Maaf

Maaf
Bab 18


__ADS_3

Rasa cinta yang begitu sangat besar sudah membutakan pikiran Rani, di mana kebanyakan wanita jika telah di selingkuhi akan dengan sangat lantang mengajukan cerai, tapi Rani malah merelakan dirinya untuk di madu, sebegitu besar kah cinta Rani untuk Tristan.


"Rani sadar dengan kata - kata mu itu !" tegur ibu mertuanya.


"Rani melakukan semua itu demi Alea bu" ucap Rani lirih.


Tristan akan begitu tega pada Rani namun jika sudah menyangkut soal.anak akan membuat Tristan lemah tak berdaya.


"Ini masalah kita berdua jangan libatkan Alea" ucap Tristan, ia sangat tidak suka jika Alea di sangkut pautkan dengan masalahnya sekarang.


"Keputusan ku sudah bulat, aku izinkan kamu menikahi perempuan pilihanmu dengan syarat tak menceraikan ku".syarat macam apa yang Rani ajukan tersebut.


"Rani kamu ini sudah gila apa, aku tak mungkin melakukan itu semua" ucap Tristan dengan suara sedikit tinggi.


"Aku melakukan ini semua demi Alea".


Tristan menghela nafas secara kasar, ia sangat paham betul bagaimana sikap Rani. dugaannya salah ternyata walaupun sudah di khianati tapi Rani masih memaafkannya.


****


"Ibu di terima di perusahaan ini, namun jabatan ibu sebagai staf biasa, jika kinerjanya bagus maka akan naik jabatan".


Kiara tak henti - hentinya merapalkan ucapan hamdalah, ia tak menyangka jika dirinya akan di terima.


"Ibu mulai bekerja minggu depan, jadi saya harap Ibu dapat mempersiapkannya dengan baik".


Keberuntungan dan kemudahan sedang berada di pihak Kiara, karena ia dengan mudah di terima di perusahaan besar di kota tersebut, saingan Kiara bukan lagi ratusan namun ribuan.


Setelah semua selesai, Kiara langsung pulang ke rumahnya, namun sebelum pulang dia mampir terlebih dahulu untuk membeli makanan.


"Mama pasti senang dengan kabar ini" gumam Kiara.


Ketika Kiara sedang mengantri membeli makanan tiba - tiba ponselnya berdering, saat di lihat ternyata nama Rani yang tertera di layar ponselnya.

__ADS_1


"Kenapa Rani menghubungi ku lagi" gumam Kiara, selalu ada rasa cemas ketika Rani menghubunginya. "Nanti saja kalau sudah sampai rumah ku telepon balik" gumam Kiara seraya menyimpan kembali ponselnya ke dalam tas miliknya.


"Asalamulaikum, Rani pulang" ucap Kiara ketika dirinya sudah sampai di rumah tantenya.


"Bagaimana hasilnya ?" tanya sang Tante.


"Kiara di terima Tante" Kiara berlari mendekat ke arah sang Tante, kemudian dia memeluknya dengan erat. "Terima kasih Tante, ini semua berkat Tante" ucap Kiara senang.


Mona merasa bahagia, namun di balik ke bahagiaan yang di rasanya terselip sebuah kesedihan, bagaimana tidak itu artinya Kiara akan menetap di sana dan meninggalkan kota kelahirannya, kota di mana ia di besarkan, kota yang terdapat berjuta kenangan.


Kiara dan yang lainnya merayakan keberhasilan Kiara dengan makan - makan secara sederhana, walaupun merasa sedih namun Mona tak menunjukannya di hadapan sang putri.


Rencana Kiara untuk menetap di kota ini bener - bener terwujud, pergi dari kota kelahirannya demi menghindari masalah.


"Kia kamu adalah wanita pecundang , berani berbuat namun lari dari masalah" gumam Kiara.


Harapan berumah tangga dan bahagia dengan Tristan sudah hilang dari hati Kiara, menyisakan sebuah penyesalan di hati karena telah mengenal Tristan, namun di sisi lain Kiara merasa beruntung mengenal Tristan, karena berkatnya dirinya bisa bangkit kembali untuk menjalani hidup lebih baik lagi.


Ponsel Kiara bergetar, lalu ia meraih Ponselnya yang berada di nakes untuk melihat siapa yang menghubunginya di tengah malam.


