Love Me Please, Hubby!

Love Me Please, Hubby!
Bunga Yang Mekar


__ADS_3

Anton mengajak Ana ke sebuah toko yang menjual pakaian dalam. Sesampai di toko, mereka disambut ramah oleh penjaga toko.


"Kenapa kita ke sini?" bisik Ana saat penjual toko tak lagi bersama mereka.


"Kita mau beli pakaian dalam." ujar Anton sambil melihat ke sekelilingnya.


"Maksudku kenapa harus beli bersama? Kalo aku mau, aku bisa beli sendiri tanpa diantar olehmu. Aku malu!" gumam Ana.


Anton tak peduli dengan perkataan Ana. Ia lantas mengambil satu set lingerie merah yang tergantung di rak. Lalu menunjukkannya kepada Ana.


"Ini bagus kan?" tanya Anton sambil menempelkan lingerie itu pada badan Ana.


"Tidak begini juga...." keluh Ana tambah malu.


Anton hanya tersenyum melihat Ana yang tampak malu. Padahal dirinya biasa saja.


"Ah aku pergi saja deh. Aku malu tau!" kata Ana.


"Tapi jika dipikir lebih lanjut, tak perlu dicoba. Nanti akan pas jika sudah saatnya dipake. Oke, kamu duduk manis saja di sana. Aku yang akan pilihkan sesuai ukuranmu!" kata Anton santai.


Ana bergegas menuju tempat duduk yang disediakan. Duduk manis lebih baik daripada ikut memilih. Anton dibantu penjaga toko memilih lingerie untuk Ana.


"Itu pacar atau istrinya Kak?" tanya penjaga toko kepo.


"Istri." jawab Anton singkat.


"Oh. Istrinya cantik Kak. Kayak pernah liat di FTV (Film Televisi)."


"Lah emang dia artis."


"Pantes kayak nggak asing wajahnya. Ini bagus Kak!"


"Oke. Bungkus aja Mbak semuanya." kata Anton.


Selesai membayar, Anton menghampiri Ana yang sibuk bertelepon dengan seseorang.


"Oke, sampai nanti yah. Aku tutup teleponnya yah!" ujar Ana menyudahi percakapan teleponnya.


"Siapa?" tanya Anton penasaran.


"Kenalan. Salah satu fans katanya. Belanjanya sudah?"


"Iya sudah. Tapi aku mau membelikanmu sesuatu."


"Apa lagi? Kan udah. Tas udah. Itu juga lingerie tiga paperbag. Mau beli apa lagi?" tanya Ana.


"Aku mau beli perhiasan untukmu." jawab Anton.


"Hah? Kan udah pernah."


"Itu kan pas mahar. Setelahnya kan belum pernah. Mau atau nggak nih?" tanya Anton.


"Eh mau! Siapa juga yang mau nolak rejeki. Ayuk deh ke toko perhiasan." seru Ana girang.

__ADS_1


Tanpa sadar, mereka saling bergandengan tangan. Keduanya tampak harmonis bagi sebagian orang yang melihat mereka.


"Anton, ini beneran kan?" tanya Ana pelan.


"Iya. Mau pilih sendiri atau aku yang pilihkan?"


"Kamu aja deh yang pilihin. Aku bingung pilih yang mana. Semuanya bagus dan keren."


Anton pun memilih perhiasan yang dirasa cocok untuk Ana. Ia memilih satu set perhiasan yang memiliki desain bunga.


"Ini sepertinya cocok untukmu. Bagaimana? Kau suka?" tanya Anton.


"Wah, pilihanmu keren. Aku coba dulu yah cincinnya. Pas atau enggak. Kalo yang lain kan menyesuaikan." jawab Ana.


Ana langsung memakai cincin pilihan Anton. Sangat pas di jari manis Ana.


"Pas sekali! Coba kalung dan gelangnya juga!" perintah Anton.


Ana memakai gelangnya. Pas. Lalu memakai kalung, tapi ia kesulitan memasang pengaitnya. Anton dengan sigap membantu Ana memasangkan kalung itu.


"Cantik!" kata Anton.


"Iyalah, ini barang mahal. Otomatis cantik." seru Ana.


"Bukan perhiasan, tapi kamu yang cantik." ujar Anton.


"Apa sih! Aku mau yang ini aja. Kamu yang bayar kan?" Ana berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Iya. Mau perhiasan yang lain lagi?" tawar Anton.


Selesai membayar tagihan belanja, Ana mengajak Anton mengunjungi outlet makanan siap saji.


