
Rani tak menyangka ternyata sang Papa sudah tahu tentang suaminya jauh sebelum dirinya tahu, kalau sudah begini akan sulit mempertahankan sang suami, pasti Papanya akan menolak keras menerima Tristan kembali menjadi menantunya.
"Papa kenapa gak cerita ke Mama" sahut sang Mama.
"Awalnya Papa Kira itu hanya rekan bisnisnya, namun entah kenapa Papa melihat perubahan sikap dari Tristan sehingga diam - diam Papa menyelidiki tentang siapa perempuam itu".
"Pasti itu ceweknya yang kegatelan, udah punya anak istri masih saja mau nempel, huh kalau Mama bertemu dengan perempuan itu sudah Mama hajar, Mama jambak rambutnya, Mama kacar tuh mukanya biar rusak sekalian, biar tak menggoda lagi suami orang" ujar Mamanya Rani berapi - api, ia sangat marah pada sang menantu karena telah menghianati putri kesayangannya.
"Setelah Papa selidiki, ternyata Tristan dan Kiara sudah berpacaran selama setahun, namun ternyata Kiara tidak mengetahui jika Tristan sudah punya anak dan istri".
"Menurut Papa Tristan menyembunyikan identitas aslinya gitu ?" tanya sang Mama.
"Ya seperti nya begitu, karena setelah di selidiki ke kantor tempat bekerjanya tak satu pun rekan - rekan kerja Tristan yang mengetahui jika Tristan sudah memiliki anak dan istri".
Rani hanya terdiam, penjelasan dari sang Papa membuatnya kembali sakit, ternyata suami yang selalu ia banggakan tega menyembunyikan identitasnya, bahkan tak mengakui dirinya sebagai Istri dan Alea sebagai anak, pantas saja setiap dirinya datang ke kantor Tristan selalu terburu untuk mengajaknya pergi.
"Rani, bisa kamu lihat sendirikan bagaimana suami mu yang selalu kamu banggakan seperti apa, lebih baik kamu cerai saja dengannya" sahut sang Mama.
"Mas Yoga mungkin hilap, bisa saja perempuan itu yang meminta Mas Yoga menyembunyikan identitas aslinya biar perempuan itu tak di bilang pelakor" bela Rani.
Sejujurnya Rani sudah sangat sakit hati dengan Tristan, namun ia juga belum sanggup jika harus bercerai dengan sang suami, jadi ia sebisa mungkin mempertahankan rumah tangganya.
"Rani kamu itu kenapa sihh, dua hal yang tak bisa di maafkan dari lelaki yaitu kdrt dan perselingkuhan" jelas sang Mama.
"Apa yang di katakan Mama mu benar Rani, kamu harus meninggalkan Tristan, untuk urusan Alea bisa kamu serahkan pada Papa" sahut sang Papa.
"Mam, Pa, Rani hanya ingin mempertahankan rumah tangga ku, kenapa kalian malah menyuruh ku untuk bercerai, harusnya sebagai orang tua kalian menjadi penengah di antara kami" Rani marah karena di desak untuk meninggalkan suaminya.
Rani berlalu meninggalkan meja makan, ia menuju kamarnya, di sana ia menumpahkan tangisannya yang sejak tadi ia tahan.
"Mas kenapa kamu tega melakukan ini semua, apa kurang ku, padahal sudah ku beri semua untuk mu, bahkan aku tak pernah menuntut ini itu pada mu, kenapa cinta dan kasih sayang ku kurang, kenapa kamu malah mencari yang lain, kenapa tidak membicarakan dengan ku apa kurang ku" batin Rani.
__ADS_1
"Apa yang istimewa dari Kiara Mas, kenapa kamu seperti tergila - gila dengannya, apa kamu sudah di pelet olehnya" gumam Rani.
"Jika aku minta bantuan mang kodir rasanya malu sekali, apa aku bertanya saja pada ustaz Zaki cara menghilangkan ilmu pelet. pergi ke mang Kodir sama saja menambah dosa, karena dia menggunakan ilmu hitam" Gumam Rani.
