Love Me Please, Hubby!

Love Me Please, Hubby!
Jangan Sebut Nama Lain


__ADS_3

Anton yang telah selesai dari mandinya, tak mendapati Ana di kamarnya. Lalu ia menuju balkon, Ana telah tertidur dalam posisi bersandar di kursinya.


"Kenapa malah tidur di sini? Bukankah tadi sudah aku suruh untuk tidur di kasur. Dasar wanita aneh!" gumam Anton.


Meski sedikit kesal, tapi Anton tak tega membiarkan Ana tidur di kursi itu. Lantas ia menggendong Ana dan menidurkan di kasurnya.


"Yah lebih baik daripada tidur di tempat tadi." ujar Anton.


Anton turun ke bawah. Bergabung dengan kakak dan adiknya yang sedang battle bermain games online.


"Eh pengantin baru ngapain ke sini?" tanya Arga sembari tetap fokus bermain.


"Iya nih. Kak Ana kasian tuh ditinggalin!" timpal Andre.


Anton mengabaikan Arga dan Andre. Iya hanya menonton battle games saudaranya itu.


"Kayaknya Kak Anton kena sawan deh Kak!" seru Andre.


"Iya kali. Tapi bentar, ya ya ya! Tumbang deh musuh!" seru Arga yang berhasil mengalahkan Andre.


"Kan kalah. Semua ini gara-gara liatin Kak Anton." gerutu Andre.


"Yes. Jadi gagal nraktir makan Andre. Kan kalo nraktir mintanya pasti nggak masuk akal. Heheheheee...." gelak tawa Arga bahagia.


"Kan...." Andre semakin kesal.


"Nanti aku yang traktir kamu! Ngapain gara-gara nggak jadi makan aja susahnya ampe sono-sono." kata Anton.


"Huft. Jarang tau bisa jalan sama Kak Arga yang sibuknya kebangetan. Makanan bisa aku beli. Tapi kalo ditraktir rasanya gimana gitu." keluh Andre.


"Slow aja kali! Besok aku traktir!" seru Anton.


"Oke deh. Sekalian ngajak Kak Ana jalan-jalan! Eh tunggu, dia ada jadwal apa enggak ya?" kata Andre pada dirinya sendiri.


"Dia libur syuting selama seminggu penuh. Jadi besok masih free." ucap Anton.

__ADS_1


"Kok Kak Anton tau banget yah?" tanya Andre penasaran.


"Lah, gimana sih kamu? Anton kan suaminya! Kalo dia nggak tau, ya malah kedengerannya aneh!" sahut Arga respon cepat.


Andre mencubit pipinya sendiri. Ia merutuki betapa bodohnya dia melupakan status pernikahan Anton dan Ana.


"Yaudah deh, aku balik ke kamar." ujar Anton.


Anton bergegas ke kamarnya di lantai dua. Meninggalkan kedua saudaranya yang masih membicarakan dirinya. Perlahan ia membuka pintu kamarnya. Ia takut Ana terbangun karenanya.


Sebisa mungkin langkah kakinya tak bersuara. Ia menuju sofa yang tak kalah empuk dengan kasurnya. Ia merebahkan tubuhnya di sana. Sebenarnya ia tak mengantuk, tapi tak ada yang bisa dilakukannya selain tidur mengingat waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam.


Anton berusaha untuk bisa tidur. Sampai suatu ketika ia ingat sebuah cerita bagaimana cara untuk tidur cepat. Ia harus menghitung jumlah domba dalam keadaan mata tertutup. Dan itu berhasil.


Pukul 1 dini hari, Ana terbangun dari tidurnya. Tenggorokannya haus sekali. Beruntung di nakas sudah tersaji segelas air putih. Ia langsung meneguknya. Langsung habis dengan cepat. Tapi ia masih merasa haus. Akhirnya ia memutuskan akan pergi ke dapur untuk mengambil air.


Belum sampai keluar kamar, ia melihat Anton tidur di sofa. Ia mengurungkan niatnya pergi ke dapur. Ia malah sibuk mengamati wajah tampan Anton.


"Sebenarnya ia lumayan tampan loh. Cuman selama ini ketutup sama sikap dingin dan cueknya itu. Trus jarang senyum pula. Gimana nggak ketutup ketampanannya?" gumam Ana.


Ana membuka lemari. Dicarinya selimut yang akan ia gunakan untuk menyelimuti Anton yang terlihat kedinginan oleh suhu AC dalam kamar itu. Dengan hati-hati ia menyelimuti tubuh Anton yang kini sudah sah menjadi suaminya.


