Love Me Please, Hubby!

Love Me Please, Hubby!
Tidak Baik-Baik Saja


__ADS_3

Anton menggandeng pinggang Ana. Ia mengajak Ana turun ke lobby hotel menggunakan lift. Tangan Anton sigap menjaga Ana. Jangan sampai ada orang lain, khususnya pria yang menyentuh Ana. Sengaja atau tidak, bagi Anton itu sama saja. Ana menurut saja.


"Tuan, mobil yang Anda pesan sudah menunggu Anda. Selamat bersenang-senang!" ujar petugas valet.


"Terima kasih." ucap Anton seraya memberikan tip kepada petugas valet itu.


"Kita mau kemana, Mas?" tanya Ana.


"Aku akan mengajakmu jalan-jalan." jawab Anton.


"Tapi aku mau beli bakpia." kata Ana manja.


"Iya itu juga tujuan kita nanti. Tapi masuklah dulu ke mobil. Kita bisa bicara lebih santai di mobil. Ayo masuk!"


Setelah memasuki mobil Anton menginformasikan tujuannya pada sopir mobil yang disewanya itu.


"Apa tujuan kita hanya berbelanja?" tanya Ana.


"Kenapa begitu?"


"Tempat yang kamu tunjukkan itu adalah lokasi yang enak buat belanja makanan ataupun pernak-pernik lokal."


"Iya begitulah. Lagipula, keadaanmu kurang mendukung untuk perjalanan jauh. Aku takut kamu lelah. Tapi jika kamu tetap maksa, ya boleh-boleh aja. Memangnya kamu mau kemana?"


"Aku mau ke tempat bersejarah, Mas. Di sini kan banyak candi-candi kan. Mau deh ya. Tapi kalo nanti misal aku lelah, gimana ya?"


"Aku gendong deh!" jawab Anton.


Tiba-tiba ada panggilan dari Pak Radit, papanya Ana.


"Ini papamu telpon. Kenapa ya?" tanya Anton bingung.


"Angkat saja!"


Anton menerima panggilan itu.


"Anton! Berani-beraninya kamu bersikap kasar dengan putriku!" seru Pak Radit dengan nada emosi.


Anton langsung kaget. Bukan kaget dengan suara Pak Radit, tapi kaget darimana Pak Radit mengetahui apa yang terjadi dengan Ana.


"Ana itu putriku. Putri cantik yang ku besarkan dengan susah payah dan penuh perjuangan. Aku memberikan dia kepadamu, bukan untuk kamu sakiti. Aku harap kamu menjaganya dengan baik. Bahkan aku sebagai papanya, tak tega membentak ataupun berkata kasar padanya. Tapi kamu sebagai pria yang ku titipkan, tega sekali melakukan tindakan kekerasan padanya. Jangan kamu pikir kamu adalah putra Mirza Novero, sehingga aku melepaskanmu begitu saja. Ingat, aku akan mencekalmu secara langsung jika kejadian itu terulang kembali!"


Pak Radit menutup panggilan secara sepihak.


"Bahkan aku belum menjelaskan detail ceritanya. Bahkan aku belum sempat meminta maaf pada papamu." kata Anton.


"Sudah ku duga. Jangan harap kamu akan aman jika berhadapan dengan papaku. Papaku adalah pria ototiter yang tegas. Aku saja sering diperlakukan seperti seorang pria dalam ajaran mendidikku." kata Ana.


"Iya, aku akan menerima apapun perlakuan dari papamu. Aku sudah salah menyakitimu."

__ADS_1


Akhirnya mereka sudah sampai di sebuah tempat kuliner.


"Wah apa ini? Banyak makanan enak. Ayo kita coba!" ajak Ana dengan senyum bahagia.


"Iya. Pak, kami akan berkeliling dulu di sini." kata Anton pada sopir mobil.


"Baik Tuan. Saya akan menunggu di parkiran. Telpon saja saya, begitu kalian selesai."


Ana buru-buru turun ke mobil. Ia bergegas menuju tempat makan yang menyediakan menu sate ayam.


"Ibu, aku pesan dua porsi sate ayam." kata Ana saat memesan makanan.


"Mau pake nasi atau lontong?"


"Lontong aja ya bu. Oh iya, minumnya ea jeruk aja ya."


"Baik Kakak cantik. Silakan tunggu di kursinya yah. Nanti akan saya antarkan pesenannya."


Ana menuju tempat duduk.


"Kok aku ditinggalin?" tanya Anton.


"Lagian kamu lama. Aku udah pesan sate ayam. Tapi kayaknya aku mau ikan bakar juga deh!"


