
Sejak pertemuan Ana dengan Tata, hubungan Ana dan Anton semakin memburuk. Ana tak seramah sebelumnya. Lebih banyak diam daripada berkomunikasi dengan Anton.
'Apa yang harus ku lakukan? Sepertinya ada hubungan yang tak biasa antara Ana dan pria itu.' batin Anton.
Ana terlihat sibuk dengan ponselnya. Berbalas pesan dengan Tata. Bagi Ana, bertukar pesan dengan Tata adalah hal yang menyenangkan. Selain obrolannya nyambung, Tata juga humoris. Hal itu membuat Ana nyaman dengannya.
"Apa seharian tadi kamu hanya berkirim pesan dengan pria itu?" tanya Anton.
"Pria itu? Maksudmu Tata? Uhm, jujur iya. Memangnya kenapa? Dia teman lamaku kok. Kami saling bernostalgia mengenang masa sekolah kami." jawab Ana.
"Apa kamu mau jalan-jalan denganku?"
"Ini sudah malam. Hampir jam 9. Mau kemana semalam ini?"
"Yah jalan-jalan sekitaran komplek sini aja. Nyari angin biar fikiran kita lebih fresh. Kamu mau nggak?"
"Yaudah, tunggu sebentar. Aku ganti baju dulu." ujar Ana.
Ana telah berganti baju yang lebih tebal dan tertutup. Sementara Anton menunggu Ana di ruang tamu.
"Kalian mau kemana?" tanya Arga yang baru pulang dari kantor.
"Kak Arga baru pulang? Kami mau jalan-jalan." jawab Ana.
"Ya Ana, aku baru pulang. Jalan kaki?" tanya Arga lagi.
"Enggaklah. Kan ada motorku! Ngapain jalan kaki?" seru Anton.
"Oh iya. Yasudah buruan pergi sekarang. Sebelum makin malam makin dingin. Inget yah Ana, pegangan kalo naik motor!" nasehat Arga.
"Baik Kak Arga."
Anton sudah bersiap di motornya. Ana ragu untuk menaikinya.
"Kenapa? Ayo naik! Ini helm, pakailah!" perintah Anton.
Ana menerima helm pemberian Anton, lalu memakainya. Ia pun segera menaiki motor.
"Hati-hati!" ujar Anton.
"Iya. Sudah." kata Ana.
"Pegangan yang erat yah!"
"Kenapa begitu?"
Anton tak menjawab pertanyaan Ana. Ia segera melajukan motornya. Karena mendadak, Ana kaget dan refleks memeluk Anton dengan erat.
__ADS_1
"Kamu sengaja ya?" seru Ana.
"Pegangan yang kuat. Jangan sampai kamu terjatuh!" balas Anton.
Anton mengajak Ana berkeliling komplek yang mulai sepi sebab sudah malam. Anton mengurangi kecepatan laju motornya. Tanpa sadar Ana masih memeluk Anton dengan erat.
'Apa dia nyaman memelukku seerat itu?' batin Anton.
Anton menghentikan motornya di tepi jalan yang sepi.
"Kenapa berhenti?" tanya Ana.
Anton membalikkan badannya. Menatap Ana juga menatapnya bingung.
"Apakah boleh?" tanya Anton.
"Apa?" tanya Ana.
Anton langsung menyambar bibir Ana secepatnya. Sebelum Ana benar-benar mendorongnya menjauh. Di luar dugaan, Ana tak melakukan itu. Awalnya Ana hanya diam saja. Lama kelamaan Ana pun membalas ciuman Anton. Udara yang dingin seakan mendorong keduanya lebih memperdalam ciuman mereka.
Sayangnya, aktivitas ciuman mereka terganggu oleh sorot lampu mobil yang melintas di depan mereka. Mau tidak mau, Anton harus menghentikan ciumannya. Meski kesal, Anton harus bersikap santai di depan Ana. Ana menyembunyikan wajahnya di balik badan Anton.
'Siapa pengendara mobil sialan itu? Mengganggu sekali!' batin Anton kesal.
Pengendara mobil itu menghentikan mobilnya. Lalu keluarlah pengendara itu dan menghampiri Ana dan Anton.
"Hei Ana. Kamu ternyata! Maaf yah, karena sorot mobilku sudah mengganggu kalian!" kata Tata seolah bersedih.
'Sudah jelas dia sengaja menyalakan lampu mobilnya begitu terang. Dia sengaja mengganggu kami. Sudah ku duga, dia memang dari awal sudah berniat jahat. Licik sekali!' batin Anton.
