Love Me Please, Hubby!

Love Me Please, Hubby!
Hanya Pajangan Cantik


__ADS_3

Jam masih menunjukkan pukul 5 pagi. Ana sudah sibuk menyiapkan sarapan untuk keluarga Novero. Ada ART juga yang ikut membantunya. Sejak semalam ia kesulitan tidur karena memikirkan suaminya yang mulai berulah.


"Non, sepertinya Non Ana sedang dalam kondisi yang tidak baik. Non Ana sangat pucat. Biar Bibi saja yang menyelesaikan sisanya. Non Ana istirahat saja yah." ujar Bik Minah.


"Gapapa Bik. Ana hanya kurang tidur aja. Makanya Ana bantuin Bibi masak." kata Ana.


"Lah Non Ana kan nanti mau syuting juga kan? Nanti Non Ana kenapa-kenapa di sana bagaimana? Udah, Non Ana istirahat aja yah! Bibi nanti dimarahin Nyonya Besar."


Ana tersenyum dengan kekhawatiran ART nya itu. Tentu dari sini ia melihat kepedulian ART padanya. Lebih peduli dibandingkan dengan suaminya sendiri.


"Hari ini aku nggak syuting, Bik. Lagipula aku kan pemeran pendukung, jadi nggak perlu harus selalu ada. Mungkin yang pemeran utama kayak si Alana, memang harus selalu standby setiap hari." kata Ana.


"Iya tapi Non Ana istirahat aja yah. Wajah Non Ana sangat pucat. Bibi takut Non Ana kenapa-kenapa. Non Ana liatin Bibi masak aja yah. Kalo ada yang kurang bumbunya atau apa, Non Ana boleh komentar nanti. Kayak itu Non, apa sih program di TV yang lagi rame itu..." Bik Minah tampak memikirkan sesuatu.


"Maksud Bibi acara Master Chef itu yah?" tanya Ana.


"Nah iya itu Non Ana!" jawab Bik Minah.


Selesai menyiapkan sarapan, Ana kembali ke kamarnya. Ia tak menemukan Anton di kamar. Dicarinya ke toilet, ke balkon, tak ada. Lalu Ana bergegas menuju ruang kerja yang biasa Anton gunakan untuk menyelesaikan tugas kantor. Tapi tak ada juga.


Ana berkeliling rumah mencari Anton. Ia pusing sendiri karena ia tak menemukan Anton di beberapa tempat yang ia tuju.


"Kak Ana sedang apa? Mencari siapa?" tanya Andre yang sudah rapi dengan seragam abu-abunya.


"Aku lagi nyari Kakakmu, Mas Anton. Kamu lihat dia?"


"Mas Anton bukannya keluar yah tadi? Andre liat dari jendela kamar sih! Dia buru-buru naik mobil. Kak Ana nggak tau ya?" tanya Andre.


"Uhm, mungkin pas aku lagi masak tadi yah. Jadi nggak tau dia pergi. Yaudah, kamu sarapan dulu sana. Nanti kamu telat kalo kesiangan berangkatnya." ujar Ana.

__ADS_1


"Iya Kak!" kata Andre.


'Kok aku liatnya Kak Anton kurang perhatian yah sama Kak Ana? Padahal Kak Ana itu selain baik juga cantik. Pinter juga dalam banyak hal. Kenapa luput dari perhatian Kak Anton? Apa Kak Anton hanya menganggap Kak Ana sebagai pajangan. Lebih tepatnya pajangan cantik? Ah entahlah, aku nggak perlu ikutan mengomentari rumah tangga mereka. Belum saatnya bagi anak kecil sepertiku.' batin Andre.


Ana kembali ke kamarnya. Ia tak ikut sarapan. Tubuhnya lemas karena kurang tidur. Selain itu ia juga tak berselera sarapan. Rebahan adalah jalan ninja untuk Ana melepas segala kepenatan dan kelelahan.


Pintu kamar diketuk. Ana hendak membukanya, tapi keburu dibuka dari luar.


"Ana Sayang, kamu sakit?" tanya Bu Jenny.


"Mama... Ana hanya sedikit pusing. Maaf ya Ma, pagi ini Ana nggak bisa gabung sarapan." kata Ana yang langsung memeluk ibu mertuanya itu.


