
Bu Fatma menemui David yang sedang ada di ruang kerjanya.Sejak Amanda sakit,semua pekerjaan David di bawa pulang kerumah.Untuk ketemu mitra dan pemegang saham baik di dalam maupun pun luar negri semua di handle pak Hamdan.Beliau jadi jarang ada di rumah.
"Dave,menurut umi lebih baik kamu bawa Amanda pada seorang psikiater,atau psikiaternya yang kamu datang kan kerumah.Sakit Amanda harus ditangani ditangan orang yang tepat,kalau terlambat bisa berbahaya untuk diri dia sendiri dan juga orang di sekelilingnya.Menurut umi apa yang kamu lakukan dengan menuruti semua kemauan dan perkataannya itu kurang tepat"bu Fatma mengusap tangan putranya itu.
"Baik umi,David akan bawa Amanda ke psikiater di rumah sakit,biar Amanda tidak dirumah terus"Jawab David.
"Kamu hanya memikirkan kesehatan mental Amanda dengan mengorbankan perasaan Hasna,apa kamu tidak berpikir,apa yang kamu lakukan pada Hasna itu suatu saat akan bisa menggangu mental Hasna,apalagi pasca melahirkan seorang ibu itu tidak boleh banyak pikiran,jadi kamu harus adil jangan hanya memperhatikan satu orang saja,mulai saat ini kamu harus memberitahu pelan pelan Amanda kalau Dendi adalah bayinya Hasna,dan Dinda adalah bayinya" bu Fatma memperhatikan wajah David,ada rasa iba di hati bu Fatma.
"Kasihan Hasna Dave,dia kehilangan banyak waktu bersama bayinya".
"Umi,Hasna Kan bisa merawat Dinda untuk sementara,Amanda juga merawat Dendi,sama sama bayi juga kan"David tetap membela Amanda.
"Kamu itu ya dikasih taunya bebal,ya bedalah Dave,udah ah pusing umi bicara sama kamu,hati kamu sudah di butakan cinta Amanda,hingga cuma dia yang kamu pandang"bu Fatma meninggalkan David.
David menemui Hasna di kamarnya,saat masuk ke kamarnya Hasna sedang memompa ASI nya.Hasna cepat cepat merapikan baju atasannya dan menyembunyikan ASI yang berhasil dia pompa.
David tertegun sesaat,ada hasrat yang dirasakannya pada Hasna,tapi David berusaha menetralisir nya.
"Ada apa mas David"sapa Hasna ramah
"Saya cuma mau kasih tau mulai hari ini kamu yang merawat Dinda,Amanda kan sudah merawat Dendi jadi kamu harus melakukan yang sama,nanti saya suruh mba Ana membawa Dinda ke kamar kamu"selesai bicara David mau langsung pergi tapi di panggil Hasna.
"Mas tunggu...saya nggak mau mas,saya mau nya merawat Dendi,mas tolong bujuk mba Amanda,saya lama lama bisa mati begini terus".
David masuk lagi ke kamar Hasna"Kamu mau tau apa yang dikatakan Manda pada saya...dia mau kami pindah dari rumah ini atau kamu yang diusir dari rumah ini,kamu mau dipisahkan dari Dendi,hah?".
Hasna terkejut tentu saja dia tidak mau di pisahkan dari buah hatinya.
__ADS_1
"Jangan mas,baik saya akan rawat Dinda".
Mba Ana datang membawa baby Dinda ke kamar Hasna.
"Neng Hasna,sabar ya nak,kalau ada yang bisa mba bantu,neng Hasna bilang aja"Mba Ana merasa kasihan pada Hasna.
"Iya mba,terimakasih ya sudah baik sama Hasna"
"Baby Dinda ini kan anak suami kamu,berarti anak kamu juga neng Hasna,cobalah sayangi dia seperti kamu sayang sama Dendi" kata mba Ana.
