Maaf

Maaf
Bab 47


__ADS_3

Kiara terkejut dengan berita yang di sampaikan sang Mama, ternyata pikiran Kiara salah jika Mamanya termenung sedang memikirkan dirinya nyatanya sang Mama sedang memikirkan adiknya yang sedang terbaring lemah di rumah sakit.


"Tante sakit apa Mam ?".


"Rika tidak memberi tahu tentang penyakitnya, namun Rika bilang akhir - akhir ini Mamanya sering pingsan" jelas Mama Mona.


"Lalu bagaimana dengan keadaan tante sekarang ?".


"Tante mu masih dalam keadaan kritis".


Raut kesedihan tak bisa di sembunyikan oleh Mama Mona, bahkan terlihat gurat - gurat kecemasan di wajahnya membuat Kiara tak tega melihatnya


"Mama tak ke sana ?".


"Jika Mama ke sama kamu bagaimana ?".


"Mama tak perlu khawatir aku ada bi Limah yang jaga, aku akan baik - baik saja, tapi Maaf Kiara tak bisa ikut takut bertemu Rani si sana, namun jika kondisi Kiara sudah membaik Kiara akan menyusul Mama ke sana" ujar Kiara.


Tiga hari berlalu, Kiara terdiam di rumahnya tanpa aktifitas berarti hanya tidur makan dan menonton televisi. Mona belum bisa pulang karena kondisi sang adik yang semakin memburuk, ternyata Mamanya Rika di vonis mengidap kanker otak bahkan di otaknya belakangnya tumbuh tumor ganas.


Kiara ingin sekali datang menjenguk namun rasa takut bertemu Rani terus menghantuinya, Kiara belum punya keberanian dan masih mengumpulkannya secara perlahan.


"Bi, aku pergi dulu ya sebentar bosan di rumah terus".


"Iya Neng".


Siang ini Kiara berencana untuk mendatangi sebuah salon ia ingin melakukan sebuah perawatan, untuk membuat dirinya kembali segar. Kiara memutuskan untuk naik taksi online karena sedang malas dengan membawa kendaraan sendiri.Tiba di Salon ia langsung memilih perawatan yang di inginkan.


"Kamu Kiara kan ?!" tegur seseorang.


"Kamu Lidya ?".


"Ya Allah gak nyangka akhirnya kita bisa bertemu kembali" perempuan yang di ketahui bernama Lidya pun langsung memeluk Kiara dan begitupun sebaliknya Kiara juga memeluk Lidya.


"Kapan kamu pulang, kenapa tidak memberi kabar ?" tanya Kiara.


"Aku sudah hampir tiga minggu ada di sini, aku pernah datang ke rumah kamu tapi kata Mama kamu sekarang kerja di luar kota".


"Hmmm tapi kenapa Mama gak cerita ya?".


"Mungkin Mama mu lupa".


"Ya sepertinya begitu, maklum lah sudah berumur" ujar Kiara seraya tersenyum.


Kiara dan Lidya sudah bersahabat sejak kecil, mereka pernah tinggal satu komplek namun ketika memasuki masa SMA Lidya pindah rumah ke kawasan yang lebih elit, persabatan mereka harus terpisah jarak karena waktu itu Lidya memilih melanjutkan kuliahnya di luar negri dan sekarang dia sudah lulus S2.


"Aku kangen banget loh" ujar Lidya.


"Sama aku juga, sudah lama banget loh kita gak bertemu, terakhir ketemu kalau gak salah dua tahun yang lalu" ujar Kiara.

__ADS_1


"Habis ini kamu mau ke mana ?".


"Gak ke mana - mana paling pulang".


"Nongkrong dulu yuk, aku kangen banget loh sama kamu". ajak Lidya.


"Boleh".


Setelah melakukan perawatan akhirnya mereka pergi ke sebuah cafe, di sana mereka berbincang - bincang seputar kehidupan mereka.


"Kalau mau nanti aku tanya di kantor kakak ku ada lowongan atau tidak" ujar Lidya.


"Hmm boleh tuh, aku juga udah bosan nih diam mulu di rumah".