"Justru kami yang nggak enak denganmu. Kamu udah capek-capek masakin buat sarapan. Eh kamunya yang absen nggak sarapan. Kamu mau dibawain sarapannya ke sini? Atau mau makan yang lain?" tanya Bu Jenny.


"Tidak Mama. Ana hanya perlu sedikit istirahat. Nanti Ana akan turun makan jika memungkinkan. Sekarang pinginnya rebahan dulu." jawab Ana.


"Eh Anton dimana?"


"Kemana dia sepagi itu?"


"Mungkin dia bertemu klien, Ma." jawab Ana.


"Bertemu klien darimana? Nggak mungkin pagi juga, Ana. Anak itu memang susah ditebak. Yaudah, kamu lanjutin istirahatnya yah! Mama mau pergi arisan sama temen Mama. Atau kamu mau ikutan?"


"Tidak Ma. Terima kasih. Ana istirahat aja daripada kalo ikut malah ngerepotin Mama nanti." kata Ana.


Akhirnya Ana sendirian di kamarnya. Ia pun mengambil ponselnya di nakas. Ia berselancar di dunia maya. Saat itulah ia tak sengaja melihat salah satu unggahan Alana yang menampilkan gambar kedua tangan yang saling bergenggaman.


Sebenarnya tak ada masalah dengan gambarnya. Siapa saja berhak memposting gambar serupa. Yang jadi masalah adalah cincin yang dikenakan. Ana ingat betul bagaimana rupa dan wujud asli cincin pernikahan yang dipakai Anton sama dengan yang Alana posting.

__ADS_1


"Ini Mas Anton? Jadi benar dia sedikit mulai terang-terangan berselingkuh? Mungkin dunia akan bungkam karena ketidaktauan fakta ini. Tapi tidak denganku! Mau aku cinta atau tidak dengannya, rasanya salah jika dia berselingkuh dariku!" kata Ana gusar.


Ana mondar mandir mengatasi kegalauannya. Pusing kepalanya bertambah parah. Dia meminum beberapa obat yang biasa digunakannya untuk mengatasi sakit kepala. Obat yang bisa diminum saat kondisi belum makan.


Iseng, Ana menelpon Alana. Tak diangkat. Lalu ia menelpon suaminya, Anton. Diangkat. Sebelum Anton berbicara, Ana mendengar suara wanita yang sangat familiar baginya. Siapa lagi kalo bukan Alana. Ana hanya bicara sekadarnya pada Anton. Menanyakan sedang ada dimana.


Ana menaruh ponselnya di nakas. Ia menggigit kukunya yang pendek. Lalu mengambil kembali ponselnya dan menghubungi Nabila, teman syutingnya. Tentu saja menanyakan apakah Alana sedang berada di lokasi syuting atau tidak.


Nabila berkata bahwa hari ini Alana tak ikut proses syuting. Katanya sedang ada urusan di kota B. Nabila mengungkapkan kemungkinan Alana akan menginap di villa untuk beberapa hari. Ana membanting tubuhnya di kasur setelah ia memutuskan panggilan dengan Nabila.


Setelah itu, Ana bergegas menuruni anak tangga. Di bawah sudah ada Arga yang hendak ke kantornya. Arga kesiangan hari ini. Jadi telat pergi ke kantornya.


"Kak Arga, tunggu!" seru Ana mencegah kepergian Arga.


"Ya Ana, ada apa?" tanya Arga.


"Kak, apa keluarga Novero punya villa di kota B?" tanya Ana.


"Kota B? Uhm, ada tuh. Lumayan lama nggak dikunjungi. Tapi villanya bagus kok. Villa terkeren menurutku." jawab Arga.


"Boleh nggak kalo Kak Arga anterin Ana ke villa itu?" pinta Ana.


"Tapi aku harus ke kantor." ujar Arga.


"Sekali aja Kak, boleh yah..." rengek Ana.


Arga melihat wajah Ana yang pucat pasi. Ia tak tega menolak permintaan adik iparnya itu. Akhirnya ia menyetujuinya.


"Baiklah. Tapi izin dulu sama Mama yah. Biar kamu nggak dicariin. Kamu kan putri kesayangannya Mam." ujar Arga.

__ADS_1


"Baik Kak!" kata Ana.


Setelah mendapat izin dari Bu Jenny, Ana dan Arga masuk ke mobil Arga. Mereka menuju villa milik keluarga Novero yang berada di kota B.


__ADS_2