Maaf

Maaf
Bab 48


__ADS_3

Tristan menatap video yang di putar pak Handoko dan ternyata video itu sama persis dengan apa yang di dapatkan dari Rani.


"Saya bisa menjelesakan semuanya pak, kejadian sesungguhnya tidak sesuai dengan apa yang di lihat di video" ujar Tristan.


"Yang membuat saya lebih malu lagi ternyata pak Rey mengetahui kejadian ini, kamu tahu kan kita baru saja menjalin kerja sama dengannya, dengan kejadian ini saya tidak tahu nasib kerja sama dengan beliau".


"Pak, memang saya membawa Kiara ke kamar hotel, namun di dalam kamar aku tidak berbuat apa pun padanya, aku menemukan Kiara pingsan di toilet ketika acara pesta bapak berlangsung tak ingin membuat acara bapak kacau akhirnya saya menutuskan untuk menyewa kamar hotel" jelas Tristan.


"Dengan ini saya memecat kamu dengan tidak hormat karena telah merusak refutasi perusahaan"


Deg


Tristan terkejut dengan penuturan yang di sampaikan oleh pak Handoko, lidahnya keluh untuk membela diri namun tiba - tiba pikiran terlintas sebuah pikiran tentang video tadi sepertinya ada seseorang yang sengaja menjebaknya.


"Hari ini hari terakhir kamu bekerja, kemasi barang - barang mu, Maaf saya tidak bisa mempertahankan kamu" ujar pak Handoko yang merasa kecewa dengan tindakan Tristan yang sudah kelewatan.


"Terima kasih pak atas semua kesempatanya".


Tristan keluar dari ruangan pak Handoko dengan perasaan yang tak bisa di gambarkan sedih kecewa dan marah menjadi satu. apalagi saat perpapasan dengan beberapa rekan kerjanya tak jarang yang menatapnya secara sinis.


Tristan yakin ini semua adalah rencana seseorang yang berniat ingin menghancurkan karirnya dan juga hubungannya antara Rani dan juga Kiara, terlintas di pikiranya jika semua ini di lakukan oleh orang tua Rani.


"Aku akan pulang dan menemuinya" gumam Tristan seraya terus membereskan barang - barangnya.


Sore hari cuaca sangat cerah, namun tak secerah hati Tristan yang tengah di hadapkan dengan berbagai masalah. tiba di apartemennya ia langsung mengemasi barang untuk di bawa pulang, ia tak ingin menunggu waktu lagi, sudah tak sabar ingin menemui Papanya Rani.


Perjalanan pulang pun terasa sangat lama, padahal dirinya sudah mengendarai motornya dengan kecepatan sangat tinggi, gelapnya jalanan perkampungan tak menghentikan langkah Tristan.


Tristan tiba di rumah ke dua orang tuanya pukul setengah sembilan Malam, kedatangannya selalu di sambut hangat oleh sang ibu, walaupun dia telah mengecewakan sang ibu namun perhatiannya tak pernah hilang.


****


Tepat pas pukul tujuh malam, Kiara dan Lidya tiba di rumah sang Tante, Kiara langsung turun menerobos kerumunan para pelayat. Kiara berdiri mematung memperhatikan tubuh yang kaku di tutup kain jarik.

__ADS_1


"Tante. ." Lirih Kiara, air matanya sudah mengalir deras membasahi pipi mulusnya.


"Kia kamu sudah sampai nak" ujar Mama Mona.


Kiara dan Mama mona menangis saling berpelukan, Hati Kiara kembali sakit saat melihat sang Mama menangis tersendu - sendu kehilangan adik satu - satunya, kesedihan ini membuat Kiara teringat ketika sang Ayah pergi untuk selamanya.


"Kamu naik apa ke sini nak ?".


"Astaghfirullah . ." pandangan Kiara di arahkan keseluruh penjuru ruangan, karena saking buru - buru turun ingin menemui Mamanya Kiara sampai melupakan Lidya.


"Kamu nyari apa nak ?".


"Mah Kiara tadi ke sini bersama Lidya, di mana dia sekarang ?".


