
Hasna di bawa ke sel tempat Amanda di isolasi setelah menitipkan Dinda dan Dendi pada seseorang yang dapat di percaya di tempat yang aman.Setelah kejadian Dinda tertabrak motor David,Hasna begitu takut kehilangan Dinda.
Setelah menempuh perjalanan enam jam lebih,mobil yang membawa Hasna sampai ke tujuan.Hasna di bawa keruang tunggu dengan penjagaan yang ketat,hampir di sepanjang sisi dan setiap sudut ada polisi lengkap dengan persenjataannya.Hasna merasa takut dan merinding.
Hasna diperintahkan untuk duduk menunggu kehadiran Amanda.Hasna memandang sekeliling ruangan,semua tampak menyeramkan karna seperti tidak terurus.
Tak lama kemudian Hasna mendengar suara samar samar ringisan yang begitu menyayat hati.Semakin lama suara itu semakin jelas,diiringi bau yang begitu menyengat.Itu adalah suara ringisan Amanda menahan sakit kakinya yang di borgol bola besi yang begitu berat.
Hasna mendadak mual padahal dia sudah pakai masker,terlihat seseorang muncul di depannya,Hasna yakin itu adalah Amanda.
Amanda terlihat sangat menyedihkan,dengan borgol bola besi di kakinya,bajunya yang kumal,kantung matanya menghitam,wajahnya lebam,dia merangkak lemah mendekat pada Hasna yang sedang menunggunya.Tubuhnya seakan tak bertulang.
__ADS_1
Amanda semakin mendekat,Hasna sangat terkejut bahkan syok melihat keadaan Amanda.Ada rasa kasihan timbul di hati nya
Amanda seperti bukan Amanda,tapi seperti mayat hidup.
Amanda memandang Hasna,dengan bola matanya yang semakin cekung,kemudian mata itu mengeluarkan air mata.Bibirnya yang membiru bergetar hendak berbicara.
"Has-na...maafkan sa-ya,am-puni saya,se-belum saya ma-ti"suara Amanda begitu serak dan pelan hampir tidak kedengaran.
Amanda tersenyum melihat anggukan Hasna.
"Te-rima ka-sih Has-na,aku bi-sa per-gi dengan te-nang...tapi bolehkah aku ber-temu dengan Din-da untuk terakhir kalinya"Amanda terus menatap Hasna.
__ADS_1
Hasna memberanikan menatap Amanda"Maaf mba Amanda,saya tidak bisa mengabulkan permintaan mba".
"Tapi sa-ya sangat ingin ber-temu dengan anak saya un-tuk terakhir kalinya,sa-ya tidak mau ma-ti penasaran dan mem-bawa penyesalan Hasna,saya sudah tidak tahan untuk menunggu di eksekusi mati,saya ingin cepat cepat mati,di sini sudah sama seperti tinggal di neraka"Amanda nangis begitu memilukan sambil memegang dadanya.
"Sekarang mba baru menyesal,ga ada gunanya mba,begitulah dulu yang saya rasakan saat mba Amanda memisahkan saya dengan anak saya,sakit...tapi apa mba pernah memikirkan perasaan saya"Hasna pun mulai menangis.
"Tapi sa-ya sudah to-bat Hasna,lagi pula Din-da itu darah daging saya,karna sa-ya dia ada di dunia ini...saya mo-hon kasihanilah sa-ya sebagai se-orang ibu yang merindukan anaknya,bukan sebagai Amanda yang dulu"Amanda terus memohon.
"Mba Amanda tidak pernah pantas disebut sebagai seorang ibu,seorang ibu itu selalu di samping anaknya,menjaganya dengan seluruh nyawanya,tapi apa yang mba Amanda lakukan pada Dinda malah sebaliknya,jadi saya tak akan pernah mengabulkan permintaan terakhir mba Amanda,nikmatilah hasil dari apa yang mba lakukan...apa yang kita tanam itulah yang kita tuai,maaf saya pamit"Kemudian Hasna langsung pergi di iringi pasukan polisi.
Amanda menjerit frustasi"Hasna tolooong...!
__ADS_1