
Hari sudah berganti pagi. Ana memang sudah membuka matanya sedari tadi. Tapi ia enggan untuk bangkit dari ranjangnya. Terlebih ia dalam mode mengagumi wajah tampan suaminya.
"Apakah masih belum puas memandangiku?" tanya Anton yang akhirnya membuka matanya.
"Ah tidak. Hanya kebetulan menatapmu saja." jawab Ana ngasal.
"Tapi aku merasa bahwa kamu menatapku dalam waktu yang lama. Bukankah begitu?"
"Ah Mas Anton ngarang aja deh. Buruan mandi sana deh! Aku masih males nih." ujar Ana.
"Kamu nggak ada agenda apa-apa? Syuting film atau iklan?"
"Lagi kosong. Kayaknya kalo jadwalku lebih longgar lebih bagus deh buat aku. Aku jadi bisa memantau Mas Anton lebih efektif." kata Ana dengan tatapan tajam.
"Aku?" tanya Anton heran.
"Iya Mas Anton. Takut aja kalo Mas mengulangi kesalahan yang sama." jawab Ana serius.
"Aku tau. Jadi kamu masih beranggapan aku bisa saja terjebak dalam dunia perselingkuhan seperti dulu?" diangguki oleh Ana.
"Tapi aku tak bisa menjanjikan apa-apa untukmu. Aku hanya akan berusaha semampuku untuk lebih mencintai dirimu dan meratukanmu di hidupku."
"Janji ya? Pokoknya kalo ada kesalahan yang sama, aku tak segan untuk pergi jauh darimu. Aku akan berjuang untuk kebahagiaanku sendiri." kata Ana.
"Ana Sayang, kamu jangan bersedih hati seperti itu. Lagipula itu cerita lama yang sudah aku kubur dalam-dalam. Aku tak mungkin mengulanginya lagi. Intinya, kita harus sama-sama berjuang untuk saling mencintai satu sama lain." kata Anton.
"Iya. Yaudah, Mas mandi duluan deh. Aku masih malas." ujar Ana.
"Tidak boleh seperti itu. Aku akan memandikanmu!" seru Anton sambil menggendong Ana.
"Lepaskan aku, Mas....!" teriak Ana.
Sementara itu, Bu Jenny dibantu ART sedang menyiapkan sarapan. Sedari pagi Bu Jenny terlihat lebih bersemangat dari biasanya.
__ADS_1
"Nyonya, apakah hari ini ada berita bahagia? Sepertinya Nyonya lebih semangat dan berbahagia dari biasanya?" tanya salah seorang ART.
"Ehm, bisa dibilang begitu. Hari ini bukan hari spesial. Hanya saja aku lebih semangat pagi ini. Apa karena terlalu banyak membayangkan tentang cucu? Bibi-bibi semua, doakan agar putraku dan menantu kesayanganku segera dikaruniai anak yah?"
"Pasti Nyonya! Kami berharap Tuan Muda Anton bisa segera memiliki momongan. Pasti nanti anaknya ganteng jika cowok dan cantik jika cewek. Duh, membayangkannya saja sudah membuat saya gemas!" seru ART lainnya.
"Kan... Aku juga begitu..." sahut Bu Jenny sumringah.
"Ada apa ini? Ramai sekali!" tanya Pak Mirza yang kebetulan lewat.
"Papa kepo banget deh! Papa tunggu di meja makan yah. Sebentar lagi makanan siap." jawab Bu Jenny.
Pak Mirza tak bertanya lagi. Kembali menyambangi meja makan yang sudah terhidang beberapa lauk dan nasi.
"Eh ada Papa!" sapa Arga yang langsung duduk di seberang Pak Mirza.
"Iya. Mana adik-adikmu? Kamu saja yang rajin atau sudah kelaperan?" tanya Pak Mirza.
"Arga bukan rajin sih Pa. Hanya terdesak keadaan saja sehingga sudah duduk manis di meja makan yang istimewa ini." kata Arga malu-malu.
"Iya Pa." kata Arga tak bersemangat.
"Atau kamu mau seperti adikmu, Anton. Papa akan kenalkan dengan putri rekan bisnis Papa. Banyak kandidat yang pantas buatmu untuk dijadikan pasangan hidup."
