya sesekali Bu Jenny menyuruh Ana dan lainnya untuk menambah isi piring. Seusai makan, mereka bersiap dengabln urusan masing-masing.


"Kamu gapapa di rumah sendirian? Nggak ada jadwal syuting hari ini?" tanya Bu Jenny yang hendak pergi ke perkumpulan arisan.


"Gapapa Mama. Ana nanti siang syutingnya. Mama hati-hati yah. Ana sayang Mama...." Ana memeluk mama mertuanya.


"Iya Ana sayang. Mama juga sayang Ana." ujar Bu Jenny yang membalas pelukan Ana.


"Kalian ini akrab sekali! Aku saja nggak pernah diperhatikan begitu sama mama." keluh Andre cemburu.


"Ih anak mama yang paling gemesin. Sini mama peluk!" seru Bu Jenny menggoda Andre yang cemberut.


"Ogah. Malu sama umur!" tolak Andre.


Andre bergegas berangkat sekolah. Hari ini Andre diantar oleh supir.


"Dasar anak nakal! Dia main kabur aja." kata Bu Jenny.


Ana tidak sendirian di rumah itu. Ada beberapa ART dan petugas keamanan. Tapi Ana memilih menyendiri di kamarnya.


Sementara itu, di kantornya Anton tengah mengadakan rapat evaluasi bulanan. Ia dan para staf sedang berdiskusi untuk memajukan perusahaan. Selesai rapat, Anton tak lantas kembali ke ruangannya. Ia malah bergegas menuju apartemen Alana. Guna meminta penjelasan langsung dari Alana.


Butuh setengah jam untuk sampai di apartemen Alana. Memang Alana sedang ada di apartemennya. Sebelumnya Anton sudah mencari tahu apakah Alana sedang syuting atau tidak hari ini. Anton menekan bell beberapa kali sampai Alana membukanya.


"Siapa sih?" tanya Alana sebelum melihat siapa yang datang.


"Aku!" ujar Anton datar


"Eh Anton. Ku pikir siapa. Ayo masuklah! Aku baru bangun tidur, jadi masih jetlag. Kamu mau minum apa?"


"Bukannya kemaren kamu nggak ada syuting? Lalu kenapa bisa baru bangun siang hari ini? Semalem kamu kemana?" tanya Anton seperti sedang menginvestigasi Alana.

__ADS_1


Alana menatap Anton tidak percaya.


"Apa yang kamu bicarakan?" tanya Alana.


"Bukankah sudah jelas kalo kamu ke Hotel XY yah? Ada urusan apa sampai ke sana larut malam? Setauku kalo urusan pekerjaan tak harus bertemu di hotel. Larut malam lagi! Apa itu nggak mencurigakan?"


"Oh kamu sudah tau yah? Udah paham dengan profesi keduaku? Kamu pasti paham lah ya. Kalo kamu sudah tau dari awal, kenapa harus buang-buang waktu memastikan apa profesiku? Kamu udah tau kan?" tanya Alana.


"Alana, aku ingin menyangkal jika semua itu bohong. Tapi kamu audah mengakuinya sendiri tanpa ku minta. Jujur, aku kecewa denganmu. Aku sudah mempercayakan cintaku untukmu. Tapi kamu sejahat itu. Kamu tega denganku. Apa sebenarnya kamu nggak ada cinta denganku?" tanya Anton.


"Iya, aku lebih mencintai uangmu daripada dirimu. Ada yang menawariku harga yang mahal dengan aku tidur semalam dengannya. Lalu haruskah aku tolak? Padahal aku sangat haus dengan apa yang namanya uang. Kamu sih memang ngasih uang bulanan untukku dan aku punya honor syuting juga. Tapi ini hidup sayang! Apa-apa butuh yang namanya uang!" jawab Alana santai.


Anton geram dengan penuturan Alana. Ia hanya bisa mengepalkan tangannya tanpa bisa berbuat apa-apa. Jika lawannya pria, pasti akan mudah baginya memukul lawannya sampai tak sadarkan diri.


"Selamat! Kamu menang mengalahkanku!" ujar Anton.


