Maaf

Maaf
Bab 10


__ADS_3

"Apa itu ?" tanya Tristan dengan penuh semangat.


"Hmmm. . " ucap Kiara seraya seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Bicara saja, apa pun pasti akan ku lakukan demi kebahagiaan kita".


"Caranya satu, kembali pada istri dan anak mu, lupakan aku dan jangan pernah temui aku lagi" ucap Kiara seraya menahan gejolak di hatinya, bohong jika Kiara sudah mampu melupakan Tristan, nyatanya saat Kiara berbicara seperti itu ada nyeri yang menusuk - nusuk hatinya.


"Kamu tidak sedang bercandakan sayang ?".


"Untuk apa aku bercanda, ini bukan lagi soal? cinta tapi perasaan !".


"Kia kamu tidak percaya jika aku akan melindungi kamu, apa selama ini pengorbanan ku belum cukup untuk meyakinkan kamu bahwa aku benar - benar mencintai kamu".


"Aku tahu kamu mencintaiku, tapi ini bukan lagi soal cinta, tapi ini soal perasaan, bagaimana perasaan keluarga Rani jika kamu meninggalkan mereka hanya demi wanita seperti ku, dan satu lagi, ingat kamu punya anak perempuan, bagaimana jika anak kamu nanti mengalami nasib yang sama seperti Rani di tinggalkan suaminya demi wanita yang di cintainya, bagaimana perasan kamu sebagai ayah".


"Kiara kita akan berjuang bersama, bahkan aku akan melindungi kamu" ucap Tristan yang bersikukuh tak ingin pisah dengan Kiara.


"Tristan, kamu mencintai ku kan ?" tanya Kiara.


"Aku sangat mencintai mu Kiara, bahkan aku rela melakukan apa pun untuk bisa memiliki mu" jawab Tristan.


Tristan tidak sedang berbohong, Kiara bisa melihat dengan jelas dari sorot matanya jika Tristan sangat mencintainya.


"Jika kamu mencintaiku, tolong tinggalkan aku dan biarkan aku bahagia, jangan biarkan orang - orang menghina ku dengan kata - kata pelakor" jelas Kiara, kini Kiara tak dapat lagi membendung air matanya, wajahnya memelas berharap Tristan mengerti apa yang di maksudnya.


"Apa aku salah jika memperjuangan cinta ku. apa aku salah ingin hidup dengan perempuan yang benar - benar aku cintai ?".


"Tak ada yang salah, namun kita kadang harus menerima kenyataan yang ada, kamu sudah memutuskan menikah dengan Rani, jadi kamu harus tanggung baik dan buruknya, apalagi di antara kalian ada Alea" Jelas Kiara. "Cinta itu tak selamanya harus bersama, kadang cinta itu harus merelakan dan melepaskan, itu di lakukan karena cinta" sambung Kiara.


"Kiara" sahut Tristan melemah


"Aku mohon jangan tambah masalah lagi dalam hidupku !" pinta Kiara ia bangkit dari tempat duduknya.


"Kia aku sangat mencintaimu" ucap Tristan lirih.

__ADS_1


"Mulai saat ini jangan pernah temui aku lagi, ini adalah terakhir kalinya kita bertemu, aku doakan semoga kamu bahagia dengan keluarga kecil mu, dan doa kan aku juga untuk segera mendapatkan jodoh agar bisa membina rumah tangga seperti mu" ucap Kiara seraya berlalu meninggalkan Tristan di Taman.


Kata - kata Kiara membuat hati Tristan semakin hancur, ia menatap kepergian pujaan hatinya dengan sendu, tak ada lagi canda tawa yang akan menemani harinya, kebahagiaan nya pergi seiring dengan kepergian Kiara.


Tristan pulang dengan perasaan tak menentu, pikirannya kacau jika ia harus benar - benar berpisah dengan Kiara.


"Berpikir Tristan, jangan biarkan Kiara mu pergi begitu saja" Ucap Tristan pada dirinya, di dalam apartemennya ia terus mondar - mandir memikirkan bagaimana cara agar Kiara tak lepas dari genggamannya.


"Aku harus menceraikan dulu Rani, Jika aku sudah cerai maka akan mudah mengejar Kiara" batin Tristan.


Tristan merogoh saku celananya mengambil benda pipih lalu menghubungi seseorang, ia terlihat begitu serius berbicara.


