
Jam masih menunjukkan pukul 2 siang saat Ana sudah menyelesaikan syutingnya. Tapi sayangnya Ana tak ingin cepat pulang. Ia masih bersantai di ruang ganti artis. Sebenarnya ia ingin pulang ke rumahnya, tapi percuma sebab Pak Radit, papanya Ana, sudah pasti tak ada di rumah. Lalu ia teringat dengan Tata. Ana segera menanyakan keberadaan Tata via telepon.
"Hai Tata. Kamu sedang apa? Sibuk nggak?" tanya Ana to the point.
"Aku sedang menunggu kunjungan pasien yang sudah menjadwalkan kontrol kehamilan. Tak terlalu sibuk. Ada apa Ana? Kamu mau bertemu denganku? Aku ada di RS ABC sampai nanti jam 11 malam." jawab Tata.
"Benarkah? Kalo gitu aku kesana ya? Kamu mau aku bawain apa? Biar sekalian aku mampir belikan." ujar Ana.
"Tak perlu bawa apa-apa. Aku juga sudah makan siang tadi. Cukup kamu aja yang datang, aku pun sudah senang. Oke ya, aku tunggu kamu!" kata Tata.
"Baiklah. Sampai nanti!" kata Ana mengakhiri panggilannya.
Ana memasukkan ponselnya ke dalam tas. Ia mengenakan jaket hitamnya. Dari balik pintu ruang ganti itu, ada Alana yang menguping pembicaraan Ana.
"Masuklah!" seru Ana.
Alana pun menampakkan dirinya. Ia segera masuk dan mendekati Ana. Ana menatap Alana sekilas, lalu melanjutkan membenahi barang-barangnya untuk dimasukkan ke dalam tas.
"Apa yang sudah kau dengar?" tanya Ana.
"Aku tak mendengar apa-apa. Hanya sebatas kamu akan bertemu dengan seseorang." jawab Alana.
"Hah? Jadi benar kamu menguping tadi? Sesempatnya itu pemeran utama menguping pembicaraan pemeran pendukung. Tidak ku sangka, kamu cukup bersantai yah sekarang? Lain kali akan ku beritahukan pada Sutradara agar jam syutingmu diperpanjang." kata Ana tegas.
"Apa kau bilang? Sungguh beraninya kamu!" seru Alana kesal.
"Lain kali saja yah kalo mau ngajak ribut. Aku masih ada urusan. Pokoknya jangan banyak tingkah!" ancam Ana.
"Dasar Ana sialan!" seru Alana geram.
Ana tak mengindahkan Alana lagi. Ia bergegas menaiki mobil yang sudah standby mengantarkan kemanapun ia pergi. Butuh waktu hampir 45 menit untuk sampai di RS ABC, tempat kerjanya Tata.
Sesampai di RS ABC, Ana menemui resepsionis. Menanyakan dimana ruang kerja Tata.
"Mbak, mau tanya untuk ruang kerja Tata ada di mana yah? Ehm, maksud saya, Dokter Tata."
"Oh Dokter Tata. Ruangannya ada di lantai 2. Ada di sebelah kanan lift." jawab resepsionis ramah.
"Baik. Terima kasih informasinya." ujar Ana.
Ana menuju lift dan memencet angka 2 di tombol lift. Sesampai di lantai 2, Ana segera berjalan ke arah kanan lift sesuai instruksi resepsionis. Ia melihat nama Dokter Tata di salah satu pintu. Ia pun mengetuk pintu itu. Setelah dipersilakan masuk, barulah ia masuk.
"Hai Ana. Sini, silakan duduk!" seru Tata menyambut Ana.
"Boleh aku di sini? Lalu pasienmu?"
"Oh sudah pergi beberapa waktu yang lalu. Aku tak punya janji temu lagi. Kamu mau minum apa?"
__ADS_1
"Apa saja deh." ujar Ana yang langsung duduk di depan Tata.
"Baiklah, tunggu sebentar." kata Tata.
"Oh iya, tadi aku beli tiramisu untukmu. Maaf yah aku nggak tau seleramu." Ana menyodorkan sekotak tiramisu kepada Tata.
"Kebetulan aku juga suka tiramisu. Terima kasih. Kita makan sama-sama yah!"
Tata mengambil minuman dingin di kulkasnya. Lalu menaruhnya di depan Ana. Sebelumnya ia terlebih dulu membuka tutup botolnya agar Ana mudah meminumnya.
"Sampai dibukakan segala. Tapi terima kasih." kata Ana.
Ana segera meneguk minuman dingin itu. Memang terik panas siang membuatnya cepat haus.
"Kamu abis syuting?" tanya Tata.
"Kok tau? Kan aku belum bilang."
"Kelihatan sekali. Biasanya make up kamu saat di TV seperti itu. Aku rasa begitu."
"Iya benar. Tim MUA di lokasi syuting selalu mendandaniku begini. Supaya jadi ciri khas kali yah. Makanya dibuat seperti ini. Trus kamu kalo nggak ada pasien kayak gini, biasanya ngapain?" tanya Ana kepo.
"Lah sekarang kan ada kamu. Ngobrol sama kamulah!" jawab Tata.
"Maksudnya kalo aku nggak ke sini gitu!" seru Ana.
"Oh hobi kamu baca buku yah? Rajin sekali!" puji Ana.
