
Ana memutuskan pulang duluan. Ia ingin berjalan-jalan sebentar. Jalan sendiri tak mengurangi niatnya untuk mencari ketenangan dan kesenangan.
"Kamu yakin?" tanya Anton yang tak rela membiarkan Ana pergi sendirian.
"Iya. Kamu selesaikan dulu pekerjaanmu. Aku cuma jalan-jalan di sekitaran sini saja. Mungkin aku mau main ke mall sebelah." jawab Ana.
"Baiklah. Lekas pulang jika sudah puas jalan-jalan!" nasihat Anton.
"Iya."
Ana buru-buru meninggalkan Anton. Anton merasa Ana memang serius meninggalkannya sendiri tanpa belas kasihan.
Dua puluh menit kemudian, Ana sudah berada di sebuah mall yang letaknya tak terlalu jauh dengan kantor Anton. Ana berkeliling seorang diri. Memang dia adalah artis. Tapi tak banyak juga yang mengenalinya. Terlebih Ana menggunakan kaca mata hitam yang menyamarkan wajahnya.
"Ana!" panggil Tata.
"Ah Dokter Tata! Apa kabar?"
"Baik. Kamu sendirian?"
"Iya. Wah, apa ini? Dokter Tata sama Dokter Kinan sudah jadian yah? Kalian serasi sekali! Baiklah, kalian boleh kembali melanjutkan kencannya." ujar Ana.
"Tidak. Kami sudah selesai nonton. Kami mau makan siang. Kalo kamu nggak keberatan, ayo kita makan bareng?" tawar Kinan.
"Ah yang benar? Duh, aku jadi enak loh!" ucap Ana.
"Eh ada panggilan masuk dari Dokter Edgar. Kalian duluan aja makannya. Nanti aku nyusul yah. Ini kayaknya penting. Aku kesana dulu yah!" kata Tata.
Kinan menggandeng Ana menuju restoran cepat saji. Memang Kinan selalu berusaha mengakrabkan diri dengan Ana. Ia tahu bahwa dulu Tata pernah menaruh hati untuk Ana. Tapi, baginya Ana adalah sosok teman yang menyenangkan.
"Eh tumben kamu ngemall sendirian? Nggak ngajak temen?" tanya Kinan.
"Temenku lagi sibuk syuting. Ini pun aku sebenarnya pingin ngajak suami. Tapi yah, dia sibuk dengan urusan pekerjaannya. Makanya aku ke sini sendirian. Malah ketemu Dokter Kinan dan Dokter Tata." jawab Ana.
"Bisa tidak jika kita bertemu di tempat lain selain Rumah Sakit, kamu memanggilku dengan sebutan nama saja. Tanpa gelar Dokter atau apapun. Kesannya ada pembatas jika kamu memanggilku seperti itu." kata Kinan.
"Oh begitu. Baiklah. Apa kita makan di sana? Sepertinya wangi enak ini berasal dari sana." kata Ana.
"Uhm, oke juga. Ayo deh! Aku juga pingin nyobain steak di sana!" ajak Kinan.
Baik Ana dan Kinan sudah pesan makanan. Kinan juga sudah memesankan makanan untuk Tata.
"By the way, Tata lama nih!" keluh Kinan.
"Mungkin ada pembicaraan serius dengan Dokter Edgar. Gitu kan tadi katanya?"
"Ah iya. Dokter Edgar adalah Papaku. Kita makan duluan aja deh kayaknya. Aku liat kamu udah kelaperan." kata Kinan.
"Eh kelihatan ya? Iya sih aku mulai lapar." kata Ana.
Akhirnya Ana dan Kinan makan duluan. Ada obrolan kecil di sela-sela makan mereka. Bahkan sampai makanan mereka habis, Tata belum juga kembali. Berkali-kali Kinan menghubungi Tata, tak ada respon apapun. Sepertinya Tata sudah menon-aktifkan ponselnya.
"Apa tidak diangkat?" tanya Ana ikut cemas.
"Iya. Sepertinya ia mematikan ponselnya. Bagaimana ini?"
__ADS_1
"Kita tunggu dulu sebentar. Oh iya, coba kamu hubungi Dokter Edgar. Bukannya tadi dia menerima panggilan dari beliau?"
"Benar juga." ujar Kinan.
Kinan berhasil menghubungi Dokter Edgar. Tapi wajah Kinan langsung beringsut kecewa setelah memutus panggilannya.
"Ada apa?" tanya Ana.
"Papa hanya bilang bahwa aku alergi kacang. Tak ada pembicaraan khusus lainnya." jawab Kinan.
"Kira-kira Tata kemana ya? Aneh jika dia pergi begitu saja. Kita tunggu setengah jam lagi saja yah."
Kinan dan Ana hanya diam. Sibuk dengan ponsel masing-masing.
