
Api mulai padam,api hanya sempat membakar permukaan dari kayu dan papan rumah.Warga mulai membantu Hasna dan yang lainnya keluar rumah.
Asap yang lumayan tebal membuat baby Dendi batuk batuk dan sesak nafas.Karna kuatir Hasna membawa baby Dendi ke puskesmas kecamatan yang buka 24 jam dengan di antar tetangganya.Baby Dendi langsung di tangani begitu masuk IGD.
Mak Romlah beserta kedua cucunya ditampung dirumah warga untuk sementara.
Keesokan paginya David sampai di depan rumah mak Romlah,setelah semalam menginap dulu di penginapan.
David yang di temani dua orang kepercayaan pak Hamdan,terkejut melihat rumah yang jadi tempat tinggal Hasna dan baby Dendi terbakar.Ada banyak warga dan dua orang polisi yang berjaga.David bergegas turun dari mobilnya.
"Pak apa yang terjadi dengan rumah ini,bagaimana dengan orang yang tinggal di rumah ini"Tanya David pada salah seorang polisi.
"Bapak siapa,apa ada hubungannya dengan orang yang tinggal di rumah ini"Pak polisi balik tanya.
"Ada pak,istri dan anak saya tinggal di sini,nama istri saya Hasna dan anak saya yang masih bayi umurnya kira kira empat bulan"
"Begini pak,tadi malam dini hari rumah ini terbakar,penyebabnya belum diketahui,tapi api belum sempat membakar semua rumah,karna hujan turun dan warga yang mengetahui ada kebakaran langsung gotong royong memadamkan api,penghuni rumah ini selamat semua"Terang pak polisi.
"Dimana Sekarang mereka pak?"
"Tiga orang ada di rumah warga,dan seorang ibu sedang membawa bayinya ke rumah sakit karna banyak menelan asap"
"Iya benar pak,namanya mba Hasna dan anaknya masih bayi"Jelas tetangga mak Romlah yang ikut nimbrung.
"Di bawa kerumah sakit mana pak?"
"Puskesmas Pamekasan pak,ga begitu jauh dari sini"
"Baik pak terima kasih,bapak bisa tolong antarkan kami kesana"David meminta tetangga mak Romlah yang tadi mengantarnya ke puskesmas pamekasan karna David tidak tahu sama sekali tempat itu.
David mencari pasien atas nama Dendi,ternyata sudah di pindahkan ke kamar perawatan.
David masuk ke dalam kamar perawatan,di kamar itu ada beberapa pasien.David menemukan sosok yang dia cari dan David masih hafal betul bentuk penampakan postur tubuh Hasna. Tampak Hasna sedang mencium tangan baby Dendi.Ada rasa nyeri di dadanya melihat pemandangan itu.David mendekat.
"Nana"Panggil David pelan tapi terdengar jelas.
Hasna kaget mendengar suara David,suara yang masih sangat familiar di telinganya.Suara yang dulu membuat dadanya berdesir.Hasna mengangkat kepalanya dan melihat David nyata ada di hadapannya.
Mata Hasna berkaca kaca,masih ada rindu untuk David di lubuk hatinya yang paling dalam.Ingin rasanya Hasna memeluk tubuh David tapi ada rasa takut yang Hasna rasakan.Takut di salahkan.Hasna hanya diam mematung.
Tanpa di sangka Hasna David lah yang duluan memeluk Hasna.Hasna tetap diam tanpa membalas pelukan tapi air matanya semakin deras mengalir.
"Nana,maaf...maaf aku ga ada di saat kalian di timpa musibah"David mengusap kepala Hasna.
Bagi Hasna semua perkataan dan Perbuatan David tidak akan membuatnya luluh lagi,cukup sudah selama ini dia menjadi istri yang di tindas dan di anggap tidak berharga.
David yang merasa di abaikan,mengalihkan pandangannya pada baby Dendi.
__ADS_1
David mengusap pipi baby Dendi dan mencium keningnya.
Hatinya sakit sakit melihat anaknya yang selama ini dia telantarkan lemah tak berdaya dengan selang oksigen membantunya untuk bernafas.
"Maafkan ayah ya sayang,maaf ayah selama ini tidak perduli dengan kalian,ayah tidak tahu kalau keadaan kalian begini"David mulai terisak.
Sebenarnya hati Hasna terenyuh tapi dia berusaha mengingkarinya.
"Bagaimana keadaan Dendi,apa kata dokter?"Tanya David canggung.
"Sudah lebih baik"Jawab Hasna seadanya.
David bingung mau bertanya apa lagi,mereka berdua terdiam cukup lama penuh kekakuan.
"Mas,tolong jaga Dendi sebentar ya,aku mau cari sarapan dulu"Hasna yang merasa perutnya lapar jadi punya alasan untuk menghilangkan kekakuan diantara mereka.
