
Hari ini Anton mengajak Ana pergi ke kantor. Ini baru pertama kalinya bagi Ana diajak oleh Anton. Diperkenalkan oleh Anton secara resmi pada karyawan yang bekerja di sana.
"Oh ini istri Pak Anton? Cantik banget sumpah! Pantas saja Pak Anton sangat pelit memperkenalkan Bu Ana kepada kami. Kami pikir Pak Anton... Ah nggak jadi deh!" celetuk Samson, salah satu staf bawahan Anton.
"Tenang Bu Ana. Pak Anton hanya terkenal sebagai pribadi yang cuek dan dingin. Tapi selain itu nggak ada yang lain, kok." sahut Nita.
"Iya. Terima kasih atas sambutan ramah kalian kepadaku. Aku sungguh berterima kasih karena kalian sangat loyal pada perusahaan ini. Dan yah, Mas Anton pastinya sangat terbantu dengan kerja keras dan dukungan dari kalian. Terima kasih!" seru Ana berbinar.
"Bu Ana seperti bidadari. Beruntungnya Pak Anton memiliki Anda." kata Nita.
"Ah tidak begitu. Aku yang beruntung memiliki Mas Anton. Iya kan, Mas?" tanya Ana pada Anton.
"Iya Sayang!" jawab Anton kaku.
Meski kaku, tapi respon para staf malah menganggapnya romantis.
"Tapi apa benar Bu Ana akan tetap berkarir sebagai artis?" tanya Nita.
"Kamu banyak nanya deh!" sahut Amrin.
"Bukan begitu Amrin! Aku sih denger kabar burung, kalo dunia artis tuh hedon banget! Tapi aku sih yakin Bu Ana nggak bakal kena pengaruh dunia luar." kata Nita.
"Kamu sih Nit, sok tau banget! Padahal mau hedon atau nggak, itu bukan tergantung status sosial. Emang orangnya aja karakternya gimana." kata Samson.
"Iya sih." ujar Nita mengiyakan.
"Yaudah kalian bubar deh. Lanjutin kerja!" seru Anton.
"Pak Anton udah mode galak lagi." bisik Sasa.
"Iya Pak, siap!" seru Amrin.
Para staf akhirnya membubarkan formasinya dan pergi ke ruangan kerja masing-masing. Tinggallah Ana dan Anton di ruang rapat itu.
"Seperti yang ku kira sebelumnya. Kamu tipe atasan yang galak pada bawahan." ujar Ana sembari mengalungkan tangannya pada leher Anton.
Kebetulan Ana memilih duduk di pangkuan Anton.
"Tidak biasanya kamu semesra ini padaku. Apakah ini sebenarnya dirimu? Ana yang sering diam ternyata bisa seliar ini padaku." ucap Anton.
Tatapan Anton fokus pada Ana yang juga menatapnya. Mereka saling tersenyum satu sama lain.
"Ternyata seseru ini jika berhadapan dengan orang yang kita cintai dan mencintai kita." kata Anton.
"Iya. Aku juga baru merasakannya. Sebelumnya tak selumer ini rasanya." kata Ana.
"Lumer?" tanya Anton.
"Iya. Seperti coklat yang meleleh. Betapa manisnya!" jawab Ana.
"Kamu mau coklat?" tanya Anton.
"Mau." jawab Ana singkat.
Anton segera meminta Ana berdiri dan ia pun bangkit dari kursinya.
"Mau kemana?" tanya Ana.
__ADS_1
"Aku mau ke ruanganku." jawab Anton.
"Aku ikut! Kita keruanganmu aja yuk!" ajak Ana.
Ana mengekori Anton menuju ruangannya. Sesekali tebar pesona dengan menyapa para staf bawahan Anton.
"Mereka sepertinya ramah. Hampir semuanya menyapaku." kata Ana.
"Bukan mereka yang ramah. Tapi kamu yang terlalu ramah. Kamu kan yang menyapa mereka duluan." ujar Anton.
"Ah iya ya?" tanya Ana.
Anton kembali duduk di kursi kebesarannya. Menyalakan laptopnya, lalu mulai membuka satu persatu dokumen untuk ditandatangani. Kali ini Ana memilih duduk di kursi seberang Anton.
"Aku senang bisa ke sini dengan leluasa." ujar Ana.
Anton menghentikan aktivitasnya. Beralih menatap Ana dengan seksama.
"Kalo sebelumnya ke sini hanya memastikan apa yang sedang kamu kerjakan. Kali ini, aku hanya memastikan apa yang sebaiknya aku kerjakan."
"Iya, aku akan menyelesaikan tugasku yang tertunda. Kamu cukup duduk manis menemaniku." kata Anton.
"Tapi aku kayak pingin makan yang manis-manis. Adakah makanan di sini?" tanya Ana.