Kiara pun berlari ke luar ruangan untuk mencari keberadaan Lidya, perasaan Kiara sedikit lega saat melihat Lidya sedang duduk bersama para pelayat.


"Lid, Maaf tadi aku buru - buru hingga melupakan kamu" ujar Kiara yang merasa tak enak hati padahal sahabatnya ini telah bersedia mengantrkannya ke sini.


"Santai saja Kia, udah kaya sama siapa saja" ujar Lidya.


Lidya langsung mengampiri Mama mona dan juga Rika, Lidya menyampaikan turut berbela sungkawa dengan meninggalnya adik dari Mama Mona.


"Nak Makasih yah sudah mau nganterin Kiara ke sini, sejak tadi tante ke pikiran sekali dengan Kiara" ujar Mama Mona.


"Sama - sama Tan, kebetulan tadi waktu tante telepon aku sedang bersama Kiara, aku juga tak tega membiarkan Kiara pergi sendiri dengan keadaan berduka apalagi naik angkutan Umum".


Malam semakin larut, para pelayat pun mulai berpergian hanya menyisakan kerabat dan keluarga saja, rencananya Tantenya akan di makam kan esok hari di pemakaman milik keluarga.


"Lid kamu nginep saja di sini, tak mungkin kamu pulang ke kota ini sudah larut malam, hubungi saja keluarga mu agar tak mengkhawatirkan kondisi mu" ujar Kiara.


"Iya bener kata Kiara menginap saja di sini, perjalanan ke kota butuh waktu dan sekarang sudah sangat larut malam, apalagi jalan menuju kota akan melewati hutan" sahut Mama Mona.


"Apa aku tidak merepotkan jika menginap di sini ?".

__ADS_1


"Tante sangat bersyukur jika kamu menginap di sini, tante akan merasa tenang".


"Baiklah tante".


Matahari mulai memancarkan kuasanya, Rumah Rika kembali di penuhi para pelayat, mereka akan mengantarkan Mamanya Rika ke peristirahatan terakhirnya.


Kiara selalu memperhatikan setiap pelayat yang datang, hal itu membuat Lidya yang selalu ada di dekatnya merasa penasaran.


"Apa kamu sedang menunggu seseorang untuk datang ?" tanya Lidya.


"Hmm nggak kok".


"Tapi sejak tadi aku perhatikan kamu selalu memperhatikan setiap tamu yang datang, seperti sedang menunggu seseorang".


"Itu hanya perasaan mu saja".


pemakaman Tante Kiara berjalan dengan lancar, Rika pingsan ketika jasad sang Mama di masukkan ke dalam liang lahat, sementara Mama Mona terlihat tegar dan ikhlas melepas adik satu - satunya itu. Setelah acara pemakaman, Lidya pun pamit untuk kembali ke kota.


Perasaan Kiara sedikit lega karena sejak kemaren malam ia tak bertemu dengan Rani, mungkin Rani tak datang atau mungkin sudah datang sebelum dirinya tiba di sana.


****


"Kami mau ke mana nak ?" tanya Ibunya Tristan saat melihat anaknya sudah rapih dan siap pergi.


"Aku mau ke rumah orang tua Rani !".


"Mau apa lagi kamu ke sana, stop jangan buat gara - gara dengan keluarga pak Erik, kamu tahu sendiri mereka akan melakukan apa pun asal hatinya puas" tiba - tiba pak Musa datang menghampiri Tristan dan ibunya.


"Mereka yang sudah mencari gara - gara duluan !".


Tristan pergi berlalu dengan kuda besinya, tak peduli dengan larangan bapaknya dan juga ibunya, amarahnya sudah memuncak dan tak bisa di bendung lagi terhadap pak Erik.


"Suruh pak Erik keluar sekarang, bilang aku menunggu di sini, jika bukan pengecut temui aku sekarang juga". pesan Tristan kepada security yang menjaga rumah orang tua Rani.

__ADS_1


tak berselang lama, Pak Erik keluar di ikuti oleh security yang tadi masuk untuk memberi tahu kedatangan Tristan.


"Masih punya muka juga kamu untuk datang ke sini, mau apa lagi kamu datang ke sini hah ?!" pak Erik langsung memasang muka yang tak bersahabat.


__ADS_2