
Ana dan Alana sedang melakukan proses syuting. Mereka beradegan sedang bertengkar. Baik Ana ataupun Alana sangat menikmati prosesnya. Mereka seperti sedang terlibat pertengkaran dalam dunia nyata.
"Bagaimana kalian bisa mendalami karakter yang kalian mainkan dengan sangat epik? Ini akan bagus hasilnya nanti. Pastikan akting kalian tetap sebagus ini ya!" puji Sutradara pada Ana dan Alana.
"Baik Pak." kata Ana dan Alana kompak.
Ana dan Alana istirahat di kursi yang telah disediakan. Alana langsung dilayani oleh asistennya. Sedangkan Ana cukup mandiri tanpa bantuan siapapun.
"Ana, kamu bawa bekal apa hari ini?" tanya Nabila.
"Aku cuma bawa sandwich, Bil. Aku kesiangan hari ini. Kamu mau?" tawar Ana.
"Mau bangetlah! Apa yang kamu bawa, aku pastikan untuk berkata 'yes'. Kan selalu enak, nikmat, dan berlabel halal." ujar Nabila senang.
Ana mengambil kotak bekal di paperbagnya. Lalu diserahkan kotak bekal itu pada Nabila.
"Makan aja semuanya. Aku udah makan tadi." kata Ana.
"Wah senangnya! Beneran aku abisin yah!" kata Nabila.
Nabila menikmati sandwich yang dibawa Ana. Ana senang melihat sahabatnya senang menikmati makanan buatannya.
"Apakah seenak itu?" tanya Ana saat melihat betapa lahapnya Nabila menikmati sandwichnya.
"Seenak ini pokoknya!" jawab Nabila.
"Pelan-pelan makannya! Nggak ada yang minta." ujar Ana.
"Ana, kamu punya pengagum rahasia ya?" tanya Lani, asisten Sutradara.
"Enggak punya Kak. Kenapa Kak Lani?"
"Di depan ada food truck untukmu. Tapi anehnya nggak nyebutin nama pengirimnya. Nggak ada keterangan lain selain foto dan namamu yang terpampang. Kira-kira siapa ya? Apa mungkin suamimu kali ya?" tanya Lani.
"Nggak tau Kak. Kak Lani nanya ke aku, trus aku nanya ke siapa dong?"
"Iya juga sih." Lani menggaruk hidungnya yang tak gatal.
"Bukan aku yang kirim ya. Kan nggak mungkin. Bayaranku aja masih kalah jauh daripada harga sewa food truck. Pasti orang berduit aja yang bisa sewa!" kata Nabila.
__ADS_1
"Biarin aja deh. Aku nggak mau ambil pusing." kata Ana.
Sementara itu, Alana yang mengetahui ada food truck atas nama Ana, langsung marah-marah nggak jelas pada asistennya.
"Kamu ngiri sama Ana yah? Makanya kalo dapet job jadi pemeran utama, jangan asal puas dulu. Kan dari sini bisa dilihat, meski pemeran pendukung, namun tak menutup kemungkinan Ana dicintai oleh fans. Itu fans Ana nggak tanggung-tanggung keluarin duit buat sewa food truck. Fansnya Alana apakah ada yang seroyal itu? Ada nggak?" cibir Nabila.
"Hei kamu kok sembarangan ngomongnya? Tanpa fans aku tetap bisa sewa food truck juga kok! Lagipula pacarku juga kaya. Dia bisa tuh kalo cuma sewa food truck gitu. Akunya aja yang nggak mau dia lakuin itu. Mending buat jajanin aku barang branded!" seru Alana.
Ana menggelengkan kepalanya. Nggak habis pikir dengan perkataan Alana. Apa yang ibu mertuanya bilang tentang Alana yang matre, ternyata benar adanya.
"Ana, yuk kita ke food truck itu. Mau liat ada jajanan apa di sana! Aku mau icip-icip juga. Lumayan kan buat nambah stamina." ujar Nabila sumringah.
"Yaudah, ayo aku temani. Sekalian mau foto di sana. Bagaimanapun juga, alangkah baiknya jika aku posting di medsos sebagai ucapan terima kasih. Meski aku pun tak tau pengirimnya siapa." kata Ana.
Ana dan Nabila menyambangi food truck. Di sana ada seseorang yang menyiapkan makanan dan minuman. Ada banyak varian makanan yang disediakan. Mulai dari burger, hotdog, kebab, roasted chicken, waffle, dan pancake. Selain itu juga menyediakan minuman aneka kopi dan milkshake.
Penjaga food truck bernama Firman menyapa Ana dengan ramah. Lalu memberikan sepucuk surat untuk Ana. Surat yang berasal dari pengirim food truck yang masih menjadi rahasia yang belum terpecahkan.
"Siapa pengirimnya?" tanya Ana.