"Papa nih ikut campur melulu yah! Biarin aja sih kalo Arga mau kenal sendiri sama calon istrinya. Masih banyak waktu, Pa. Kebetulan aja Anton pas nemu Ana. Mereka cocok pada akhirnya. Jangan jadiin kisah Ana dan Anton sebagai acuan ya Pa!" ujar Bu Jenny sembari menaruh ayam goreng di meja.
"Kok sepertinya namaku dan nama Ana disebut? Ada apa ini?" tanya Anton yang diikuti Ana di belakangnya.
"Eh kalian sudah datang! Ayo silakan duduk manis di kursi masing-masing!" seru Bu Jenny.
"Mama lagi bahagia yah? Baru dapet arisan atau lotre?" tanya Anton lagi.
"Ih bocah! Memangnya Mama nggak boleh bahagia apa ya? Mama tuh seneng aja liat keluarga kita lengkap gini. Bisa sarapan bareng gini. Ayo gih kita mulai sarapan!"
__ADS_1
"Tunggu!" teriak Andre yang baru bergabung.
"Kenapa aku dilewatkan begitu aja sih? Anak Papa dan Mama yang tampan ini masih perlu makan." keluh Andre merajuk.
"Maaf Sayang. Mama melupakanmu. Mama inget punya anak 3. Tadi Mama hitung udah ada Arga, Anton, dan Ana. Kan pas tuh bertiga. Harusnya Mama inget punya anak 4 yah." ujar Bu Jenny.
"Aduh, Kak Ana nih. Posisi Andre jadi tergeser gini. Sampai nggak diakuin sama Mama. Hiks."
"Kok jadi salah Ana?" kata Ana bingung.
"Makanya jangan kesiangan bangunnya. Jadi anak muda harus semangat!" kata Pak Mirza.
"Iya Papa. Kalo Papa udah ngomong sih, Andre bisa apa selain mengiyakan. Ya nggak Kak?" seru Andre.
"Iya adikku yang paling manis!" seru Arga.
Mereka memulai makan dengan diiringi obrolan kecil. Tapi lebih banyak terdengar suara dentingan garpu dan sendok yang bertubrukan dengan piring masing-masing.
"Oh iya Ana, kamu Mama liat sudah jarang syuting film yah? Kemunculanmu di film semakin berkurang. Apa perasaan Mama aja?" tanya Bu Jenny.
"Iya Mama. Ana sengaja melakukannya. Kemungkinan, Ana akan bergabung dengan perusahaan Papa Ana atau perusahaan Papa Mirza. Ana ingin lebih dekat dengan Mas Anton." jawab Ana malu-malu.
"Ciye.....!" ledek Andre.
"Shut! Kamu meledek, Ndre. Biarin aja sih. Lagipula Ana adalah putri di keluarga kita. Dia berhak menentukan bagaimana kehidupannya. Kerja bukanlah kewajiban untuknya. Tapi Papa rasa, jika Ana bergabung dengan perusahaan kita, akan bagus untuk perusahaan kita. Tapi keputusan ada di tangan Ana. Asalkan Anton mengizinkan Ana mau kemana." kata Pak Mirza.
"Anton sudah mengizinkan Pa. Ana boleh memilih akan bergabung di perusahaan Papanya atau perusahaan keluarga kita. Yang jelas, Ana tetap istri Anton." sahut Anton.
"OMG! Siapa juga yang nyebut Kak Ana istri orang lain. Kak Ana tetap istrinya Kak Anton. Tapi Andre yakin, jika Kak Ana kerja bareng sama Kak Anton, suasana kerja akan semakin happy. Bayangkan saja, Kak Anton akan sungkan untuk marah-marah pada karyawannya. Karena liat wajah manis Kak Ana, sudah membuyarkan amarah dan kekesalan Kak Anton. Iya nggak sih?"
"Hei, benar juga! Anton semakin ramah semenjak dia sadar jika sudah mencintai Ana. Banyak yang bilang soalnya. Beda banget sama Anton yang dulu. Apa-apa dibikin kaku dan ribet." ujar Arga.
"Loh kok jadi ngomongin aku yah? Apa nggak ada materi obrolan lain yang lebih menarik?" tanya Anton.
__ADS_1
"Enggak!!!" jawab Arga dan Andre kompak.