
Sepanjang perjalanan pulang, Ana dan Anton hanya diam. Tak ada obrolan apapun. Hanya suara deru motor Anton yang membelah jalanan sepi. Sesampai di rumah pun, Ana langsung masuk ke rumah duluan tanpa menunggu Anton. Ana bergegas masuk ke kamar.
Anton tak langsung beristirahat. Ia memilih duduk di balkon kamarnya. Ia menyalakan sebarang rokok, lalu menghisapnya perlahan. Dari sinilah Anton mulai merenungi rumitnya kehidupan asmaranya yang tak pernah berjalan mulus.
Sementara itu, Ana masih aktif berbalas pesan dengan Tata. Entah rasanya Ana seperti mendapat teman baru yang enak diajak ngobrol. Sesekali ia tertawa karena Tata jelas pandai bercanda dan pintar membawa suasana yang menyenangkan dalam setiap ketikan pesannya.
Karena terus-terusan mendengar suara tawa Ana, Anton penasaran apa yang dilakukan oleh Ana. Anton mematikan bara di rokoknya dan mengintip Ana dari pintu kaca balkon. Yah, Ana sedang tertawa sambil memegang ponsel di tangannya. Anton mengurungkan niatnya untuk masuk ke kamar. Ia tak mau tawa Ana akan memudar seketika saat melihatnya masuk ke kamar.
"Apa yang membuatnya tertawa lepas seperti itu? Apa mungkin karena pria tadi? Masa dia lagi? Bukankah baru saja mereka bertemu? Mana mungkin secepat itu saling berkirim pesan? Tapi jika benar pria itu berarti tak jauh dari dua insan yang sedang kasmaran. Jatuh cinta! Masa begitu?" ujar Anton.
DUG!!
"Ahh, sakit!!" kata Anton sambil memegangi kepalanya.
Kepala Anton terkena bola basket yang sengaja dilempar oleh Andre. Anton mengepalkan tangannya kepada Andre yang berada di bawahnya. Kebetulan lapangan basket ada di bawah kamar Anton. Andre malah tersenyum cengegesan. Lalu mengkodekan tangannya agar Anton ikut ke bawah bermain basket bersamanya.
Anton segera melempar kembali bola basket milik Andre dan masuk ke kamarnya. Selanjutnya segera keluar kamar untuk menemui adiknya itu. Ana hanya menatap Anton sekilas. Tak terlalu peduli apa yang akan dilakukan oleh Anton.
"Hei Dre, kamu gila ya?" omel Anton.
"Kakakku yang paling tampan ini kenapa ya? Akhir-akhir ini banyak ngelamunnya. Padahal hidupnya sempurna banget. Fisik dan ketampanan, okelah. Keluarga yang terkenal, ya iyalah pasti. Harta kekayaan ataupun warisan Papa, oke jugalah. Trus punya istri cantik dan baik pula. Kurangnya dimana coba?" tanya Andre.
Anton menghela nafas kasar. Ia merebut bola basket yang ada di tangan Andre. Lalu men-dribble bola basket itu dengan lincahnya.
"Wow, kamu masih bisa main yah, Kak! Tapi Andre akan melawan Kakak dengan sekuat tenaga." seru Andre yang kemudian bermain bersama Anton.
"Ah Kak, kamu masih sangat jago. Bagaimana bisa talentamu masih melekat padahal kan..."
"Ayo rebut bolanya! Dapatkan poin untuk mengalahkanku! Kamu harus melawanku. Jangan harap aku akan mengalah padamu!" seru Anton.
Permainan semakin sengit. Baik Anton maupun Andre sama-sama bermain secara serius. Namun setelah keduanya bermandikan keringat, akhirnya permainan disudahi.
"Yah, aku lelah sekali! Aku sudah kehabisan tenaga meski hanya melawanmu." kata Anton yang berbaring di lapangan.
"Sama. Meski begitu, sainganmu ini lumayan berat loh, Kak! Karena melawan Kakak saja, aku harus kalah. Aku belum sekuat Kak Anton." kata Andre yang ngos-ngosan.
Anton tersenyum. Ia bahagia mendengar adiknya itu selalu membanggakannya. Padahal ia tak merasa ada yang baik dari dirinya untuk dibanggakan.
"Minumlah!" kata Ana yang tiba-tiba datang.t
Anton dan Andre langsung bangkit dari tidurnya. Mereka duduk dengan canggung.
__ADS_1
"Kak Ana hanya menawari minum untuk Kak Anton aja?" tanya Andre berharap.
"Oh tidak! Aku juga membawakan minuman dingin untukmu!" jawab Ana.
Ana memberikan minuman dingin untuk Anton dan Andre. Keduanya segera meneguk minuman yang diberikan oleh Ana.
"Terima kasih!" kata Anton.
"Terima kasih ya Kak Ana!" sahut Andre.
