
"Kamu mikirin apa sih?" tanya Alana kepo.
"Tidak, aku sedang memikirkan bagaimana caranya lebih cepat bersama denganmu tanpa ada pihak yang tersakiti." jawab Anton.
Alana memasang muka curiga. Ia melepaskan pelukan Anton.
"Pihak yang tersakiti itu maksudmu Ana? Dia?" tanya Alana memastikan.
Anton hanya mengangguk.
"Aku heran sama orang-orang di sekitarku, termasuk kamu yah! Kenapa harus peduli dengan perasaan Ana? Apa sih keunggulan dia? Siapapun pasti sangat ingin menjaga hatinya agar tak tersakiti! Aku jadi kesal padanya karena itu. Padahal sebelumnya aku sangat ingin dekat dengannya." keluh Alana.
"Mungkin karena dia orang baik!' batin Anton.
"Di lokasi syuting, pasti selalu dibela sama Nabila. Di keluargamu bagaimana kedudukannya?"
"Dia menantu idaman di keluarga Novero. Papaku sudah memberinya gelar seperti itu. Aku nggak tau dari segi apa penilaian papa padanya."
"Menurutmu apakah kita akan direstui orang tuamu jika kamu dan Ana resmi bercerai?"
"Aku nggak tau, Alana. Papaku orangnya tegas dan susah digoyahkan. Jika dia berkata A, maka aku harus melakukan A. Jika menyimpang, ada konsekuensi yang harus aku bayar. Kita nggak boleh gegabah. Salah langkah sedikit saja bisa bahaya." ujar Anton.
"Bahaya kenapa?" tanya Alana.
"Aku bisa dikeluarkan dari Kartu Keluarga. Bukan hanya itu saja, aku akan kehilangan segalanya. Semua aset yang ku miliki akan mereka sita. Aku tak bisa apa-apa." jawab Anton.
Tiba-tiba Anton mendapat notifikasi pesan di ponselnya. Pemberitahuan pemakaian black card miliknya yang digunakan Ana untuk berbelanja.
__ADS_1
"Ada apa? Seserius itu ekspresi wajahmu. Ada apa sebenarnya?"
"Gapapa. Hanya notifikasi pengingat dari pihak klien. Bukan hal yang perlu kamu cemaskan!" ujar Anton.
Alana kembali memeluk Anton dengan perasaan bahagja. Ia merasa menang karena Anton lebih mencintainya dibandingkan Ana. Lalu mereka bernyanyi bersama demi menghabiskan waktu berdua.
Sudah menjelang larut malam, Anton pun memutuskan pulang setelah mengantar Alana ke rumahnya. Ia ingat bahwa Ana sedang menginap di rumah Pak Radit, papa Ana. Ia pun mengemudikan mobilnya menuju ke rumah Pak Radit.
Sepanjang perjalanan, Anton sempat memikirkan bagaimana nasib karir Alana selanjutnya. Tapi selebihnya ia memikirkan bagaimana hubungannya dengan Ana. Karena kepikiran hal-hal di luar nalar, ia pun menyalakan musiknya. Mendengarkan lagu-lagu kesukaannya.
Sejam kemudian, ia sampai di rumah Pak Radit. Keadaan rumah tampak sepi. Beberapa lampu sudut rumah sudah dimatikan. Ia menyalakan klakson mobilnya. Keluarlah petugas keamanan membukakan pintu gerbang.
Anton memarkirkan mobilnya di teras rumah. Selanjutnya menyuruh petugas keamanan untuk memindahkan mobilnya. Karena mengantuk, ia segera masuk ke rumah. Ia sudah diberi tau jika Pak Radit sedang ke luar kota.
Anton menaiki anak tangga menuju lantai dua. Anton mencari-cari dimana kamar Ana. Beberapa kamar dia buka untuk memastikan keberadaan Ana. Lalu sampailah di sebuah kamar yang dipastikan bahwa itulah kamar Ana. Dimana Ana sedang tertidur pulas dengan memeluk gulingnya.
"Aku lelah. Seharian ini bekerja dan berkencan. Menyita waktu istirahatku." ujar Anton.
Anton pun tidur dengan pulas. Menyusul Ana menjelajahi dunia mimpi.
Keesokan harinya, Ana lebih dulu bangun. Ana kaget melihat Anton berada di kamarnya. Seingatnya, semalam ia tidur sendirian. Ana ingin bangkit dari ranjangnya, tapi tak bisa. Anton tidur sambil memeluk Ana.
