
Hidup dengan masalah adalah takdir. Kita takkan pernah bisa menampik. Jalan satu-satunya adalah menjalani masalah yang ada dan mengambil hikmah dari setiap kejadian yang ada.Ingatlah setelah hal terburuk dalam kehidupanmu pasti akan ada hal baik setelahnya.
Kita terkadang mengidamkan bahwa hidup tanpa masalah. Dengan alasan masalah itu beban yang membuat hidup itu tertekan. Padahal sejatinya hidup dan masalah itu dua hal yang tak bisa dipisahkan.
Kiara dan sang Mama telah selesai sarapan, hari ini Kiara akan kembali ke tempat Tante dan Omnya. ada rasa berat ketika harus meninggalkan sang Mama seorang diri, Namun Kiara tak mampu memaksa sang Mama untuk ikut dengannya.
"Kamu di sana harus jaga diri baik - baik, fokus saja dengan kerjaan kamu, dan satu lagi jangan dulu pacaran" nasehat Mama Mona.
Kiara hanya mengangguakan kepalanya pelan, ia sangat mengerti kenapa sang Mama melarangnya untuk berpacaran karena pasti ada rasa trauma takut kejadian masa itu terulang kembali.
"Mama sepertinya gak bisa antar kamu ke bandara nak".
"Tidak apa - apa, aku bisa sendiri".
Sebelum pergi, Kiara menitipkan sang Mama pada Bi Limah yang merupakan aisten baru di rumah mereka.
"Jangan khawatir, bibi akan menjaga ibu dengan baik".
"Terima kasih bi".
Taksi online sudah tiba, ada rasa berat ketika melangkah ke dalam mobil, namun tak ada pilihan ini jalan terbaik, Kiara tak ingin menjadi penganggu hubungan Rani dan Tristan.
"Semoga dengan aku pergi dari kota ini membuat hubungan kalian seperti dulu lagi" Batin Kiara.
Kiara menahan tangisnya di depan sang Mama, begitu pun Mama Mona ia juga menahan tangisnya agar sang putri tak mengkhawatirkan kondisinya. ini lah pertama kali mereka di pisahkan oleh jarak.
Mobil yang Kiara tumpangi melaju dengan sangat lancar hingga ia tiba di bandara sepuluh menit lebih awal dari perkiraanya, Kiara langsung cek in dan menunggu di ruang ke berangkatan.
Sementara Rani sejak pagi sudah di sibukan dengan membereskan barang bawaannya yang akan di bawa menuju kota, ia tak ingin menunggu lagi, hingga di putuskan jika hari ini ia dan anaknya akan pergi ke kota untuk menemui Tristan.
"Kamu mau ke mana ?" tanya sang Mama saat melihat Rani sedang sibuk memasukan bajunya ke dalam koper.
"Aku dan Alea akan ke kota, kita akan tinggal bersama Mas Yoga" jelas Rani seraya terus memasukan bajunya ke dalam koper.
__ADS_1
"Ngapain kamu ke sana, lelaki seperti itu harusnya sudah kau buang !" seru sang Mama geram.
"Mam, Alea kangen sama Ayahnya, apa itu salah ?" tanya Rani, kini pandangannya di alihkan pada sang Mama.
"Alea tak butuh Ayah seperti itu !!".
"Bagaimana pun Mas Yoga adalah Ayah dari Alea !".
"Terserah kamu saja !" sang Mama barlalu dari kamar Rani, jika harus terus berdebat tentang masalah itu pasti tak akan ada habisnya karena Rani akan selalu membela sang suami.
Setelah selesai dengan barang miliknya, Kini Rani menuju kamar Alea, ia tak sabar menyampaikan kabar ini pada sang anak pasti Alea akan senang sekali, pikirnya.
Rani memilih beberapa helai baju yang akan di bawa, Rani berencana akan tinggal di kota untuk beberapa saat, sehingga di pastikan jika Tristan sudah benar - benar melupakan Kiara si pelakor tersebut.