"Sebenarnya Hasna sayang sama Dinda mba,siapa sih yang ga sayang sama anak bayi lucu begini,tapi wajah Dinda sangat mirip dengan mba Amanda,saya jadi...gimana gitu..serasa ga ikhlas mau merawat Dinda"Hasna memegang wajah baby Dinda gemas.
"Oala,kok mba Ana baru sadar ya kalau wajah baby Dinda mirip sekali dengan non Amanda"Mba Ana ngikik geli.
"Tapi kenapa non Amanda malah ngakuin anak neng Hasna ya?"
"Ya Allah gusti pangeran,kasihan sekali mba Amanda,sepertinya dia membalas perbuatan orang tuanya kepada anaknya"Mba Ana memandang kasihan baby Dinda.
**********
Pagi hari saat Hasna hendak mau menjemur baby Dinda di samping rumah,ternyata disitu sudah ada David dan Amanda sedang menjemur baby Dendi.
Hati Hasna sakit,dia batalkan niatnya untuk menjemur baby Dinda.Hasna menyerahkan baby Dinda pada baby sitter untuk langsung dimandikan.
Hasna menuju kamarnya melewati bu Fatma dan pak Hamdan yang sedang sarapan,mereka melihat Hasna menangis.
Bu Fatma menyusul Hasna di suruh suaminya.
__ADS_1
"Hasna,kamu kenapa nangis sayang?"bu Fatma mengusap rambut Hasna yang telungkup diatas kasur.
"Umi,Hasna takut Dendi terlanjur nyaman sama mba Amanda,Dendi terbiasa dengan aroma tubuh mba Amanda.Hasna takut Dendi tidak mau lagi sama Hasna umi,sampai kapan begini umi,Hasna sudah tidak tahan"Hasna menumpahkan tangisnya diatas bantal.
"Amanda mulai besok akan menjalani terapi dan pengobatan di rumah sakit,jadi kamu akan punya kesempatan untuk dekat lagi dengan Dendi,kamu jangan sedih lagi ya sayang"Bu Fatma merasa serba salah.
"Benarkah umi?"Hasna menatap haru mertuanya,bu Fatma mengangguk.
"Abah juga meminta supaya David aktif lagi ke kantor karna abah sudah tua,ga kuat kalau sering sering keluar kota atau luar negri ketemu mitra bisnis,dan alhamdulillah David menyetujuinya"mata Hasna berbinar binar dan memeluk bu Fatma karna dia punya banyak peluang untuk dekat dengan baby Dendi.
Tiba tiba mereka dikagetkan oleh teriakan Amanda dan di susul jerit tangis baby Dendi.Jantung Hasna seketika berhenti berdetak mendengar jerit tangis bayinya.
Bak busur panah,Hasna langsung berlari cepat ke arah asal suara dari arah dapur.Bu Fatma mengikuti Hasna dari belakang.David yang mendengar suara baby Dendi menangis juga langsung datang.Tampak baby Dendi ada di dalam bak mandi bayi berisi air sedang gelagapan.
Hasna langsung mengangkat baby Dendi dan segera memberi pertolongan pertama.Tubuh baby Dendi di letakkan Hasna di pangkuannya dengan cara tengkurap,posisi kepala Dendi lebih rendah dari bagian bawahnya,dan menepuk nepuk punggung baby Dendi.
Setelah baby Dendi batuk batuk dan muntah air,Hasna segera membawanya ke kamar.
Bu Fatma dan David hanya bisa melihat apa yang dilakukan Hasna,sedangkan Amanda tampak ketakutan kemudian lari masuk ke kamarnya.
Bu Fatma menyusul Hasna dan baby Dendi ke kamar,tampak Hasna sedang mendekap baby Dendi dengan erat,air matanya terus mengalir.
David menyusul Amanda ke kamar,Amanda menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.David menarik selimut,Amanda pura pura tidur.
"Amanda,aku tau kamu pura pura tidur,sekarang katakan apa yang kamu lakukan pada Dendi".
Amanda bukannya menjawab pertanyaan David,Dia justru menjerit jerit dan menjambak rambutnya sendiri seperti orang kesurupan.
__ADS_1