"Astaga! Aku melupakan sesuatu. Aku ke ruangan ini bukan hanya meneruskan pekerjaan. Aku ingin memberimu cokelat." jawab Anton.
"Lalu apakah ada?" tanya Ana lagi.
"Ada. Sebentar aku ambilkan di kulkas."
Ana berbinar menunggu cokelat kesukaannya. Saat menerima cokelat dari Anton, Ana bergegas memeluk Anton dengan gemas.
"Aku gemas denganmu. Bisa-bisanya memberiku cokelat kesukaanku. Terlebih hari ini aku sangat menginginkannya." jawab Ana.
Tiba-tiba pintu diketuk dan masuklah Dimas. Dimas adalah asisten Anton.
"Ah maaf Pak Anton. Saya pikir tak ada orang lain selain Bapak. Saya permisi dulu!" ujar Dimas.
Seketika Ana melepas pelukannya pada Anton.
"Tunggu!" seru Ana.
Dimas tak jadi pergi.
"Namamu siapa?" tanya Ana.
"Saya Dimas, Bu. Asisten Pak Anton." jawab Dimas.
"Bukannya sebelumnya asistenmu itu wanita yah? Atau kamu baru?" tanya Ana.
"Iya bu. Saya baru di sini. Menggantikan Yuni yang dipindahkan ke bagian lain." jawab Dimas.
"Oh gitu ya."
"Dimas, kamu keluar dulu! Nanti saya panggil jika dibutuhkan." seru Anton.
"Baik Pak Anton. Permisi."N
__ADS_1
Anton mengajak Ana duduk di sofa yang empuk.
"Kenapa ganti?" tanya Ana.
"Apanya?" Anton balik tanya.
"Dari Yuni ke Dimas. Apa ada masalah serius?"
"Cukup serius! Aku sengaja mengganti asisten laki-laki agar tak memperburuk penilaianmu terhadapku." kata Anton.
"Maksudnya?"
"Kan kamu pernah cemburu pada Catleya waktu itu. Jadi yah setelahnya aku segera bersiap diri. Aku sih nggak mau sembarangan memecat orang. Makanya aku ganti asistenku. Dan yang sebelumnya, si Yuni, aku pindahkan ke bagian lain." kata Anton.
"Kamu super sekali!" seru Ana.
"Darimana aja selama ini?" tanya Anton.
"Aku baru menyadari betapa perhatiannya kamu pada orang yang kamu sayangi."
"Apa aku pernah bilang menyayangimu?"
"Anton!" teriak Ana.
"Iya aku bercanda. Sini, mendekat lagi. Aku akan memelukmu!" perintah Anton.
Ana mendekati Anton. Mereka saling berpelukan.
"Kenapa rasanya nyaman sekali yah?"
"Pikirku juga begitu, Ana. Kenapa nggak dari dulu aja aku mencintaimu? Tapi jika tidak menjalani kesalahan, aku pun tak akan tau betapa cintanya aku padamu." kata Anton.
"Eh, udahan pelukannya. Kamu lanjutkan saja pekerjaanmu. Aku akan makan cokelatku dengan tenang." ujar Ana.
"Baiklah. Tapi beneran kamu gapapa aku tinggal kerja?"
"Iya gapapa. Aku sudah biasa melihat kesibukanmu yang mengabaikanku."
"Tapi kali ini aku tak berniat mengabaikanmu loh. Aku hanya menyelesaikan pekerjaanku saja. Nanti jika aku sudah selesai dengan urusan pekerjaanku, aku akan kembali menggodamu."
"Eh kenapa aku digoda?"
"Karena kamu menggemaskan!" seru Anton yang berjalan ke arah meja kerjanya.
Ana tersenyum malu. Lalu menikmati cokelat pemberian Anton.
"Aku awalnya tak terlalu suka dengan cokelat karena terlalu manis. Tapi sejak aku mulai mengagumimu, aku pun mulai menyukai cokelat. Kenapa? Karena kamu menyukai cokelat." kata Anton tanpa melihat Ana.
"Oh begitu? Tapi itu benar?" tanya Ana.
"Ya benarlah. Masa kamu nggak percaya? Wanita mana lagi yang sesuka itu sama cokelat selain dirimu? Alana saja yang pernah aku suka, sangat membenci cokelat." jawab Anton.
"Dia sangat menyukai stroberi vanila." gumam Ana sembari melamunkan sesuatu.
"Tak perlu dibayangkan terlalu jauh. Aku sudah tak ada rasa lagi dengannya. Kan kita sudah berjanji untuk memulai dari awal."
"Ya baiklah..." kata Ana tak bersemangat.
__ADS_1
Anton mengghela nafasnya, lalu melanjutkan kembali pekerjaannya.