"Kanapa baju neng Alea di kemasi, apa kita akan pindah ke rumah ibu ?" tanya baby sister yang merawat Alea.
"Aku akan mengajak Alea untuk ke tempat Ayahnya, dan sepertinya kamu juga harus ikut, jadi setelah ini kamu juga siap - siap ya, kemasi barang - barang kamu" ujar Rani.
Alea sangat antusias bahkan ia sudah tak sabar ingin segera berangkat setelah mengetahui jika dirinya akan ke kota mengunjungi sang ayah.
"Papa kenapa diam saja" gerutu sang istri.
"Rani sudah besar, biarkan saja dia memilih jalan hidupnya sendiri".
"Mama takut Tristan akan berbuat jahat pada Rani.
"Tenang saja, Papa pastikan Rani dan Alea akan baik - baik saja".
Pak Erik memang terlihat cuek namun, setelah mengetahui Rani akan pergi diam - diam pak Erik telah memerintahkan anak buahnya untuk mengikuti Rani, itulah mengapa pak Erik terlihat cuek.
Pak Erik tahu jika Tristan sudah menghianati Rani jauh sebelum Rani mengetahuinya, namun karena pak Erik tahu betapa cintanya Rani sehingga ia tak tega untuk mengatakan semuanya pada Sang anak, sehingga ia menyusun sendiri agar bisa menjaga sang anak tercinta.
Setelah makan siang, Rani berangkat menuju kota, sepanjang perjalanan hujan deras menemani sepanjang perjalanan sehingga Rani tak bisa melaju dengan kecepatan tinggi walaupun jalanan kosong.
__ADS_1
Rani tiba di apartemen milik Tristan sudah sore hari, perjalanan mereka sedikit terhambat karena tadi ada kecelakaan yang membuat jalanan macet total.
"Ayah mana Mam ?" tanya Alea.
"Ada di dalam" jawab Rani.
Rani menggendong sang putri, sedangkan baby sister membawa barang bawaan mereka. Rani mengetuk pintu kamar apartemen milik Tristan, namun tak ada jawaban dari si pemilik kamar tersebut.
"Kemana dia kenapa tidak ada jawaban" gumam Rani yang mulai khawatir bagaimana jika Tristan tak ada.
"Coba ibu telepon saja, barangkali bapak ke tiduran di dalam" saran sang Baby sister.
Rani menyerahkan Alea pada pengasuhnya, kemudian ia merogoh tasnya mencari benda pipih miliknya.
"Kamu ngapain di sini ?" baru saja Rani menekan nomor Tristan, tapi ternyata orangnya sudah ada di hadapannya.
"Ayahhhhhhhhh" Alea berlari menuju sang Ayah.
Tristan pun menyambutnya dengan hangat, ia juga sangat merindukan putri kecilnya, walaupun dirinya tak pernah mencintai Rani tapi ia sangat mencintai Alea.
"Mas untuk sementara aku akan tinggal di sini, kasian Alea dia sangat rindu akan sosok ayahnya" ujar Rani.
"Tapi Ran, besok aku harus ke luar kota, ada tugas dari kantor" jawab Tristan.
"Berapa lama ?".
"Paling seminggu atau sepuluh harian".
Setelah Tristan membukaan pintu apartemennya, mereka semua di persilahkan masuk. apartemen milik Tristan lumayan cukup luas dan ada dua kamar sehingga Rani tak ragu untuk mengajak Baby Sisternya.
"Aku akan tetap menunggu di sini sampai kamu kembali, ini demi Alea". Rani sengaja ingin mendekatkan Tristan dan Alea lebih dekat lagi agar Tristan tak sanggup jika harus berpisah dengan Alea.
"Terserah kamu saja".
__ADS_1
Setelah makan Malam, Alea tertidur bersama Baby sisternya, sedangkan Rani sedang membuatkan kopi untuk Tristan, tak lupa ia juga menuangkan air yang di beri oleh ustaz Zaki.
"Bismillah semoga ilmu hitam itu pergi dari tubuh kamu mas" batin Rani.