
Alana masih sesenggukan dalam tangisnya. Ia cukup terpukul dengan keadaannya sekarang. Hamil di luar nikah tanpa tau siapa pria yang menghamilinya.
"Siapa saja pria yang mengajakmu tidur?" tanya Bu Jenny frontal.
"Ma..." ujar Pak Mirza seakan menahan agar Bu Jenny tak berkata keterlaluan.
"Biarkan saja Pa. Memang benar kan, dia sendiri yang mengundang petaka. Giliran petaka itu datang, seenaknya dia melemparkan kesalahan pada orang lain. Aku tak terima anak-anak kita harus menanggung malu atas ulah wanita jahat ini. Dia sendiri kan yang sudah membuang Arga dengan tangan kotornya itu. Bahkan tega menyakiti Anton dengan wajah sok cantiknya itu. Orang tua mana sih yang mengikhlaskan anaknya disakiti? Tapi yaudahlah, Aku tak menuntut balas darimu. Keadaanmu sekarang juga sudah cukup membalas perilaku liarmu selama ini. Selamat!" kata Bu Jenny seraya menyunggingkan senyumnya.
"Tante, semua itu karena uang. Dulu hidupku selalu kesulitan dan penuh kesedihan. Masa kecil dan remajaku harus berakhir menyedihkan. Betapa susahnya makan enak, tidur dengan nyaman, dan selalu dikejar hutang. Saat dewasa ternyata aku diberikan kesempatan hidup yang nyaman dengan limpahan karir yang cemerlang, jutaan kasih sayang para fans, tentunya hujan uang yang semudah itu aku dapatkan. Bagaimana bisa aku tak tergiur oleh semua itu?" tanya Alana.
"Lalu jika semuanya sudah hancur, bagaimana?" tanya Bu Jenny.
"Aku tak tau lagi. Jika kedatanganku ke sini adalah kesalahan, aku takkan pernah menginjakkan kakiku ke sini lagi. Terima kasih waktunya. Permisi!" kata Alana.
Alana bergegas ke luar rumah. Namun dicegah oleh Ana yang masih ingin mengatakan sesuatu.
"Apa lagi?" tanya Alana.
"Aku hanya ingin kamu kuat menjalani hidupmu. Aku yakin kamu bukan wanita lemah. Meski sulit, kamu pasti bisa meraih kebahagiaan yang kamu impikan selama ini." jawab Ana.
"Oke. Kamu sudah mendapatkan segalanya. Hidupmu terlalu mewah dibandingkan aku. Apalah dayaku yang tak bisa menandingimu. Kamu tau, aku selalu bersikap ketus padamu, selalu sinis padamu, itu semua karena aku menganggapmu saingan. Sekarang liat, kamu sudah mendapatkan semuanya. Aku tak bisa lagi merebut apa yang kamu miliki karena keserakahanku sendiri. Jangan khawatir, aku takkan mengganggumu lagi. Setelah ini aku akan pergi jauh. Selamat atas kemenanganmu." ujar Alana seraya pergi.
Ana membiarkan Alana pergi. Di satu sisi ia bahagia sebab Alana sudah mengakui kesalahannya dan takkan mengganggunya. Tapi di sisi lain, Ana tampak cemas. Ia merasa Alana perlu bantuan darinya. Ia merasa perlu membantu Alana yang emosinya kurang stabil atas kehamilannya. Namun lagi-lagi, ia harus sadar diri. Alana mungkin tak membutuhkan bantuannya.
"Ayo kita ke kamar!" ajak Anton.
Ana ikut Anton ke kamar. Sebelum tidur, ia membersihkan diri dulu. Setelah itu, Ana hanya duduk di tepi ranjangnya seraya merenungi bagaimana nasib Alana selanjutnya.
"Ada apa?" tanya Anton yang duduk di sebelah Ana.
"Aku masih memikirkan Alana. Meski dia sering membuatku kesal atas ulahnya, aku justru sangat mengkhawatirkannya. Dengan keadaan hamilnya begitu, bagaimana karirnya? Aku takut opini publik yang menghakiminya akan berujung membuatnya semakin kesulitan." jawab Ana.
"Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Aku bahkan lebih mengkhawatirkanmu jika terus-menerus memikirkannya." ujar Anton.
"Dari tadi aku terus mendengar perkataanmu yang seakan menyanjungku. Apa aku salah dengar atau memang demikian?" tanya Ana.
Anton tersenyum. Lalu menatap Ana dalam-dalam. Ana semakin bingung dan bertanya-tanya.