"Oh iya"
Hasna berjalan tanpa basa basi lagi,mencari kantin rumah sakit.
Saat berjalan menuju kantin,di teras rumah sakit Hasna bertemu dengan Dokter Enriko.Sepertinya Dokter itu baru sampai dengan membawa tas kerjanya.
"Mba Hasna?'
"Eh Dokter Enriko"
"Bukan Dokter,anak saya yang sakit"
Tiba tiba Dokter Enriko terdiam.
"Maaf Dokter saya mau ke kantin dulu,saya buru buru"Hasna melanjutkan jalannya.
"Maaf mba Hasna,apa boleh saya menjenguk anak mba Hasna?"
Dokter Enriko menghentikan langkah Hasna.
"Boleh Dokter,silahkan"
Di kantin Hasna memilih makanan yang bisa menambah mood booster nya.
Pilihannya jatuh pada nasi uduk pakai telor balado dan semur jengkol.Hasna menikmati sarapannya walau agak terburu buru takut baby Dendi bangun.
Hasna kembali ke kamar perawatan,tampak David sedang mengusap usap kepala baby Dendi.
David menatap Hasna yang pura pura memeriksa Pampers Dendi.
"Na,abah sakit...abah mau kamu sama Dendi balik kerumah"
__ADS_1
Hasna terkejut dan tiba tiba dia teringat kalau dia masih punya mertua yang baik hati.
"Sakit apa mas,abah baik baik saja kan?"
"Abah kena parkinson,abah menyuruh aku membawa kalian pulang,abah ingin ketemu sama Dendi"
Hasna terdiam,baru saja dia bisa menikmati hidup yang sebenarnya.
"Kalau umi,bagaimana khabar ya mas?"
"Umi baik,sehat,umi juga sangat merindukan kalian berdua,pulanglah demi abah dan umi"pinta David lirih.
"Ada sesuatu hal yang mau disampaikan abah sama kamu Hasna,datanglah turuti permintaan abah,kita tidak tau apa yang akan terjadi kedepannya dan kita juga tidak tau umur manusia"David berusaha meyakinkan Hasna.
Hasna merasa ada yang lain dirasakannya,Hasna menatap David dan mengangguk.
"Baik mas,mungkin lusa,besok juga Dendi sudah boleh pulang,tapi aku harus kerumah mak Romlah dulu.
Siang hari selesai dinasnya,Dokter Enriko menjenguk baby Dendi.
"Selamat siang mba Hasna,bagaimana keadaan anak mba Hasna"sapa Dokter Enriko.
"Siang Dokter,keadaannya sudah jauh lebih baik,besok juga sudah boleh pulang"Hasna tersenyum ringan.
David memandang Dokter Enriko dan tersenyum ramah.Begitu juga sebaliknya.
"Oiya Dokter,kenalkan ini ayahnya anak saya"Hasna lebih suka menyebut David ayah anaknya dari pada mengakui David suaminya.
David dan Dokter Enriko saling berjabat tangan.David memandang Dokter Enriko sedikit curiga."Seandainya juga Dokter ini menyukai Hasna,aku ga perlu takut,dia ga ada apa apanya di banding dengan ku,dia hanya Dokter yang bekerja di puskesmas,soal tampang ku rasa aku melebihi dia"David bermonolog dalam hati.
Baby Dendi kondisinya sudah sehat kembali,mereka kembali ke rumah mak Romlah.
Mak Romlah,Rohmah dan Rohim masih numpang tinggal di rumah tetangganya.
Hasna bingung mau meninggalkan mak Romlah dan kedua cucunya dalam keadaan begini.
"Mas,aku ga bisa meninggalkan mereka dalam keadaan begini,setidaknya kita tunggu dulu sampai rumah mak Romlah di benerin,aku banyak utang budi sama mereka mas"Kata Hasna menatap sedih rumah mak Romlah yang rusak.
"Abah tidak bisa menunggu lebih lama lagi Hasna,mengenai rumah mak Romlah,kamu tenang saja,nanti akan aku tinggalkan satu orang kepercayaan ku di sini untuk mengurus rumah mak Romlah,sepertinya rumah ini harus di bangun dari awal lagi,ga bisa di renovasi karna kayu kayunya sudah banyak yang terbakar"David berkeliling melihat lihat rumah mak Romlah.
Hasna tidak setuju dengan ide David,dia tidak ingin David ikut campur dan terlibat lagi dalam kehidupannya,cukup sudah yang dulu.
Tiba tiba hp David berdering,ada panggilan masuk dari bu Fatma.David mengangkatnya.
"Assalamualaikum umi"
"Waalaikumsalam Dave,Davee cepat pulang,abah Davee...abah...!'Bu Fatma hanya menangis tidak sanggup meneruskan kata katanya.
__ADS_1