"Aku laper. Tadi di lokasi syuting belum sempet makan siang. Ini pun udah sore menjelang malam." keluh Ana.


"Oke. Pesan apa? Biar aku yang pesankan. Kamu duduk manis di bangku sana!"


"Aku mau ayam goreng krispi plus nasi, burger ayam, mocca float, dan twisty jangan lupa."


"Yasudah. Kamu tunggu dulu yah. Aku pesankan dulu."


Ana duduk di bangku yang masih kosong. Sementara Anton mengantri memesan makanan. Ana bahagia hanya memandangi suaminya yang sabar menunggu giliran memesan makanan.


'Ini adalah momen langka dimana seorang Anton Novero yang terkenal dengan sikap cueknya, berlaku perhatian pada istrinya. Ini langka. Meski aku tak boleh berbesar hati, tapi aku cukup senang diperlakukan manis seperti ini. Ini impian semua wanita kan?' batin Ana.


Sesekali Anton menatap Ana yang juga menatap dirinya. Mereka saling melepar senyum.


"Ngantri banget kan yah? Lagi rame-ramenya." ujar Ana.


"Gapapa. Tunggu sebentar lagi yah."


"Tapi kamu tadi dilihatin sama cewek-cewek itu."


"Halah perasaanmu aja. Aku nggak ngerasa dilihatin." kata Anton yang sibuk memainkan ponselnya.

__ADS_1


"Nah itu pesanan kita datang!" seru Ana.


Pramusaji menaruh pesanan mereka dengan hati-hati.


"Selamat menikmati Kakak!" kata pramusaji.


"Terima kasih!" balas Ana.


Tanpa menunggu lama, Ana segera melahap makanannya karena ia sudah sangat lapar.


"Pelan-pelan saja makannya!" ujar Anton.


"Iya maaf." kata Ana sembari tersenyum.


"Kamu nggak makan? Sibuk aja main HP. Lagi stalking Alana nggak sih?" tanya Ana.


"Enggak. Aku lagi chatting sama Kak Arga. Masalah bisnis. Kenapa bawa nama Alana sih?"


"Eh maaf. Keceplosan." ujar Ana.


Anton pun menaruh ponselnya dan ikut makan bersama Ana. Sesekali mereka bercerita kenangan masa kecil mereka.


"Eh masa kamu dulu begitu?" tanya Ana.


"Iya, kan aku anaknya pendiem. Jadi nggak punya banyak temen kan. Makanya kadang kalo pas jam istirahat, daripada berbaur main sama yang lain, aku lebih milih baca buku di perpustakaan. Makanya banyak yang bilang aku sok pintar dan anti sosial. Gitu deh. Tapi semenjak SMA, aku nggak kayak gitu. Mulai berbaur sama yang lain." jawab Anton.


"Oh begitu. Tapi jiwa kaku dan cueknya kamu masih berasa kok sampe sekarang. Mungkin udah mendarah daging kali ya." ujar Ana.


"Separah itukah?" tanya Anton.


"Iya parah banget. Eh abis ini kita kemana? Pulang aja ya? Aku udah ngantuk nih. Besok pagi kan ada jadwal nyalon sama Mama kamu."


"Iya. Abisin dulu makannya. Atau mau bungkus buat di rumah?"


"Heh, aku nggak lagi diet. Tapi jangan ditawarin lagi dong. Aku udah pesen banyak tadi. Ini perutku udah cukup menggelambir loh. Mau bikin aku tambah berisi ya?"


"Hehe... Yaudah selow aja sih." kata Anton.


Ana dan Anton pulang ke rumah dengan bahagia. Sadar ataupun tidak, apa yang mereka lakukan selama di mall bukan sekedar belanja dan makan. Tapi lebih seperti kencan.


"Aku lelah..." keluh Ana saat sudah selesai mandi dan merebahkan tubuhnya di ranjang.


"Aku juga..." kata Anton ikut berbaring di sebelah Ana.


"Kamu udah mandi?" tanya Ana.


"Udah. Tadi mandi di kamar Andre. Takut kamu lama mandinya. Apa nggak kecium kalo aku udah mandi yah?" tanya Anton.


"Kecium wangi kok. Tapi kan bisa aja wangi parfum. Tapi kamu udah wangi kok." lirih Ana.


Anton mendekati Ana. Ana cukup curiga dengan Anton yang menatapnya dengan tatapan nakal.


"Eh ngapain?" tanya Ana.

__ADS_1


"Biasalah. Mau minta jatah." jawab Anton sekenanya.


__ADS_2