Love Me Please, Hubby!

Love Me Please, Hubby!
Tentang Alana


__ADS_3

Alana duduk di tepi pantai. Suara deruan ombak yang bertabrakan dengan bebatuan tak membuyarkan lamunannya. Lamunan sejuta penyesalan dan kegalauan yang teramat dalam.


Langit memang sudah mengisyaratkan malam. Gelap sudah terasa. Hanya ada beberapa lampu di beberapa titik. Alana sesekali menangis dan tak jarang tertawa getir tentang hidup yang dijalaninya. Bertahun lamanya mengimpikan hidup damai dengan kekayaan dan ketenaran, kini hanya tersisa kesedihan yang tak berujung.


Ya, Alana sedang sendirian. Ia tak ingin ditemani siapapun, termasuk asisten pribadinya. Sang asisten disuruhnya menunggu di mobil. Sudah hampir tiga jam Alana duluk di sana. Ia tak peduli betapa kencangnya angin malam yang menerjang tubuhnya. Baginya, rasa dingin hatinya lebih dari itu.


Disaat yang bersamaan, ada panggilan masuk dari Arga. Alana hanya tersenyum kecut. Tak sanggup mendapat caci maki ataupun sumpah serapah dari Arga. Padahal mungkin maksud Arga menelponnya bukan itu.


"Hidupku sudah hancur. Buat apa lagi aku harus bertahan dalam dunia segemerlap ini, tapi pikiran dan hatiku sudah kosong? Aku tak tau lagi harus bagaimana? Aku tak punya keluarga lagi sejak hari dimana aku melarikan diri dari panti asuhan. Yah, semuanya sudah berubah. Kedamaian dalam kemiskinanku yang dulu, sudah berganti. Berganti dengan kegalauan dalam gemerlap kekayaan. Tapi aku bodoh! Aku salah jalan! Aku seharusnya melewati jalan yang benar. Kenapa aku salah pilih jalan? Hingga aku tersesat dan tak tau jalan pulang. Aku terlena dengan kenikmatan sesaat. Kini aku harus menelan pil pahit kehidupan. Dimana aku harus mendapat balasan dari semua doa dari orang-orang yang ku sakiti. Aku jelas tau dan sadar diri bahwa aku sudah banyak menyakiti orang lain. Tapi jujur, aku merasa mendapat balasan yang lebih kejam."


Alana bangkit dari duduknya. Ia berteriak sesuka hati. Mengeluarkan segala keresahan dan kegalauan yang dipendamnya. Beruntung tak ada manusia lain di sana. Jika ada, mungkin Alana akan dianggap wanita gila. Terlepas ia berstatus artis atau selebgram.


Karena menunggu terlalu lama di tempat yang agak jauh dari bibir pantai, asisten Alana pun terpaksa menghampiri Alana. Alana hanya menatapnya sekilas, lalu beralih memandang hamparan keindahan senja yang mulai gelap oleh malam.


"Alana, ayo kita pulang! Ini sudah menjelang malam. Besok pagi ada jadwal pemotretan iklan. Kamu tak lupa kan?"


"Gio, kamu hanya orang baru yang mengenalku. Beberapa asistenku yang dulu, bahkan tak berani menyuruhku. Siapa kamu, hah?" seru Alana.


"Tapi kita harus pulang sekarang." ujar Gio lagi.


"Aku tak mau. Aku masih mau di sini." kata Alana yang kembali duduk di tempat semula.


"Apakah kamu hamil?" tanya Gio tanpa ragu.


Seketika Alana beranjak dari duduknya. Menghampiri Gio dan menatapnya tajam.


"Apakah itu benar?" tanya Gio lagi.

__ADS_1


Kali ini Alana membuang nafasnya kasar. Berpikir keras kenapa seorang Gio mengetahuinya. Padahal ia belum menceritakan apapun pada Gio. Tapi Gio bisa langsung menebaknya dengan mudah dan tepat sasaran.


"Tolong jawab pertanyaanku!" nada bicara Gio telah berubah.


"Aku hamil? Yah benar, aku hamil. Lalu apa komentarmu selanjutnya? Kamu ikut mengolokku juga?" seru Alana.


"Aku akan bertanggung jawab!" seru Gio mantap.


"Bertanggung jawab? Kenapa? Kamu kasian padaku? Tak perlu begitu. Kamu cukup diam dan tak perlu ikut campur!" ujar Alana.


