Maaf

Maaf
Bab 28


__ADS_3

{Sekarang kamu boleh menang, tapi lihat saja nanti, Tristan akan pergi meninggalkan mu, jadi persiapkan diri mu mulai dari sekarang}


"Kenapa dia tidak membahas soal uang, aku yakin jika orang itu telah melapor pada bosnya jika aku menolaknya, atau memang Rani tak terlibat dalam uang tersebut, lalu siapa kalau bukan Rani" gumam batin Kiara yang masih mempertanyakan soal uang tadi.


Kiara kembali memblokir nomor Tristan tapi tidak dengan nomor Rani.


Kiara menghela nafasnya, masalah yang di alaminya malah semakin meluas."Hmm aku harus menghubungi Angga" gumam Kiara seraya mengambil ponselnya dan segera menghubungi Angga.


"Hallo Angga, apa kamu sudah pulang kerja ?" tanya Kiara.


"Aku baru selesai merapihkan kerjaan ku, ada apa masalah serius ? oh ya bagaimana tadi dengan Rani ?".


"Huh permasalah ini semakin meluas".


"Maksud kamu meluas bagaimana ?".


"Aku sudah jujur tadi pada Rani, ya memang dia sepertinya syok namun seperti pasrah menerima, namun ketika Tristan datang sikap Rani berubah, dia malah menuduh ku menggunakan ilmu pelet".


"Kok bisa berubah secepat itu ?".


"Entah, mungkin karena sejak awal ke datangan Tristan, Rani tak di gubrisnya, Tristan malah nyerocos ingin memperjuangkan ku, yang lebih parah lagi Tristan bilang jika aku akan jadi ibu yang baik buat Alea".


"Pantes Rani marah, Alea di bawa - bawa, Lalu bagaiamana ?".


"Tadi Rani mempermalukan ku di parkiran dengan menyebut ku sebagai pelakor untung saja aku sudah pake helm sehingga orang lain tak bisa melihat wajah ku dengan jelas". jelas Kiara. "Ada satu hal yang mengganjal pikiran ku".


"Apa itu ?".


"Pertama ketika akan berkujung ke luar kota, tiba - tiba ada orang yang ingin berbicara dengan ku, bahkan orang tersebut sampai mengikuti ku ke bandara dia ingin tahu tentang hubungan ku dengan Tristan".


"Hah Kamu serius ,kenapa kamu baru cerita sekarang ?!".


"Aku Kiara orang itu orang suruhan Tristan, tapi setelah di pikirkan lagi sepertinya itu bukan orang suruhan Tristan".


"Lalu siapa, Rani ?".

__ADS_1


"Sepertinya bukan Rani, toh Rani baru tahu tadi jika aku adalah perempuan idaman suaminya. oh iya tadi setelah dari cafe bertemu Rani dan Tristan, aku tak langsung pulang karena pikiran kacau takut Mama ku curiga, aku memutuskan untuk ke taman nah ketika asyik menikmati taman tiba - tiba datang seseorng. . ".


"Apa orang itu yang sama seperti yang kamu temui di bandar ?" Angga memotong pembicaraan Kiara.


"Aku tidak tahu, karena orang itu memakai masker, kacamata hitam dan juga Topi, Ia menyodorkan koper kecil yang isinya uang yang banyak dengan Syarat aku harus meninggalkan Tristan". jelas Kiara.


"Sepertinya itu bukan Rani, aku jadi curiga seseorang".


"Siapa, orang tua Tristan ?".


"Bukan, mana mampu mereka mempunyai uang sebanyak itu, walaupun ada mungkin mereka akan menambah ladang mereka, aku curiga dengan orang tua Rani".


"Sepertinya itu tak mungkin, karena mereka tak mengenal ku dan begitu pun sebaliknya".


"Kamu tidak tahu siapa orang Tua Rani, dia orang yang mempunyai kekuasaan, mereka akan melakukan hal apa pun demi mendapat apa yang mereka inginkan, Saran ku untuk sementara waktu kamu pergi jauh dari kota ini, jangan sampai ada orang yang tahu".


Setelah pembicaraan panjang dengan Angga, perasaan Kiara tak menentu, bagaimana jika yang di katakan Angga bener, mereka adalah suruhan orang Tua Rani, berarti masalah ini sudah menyebar ke mana - mana.