"Apa maksud dari kata selamatmu? Kamu yakin mengatakannya?" tanya Alana.


Anton segera berlalu meninggalkan Alana. Ia ingin menyudahi kekesalannya yang sudah di ubun-ubun. Saat itulah ia teringat pada Ana, istrinya. Entah kenapa ia sangat ingin melihat Ana. Mungkin senyuman Ana mampu meredam kemarahan dan dendamnya pada Alana.


Anton memasuki mobilnya. Ia menelpon Ana untuk mengetahui lokasi Ana dimana. Setelah mengetahuinya, Anton segera meluncur ke lokasi yang disebutkan Ana.


Sementara itu, Ana sedang menunggu giliran adegan syuting. Sebelumnya ia sudah take beberapa adegan. Ana mengamati jalannya syuting agar ia bisa fokus melakukan adegan selanjutnya secara alami. Dari jauh, Ana melihat Anton yang berdiri di samping mobilnya. Ia membiarkan Anton begitu saja. Hampir sejam Anton sabar menunggu Ana. Anton tak protes dalam penantian lamanya.


"Maaf sudah membuatmu menunggu lama. Tapi aku sudah mengusahakan syuting secepat mungkin. Maaf ya!" kata Ana.


"Iya. Minumlah!" Anton menyodorkan minuman kemasan pada Ana.


"Terima kasih." kata Ana.


"Sebaiknya kita masuk ke mobil. Supaya kamu bisa duduk dengan nyaman." ujar Anton.

__ADS_1


"Baiklah."


Keduanya memasuki mobil Anton.


"Kamu menikmati syutingnya?" tanya Anton, matanya menatap lurus ke depan.


"Ya bisa dibilang begitu. Aku sangat menikmati pekerjaan yang ku lakukan ini. Sepele tapi berharga bagiku. Aku tak peduli orang lain mencibirku. Aku hanya perlu melakukan apa yang ku sukai dan menikmatinya saja." jawab Ana, lalu meminum minuman pemberian Anton.


"Kamu pasti bahagia setelah tau aku dicampakkan oleh Alana." ujar Anton.


Kini Anton fokus menatap Ana yang duduk di sebelahnya. Ana hampir salah tingkah dibuatnya. Walaupun kaku dan dingin, Anton adalah pria tampan di mata Ana.


"Tidak juga. Aku biasa saja. Tapi masa iya kalian...?" tanya Ana tak yakin dengan apa yang ia tanyakan.


"Aku sudah dibodohi oleh wanita itu. Setelah Kak Arga, aku pun juga jadi korbannya. Memalukan bukan?"


Ana menepuk bahu Anton. Lalu tersenyum seperti biasa. Anton pun ikut tersenyum.


"Aku pikir kamu lebih kuat dari dugaanku. Kamu saja kuat hidup berdampingan denganku selama beberapa waktu. Jadi, pasti kamu lebih kuat melupakan dendammu pada Alana. Aku tak membenci kamu ataupun Alana, tapi jika kalian berpisah begini, aku bahagia. Karena menjalin hubungan terlarang dengan wanita lain selama dalam masa pernikahan kan termasuk dosa yang tak termaafkan." ujar Ana.


"Entahlah. Aku bodoh sudah melakukan kesalahan seperti itu. Dari awal seharusnya aku tak menyeretmu ke dalam masalahku. Jika kita tak menikah, apakah momen aku dikhianati oleh Alana takkan terjadi?" tanya Anton.


"Jangan tanyakan padaku. Aku bukan Tuhan yang setiap waktu pasti tahu. Aku hanya manusia yang sering berbuat sia-sia." jawab Ana.


"Jika dilihat lebih jauh, kata-katamu ada benarnya juga. Tapi aku masih benci denganmu!"


"Tidak masalah. Benci itu alamiah. Siapapun memiliki perasaan benci. Hanya saja, mungkin berbeda takaran pada setiap orang. Berbeda persentase nilai kebencian. Tapi jangan terlalu berlebihan dalam membenciku yah. Salah-salah nanti kamu jatuh cinta padaku." kata Ana.


"Tidak mungkin." kata Anton.


"Hmm..."

__ADS_1


__ADS_2