"Tak perlu bingung seperti itu. Aku memang semakin menyukaimu akhir-akhir ini. Aku merasa beruntung akhirnya bisa menikahimu. Memang awalnya aku tak ada rasa apapun padamu. Tapi sekarang aku menyadari bahwa apa yang ku rasakan padamu, sangat dalam! Aku mencintaimu, Ana." pernyataan cinta Anton.
__ADS_1
Ana masih diam.
"Jika pernyataan cintaku memang tak berarti apapun bagimu, maka anggap saja aku tak pernah berkata apapun padamu. Aku tak terlalu berharap banyak untuk balasan cinta darimu. Cukup kamu diam dan menerima pemberian cintaku. Itu saja sudah cukup. Itu sudah cukup membuatku bahagia." ujar Anton.
"Bagaimana jika aku juga mencintaimu?" tanya Ana.
"Ana, aku sangat bahagia jika begitu adanya. Karena itu adalah keinginan terbesarku. Sudahlah, kamu istirahat saja sekarang. Aku belum ingin tidur sekarang." kata Anton yang berjalan menuju ke balkon.
"Tapi aku mencintaimu, Anton!" seru Ana.
Anton segera membalikkan badannya. Menatap Ana dengan mata terbelalak.
"Aku mencintaimu..." lirih Ana sembari menundukkan kepalanya.
"Apa aku salah dengar?" tanya Anton.
Kini Anton sudah berada di ranjang yang sama dengan Ana. Anton mendesak Ana untuk berkata lagi. Anton merasa salah dengar.
"Kenapa harus terus diulang? Kamu membuatku malu!"
"Yah, aku hanya ingin memastikannya. Jika aku mencintaimu dan kamu mencintaiku, bukankah berarti artinya kita saling mencintai?"
"Sejak kapan kamu mencintaiku?" tanya Anton.
"Sejak kamu memutuskan untuk berpacaran dengan Alana. Sejak itulah. Tapi kamu jahat padaku. Teganya kamu berbuat itu!" seru Ana.
"Iya aku salah. Waktu itu pun aku sudah tau aku salah. Tapi tetap saja aku langgar. Lalu, apakah kamu bersedia memulai semuanya dari awal denganku?"
"Terpaksa." jawab Ana.
"Terima kasih ya. Aku akan bersikap lebih baik lagi padamu." ujar Anton seraya memeluk Ana.
"Aku mau tidur." kata Ana.
"Apa maksudmu? Aku juga mau tidur sekarang." kata Anton.
"Lah tadi bukannya mau ke balkon dulu ya? Tadi bilang belum ngantuk?"
"Itu tadi. Sekarang aku mulai mengantuk."
__ADS_1
Anton berbaring di samping Ana.
"Selamat malam!" kata Ana.
Ana mematikan lampu yang berada di nakas. Lalu merebahkan tubuhnya kembali. Belum sempat membenarkan posisinya, Anton sudah lebih dulu menindihnya.
"Apa yang sudah ditakdirkan menjadi milikku, akan tetap menjadi milikku." kata Anton.
"Lalu?"
"Aku akan memangsamu malam ini..." bisik Anton.
Ana hanya tersenyum.
"Mari kita mulai!" kata Anton.
Mereka mengawalinya dengan ciuman. Ciuman yang semakin lama semakin panas. Anton juga melucuti pakaian Ana secara perlahan. Hingga Ana sendiri kaget mendapati dirinya sudah polos.
"Anton, sejak kapan aku begini?" tanya Ana sambil menutupi bagian tubuhn sensitifnya.
"Aku sengaja membuatmu terlena." jawab Anton.
Ana menyembunyikan diri dalam selimutnya. Anton yang tak mau melewatkan kesempatan, segera menyusul Ana. Mereka bermesraan di dalam selimut itu.
"Aku senang setiap melakukannya denganmu." kata Anton di tengah aktivitas panasnya.
"Aku juga." kata Ana.
Keduanya saling berusaha mendapatkan kenikmatan bercinta. Baik Ana ataupun Anton sudah basah oleh peluh masing-masing. Meski lelah, keduanya bebar-benar menikmati aktivitas mereka.
"Aku lelah, tapi sumpah rasanya lebih nikmat daripada sebelumnya. Apa karena kita melakukannya karena cinta?"
"Apalagi aku. Rasanya tubuhku susah digerakkan lagi." kata Ana.
"Aku akan menggendongmu dan membersihkan tubuhmu dengan hati-hati." ujar Anton.
"Baiklah. Gendong!" kata Ana.
Anton pun menggendong Ana untuk sampai di toilet. Lalu mereka membersihkan diri bersama.
__ADS_1