"Bukan rajin, tapi kebutuhan. Aku sebagai dokter nggak mau hanya sekedar gelar dokter aja. Setidaknya memang punya pengetahuan dan keahlian agar bisa mendukung pekerjaanku. Bayangin aja kalo kamu periksa trus dokternya kurang informasi, pasti kamu nggak puas sama pelayanan dokter itu kan?" penjelasan Tata.
"Dahlah pokoknya kamu hebat! Pasti nanti istrimu akan bahagia hidup bersamamu." ujar Ana.
"Hmm, sayangnya aku belum menemukannya. Orqng yqng menurutku tepat justru sudah menikah dengan pria lain karena dijodohkan."
"Seperti aku saja yang dijodohkan."
"Ya memang kamu orangnya. Aku bahkan sering menyesalkan satu hal. Andai saja aku lebih dulu melamarmu, pasti aku yang akan menikah denganmu." kata Tata.
"Nggak tau juga. Aku dijodohkan bukan semata-mata karena urusan bisnis. Papaku pernah bilang bahwa antara dia dan mertuaku sudah punya janji akan saling menikahkan anak mereka. Awalnya aku dan suamiku hanya tau bahwa pernikahan kami hanya sebatas pernikahan bisnis."
"Ana, kamu mencintai suamimu?" tanya Tata serius.
Ana tersenyum saat membayangkan wajah Anton yang tampan.
"Aku tak tau bagaimana perasaanku sekarang. Entah hanya suka atau sudah cinta padanya. Bayangkan saja, wanita mana yang tak suka jika selalu berdampingan dengan pria tampan? Pria tampan yang selalu bersamanya saat ada kesempatan. Dia memang agak kaku dalam hubungan. Tapi sebenarnya dia pria yang baik. Aku hanya melihat dari sisi baiknya saja." jawab Ana.
"Mungkin lebih dari 70 persen kamu sudah mencintainya. Sudah ku duga, wanita mana yang bisa menolak pria tampan." kata Tata.
__ADS_1
Seketika wajah Tata tampak sedih.
"Kamu juga tampan. Pasti banyak wanita yang akan suka padamu. Kamu hanya perlu keluar dan melihat sekelilingmu dengan seksama. Jangan hanya lewat saja." ujar Ana yang kembali meneguk minumannya.
"Iya deh. Semoga saja begitu. Apa kamu mau berkeliling di sini? Aku akan menemanimu." ujar Tata.
"Apa boleh seperti itu? Ini kan Rumah Sakit?" tanya Ana.
"Ayo deh kalo mau. Jalan-jalan di sekitaran sini aja." ajak Tata.
Tata mengajak Ana berkeliling Rumah Sakit. Beberapa kali Tata harus memperkenalkan Ana kepada perawat ataupun dokter yang kebetulan bertanya tentang Ana.
"Aku rasa kamu belum pernah mengajak teman wanita yah? Mereka semua antusias terhadapku. Apa mereka pikir aku adalah pacarmu?" tanya Ana.
"Mungkin begitu. Siapa lagi yang harus aku kenalkan pada mereka? Aku saja tak dekat dengan wanita." jawab Tata.
Ana menepuk bahu Tata. Menyadarkan agar Tata tak berkecil hati. Meyakinkan bahwa nanti akan datang seseorang yang pantas untuknya.
"Dokter Tata, apakah ini adikmu?" tanya seorang dokter wanita.
Seketika Tata dan Ana menoleh ke arah sumber suara.
"Eh Kinan. Perkenalkan, ini Ana. Temanku yang pernah aku ceritakan padamu." jawab Tata.
"Oh, bukan Tari. Aku kira Tari adikmu. Hai, aku Kinan." kata Kinan sembari menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan.
"Aku Ana. Salam kenal Kinan!" balas Ana sembari berjabat tangan dengan Kinan.
'Jadi ini Ana yang pernah Tata ceritakan padaku. Ana yang merupakan cinta pertama Tata saat sekolah SMA dulu. Wajar saja Tata mencintainya. Ana gadis cantik dengan pembawaan yang manis. Aku yakin dia juga orang yang baik.' gumam Kinan dalam hati.
"Ana, Kinan ini adalah dokter bedah syaraf yang populer di sini. Dia dokter hebat!" puji Tata.
"Luar biasa! Kalian memang dokter yang hebat dan keren!" puji Ana.
"Kamu sudah bersuami kan?" tanya Kinan pada Ana.
"Sudah. Tapi darimana kamu tau?"
"Aku tau dari cincin di jari manismu. Sepertinya model cincin nikah." ujar Kinan.
"Iya, ini cincin pernikahanku." kata Ana sembari mengulas senyum.
"Pasti kamu sangat bahagia dengan pernikahanmu. Doakan aku agar bisa menyusulmu." kata Kinan yang sekilas melirik Tata yang menatap ke arah lain.
Ana langsung mengerti jika Kinan memiliki perasaan pada Tata. Perasaan sepihak karena Tata tak ada rasa pada Kinan.
'Diantara mereka pasti ada sesuatu. Tersirat dengan jelas bahwa Kinan memiliki perasaan pada Tata. Aku rasa Kinan mencintai Tata. Tapi sepertinya Tata tak terlalu peka dengan itu. Atau dia sudah tau tapi memang tak menyukai Kinan? Entahlah, bukan urusanku juga.' batin Ana.
__ADS_1