
Selama tiga hari Ana dan Anton menginap di rumah Pak Radit. Kini saatnya mereka kembali ke rumah Pak Mirza. Sebab Bu Jenny sudah sangat rindu dengan Ana.
"Apakah Mama sudah tak sayang Anton lagi? Kenapa hanya Ana yang dirindukan?" kata Anton pura-pura merajuk.
"Bukan begitu, tapi sejak kehadiran Ana di keluarga kita, rasanya Mama seperti punya putri perempuan. Kamu tau kan, Mamamu ini anaknya laki-laki semua?" kata Bu Jenny.
"Terima kasih ya Ma. Sudah bersedia menganggap Ana sebagai putri sendiri." ujar Ana.
"Kalian mandi dulu gih! Nanti abis ini kita makan siang bareng-bareng." perintah Bu Jenny.
Anton diikuti Ana berjalan menuju kamar mereka. Tak ada obrolan, mereka sama-sama diam hingga sampai di kamar mereka.
"Nanti malam aku tak pulang! Aku ada janji dengan Alana. Rencananya mau menginap di apartemennya. Besok pagi aku berangkat kerja dari sana. Jadi jangan tanya aku akan pergi kemana!" kata Anton.
"Kalian akan berkencan? Yasudah. Lagipula tak perlu bilang padaku. Aku tak ingin tau!" ujar Ana berlaku cuek.
"Lalu kamu mau kemana?" tanya Anton.
Ana sedang memilih-milih baju pesta. Rencananya malam nanti ia diajak Nabila untuk menghadiri pesta ulang tahun salah satu teman Nabila. Karena sibuk memilih, Ana tak menjawab pertanyaan Anton.
"Kenapa tak jawab?"
"Eh, apa?" tanya Ana.
"Kamu mau kemana?" tanya Anton lagi.
"Aku mau menghadiri pesta ulang tahun temannya Nabila. Kenapa?"
"Dimana tempatnya?"
"Kepo banget!" jawab Ana judes.
"Bukan di diskotik atau semacamnya kan?"
"Kalo iya, kenapa? Nggak ada salahnya kan?"
"Tidak boleh!" larang Anton.
__ADS_1
"Aku kan nggak ngelarang hubunganmu dengan Alana dan rencanamu mau menginap di apartemennya. Lalu kenapa kamu melarangku menghadiri pesta ulang tahun temannya Nabila? Oh apa karena lokasinya berada di diskotik?"
Anton tak menjawab. Menurutnya melarang pun tak ada gunanya. Ana yang dihadapinya sekarang dalam mode keras kepala. Jadi tak bisa dilarang sama sekali.
Pukul 7 malam, Ana bersiap diri dengan pakaian pestanya. Ia memilih dress panjang berwarna hitam dengan aksen mutiara di beberapa bagian. Ia mengenakan make up bold agar sesuai dengan pakaiannya. Dengan diantar supir, Ana menuju ke lokasi pesta yang dikirimkan oleh Nabila. Ana dan Nabila janjian di lokasi pesta.
Mereka memasuki diskotik dengan diantar para pengawal yang memang mengamankan lokasi. Hanya tamu undangan yang bisa masuk. Semakin ke dalam, suasana semakin ramai dengan alunan house musik yang menambah semarak. Tanpa disadari, keduanya ikut bergoyang.
Nabila mengajak Ana bersalaman dengan temannya yang ulang tahun. Beberapa teman lainnya juga ikut bergabung. Mereka saling berkenalan dan berbagi kontak telpon.
"Boleh minta kontakmu?" tanya Jamie, pria berkacamata dengan rambut coklat tua.
"Buat apa?" kata Ana balik tanya.
"Buat bersenang-senang." bisik Jamie tepat di telinga Ana.
"Maaf yah, aku nggak mau!" kata Ana.
Jamie yang tak mendapat kontak telpon Ana langsung pergi. Mencari mangsa lain yang bisa dirayunya.
"Dia kenapa?" tanya Nabila yang baru duduk setelah berfoto dengan temannya.
"Iya sih. Sekarang tampan pun bagimu udah biasa yah. Di rumah udah ada Anton yang tampan itu." kata Nabila.
"Aku bisa pesen minum selain alkohol nggak sih? Jus atau semacamnya ada nggak di sini?" tanya Ana.
"Ada. Ke bartendernya aja sana! Nanti dibikinin sama dia. Aku mau goyang ah. Dari tadi gatel pingin ikut goyang." kata Nabila.
