
"Ayo ibu - ibu kita arak saja, Biar orang - orang tahu kalau dia adalah seorang pelakor".
"Iya betul, biar tidak ada yang tertipu lagi dengan wajahnya yang sok polos ini".
Ibu - ibu menyeret tubuh Kiara dengan paksa, tak ada satu pun yang melerai, Kiara pun meronta - ronta, namun ibu - ibu malah semakin menjadi - jadi.
"Tiiiiiiddddaaaaaakkkkkkkk" teriak Kiara panjang.
"Kiara kamu kenapa ?" Mona tergoph - gopoh masuk ke kamar Kiara, untung saja Kiara tak menguncinya sehingga Mama Mona dengan mudah masuk ke kamar Kiara.
"Kamu mimpi buruk ?".
"Iya Mam" jawab Kiara seraya berusaha bangkit dari posisi tidurnya.
"Mimpi apa memangnya, sampai - sampai teriakan mu terdengar jelas ke dapur ?.
"Pokoknya seram Mam" Kiara tak ingin menceritakan tentang mimpinya pasti itu akan membuat sang Mama akan semakin khawatir padanya.
"Makanya jangan tidur pagi - pagi, baru juga selesai sarapan kok malah tidur lagi". gerutu Mama Mona.
"Namanya juga ketiduran".
"Sana Mandi dulu biar fresh tuh muka" titah Mama Mona.
Di kamar mandi Kiara mengguyur tubuhnya, berharap pikirannya mencair karena di guyur air.
Hari ini Kiara harus mempersiapkan dirinya untuk menghadapi semua kemungkinan akan terjadi. Kiara bergidik ngeri ketika bayang - bayang mimpi tadi teringat kembali.
"Kia kamu pasti bisa" Kiara menyemangati dirinya sendiri.
Waktu masih pagi, tak mungkin ia berangkat sekarang ke Cafe karena Rani masih lama datang, dan tak mungkin juga Kiara menunggu berjam - jam di cafe.
"Hmm . . sepertinya aku harus merileksasi agar nanti aku bisa berpikir dengan jernih" Gumamnya seraya tersenyum menatap cermin di hadapannya.
__ADS_1
Akhirnya Kiara memutuskan untuk datang terlebih dahulu ke salon sebelum menuju ke cafe, Kiara memilih baju yang simpel namun tak membuat ke cantikkannya luntur.
"Mau ke mana sudah rapi ?" tegur Mama Mona.
"Kiara mau ke salon Mam" jawab Kiara.
"Ya sudah hati - hati di jalan".
Kiara melajukan motor ke sayangannya menuju ke salon langganannnya, tiba di salon Kiara langsung memilih perawatan sesuai ke inginannya.
Semantara Rani setelah menerima telepon dari Kiara, ia langsung bersiap - siap untuk berangkat ke kota, seperti biasa ia akan mentipkan sang buah hati pada suster dan juga Mamanya.
"Kamu mau ke mana lagi sih ?" tanya Mama Rani, yang melihat Rani sudah rapih, Ia merasa akhir - akhir ini Rani sering pergi entah ke mana kadang pulang larut malam dan kadang juga pulang pagi lagi.
"Ada urusan Mam" jawab Rani santai.
"Kenapa kamu sekarang lebih sering pergi - pergi, apa kamu sudah lupa ada Alea yang kalau siang hari selalu merengek mencari kamu, oh iya bagaimana hubungan kamu dan Si Yoga ?".
"Mama sudah ku bilang kalau aku ada urusan, aku ini sedang berencana untuk membuat bisnis bareng temen - temen, jadi aku terpaksa harus pergi - pergi" Rani berbohong pada sang Mama, ia melakukan semua ini terpaksa. "Aku dan Mas Yoga akan baik - baik saja, jika jadi mungkin nantinya aku akan tinggal di kota bareng Mas Yoga".
"Mas Yoga tak jadi menceraikan ku Mam, kemarin itu dia sedang emosi saja jadi berbicara seperti itu" jelas Rani, sementara sang Mama memasang wajah bingung tak mengerti dengan maksud sang anak.