Sementara Kiara baru tiba di rumah dan sang Mama menyambut ke pulangannya.


"Ada lembur ya ?" tanya sang Mama.


"Tidak Mam, tadi pulang Kerja Kia ada urusan dulu" jawab Kiara serata masuk ke dalam rumah, ia berusaha menyembunyikan ke sedihannya agar ibunya tak terlihat begitu khawatir. "Kiara masuk kamar dulu Mam".


Tiba di kamar ia langsung menjatuhkan dirinya ke tempat tidur, lalu membuang nafasnya secara kasar, tak terbayang sebelumnya jika ia akan memilik masalah yang begitu rumit, ini semua berawal dari Kiara yang menerima cinta Tristan tanpa mencari tahu terlebih dahulu bagaimana kehidupan Tristan dan hanya mendengarkan kata orang saja.


Bukan ia ingin menghindar namun ia hanya ingin agar Tristan tak terus - terusan mengejarnya lalu Tristan kembali pada Istri dan juga anaknya.


Kiara punya ide harus ke mana ia pergi untuk sementara waktu, lalu ia keluar kamar untuk memberi tahu tentang ke inginannya pada sang ibu.


"Mama . . di mana ?" Kiara mencari keberadaan Mona.


"Mama di Kamar, ada apa nak" jawab Mona.


Tak lama Mona keluar dari kamarnya terlihat sang anak sudah menunggu di ruang televisi.


"Ada apa Kiara ?" tanya Mona pemasaran.


"Kiara mau bicara".


"Sepertinya serius" tebak Mona.

__ADS_1


"Mam, Kiara udah memutuskan keluar dari kerjaan Kiara, Mulai besok Kiara sudah tidak bekerja lagi" jelas Kiara. "Maaf jika mengambil keputusan tanpa membicarakan terlebih dahulu dengan Mama" sambung Kiara.


"Kamu sudah dewasa nak, Mama yakin kamu sudah mempertimbangkan baik dan buruknya, jika itu yang terbaik untuk kamu Mama selalu mendukung kamu" ujar Mona, ia paham kenapa sang anak melakukan itu semua.


"Mam Kiara juga ingin sementara waktu tidak tinggal di sini, Kiara yakin Tristan akan terus datang ke sini".


"Lalu kita akan ke mana, tidak mungkin kita pergi ke rumah Rika, mereka kan tinggal satu komplek dengan Tristan". ujar Mona.


"Mam bagaimana kalau kita berkunjung ke rumah tante Meri, beberapa bulan kebelakang juga Tante Meri pernah menawari Kiara kerjaan" jelas Kiara.


"Hmmm. . " Mona sepertinya tak setuju dengan ide sang anak.


"Mam ini hanya untuk sementara waktu saja kok" Kiara tau jelas jika sang Mama tak ingin pergi dari rumah peninggalan Papanya.


"Baiklah" Mona terpaksa menuruti ke inginan sang anak, karena baginya adalah yang terpenting anak bahagia.


Tante Meri adalah adik kandung dari Papanya Kiara, hubungan Tante Meri dan Mona tidak terlalu baik karena Papanya Kiara selalu membanggakan Mona di hadapan keluarga besarnya, Namun Kiara tak mengetahui hal itu. walaupun hubungan Meri dan Mona tidaklah baik namun mereka selalu bersikap biasa saja di hadapan keluarga atau pun Kiara.


"Kapan kita berangkat ?" tanya Mona.


"Besok sore mah, lebih cepat lebih baik" Kiara senang karena sang ibu menyetujui keinginannya.


...πŸ₯€...


"Ayahhhhhh. . ."Alea berlari dari dalam rumah saat melihat sang ayah pulang.


"Kalau bukan suami dari anak ku sudah ku hajar dia".Papanya Rani geram melihat tingkah sang menantu yang kadang tak menghargai keberadaannya.


"Mas Tristan tumben pulang, ini kan bukan hari libur" Rani ikut menghampiri Tristan yang sudah menggendong Alea.


"Ada yang penting yang harus di bicarakan" ucap Tristan.


"Penting ?"


"Ayo kita bicara di dalam, mumpung ada Mama dan Papa juga" ajak Tristan seraya berjalan masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


...🍿🍿🍿🍿🍿...


__ADS_2