"Mungkin yang ada di perutmu itu adalah benih yang ku tanam." kata Gio pelan.


Alana hanya tersenyum kecut. Lalu mengabaikan Gio dengan tak menatapnya lagi.


"Waktu itu, saat kamu mabuk parah. Kira-kira dua bulan yang lalu, kita melakukannya. Hubungan terlarang."


"Bukan aku yang berniat melakukannya padamu. Aku hanya terbawa suasana. Saat itu setelah aku mengantarmu pulang ke apartemenmu, kamu menahanku pulang. Aku menurut saja. Menemanimu sampai kamu mendapatkan kesadaranmu. Tapi nyatanya, realita berkata lain. Entah siapa yang memulai, kita mulai bercumbu dan semacamnya. Selanjutnya kamu tau kan, kita menuntaskan hasrat dengan cara apa? Aku khilaf. Meskipun kamu juga menikmatinya, aku tetap mengaku bahwa aku yang salah. Seharusnya aku lebih bisa menjaga diriku untuk tak menyentuhmu. Tapi maaf, aku tak sepolos itu. Aku pun punya naluri sebagai laki-laki yang mudah tergoda oleh hal-hal seperti itu. Maafkan aku!" pengakuan Gio.


"Beraninya kamu...!!" teriak Alana tak terima.


"Maaf sudah membuat kesalahan terbesar. Sebagai permintaan maafku, aku akan bertanggung jawab untukmu. Aku akan menikahimu sebelum perutmu membesar." kata Gio.


"Siapa kamu yang berani membuat keputusan seperti itu? Mau hamil atau tidak, itu bukan urusanmu. Aku akan membuang janin ini tanpa perasaan! Aku tak ingin menanggung malu atas semua ini!' seru Alana kesal.


"Aku yakin kamu takkan melakukannya!" seru Gio.


"Kenapa? Kenapa aku tak bisa melakukannya? Aku tak memiliki jaminan apapun untuk mempertahankan janin ini. Ku rasa lebih baik aku meniadakannya tanpa belas kasihan!"

__ADS_1


Alana dan Gio saling berhadapan. Gio berlutut di depan Alana. Alana tampak diam dan bingung.


"Lalu apa salahnya jika aku berusaha menebus kesalahanku padamu? Aku ingin kita bisa hidup bersama. Memulai semua dari awal. Aku tak peduli dengan kisah kelam hidupmu. Aku hanya peduli tentang Alana." kata Gio.


"Salahnya, kenapa harus kamu? Kenapa?" teriak Alana yang hampir menangis.


"Apa karena kamu menganggap aku sebagai pria miskin?" tanya Gio.


"Aku ingin pria kaya yang bisa menghidupiku dan membiayai semua kebutuhanku. Aku tak mau lagi hidup susah dalam kemiskinan. Apa kamu bisa mewujudkan semuanya?" tantang Alana.


"Hari ini aku belum bisa membuktikannya. Tapi mungkin beberapa bulan ke depan aku bisa mewujudkan keinginanmu."


"Hah, tak perlu berbasa-basi demi membujukku. Yang jelas aku tak sudi berurusan lagi denganmu. Berhubung aku masih perlu kamu untuk meng-handle urusan pekerjaanku, aku masih belum memecatmu."


"Alana, tolong pikirkan janin yang ada di perutmu."


"Siapa dia hingga aku perlu memikirkannya? Bahkan wujudnya saja belum terlihat. Ingat, aku Alana, artis fenomenal yang terkenal. Publik akan menganggapku seperti apa jika aku bersedia menikahimu?" tanya Alana.


"Sebelum terlambat, aku rasa kamu perlu memikirkan matang-matang jalan apa yang harus kamu tempuh. Aku akan menunggumu dengan sabar."


"Gio, sudahlah. Hentikan omong kosongmu. Aku hanya menganggap pembicaraanmu tadi sebagai hiburan semata. Anggap saja tak ada pembicaraan serius di antara kita." kata Alana.


Alana berangsur meninggalkan tempatnya semula. Ia menuju dimana mobilnya diparkirkan. Gio membuntutinya dari belakang.


"Istirahatlah. Aku akan mengendarai mobil dengan tenang agar kamu nyaman!" ujar Gio yang sudah berada siap mengemudi.


"Terserah. Aku akan tidur dengan nyaman. Bangunkan aku setelah kita sampai di apartemenku." kata Alana.

__ADS_1


__ADS_2