"Maaf Kak Ana, pengirimnya tidak mau disebutkan jati dirinya. Sepertinya dia adalah penggemar rahasia Kak Ana. Saya pun tak diberi tahu siapa nama aslinya. Dia hanya bilang, semoga karir Kak Ana selalu cemerlang dan Kak Ana selalu bahagia." jawab Firman.
"Tentu saja Kak Ana. Saya pun jika diijinkan, mau banget kalo foto sama Kak Ana. Boleh nggak?"
"Boleh. Bila, tolong fotoin aku sama Mas Firman ini yah!" kata Ana pada Nabila.
Nabila menerima ponsel Ana. Ponsel keluaran terbaru pemberian dari Papanya Ana.
"Ini ponselnya keren banget. Alana kalo tau ini, pasti langsung gercep minta beliin sama pacarnya yang katanya kaya itu. Ana memang keren dan luar biasa!" puji Nabila sambil mengamati ponsel Ana.
"Nabila Karamoy!" seru Ana memanggil Nabila.
"Eh iya. Maaf!" ujar Nabila.
Nabila mengambil foto Ana dengan berbagai pose. Mulai dari foto sendiri hingga foto bareng Firman, si penjaga food truck. Selain dari ponsel Ana, Nabila juga mengambil foto dari ponsel Firman. Mengingat Firman katanya ngefans juga sama Ana.
"Kok hanya foto Ana aja yah? Nggak mau foto sama aku?" tanya Nabila pada Firman.
"Boleh deh Kak Nabila. Tapi foto bertiga aja sama Kak Ana ya. Saya nggak mau foto berdua." jawab Firman.
__ADS_1
"Lah tapi tadi kamu dan Ana berfoto berdua gitu. Gimana urusannya?" tanya Nabila.
"Kalo Kak Ana pengecualian, Kak. Edisi terbatas." jawab Firman.
"Oke deh. Bilang aja kalo berfoto sama yang jelek macam aku ini, nggak mau. Trus kalo berfoto sama yang cantik, mau. Pake alasan edisi terbatas lagi. Haduh, emang yah dimana-mana cover itu menentukan keuntungan yang didapat!" gerutu Nabila.
"Maaf ya Kak Nabila. Sebagai permintaan maaf saya, Kak Nabila boleh membungkus semua makanan yang Kak Nabila suka. Kakak mau apa?" tanya Firman.
"Serius ini? Aku mau semuanya sih. Nggak ada yang nggak aku suka dari makanan yang kamu sajikan. Tolong yah dibungkus. Lumayan buat kenyangin perut. Buruan dibungkus sebelum kehabisan sama kru film!" ujar Nabila bahagia.
Sepulang dari lokasi syuting, Ana mengupload foto dan video food truck yang tadi siang didokumentasikan oleh Nabila. Ana baru ingat bahwa ia masih menyimpan sepucuk surat dari pengirim food truck.
"Wahai Ana yang baik hati. Semoga film yang kamu bintangi, semakin bersinar dan sukses. Selamat menikmati makanannya dan aku harap kamu selalu bahagia." kata Ana yang membaca surat dari pengirim food truck.
Ana terlihat bahagia memandangi sepucuk surat yang diterimanya tadi siang. Memang ia belum tau siapa pengirimnya. Tapi ia yakin bahwa pengirimnya pasti orang baik.
"Apa ada hal baik hari ini?" tanya Anton yang tiba-tiba sudah ada di kamar.
"Iya. Seseorang mengirimkan food truck di lokasi syuting untukku. Aku tak tau siapa dia. Tapi aku bahagia membaca suratnya. Pasti dia orang baik dengan sejuta pesonanya." jawab Ana yang membanggakan sang pengirim surat.
"Apa memang begitu?" tanya Anton memastikan.
Anton pun tertawa tanpa sebab. Ana yang sebelumnya fokus pada suratnya, kini beralih menatap Anton tak percaya.
"Kenapa kamu tertawa? Bahkan biasanya pun kamu selalu kaku bak kanebo kering!" jawab Ana kesal.
"Aku rasa kamu akan kecewa setelah tau siapa pengirimnya. Akulah si pengirim itu. Maaf jika pengakuanku membuatmu kecewa." kata Anton.
"Kamu? Kenapa pake rahasiaan juga sih. Tau gitu aku nggak posting di medsos. Mau take down postingan juga percuma. Udah banyak yang liat pastinya." ucap Ana.
Anton merebahkan diri di kasurnya. Lama ia tak menikmati betapa nyamannya tidur di kasur yang empuk.
"Malam ini, tidurlah di kasurmu! Aku bisa tidur di sofa." ujar Ana.
"Tak perlu." tolak Anton.
"Kenapa? Atau kalo nggak gini aja. Kita berbagi kasur malam ini. Aku sebelah kanan dan kamu sebelah kiri. Kita batasin pake guling yah. Dengan begitu sama-sama tidur dengan nyaman. Setuju?" tutur Fanya.
"Iya. Terserah kamu ajalah." kata Anton kembali bersikap datar.
__ADS_1