Ana berjalan menuju tempat bartender meracik minuman. Ana disapa dengan ramah.
"Apakah ada minuman jus, soda, atau semacamnya? Pokoknya bukan alkohol." ujar Ana.
"Wait ya..." kata bartender itu.
Ana pun duduk di kursi barstool. Ia menunggu minumannya disajikan. Sesekali menatap ke arah DJ yang beraksi.
"Silakan!" kata bartender menyodorkan minuman jus untuk Ana.
__ADS_1
"Ini bukan alkohol kan?" tanya Ana.
"Bukan. Murni jus jeruk mix stroberi susu. Dijamin enak dan mantap!" jawab bartender meyakinkan.
Ana langsung menyedot minuman yang katanya jus itu. Ana mengakui, jus buatan bartender itu rasanya enak. Kombinasi jeruk, stroberi, dan susu dengan takaran yang pas. Manisnya pas. Tapi dua menit setelahnya, kepalanya terasa pening. Tak lama setelahnya, Ana pingsan.
Lalu keluarlah Jamie dengan senyuman nakalnya. Ia membayar bartender dengan sejumlah uang seratus ribuan. Bartender menerimanya dengan senang hati. Sebelumnya Jamie menyuruh bartender itu untuk memasukkan obat tidur di minuman yang dipesan Ana.
"Andai tadi kamu tak menolakku. Hal seperti ini tak terjadi. Kita kan bisa bersenang-senang dalam keadaan sadar. Setelah melihatmu tak sadarkan diri, aku semakin terprovokasi untuk mencicipimu!" bisik Jamie pada Ana yang sudah pingsan.
Jamie memapahnya perlahan. Karena ia yakin hanya Nabila yang mengenal Ana, maka sebisa mungkin Nabila tak menyadarinya. Jamie memapah Ana ke lantai dua. Menaiki anak tangga kecil dan melewati koridor remang-remang. Jamie membawa Ana ke sebuah ruangan yang didesain memang untuk ONS (One Night Stand).
Dalam waktu yang bersamaan, Anton berhasil masuk ke diskotik setelah terlibat adu fisik dengan para pengawal yang melarangnya masuk. Sebab Anton bukan termasuk tamu undangan dan tak punya kartu undangan.
Anton memutari titik-titik yang sekiranya ada Ana. Tapi ia tak menemukan Ana. Bahkan dia hanya melihat Nabila yang sedang menari tanpa Ana. Padahal seharusnya Ana bersama Nabila karena Nabila yang mengajaknya datang.
'Lalu dimana Ana?' pikir Anton bingung.
Tanpa pikir panjang, Anton segera menaiki tangga kecil yang sedari tadi menarik perhatiannya. Ia berlari melewati koridor remang-remang. Setelah itu dia melihat ada empat ruangan dalam keadaan pintu tertutup. Entah seperti mendapat bisikan, ia yakin Ana berada di salah satu ruangan itu.
Pintu pertama didobraknya. Anton menemukan sepasang pria dan wanita sedang bercumbu. Pintu kedua didobraknya. Tak ada siapapun di sana alias kosong. Pintu ketiga didobraknya lagi. Anton mendapati Ana yang sedang tidur, dimana ada pria lain yang berusaha melepas dress yang dikenakan Ana.
"B*jingan!" seru Anton marah.
"Siapa kamu?" tanya Jamie bingung.
Pasalnya, ia baru saja akan memulai aksi permainannya bersama Ana. Hanya tinggal selangkah lagi dan usahanya digagalkan oleh kedatangan orang tak dikenal.
"Aku suaminya. Siapa kamu dengan beraninya menjamah istriku?" seru Anton semakin marah.
"Aku akan bersenang-senang dengannya." ujar Jamie tanpa dosa.
Tanpa menunggu waktu lama, Anton segera menghantam wajah Jamie dengan pukulan keras. Jamie meringis kesakitan. Darah segar keluar dari sudut bibirnya. Anton benar-benar tak terima jika Ana harus diperlakukan seperti itu oleh pria lain. Ia hanya ingin Ana dijamah olehnya saja.
"Si*lan!" umpat Jamie sambil memegangi pipi dan dagunya yang nyeri.
"Pergi atau tetap disini dan mati?" ancam Anton.
__ADS_1
Jamie segera pergi untuk menyelamatkan diri. Lebih baik pergi daripada mati.