"Iya sama-sama. Kalo begitu, aku permisi dulu yah. Kalian juga, segera masuk ke rumah. Semakin malam semakin dingin loh!" ujar Ana yang meninggalkan Anton dan Andre.
Andre terus menatap Ana hingga Ana masuk ke rumah. Anton menatap Andre kesal.
"Heh, liatnya gitu amat!" keluh Anton.
"Ngapain sih Kak?" omel Andre.
"Pake nanya ngapain? Itu jaga mata!" seru Anton.
"Oh iya maaf. Lupa aku! Hehee..." sahut Andre.
"Kakak mau balik masuk ke rumah?" tanya Andre saat Anton melangkah pergi meninggalkan lapangan.
"Iyalah. Ngapain di sini terus? Yang ada badan abis digigit nyamuk!" jawab Anton.
"Halah, bilang aja mau cepet-cepet ke kamar!" goda Andre.
"Kamu ngomong apa?" tanya Anton sampai berbalik menatap Andre.
"Ah gapapa. Kak Anton pasti salah denger. Andre cuma bicara sendiri. Kakak masuk duluan aja deh. Bentar lagi Andre nyusul masuk ke rumah." ujar Andre.
Anton berlari masuk ke rumah. Sebenarnya bergegas segera ke kamarnya. Di dalam pikirannya sudah ada niatan untuk bercinta dengan Ana.
"Kan cepet banget kalo udah ada kaitannya sama Kak Ana. Semakin disangkal semakin menandakan kalo Kak Anton peduli sama Kak Ana." kata Andre.
Anton yang sudah sampai kamar, harus menelan kekecewaan tatkala melihat Ana membawa pembalut di tangannya.
"Kamu datang bulan?" tanya Andre.
"Iya." jawab Ana yang hendak ke toilet.
__ADS_1
Anton membaringkan tubuhnya ke ranjang. Hal indah yang tadinya ia bayangkan harus berubah menjadi bayangan hitam kekecewaan. Lalu ia bangkit lagi menuju kulkasnya. Mengambil minuman dingin dan meneguknya hingga tandas. Tak lupa menutup pintu kulkas dengan begitu kuat untuk meluapkan kekesalannya.
"Ada apa?" tanya Ana.
"Gapapa." jawab Anton.
"Hah, padahal tadi aku dengar suara seperti membanting sesuatu. Apa aku salah dengar?" tanya Ana pada dirinya sendiri.
Anton hendak melangkah menuju balkon. Tapi dihentikan oleh Ana dengan tatapan tajamnya.
"Mau apa lagi di sana? Cepat tidur! Bukankah besok kamu mau ada pertemuan penting di kantormu?"
Anton mengingat kembali agenda besok. Ternyata apa yang Ana bilang ada benarnya.
"Ah iya. Besok ada pertemuan penting. Papa mertua juga akan hadir di pertemuan besok. Tapi bagaimana kamu bisa tahu? Kayaknya aku belum cerita apa-apa ke kamu."
"Iya sih belum cerita. Tapi tadi aku melihat catatan itu di buku agendamu. Aku nggak sengaja lihat kan emang kebuka bukunya. Maaf!" kata Ana.
"Oh gitu. Tapi aku nggak bisa tenang. Ada ganjalan yang harus ku selesaikan tapi kamunya malah datang bulan." ujar Anton.
"Maksudmu kamu mau..." Ana tak meneruskan perkataannya, ia langsung membekap mulutnya.
"Nggak bisa kan? Jadi yaudah kamu tidur duluan saja!" seru Anton kesal.
Anton tetap melangkah ke balkon. Ia duduk dengan kesal. Tapi ia bingung harus berbuat apa setelah di sana. Akhirnya ia kembali ke kamarnya lagi.
"Loh, kok balik lagi?" tanya Ana.
"Kamu lebih suka tidur sendiri?"
"Tidak juga. Tapi kan..."
"Sudahlah jangan banyak bicara! Cepat tidur!" perintah Anton.
Ana menurut saja. Ia membiarkan Anton memeluk tubuhnya saat tidur. Sementara itu, beberapa kali ada notifikasi pesan masuk dari ponsel Ana. Saat Ana hendak meraih ponselnya, Anton segera menarik tangan Ana.
"Jangan hiraukan ponselmu. Aku tau itu dari temanmu yang dokter itu. Selama aku di sampingmu, anggap tak ada pria manapun selain aku. Mengerti kan?" ancam Anton sambil mengeratkan pelukannya ke Ana.
Ana hanya mengangguk pasrah. Membiarkan ponselnya terus berbunyi.
'Ada apa dengan Anton? Dia saja tak peduli denganku. Kenapa harus melarangku dekat dengan pria lain? Jika bukan alasan cemburu, lalu alasan apa lagi? Apa dia mau aku juga membebaskannya dekat dengan wanita manapun saat aku tak di sampingnya? Aneh!' batin Ana.
__ADS_1