"Apa dia pikir aku ini guling? Seenaknya saja memeluk orang sembarangan! Bagaimana caraku bangkit dari sini?" gumam Ana.
Ana berusaha memindahkan lengan kekar Anton dari tubuhnya. Tapi sayangnya sulit. Tenaganya tak cukup kuat untuk menggesernya, apalagi memindahkannya.
"Terbuat dari apa tangan ini? Keras sekali seperti baja Apa semua tangan pria seperti ini?" lirih Ana.
__ADS_1
Lalu Ana tak ada pilihan lain selain diam. Karena masih sangat pagi dan ia sedikit mengantuk, akhirnya ia memutuskan tidur kembali. Setengah jam kemudian, Anton terbangun karena alarm ponselnya. Lalu ia beranjak ke toilet untuk membersihkan diri. Saat itulah Ana kembali bangun dari tidurnya. Dilihatnya ia hanya tidur sendirian.
"Padahal tadi aku melihat Anton tidur di sini. Kenapa sekarang aku sendirian lagi? Uhm, pasti hanya mimpi. Mana mungkin dia ke sini tengah malam? Udahlah, aku hanya mimpiin dia. Aku mau mandi dulu deh biar segar pikiranku." kata Ana.
Ana berjalan menuju toilet. Ia tak menyadari ada Anton di dalam, sebab Anton tengah berendam di bathub. Jadi Ana tak mendengar suara apapun. Tanpa melihat ke sekelilingnya, Ana melepas pakaiannya begitu saja. Ia mengguyur tubuhnya di bawah shower dengan santainya.
Anton yang tadinya memejamkan matanya, akhirnya terbelalak melihat sisi lain dari Ana. Ana yang biasa dilihatnya berpakaian sederhana dan lebih banyak diam. Kini Ana beralih menjadi sosok yang lebih liar dan bahkan tanpa mengenakan sehelai benang alias telanjang.
'Pemandangan apa ini? Tak biasanya aku melihat dia seliar dan sebebas ini? Apa sebenarnya memang begini aslinya?' batin Anton sambil fokus memandangi gerak-gerik Ana.
Ana masih santai melanjutkan mandinya. Ia melumuri tubuhnya dengan sabun hingga penuh dengan busa. Sesekali Anton menelan ludahnya. Ia tak kuasa melihat pemandangan indah di depannya. Jika harus menutup mata, rasanya akan rugi baginya.
Ana mengguyur tubuhnya lagi. Membilas busa-busa yang memenuhi tubuhnya. Ia merasa lebih segar setelah mandi. Lalu ia mencari handuknya. Kebetulan lemari handuk berada tak jauh dari bathub dimana Anton berada. Ana langsung lemas melihat Anton yang menatapnya secara sadar. Ia berusaha menutupi tubuhnya yang polos itu.
Bukannya pergi, Anton justru mendekati Ana yang sudah terduduk di lantai karena malu. Anton mendirikan tubuh Ana hingga berdiri berhadapan dengannya. Ana masih belum mau menatap Anton. Antara malu, takut, dan bingung harus bagaimana.
"Sepertinya, kamu sengaja menggodaku ya?" bisik Anton tepat di telinga kiri Ana.
Ana menggelengkan kepalanya. Ia masih menundukkan kepalanya sambil memejamkan matanya. Sekilas tadi, ia melihat Anton juga bertelanjang seperti dirinya. Ia tak menyalahkan Anton, sebab memang demikian jika berada di toilet. Tapi bodohnya Ana, mengapa tak melihat sekelilingnya dulu sebelum membuka baju dan mandi?
"Aku tak tau ada kamu. Seingatku semalam aku tidur sendirian. Aku biasanya mandi sesukaku di sini. Mana aku tau jika tiba-tiba kamu datang ke sini. Aku akan segera keluar dan kamu bisa melanjutkan mandi sepuasmu!" ujar Ana hendak pergi.
Anton mencekal pergelangan tangan Ana. Ana pun tak bisa kemana-mana.
"Siapa yang mengizinkanmu pergi begitu saja? Jika sudah begini, sekalian saja kita bermain-main. Pasti kamu suka permainan ini." kata Anton.
"Tidak mau!" teriak Ana.
__ADS_1
Ana berhasil melarikan diri dari toilet. Tapi ia gagal meloloskan diri dari kamarnya. Mau teriak juga percuma, pasti tak akan didengar oleh para penjaga keamanan ataupun ART di sana. Sebab kamar Ana kedap udara. Lagipula, siapa juga yang berani mendatangi teriakan pengantin baru yang menikah?