Maaf

Maaf
Bab 19


__ADS_3

"Kenapa Mam, Ada masalah ?"


"Kalau kita di sini siapa yang merawat makan ayah kamu ?".


"Mama tenang saja, kan itu sudah ada petugas kebersihan di sana, gini saja deh nanti kita sebulan sekali akan datang ke sana, atau begini saja Kiara masuk kerja minggu depan bagaimana jika besok kita pulang ke sana sekalian pamit sama Ayah".


"Kamu pasti cape nak".


"Kiara gak cape kok"


Akhirnya di putuskan jika besok Kiara akan kembali ke kota kelahiranya selama tiga hari sebelum dirinya benar - benar meninggalkan kota tersebut.


Kiara dan sang Mama langsung menceritakan niatnya untuk pulang ke kotanya pada Om dan Tantenya ketika waktu sarapan pagi.


"Maafkan Tante dan Om, tak bisa ikut ke sana, kami sama - sama tak bisa izin dari kantor karena ini sangat mendadak" jelas Om nya.


"Tidak apa - apa om, kami akan baik - baik saja kok" ucap Kiara.


Selesai sarapan, Kiara kembali ke kamarnya dengan alasan ingin menyegarkan tubuhnya, nyatanya ia ingn menghubungi Angga, ia ingin bercerita padanya.


"Halo Angga".


"Kia, kebetulan sekali kamu menghuhungi ku, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan".


"Tentang apa ?" tanya Kiara sangat penasaran.


"Kia, beberapa hari yang lalu Ibunya Tristan menghubungi ku, dia bertanya tentang siapa wanita kota idaman Tristan".


"Kok ibunya bisa tahu ?".


"Setelah menceraikan Rani, Tristan pulang dan memberi tahu kedua orang tuanya, bahkan Tristan juga menceritkan bahwa dia sudah punya wanita pujaannya di kota".


"Kamu Serius ?".


"Untuk apa aku becanda".


"Angga, tahukah kamu sudah beberapa hari ini Rani selalu menghubungi ku, dia bercerita jika Tristan menceraikannya, bahkan yang lebih mengejutkan lagi ternyata Rani sudah tahu wanita idaman Suaminya bernama Kia, menurutnya juga Dia sudah mendatangi rumah ku juga".


"Pasti Rani ingin membuat kamu malu karena telah merebut suaminya".


"Kamu salah Angga".


"Lalu"


"Dia datang untuk memberi tahu bahwa dia siap di madu"


"Hah, gila itu si Rani".

__ADS_1


"Aku curiga jika Rani sudah mengetahui identitas ku sebagai wanita idaman suaminya".


"Ku rasa tidak, jika dia sudah tahu tidak mungkin akan menghubungi mu dengan bercerit tentang suaminya.


"Entahlah, aku bingung harus bagaimana, aku ingin menyelesaikan masalah ini tapi aku tak tahu caranya.


"Satu caranya kamu mengakuinya".


"Aku malu dan juga takut".


"Rani sejatinya anak yang baik, dia pasti akan memaafkan mu, yang terpenting baginya Tristan masih tetap bersama nya"


"Kenapa kamu bisa punya keyakinan seperti itu ? bagaimana jika nanti menyebarkan tentang hubungan ku dan suaminya ?".


"Aku sangat mengenalnya, Rani sangat mencintai Tristan, dia akan melakukan apa pun untuk tetap bersama Tristan. begini saja bagaimana kalau kita duduk berempat, aku akan menjadi saksi di antara kalian".


"Aku masih ragu".


"Kalau berlarut - larut aku takut terjadi sesuatu dengan mu".


"Maksud kamu apa ?"


"Kedua orang tua Rani bukan orang sembarangan, di kampung ku dia di kenal sebagai orang yang kejam, aku takut jika dia mengetahui semua ini akan bertindak sesuatu terhadap mu"


Kiara terdiam mendengar penuturan Angga, sudah di bayangkan jika dirinya di habisi oleh anak buah orang tua Rani, Ahhhh seremm, Kiara sampai bergidik ngeri membayangkan hal tersebut.


Kiara melemparkan ponselnya ke arah tempat tidur, dirinya bingung apa harus menuruti usulan dari Angga atau tidak, namun tidak atau di turutinya usulan Angga pasti ada konsekuensi yang harus Kiara tanggung.


"Hufffhhh ternyata mereka bukan orang sembarangan" Kiara menghela nafasnya kasar.