"Ini sudah setengah jam. Dia juga belum kembali. Sebaiknya kita mencarinya." kata Kinan pelan.
"Ayo. Kita akan mencarinya." ajak Ana.
"Kalian mau kemana?" tanya Tata yang tiba-tiba datang.
Seketika Kinan langsung berhambur memeluk Tata. Ana hanya mematung menyaksikan dua sejoli itu. Lalu selebihnya ia tersenyum ikut bahagia.
"Darimana saja kamu?" tanya Kinan yang sudah berurai air mata.
"Kamu menangis? Maaf yah. Aku baru membeli hadiah untukmu." jawab Tata.
Tata mengeluarkan kotak kecil di saku bajunya. Lalu menyodorkan kepada Kinan yang masih memeluknya dari samping.
"Lalu kenapa aku tak bisa menghubungimu?" tanya Kinan lagi.
Kinan menerima kotak kecil berwarna biru dari Tata.
"Apa ini?" tanya Kinan.
"Buka saja!" perintah Tata.
Kinan membuka kotak kecil itu. Betapa kagetnya dia saat tahu bahwa di dalamnya ada sebuah cincin berlian yang berkilauan.
"Menarik!" seru Kinan.
Tata heran dengan komentar Kinan.
"Aku akan memakainya! Tolong pakaikan di jariku!" seru Kinan sumringah.
"Syukurlah, kalo kamu menerima pemberianku yang tak seberapa ini!" kata Tata.
"Aku menyukainya!" seru Kinan begitu cincin sudah tersemat di jari manisnya.
"Aku serasa menonton film romantis." kata Ana.
"Maafkan kami." ujar Kinan malu-malu.
"Aku pergi saja deh. Kalian teruskan saja."
"Jangan dulu! Ayo kita mampir ke toko tas. Aku mau beli tas baru!" ajak Kinan yang beralih menggandeng Ana.
__ADS_1
"Oh oke. Tapi apa..." Ana tak meneruskan perkataannya.
"Sudah ikut saja!" kata Kinan yang menarik Ana.
Ana mengikuti kemana Kinan pergi. Ke toko tas branded yang memanjakan mata.
"Kamu pilih saja apa yang kamu suka! Aku yang traktir!" seru Kinan bahagia.
"Bukan menolak, tapi aku tak ingin beli tas." tolak Ana secara halus.
"Ikuti saja apa yang Kinan mau!" bisik Tata.
Ana tak bisa menolak lagi. Ia terpaksa menerimanya. Ana mengitari ruangan toko untuk mencari tas yang sesuai dengan gayanya. Tapi tak menemukan.
"Rasanya aku menyerah deh. Aku tak menemukan apa yang aku cari!" keluh Ana.
"Bagaimana kalo tas ini?" tanya Kinan sembari menunjukkan tas kecil berwarna hitam.
"Itu bagus! Kok aku tak melihatnya tadi. Iya, aku mau. Tapi bagaimana dengan harganya? Aku rasa itu mahal."
"Tak mahal untuk teman baik sepertimu." ujar Kinan.
"Aku akan membayarnya sendiri." kata Ana.
"Ana, kali ini saja. Biarkan aku yang membelikan barang yang murah ini untukmu. Kalo kamu tak keberatan, kamu bisa mentraktirku makan lain kali. Hobiku makan. Jadi aku akan menantikan makan bareng lagi denganmu. Bagaimana?"
"Baiklah. Aku akan menerimanya." kata Ana.
Ana dan Kinan sudah membawa tentengan masing-masing. Mereka puas dengan belanjaan mereka.
"Ana!" panggil Anton.
Perhatian Ana langsung mengarah pada Anton.
"Ayo kita pulang! Aku merindukanmu!" seru Anton yang langsung memeluk Ana begitu dekat.
"Ah iya. Kita pulang. Tapi kenapa pelukanmu begitu erat? Aku kesulitan bernafas ini!" kata Ana.
"Maafkan aku. Aku kepikiran terus denganmu. Ayo kita pulang!" ujar Anton yang bermanja-manja.
"Aduh, malu. Ada Tata dan Kinan yang melihat kita." kata Ana.
Anton pun memandangi Tata dan Kinan yang sedari tadi menatapnya tanpa henti.
"Terima kasih sudah menjaga Ana." kata Anton.
"Sama-sama. Lain kali aku boleh ya mengajaknya jalan-jalan lagi!" tanya Kinan.
Anton menatap Tata dengan tatapan tajam.
"Uhm, sebenarnya aku dan pacarku bisa jadian berkat Ana." ujar Kinan lagi.
Ekspresi Anton telah berubah menjadi sedikit ramah.
"Baiklah. Asal Ana-ku mau, aku akan mengizinkannya!" kata Anton.
__ADS_1