Rani bangkit dan berlalu menuju kamar mandi, mencuci mukanya dan setelah itu memoles sedikit wajahnya agar tak terlihat seperti habis menangis.
Kali ini tujuannya adalah rumah ustaz Zaki yang rumahnya hanya berjarak beberapa meter saja dari rumah kedua orang tuanya, Rani sengaja menggunakan baju yang tertutup bahkan tak lupa ia juga menggunakan hijab untuk menutup rambutnya.
"Mau ke mana Kamu ?!" tegur Sang Mama.
"Ada urusan penting, gak lama kok, titip Alea" ujar Rani seraya berlalu.
Sang Mama hanya mendengus kesal dengan tingkah sang anak akhir - akhir ini, Sang Mama bingung sebenarnya apa yang di kerjakan dari di luar, atau dia keluar untuk mencari hiburan. sang Mama menjadi panik, sehingga ia berlari menuju sang suami yang sedang berada di dalam kamar.
"Papa, Rani pergi lagi, ini kan Malam, tampilannya sih rapih bahkan tertutup, Mama takut jika terjadi sesuatu pada anak Kita".
"Tak usah panik begitu, Papa sudah menyewa orang untuk mengikuti kemana pun Rani pergi" jelas sang suami.
"Kamu itu kalau bicara suka nyerocos, jadi sengaja tak memberi tahu kamu takut nanti kamu kebablasan cerita Sama Rani".
Rani tiba di rumah ustaz Zaki, ke datangan nya di sambut ramah oleh Sekar istri dari usatz Zaki.
"Ehh ada Mbak Rani, Ayo masuk" ucapnya Ramah.
"Terima Kasih, ustaz Zakinya ada ?".
"Suami saya sedang keluar, mungkin sebentar lagi beliau pulang".
"Hmmm. . " Rani nampak berpikir antara pulang dan menunggu.
"Itu suami saya datang" Ujar Sekar tatkala ada suara motor masuk pekarangan rumahnya.
__ADS_1
"Ehh ada Mbak Rani di sini" sapa ustaz Zaki.
"Ini mbak Rani sepertinya ada perlu dengan Abang" Sahut Sekar sang Istri.
"Ayo atuh bicaranya di dalam, kalau di luar gak enak di dengar yang lain" jawab Ustaz Zaki.
Rani duduk di ruang tamu, Sekar menghidangkan Air minum dan beberapa toples makanan ringan.
"Maaf cuma ada ini" ujar Sekar.
"Ini juga udah lebih dari cukup".
Setelah bicara basa - basi, Rani langsung
menceritakan niatnya datang ke rumah Ustaz Zaki, Rani menceritakan semuanya tanpa ragu walau di sana ada Sekar juga karena Rani yakin Ceritanya akan Aman di tangan mereka.
Rani juga menanyakan bagaimana Ciri - ciri orang yang ada dalam pengaruh ilmu pelet, tak lupa juga Rani bertanya tentang cara melepaskan ilmu pelet yang sudah menempel.
Jawaban Uataz Zaki membuat Rani sangat puas, dan ketika akan pulang Rani di beri sebuah air minum yang sudah di doakan.
"Minumkanlah pada suami mu, insya allah secara perlahan Ilmu pelet itu akan hilang" Rani tersenyum penuh ke menangan mendengar perkataan Ustaz Zaki.
"Sebentar lagi Mas Yoga akan meninggalkan Kiara dan kembali pada ku" batin Rani.
Setelah semuanya beres, Rani langsung kembali ke rumahnya, keadaan yang sudah sepi membuat Rani bernafas lega karena ia tak bertemu dengan sang Mama yang suka kepo terhadap kegiatannya.
"Bagaimana aku kasih Air minum ini sedangkan Mas Tristan sedang di kota" batin Rani.
Rani harus kembali berpikir kembali bagaimana Cara memberikan air itu tanpa Tristan curiga sedikit pun.
"Hmm aku akan membawa Alea ke kota, bilang saja jika Alea merindukannya" ide Rani.
__ADS_1