Kiara merenung seraya menatap langit yang begitu cerah, ahh tapi tidak secerah pikiran Kiara saat ini, bahkan otaknya yang cerdas mendadak tak mampu menyelesaikan masalah tersebut.


"Bagaimana jika mereka menyerang Mama" gumam Kiara. "Kia ayo berpikir, jangan hanya duduk manis saja" Kia menyemangati dirinya sendiri.


"Ayah jika kau masih ada mungkin kau akan menjadi tempat sandaran ku, jujur aku sudah tak sanggup lagi dengan masalah yang aku hadapi ini, dosa apa aku ini hingga berpacaran dengan suami orang".


"Kia kok mandinya lama sekali, Mama mau bicara !" suara Mama Mona sukses membuyarkan lamunan Kiara.


"Kia kamu dengar Mama kan ?".


"Tunggu sebentar" teriak Kiara dalam kamar. Kia membukakan pintu kamarnya. "Mama mau bicara apa ?" tanya Kia.


"Apa Tristan tak pernah menghubungi mu lagi ?" tanya Mona.


"Kenapa Mama bertanya seperti itu, Kiara kan sudah membelokir semua nomor Tristan".


"Bagaimana jika dia penggunakan nomor baru"

__ADS_1


"Ya Kia cuekin saja, yuk Mam masuk bicaranya si dalam saja" ajak Kiara, ia tak ingin jika Om dan Tantenya mengetahui masalah yang tengah di hadapinya.


"Kia Mama takut kamu di cap sebagai pelakor" ucap Mona dengan wajah yang sendu.


"Tenang saja Mam, ini bukan kesalahan Kia seratus persen, intinya sekarang kita buka lembaran baru lagi, jangan bahas tentang itu lagi ya Mam".


Sesuai rencananya, pagi ini Kiara dan Mama nya sudah bangun sejak pagi, bahkan saat turun untuk sarapan Kiara dan Mamanya sudah rapih.


"Maaf Om dan Tante tak bisa antar kamu ke bandara". ucap Om nya Kiara.


"Tidak Apa - apa Om".


Selesai sarapan Kiara dan Mamanya langsung pergi menuju bandara dengan menggunakan taksi online, sengaja Kiara menggunakan penerbangan pagi agar sampai di kota kelahirannya ia langsung bisa mengunjungi pemakaman sang ayah.


{Kia bagaimana dengan saran ku, apa kamu sudah mendapatkan jawabannya ?}


Sebuah pesan masuk ke ponselnya dari Angga, ahhh karena saking bahagianya akan mengunjungi makam sang Ayah Kiara sampai lupa dengan hal itu.


Kiara mengabaikan pesan dari Angga, karena sebentar lagi akan take off dan juga sejujurnya ia belum punya jawaban yang tepat.


"Kia bagaimana jika nanti Tristan datang ke rumah ?".


"Kenapa Mama bertanya seperti itu ?".


"Mama takut, ia akan berusaha dengan berbagai cara untuk menemukan mu" jelas Mama Mona.


"Jika Mama khawatir akan hal itu, bagaimana jika kita menginap di hotel saja" Kiara berusaha membuat nyaman sang ibu.


"Terserah kamu saja".


"Mam Maaf Kiara telah membuat Mama kecewa". Kiara memeluk sang Mama yang berada duduk di sampingnya.


Kiara tiba di kota kelahirannya dengan selamat, tujuan pertamanya adalah pemakaman sang Ayah. Taksi online yang di pesan Kiara sudah tiba, ia memasukan kopernya dengan di bantu sang sopir.


"Nak apa gak sebaiknya ke rumah saja dulu" ujar Mama Mona.


"Kenapa Mam, Mama cape mau istirahat dulu ?". Kemudian Mama Mona pun menggelengkan kepalanya. "Lalu kenapa harus ke rumah dulu, kitakan akan menginap di hotel". sambung Kiara.


"Setelah Mama pikir, lebih baik kita menginap di rumah saja, Kan rumah itu akan kita tinggalkan lama jadi kita gunakan waktu kita di sini untuk membereskan rumah tersebut" jelas Mama Mona.


"Mama yakin mau ke sana, bagaimana jika Tristan datang ?".


"Itu urusan nanti, Mama juga ingin memberi ketegasan pada Tristan agar tidak mengganggu kamu lagi" jawab Mona.


"Jadinya kita ke mana dulu ?".


"Terserah kamu saja" jawab Mona seraya tersenyum

__ADS_1


__ADS_2