"Oh mau ikan? Yaudah kamu tunggu aja di sini, aku akan pesankan."


Anton menuju tempat yang menjual aneka jenis ikan bakar. Anton tak terlalu pusing memilih jenis ikan untuk Ana. Ia tau bahwa Ana sangat menyukai ikan gurame.


"Siap Den bagus!"


Setelah menunggu sekian menit, hidangan yang mereka pesan akhirnya datang. Mata Ana berbinar melihat makanan yang terhidang di hadapannya.


"Wah, luar biasa!" seru Ana.


"Baguslah jika kamu senang. Ayo dimakan!"


"Tapi Mas, aku pingin minum es cendol dan es selendang mayang deh! Tadi liat ada orang minum itu kok kayaknya enak." ujar Ana.


"Iya aku belikan. Kamu makan aja dulu yah!"


Anton beranjak menuju tempat yang menjual es cendol dan ea selendang mayang. Sementara Ana segera menikmati sate ayam dengan lahap.


"Cantik-cantik tapi rakus juga yah!" sindir seorang wanita tak dikenal.


Apa Ana marah? Tidak! Ana malah semakin menikmati makanannya dengan lahap. Ia tak peduli omongan orang yang menyesakkan dada.


"Kan, iyuh banget kan? Jijik aku ngeliat dia makan! Sok cantik banget tapi kelakuan makannya norak!"


"Heh kalian!" bentak Anton pada dua orang wanita yang menyindir istrinya.

__ADS_1


"Istriku memang cantik! Tak ada kata sok cantik macam kalian! Mau cara makan dia kayak gimanapun juga, dia tetep cantik! Nah kalian, udah busuk gitu, hatinya ikutan busuk!" seru Anton.


Dua orang wanita itu langsung menghindar. Takut dengan Anton yang sudah terlihat marah.


"Sudahlah, aku tak apa. Aku sudah biasa disindir begitu. Dulu si Alana sering begitu padaku." ujar Ana.


"Ini es pesananmu." kata Anton dengan nada melemah.


"Sate ayamnya enak. Kamu cobain deh!" kata Ana.


Anton ikut makan.


"Bayangkan, jika setiap hari aku bisa makan sebebas ini? Pasti aku akan bahagia lahir batin." ujar Ana yang mulai menitikkan air mata.


"Kenapa Sayang? Apakah kamu sedih mengingatku yang brutal dan kejam?"


"Bukan. Aku takut jika hidupku takkan lama lagi. Banyak kemungkinan ibu hamil mengalami kejadian di luar nalar. Beban hidupku semakin berat. Dan yah, aku tak tau sampai kapan harus bertahan." kata Ana.


"Apa maksudmu?" tanya Anton dengan suara lebih keras.


"Bayangkan saja, jika kamu jadi aku. Apakah kamu bisa terlihat bahagia jika hatimu dan pikiranmu sudah rusak? Bisa?"


"Iya aku mengerti. Pasti sulit menjadi dirimu yang kuat. Maafkan aku!"


"Sudahlah. Sekarang minta maaf, besoknya pasti melakukan hal yang sama. Besoknya lagi minta maaf lagi dan begitu seterusnya sampai dunia api menjadi dunia es. Yassalam..." ujar Ana.


"Maaf ya."


"Haduh, aku mau makan jajanan pasar deh. Kayaknya itu enak deh! Aku akan beli sendiri deh, kamu di sini aja." kata Ana.


"Baiklah. Hati-hati yah!"


Ana menuju tempat yang menjajakan aneka jajanan pasar. Ana memilih banyak makanan yang disukainya. Bahkan membiarkan pembeli laki-laki yang menggodanya. Ia tak peduli Anton melihatnya dari jauh.


"Segini berapa?"


"Lima puluh ribu aja Nona manis."


"Ini ya. Makasih." Ana membayar dan langsung pergi.


"Kenapa kamu membiarkan pria-pria keparat itu menggodamu?" tanya Anton begitu Ana sudah mendekat.


"Kamu nanya? Kamu bertanya-tanya? Jangan nanya deh!" jawab Ana.


"Kamu ya..." Anton berusaha menahan emosinya.


"Aku mau makan dengan tenang. Jika kamu tak suka, ayo deh kita pulang! Pulang ke rumah!"


"Baiklah. Silakan makan!"

__ADS_1


Anton mengepalkan tangannya. Ingin marah, tapi ditahannya. Ia tak ingin membuat Ana kembali trauma pada dirinya.


__ADS_2