Waktu Kiara sudah sedikit, besok pagi ia sudah harus terbang kembali ke tempat sang tante dan Om nya dan beberapa hari lagi Kiara kan mulai bekerja, namun permasalahannya belum menemui titik terang, yang ada permasalahannya merembet ke mana - mana.


*****


Rani tiba di rumah, wajahnya masih di tekuk kesal dengan perlakukan Tristan pada Kiara yang membuat hatinya terbakar api cemburu, sejak ke jadian sakitnya Alea dan Tristan mengucap talak Rani lebih memilih tinggal bersama ke dua orang tuanya dari pada tinggal di rumahnya sendiri.


"Tumben masih siang udah pulang". tegur Sang Mama saat Rani melewati ruang keluarga.


"Pulang siang salah, pulang malam salah" gerutu Rano seraya terus berjalan.


"Bagaimana bisnisnya jadi ?".


"Mam aku cape, biarkan aku istirahat sebentar" Rani menoleh ke arah sang Mama.


"Huhh dasarr, ingat kamu itu sudah punya anak, gak baik pergi - pergi terus, sesekali ajak Alea pergi, dia itu rindu sosok ibunya".


"Nanti saja ya Mam ceramahnya Rani mandi dulu".

__ADS_1


"Dasar anak durhaka" gerutu sang Mama pelan hingga Rani tak mendengarnya.


Rani memasuki kamarnya, lalu menuju kamar Mandi, berendam adalah cara Rani meredakan emosinya, guyuran air dingin mampu memadamkan api amarah di diri Rani.


"Ingin rasanya ku hajar tadi si Kiara" gerutu Rani saat teringat bagaimana perlakukan manis sang suami pada perempuan idamannya.


Setalah mandi Rani menemani sang anak bermain di kamarnya, ingatan tentang perkataan Tristan yang menyebut Kiara akan menjadi ibu yang baik untuk Alea, membuat Rani merasa bawa dirinya bukan ibu yang baik di mata sang Suami.


"Nak maafkan Mama belum bisa jadi ibu yang baik, apalagi sekarang kamu sering Mama tinggal, tapi ingat sayang Mama sering pergi karena memperjuangkan kebahagiaan kamu, agar Ayah tetap bersama kita". batin Rani.


Tak terasa cairan bening meluncur di pipi mulusnya dan segera ia usap takut Alea bertanya tentang kondisi dirinya yang tiba - tiba menangis.


Alea sudah tertidur pulas, Rani pun keluar dari kamar sang anak perutnya sudah keroncongan minta di isi, kejadian tadi telah menguras tenaganya.


"Kamu tadi tidak menemui teman mu untuk bisniskan ?" tanya sang Papa saat ia melewati sang Papa yang sedang bersantai di ruang televisi bersama sang Mama


"Kata siapa, aku tadi menemuinya, karena banyak kendala jadi kita putuskan untuk membatalkan rencana bisnis tersebut" jawab Rani.


"Tak usah berbohong, Papa dan Mama tak pernah mengajarkan hal itu pada mu, Papa tahu semua kegiatan mu akhir - akhir ini".


"Papa mengikuti ku ?".


"Kenapa kamu berjalan sendiri, kenapa tidak meminta bantuan pada kita ?!".


"Aku sudah dewasa, aku mampu menghadapi semua ini sendiri, aku tak mau ada kekerasan dalam hal ini".


"jadi tadi kamu kemana ?" tanya sang Mama yang memang tidak tahu apa - apa.


"Bertemu dengan Kiara, perempuan idaman Si bajingan Tristan !" Seru sang Papa.


"Maksud Papa Tristan selingkuh gitu" saking terkejutnya sang Mama sampai melotot membulat sempurna.


"Papa kata siapa Mas Yoga selingkuh ?" Rani masih menutupi aib sang suami itu di lakukannya agar sang Papa tidak menyuruhnya untuk bercerai dari suaminya.


"Papa tahu semuanya sebelum kamu mengetahuinya. dulu Papa pernah ada kegiatan ke kota, semacam seminar para petani begitu. tak sengaja Papa Melihat Suami mu yang bajingan itu sedang berjalan dengan seorang perempuan bernama Kiara seorang anak yatim piatu dari keluarga yang bisa di bilang cukup sederhana" jelas Sang Papa

__ADS_1


__ADS_2