"Nanti aku kabarin deh".


tak terasa sudah dua jam mereka ada di sana, langit pun mulai gelap pertanda kalau malam akan segera datang. Kiara pamit untuk pulang duluan.


"Kamu pulang naik apa ?"


"Paling pesan taksi online" jawab Kiara.


"Ya sudah pulang bareng aku saja".


"Tak usah, lagian kita beda arah".


"Tidak apa - apa".


"Mama" gumam Kiara saat membaca nama si penelepon.


"Hallo Mah". tak ada jawaban, hanya terdengar suara tangis di sana.


"Mah, Apa yang terjadi ?" Kiara mulai panik, Namun masih tak ada jawaban juga.


"Mama baik - baik saja kan, jangan bikin Kiara cemas" ujar Kiara.


"Ada masalah ?"tanya Lidya penasaran.


"Mama telepon tapi dia tak bicara apa pun hanya terdengar suara tangis saja itu pun suaranya jauh" jelas Kiara.


"Mama kenapa ?" tanya Kiara lagi.


"Nak. ." lirik Mama Mona suaranya tertahan oleh tangisan.


"Mama bicara jangan bikin Kiara cemas".


"Tante kamu sudah pergi" Mama Mona dengan sekuat tenaga berbicara.


"Mama gak sedang becanda kan ?".

__ADS_1


"Mama serius".


"Innalillahi. . Kiara ke sana sekarang !".


"Tapi. . ".


"Sudahlah Mam jangan pikirkan soal itu, Kiara berangkat sekarang".


Kiara menaruh kembali ponselnya, cairan bening pun mulai mengalir di pipinya membuat Lidya panik seketika.


"Kamu kenapa, Apa Mama mu baik - baik saja ?.


"Mama baik - baik saja tapi adiknya Mama telah pergi" lirih Kiara.


"Innalillahi. . ".


"Lid bisa cepetan dikit gak, aku harus segera ke sana".


"Emangnya Tante mu tinggal di Mana ?".


"Sudah beda kota dengan kita".


"Kamu ke sama naik apa ?".


"Aku paling naik Bus".


"Kamu naik Bus sendirian ?" Kiara mengangguakan kepala. "Gak kamu gak boleh naik Bus sendirian, apa lagi ini sudah sore, biar aku yang antar saja" ujar Lidya


"Tapi jauh Lid".


"Aku gak akan membiarkan sahabat ku sendirian, pokoknya aku tak terima penolakan dari kamu. Sekarang kita kerumah kamu dulu setelah itu kerumah aku bentar dan setelah itu baru kita menuju rumah tante mu".


"Terima kasih Lid, kamu memang sahabat ku yang paling baik".


****


Waktu jam pulang kerja sudah tiba, Tristan bersiap untuk pulang, namun pak Handoko menyuruhnya menghadap.


"Silahkan duduk" titah pak Handoko ketika Tristan tiba di ruangannya.


"Saya bicara langsung saja ya" cara pak Handoko bicara sepertinya ia sedang serius hingga Tristan berpikir kesalahan apa yang di perbuatnya.


"Saya bangga punya Karyawan sepertu mu, namun dengan beredarnya sebuah video itu membuat saya sangat kecewa dengan kamu, padahal saya sangat bangga dengan kinerja kamu, namun sekali lagi perbuatan mu telah merusak citra diri mu sendiri dan juga kantor" ucap Pak Handoko.


"Maksud bapak Video apa yah ?".


"Apa kamu tidak pernah menyadari sedikit pun tentang kesalahan mu ?" tanya pak Handoko.


"Saya merasa tidak pernah melakukan kesalahan apa pun, saya selalu mengerjakan tugas - tugas yang bapak berikan dengan baik" ujar Tristan dengan penuh percaya diri.

__ADS_1


"Kalau begitu jelaskan video ini !!".Pak Handoko memutar video yang ia dapat dari nomor yang tidak di kenal.


"Video itu telah menyebar di seluruh Karyawan kantor dan bahkan hingga pemilik perusahaan ini pun tahu, saya merasa sangat malu dengan tersebarnya video ini karena saya selalu menceritakan tentang kinerja mu yang bagus pada pemilik perusahaan".


__ADS_2