"Ah, ini pasti suaminya Ana. Perkenalkan, aku Tata!" ujar Tata sembari menyodorkan tangannya.
Anton segera berjabat tangan dengan Tata. Keduanya saling meremas tangan saat berjabatan tangan. Ditambah lagi, ada perang dingin dengan tatapan mata keduanya.
"Kamu tinggal di sekitaran sini apa bagaimana?" tanya Ana.
"Ah tidak! Aku hanya ada urusan di sekitar sini. Eh ketemu kalian di sini. Oh iya, apa kalian mau minum minuman hangat di sekitaran sini?" tanya Tata.
"Tidak usah. Kami akan segera pulang sebentar lagi!" tolak Anton.
"Ayolah Anton, kita ikut dengan Tata aja. Aku sudah lama nggak ketemu dengannya." pinta Ana.
Karena Ana yang meminta, otomatis Anton mau tak mau mengiyakan saja. Padahal jauh dari lubuk hatinya, ia sangat ingin mengajak Ana segera pulang untuk menghindari Tata. Mereka bertiga akhirnya menuju ke sebuah warung kopi yang lokasinya tak jauh dari tempat mereka bertemu.
Seusai memesan minuman hangat, Tata dengan santainya mengajak Ana mengobrol tanpa peduli keberadaan Anton sebagai suami Ana. Tata dari awal sudah berniat agar Anton cemburu padanya.
"Oh jadi begitu. Kau pasti idola para wanita di sana. Selain tampan, aku tau kau sangat pintar!" puji Ana pada Tata.
__ADS_1
"Tidak begitu. Aku hanya pendatang. Di sana sudah banyak pria tampan juga. Aku bukan apa-apa." ujar Tata merendah.
Anton hanya diam saja. Ia hanya fokus dengan minuman hangatnya. Bahkan Anton sudah beberapa kali memesan ulang minumannya.
"Hei, apakah suamimu baik-baik saja? Dia sudah pesan minuman beberapa kali. Bahkan tak mau pesan makan. Aku takut dia kenapa-napa." bisik Tata pada Ana.
"Dia pasti kehausan." bisik Ana.
"Oh begitu ya. Ku harap dia baik-baik saja." kata Tata.
"Apa yang kalian obrolkan?" tanya Anton tiba-tiba.
"Hanya cerita lama yang sudah jadi kenangan." jawab Tata bangga.
"Meaki hanya kenangan lama, sebenarnya itu adalah kenangan yang takkan terlupakan. Aku bahagia meski hanya mengenang cerita lama." ujar Ana bahagia.
"Apa sebahagia itu meski hanya mengingatnya?" tanya Anton.
"Yah. Apa kamu tak punya kenangan serupa bersama Ana?" tanya Tata.
"Entahlah. Aku saja baru mengenal Ana belum lama ini." jawab Anton.
"Sayang sekali. Jika kamu mengenal Ana lebih baik, Ana adalah teman yang baik. Di angkatan kami dulu, bahkan Ana sudah jadi primadona. Bukan hanya soal kebaikannya, tapi juga soal kecantikannya yang tidak diragukan lagi." kata Tata sambil menatap Ana dengan tatapan penuh cinta.
Anton kesal melihat Tata yang memandang Ana seperti wanita yang dicintainya.
"Wah, sayang sekali! Tapi aku lebih beruntung dari siapapun pria yang dulu mendekati Ana tapi tak dapat memiliki Ana!" ujar Anton.
Anton memeluk Ana. Berharap Tata cemburu melihatnya mesra dengan Ana.
"Aku tau. Semoga Ana juga seberuntung dirimu yang mendapatkan Ana." kata Tata pelan.
"Kau bicara apa?" tanya Anton.
"Bukan apa-apa. Abaikan saja!" jawab Tata.
"Jangan memelukku seperti ini. Malu." bisik Ana pada Anton.
"Sayang, sepertinya kita harus pulang! Aku takut kamu jatuh sakit jika terus menerus berada di udara yang dingin seperti ini." kata Anton bersikap romantis.
"Aku? Kedinginan?" tanya Ana tak percaya.
"Ayo kita pulang! Dokter Tata pasti juga sudah lelah kan yah. Sebaiknya kita semua pulang untuk beristirahat." jawab Anton.
"Baiklah. Ana, kamu harus pulang. Pasti akan ada pertemuan lagi setelah ini." ujar Tata yakin.
"Semoga saja. Tapi ku harap itu takkan terjadi!" bisik Anton pada Tata agar Ana tak mendengarnya.
__ADS_1
Anton menatap tajam Tata yang masih berpikir untuk intens bertemu dengan Ana.