"Rani kenapa kamu tidak meminta bantuan Papa saja, papa mu pasti punya banyak kenalan bisnis".
"Rani berangkat nanti bisa telat jika Mama terus ngajak ngobrol". Rani langsung berlalu meninggalkan sang Mama yang masih dalam keadaan bingung.
"Huh si Rani aneh banget" gerutu sang Mama.
Rani melajukan mobil kesayangannya menuju kota, dalam pikirannya kadang ada rasa aneh ketika Kiara mengajaknya bertemu, namun di sisi lain ia juga merasa bahagia dengan pertemuan ini, dengan mudah ia bisa meminta tolong pada Kiara untuk mencari tahu sosok wanita bernama Kia.
"Aku yakin Jika Kiara tahu perempuan bermana Kia, mereka kan satu kantor, atau mungkin nanti setelah ngobrol banyak aku minta tolong di antarkan ke rumah si Kia, aku kan tahu alamatnya" gumam Rani seraya fokus menyetir.
Banyak ke mungkinan yang akan Rani lakukan setelah nanti bertemu Kiara. Rani sedang berusaha ingin menemui Kia wanita yang menjadi idaman sang suami karena menunggu Tristan entah kapan hal itu akan terwujud.
__ADS_1
Kiara sudah selsai menjalankan perawatan yang di inginkannya, terlihat mukanya terlebih fresh, tujuannya kini adalah cafe tempat ia janjian dengan Rani.
"Kiara" Seseorang dengan suara lantang memanggil namanya, Kiara pun dengan replek menoleh ke arah sumber suara.
"Kamu kenapa ada di sini ?" Kiara terkejut dengan kehadiran seseorang di cafe tersebut.
"Ini tempat Umum jadi boleh siapa saja yang datang ke sini".
"Bukannya ini jam kerja ?".
"Aku ambil cuti tiga hari".
"Huhh, pantesan kau ada di sini".Seseorang tersebut adalah rekan kerja Kiara yang bernama Lia.
"Oh iya, beberapa hari yang lalu ke kantor ada yang nanyain pacarnya Tristan loh" ujar Lia.
"Siapa ?".
"Perempuan, usianya hampir sama dengan kamu". jelas Lia.
"Jangan - jangan itu Rani, jadi sekarang Rani sudah tahu pantes dia sering menghubungi ku" batin Kiara.
"Aku bilang saja Kalau Tristan baru saja putus sama kamu, dan sekarang mungkin Tristan sedang menjomblo" sambung Lia.
"Terima Kasih infonya ya Li" ucap Kiara. "Aku duluan" Kiara tak ingin tahu lebih banyak lagi apa yang Lia tahu.
Kiara berlalu meninggalkan Lia di pintu masuk cafe, Kiara memilih tempat yang private, ruangan vip cafe yang Kiara pilih, tak masalah jika harus merogoh kocek yang banyak yang terpenting pengakuannya tak di ketahui oleh orang - orang.
Kiara menanyakan posisi Rani, ternyata masih dalam perjalanan dan di jadwalkan akan tiba empat puluh lima menit atau bahkan satu jam tergantung situasi jalanan.
"Lebih baik makan dulu lah, nanti pasti akan mengeluarkan emosi dan itu butuh tenaga, bahkan aku juga harus menyiapkan tenaga yang ektra karena di takutkan Rani akan menyerang ku". gumam Kiara.
Kiara memanggil pelayan, lalu memesan beberapa menu makanan dan juga minuman."Ini ku rasa cukup untuk menambah energi ku" gumamnya lagi.
__ADS_1
Kiara menyiapkan berbagai kemungkinan yang akan terjadi, di antara nya adu mulut bahkan saling jambak menjambak. Kiara sering melihat bagaimana seorang perempuan menghajar para pelakor. yang belum di persiapkan adalah mentalnya, bagaimana jika nanti Rani memberi tahu seluruh pengunjung cafe kalau Kiara adalah seorang pelakor.
{Ran, jika nanti telah tiba di cafe, langsung masuk saja ke ruang vip no 3, kamu tinggal tanya ruangan tersebut pada pelayan dan bilang sudah punya janji dengan Kiara } isi pesan yang Kiara kirim untuk Rani.