Ana memang penyuka manis. Jadi setiap melihat makanan manis, maka ia akan cepat tergoda. Seperti saat ia melihat tiramisu di kulkas. Awalnya ia mencicipi sepotong tiramisu untuk menyudahi keinginan lidahnya. Namu karena terjebak oleh rasa enak dan mumpung tersedia di depan mata, akhirnya ia menghabiskan semua tiramisu itu.


"Hmm, enak sekali. Manisnya pas, lembut, dan rasanya bikin nagih. Tapi tunggu, aku menghabiskan tiramisunya!" seru Ana.


Ana membekap mulutnya sendiri. Takut suaranya akan membangunkan Anton yang tertidur pulas. Ia pun segera menutup kembali kulkas kecil itu. Ia berjanji akan mengganti tiramisu itu esok hari.


Saat ingin kembali memejamkan mata, sayup-sayup Ana mendengar suara rintihan memanggil seseorang. Ana langsung duduk dan mencari sumber suara. Ternyata suara itu adalah igauan Anton.


"Alana..." panggil Anton.


Ana beringsut kecewa saat mendengar Anton menyebut nama Alana. Jika hanya sekali dua kali, mungkin rasanya sangat wajar. Mengingat Alana pernah menyebut Anton sebagai sahabatnya. Tapi jika sudah berkali-kali, adakah nama lainnya selain cinta? Tidak ada!


"Aku tau kamu tak mencintaiku. Aku pun demikian. Kita menikah tanpa adanya cinta. Tapi taukah kamu, hatiku sakit saat kamu menyebut nama wanita lain." lirih Ana sebelum kembali melanjutkan tidurnya.

__ADS_1


...****************...


Keesokan harinya, Ana bangun lebih dulu. Ia menyiapkan sarapan seperti biasanya. Tapi kali ini dalam jumlah porsi lebih banyak. Ada ART yang berniat membantu Ana memasak, tapi dilarang oleh Ana. Ia ingin memasak sendiri saat ini.


Selesai menyiapkan sarapan, Ana kembali ke kamar Anton. Ia ingin segera mandi karena memasak membuatnya panas dan gerah. Ia tak melihat Anton dan ada suara gemericik di dalam toilet. Ia berasumsi bahwa Anton sedang mandi. Maka ia harus sabar menunggu giliran.


"Sudah mandinya?" tanya Ana begitu Anton keluar dari toilet memakai piyamanya.


"Sudah." jawab Anton datar.


Ana bergegas masuk ke toilet. Ia ingin segera diguyur oleh air shower. Benar saja, badannya kembali segar setelah mandi. Namun Ana melupakan sesuatu. Handuk, piyama, atau apapun itu, ia lupa membawanya.


"Biasanya aku memang selalu menaruh piyama dan handuk di toilet. Tapi ini kan bukan kamarku. Tentu saja pasti lain ceritanya. Aku harus gimana ya? Malu kalo harus minta tolong pada Anton. Apa nungguin sampe ia keluar kamar dulu baru aku keluar ya?"


Ana bingung sendiri di dalam toilet itu. Sementara Anton tak kunjung keluar kamar. Ia sabar menanti Ana yang menurutnya mandinya lama. Ia ingin ke bawah bersama mengingat mereka adalah pengantin baru.


Setengah jam berlalu, Ana keluar dari toilet. Ia mengendap-endap menuju lemari pakaian. Ia mencari handuk.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Anton.


Ana membalikkan badannya. Ia salah mengira jika Anton sudah keluar dari kamar, ternyata belum. Ana lantas berteriak. Sadar jika dirinya sedang dalam kondisi polos alias bertelanjang. Anton buru-buru menghampiri Ana dan membekap mulut Ana.


"Jangan berteriak!" ujar Anton.


Ana hampir menangis. Ia sungguh malu dan bingung harus bagaimana. Anton pura-pura tak melihat tubuh Ana. Ia segera mengambil piyama untuk Ana pakai.


"Anggap saja aku tak melihat tubuhmu!" kata Anton.


"Kamu memang tak pernah melihatku." lirih Ana sambil mengenakan piyamanya.


"Setelah sarapan, aku akan mengajakmu jalan-jalan ke luar. Andre juga akan ikut bersama kita." kata Anton.


"Kenapa bukan mengajak Alana saja?"


"Kenapa harus dia?" tanya Anton.

__ADS_1


"Bukankah kalian sahabatan yah? Eh apa lebih dari itu ya?"


"Nggak jelas. Aku akan mengajakmu! Buruan pakai bajumu. Kita harus turun bersama!" ajak Anton.


__ADS_2