"Rani, kenapa dia selalu menghubungi ku, apa dia sudah mulai curiga dengan ku ?" tanya Kiara.


"Halo Rani, kenapa kamu belum tidur ?" tanya Kiara saat menjawab panggilan dari Rani.


"Bagaimana aku bisa tidur, aku kepikiran pacarnya suami ku" jawab Rani lirih.


"Maksud kamu apa ?" Kiara terkejut dengan penuturan Rani, saking terkejutnya Kiara langsung mengubah posisinya, yang tadinya rebahan menjadi duduk tegap bahkan ponselnya hampir lepas dari genggamannya.


"Aku sudah tahi wanita idaman suami ku, ternyata dia satu tempat kerja dengan suami ku, namanya Kia, namun saat aku mendatangi rumahnya ternyata rumahnya kosong".


Kiara kembali terkejut, ia tak menyangka jika Rani akan melakukan semua ini, dia merasa beruntung kala pergi dari rumah itu.


"Aku tak akan melakukan apa pun pada wanita itu, aku hanya ingin mengenalnya. awalnya aku mau meminta dia meninggalkan Mas Yoga, namun setelah melihat Mas Yoga menyebut nama wanita tersebut Terlihat jika mas Yoga mempunyai cinta yang besar untuk wanita itu, Aku memputuskan jika aku rela di Madu, aku pastikan kami akan hidup rukun".

__ADS_1


"Apa kamu Rela di madu ?!" Lagi - lagi Kiara terkejut hingga mata Kiara membulat sempurna dan mulutnya menganga. entahlah yang pasti Kiara tak mengerti dengan jalan pikiran Rani.


"Aku Ridho jika di mandu, yang terpenting aku dan Alea tidak kehilangan Mas Yoga, bukankah di dalam agama kita poligami itu boleh - boleh saja asalkan suami mampu adil". Kiara tak menyangka jika Rani mempunyai pikiran seperti itu, walaupun dalam agama Kiara di perbolehkan tapi ahhh rasanya ini tak mungkin terjadi di dunia nyata.


"Ran pikirkan lagi secara baik - baik, minta pendapat pada orang tua atau orang yang bisa kamu percaya, jangan ambil ke putusan ketika diri kita di kuasai oleh emosi".


Karena waktu kian larut akhirnya pembicaraan mereka pun berakhir, Kiara pura - pura sudah mengantuk namun kenyataannya ia ingin menyudahi pembicaraan yang menurutnya sangat - sangat tidak wajar, apalagi setelah Rani mengungkapkan dirinya siap di madu.


Hingga ayam berkokok Kiara tak mampu memejamkan matanya, pikirannya terus berputar tentang masalah dirinya, Rani dan juga Tristan.


Kiara duduk di halaman taman belakang seraya menikmati udara pagi, ia sengaja menyendiri karena ingin menenangkan pikirannya.


"Kia ayo berpikir bagaimana cara untuk menyelesaikan masalah ini, kamu berani berbuat harus berani bertanggung jawab, jangan lagi begitu saja" ucap batin Kiara.


"Kamu di sini !" Seru seseorang membuyarkan semua lamunan Kiara. "Mama kira kamu masih tidur nak" Mona menghampiri Kiara namun ia melihat ke anehan dari sang anak.


"Kamu ada masalah, muka mu kusut sekali ?" tanya sang Mama.


"Apa aku cerita saja sama Mama, tapi aku malu, bahkan dulu Mama sempat menentang hubungan ku, lebih baik ku selsaikan sendiri saja" batin Kiara.


"Di tanya malah bengong" ucap Mama Mona seraya menggoyangkan tubuh Kiara.


"Kiara sedikit tidak enak badan, mungkin efek masuk angin Mam".


"Kamu sakit, kita ke dokter saja yuk" Mona terlihat sangat khawatir dengan kondisi putrinya.


"Tidak usah Mam, bentar lagi juga sembuh" Ucap Kiara seraya tersenyum. "Mama sepertinya nyariin Kiara, ada apa ?".


"Hmmm. . .Mama . . ." Mona terlihat sangat ragu untuk berbicara pada anaknya.


"Mam" lirih Kiara.


"Mama mau pulang saja" ucap Mama Mona.

__ADS_1


__ADS_2