
"Kamu ini kenapa Mas, bukankah ini keinginan mu berpisah dari ku lalu menikahi perempuan pilihan mu" ujar Rani seraya menyunggingkan senyum kecutnya. "Kenapa kamu bicara seperti itu, bukannya dulu kamu tiba - tiba datang dan langsung menyerahkan aku ke pada kedua orang tua ku tanpa berbicara terlebih dahulu dengan ku" sambung Rani.
"Rani jika kamu masih mencintai ku kamu bisa cabut kembali gugatan mu, kita besarkan Alea bersama - sama, bukanlah kamu rela jika di madu".
"Itu ketika sebelum tahu siapa perempuan itu" ketus Rani.
"Ran, lebih baik kamu cabut saja gugatan tersebut" pinta Tristan.
"Kenapa harus di cabut Mas, bukankah ini keinginan mu, apa kamu gagal mendapatkan perempuan itu lalu mau kembali lagi ?" Rani tak mengerti dengan jalan pikiran Tristan.
"Ran kita bisa hidup bersama, aku akan adil terhadap kalian berdua" ujar Tristan.
Tristan mendadak tak ingin berpisah dengan Rani, sehingga poligami adalah jalan tengah yang ia putuskan, karena bagaimana pun Tristan yakin bisa mendapatkan Kiara kembali.
Perasaan itu muncul tiba - tiba setelah mengetahui Rani sudah mengajukan cerai ke pengadilan, padahal awalnya dirinya lah yang akan menggugat Rani.
"Maaf Mas aku harus segera pergi".
"Rani pikirkan baik - baik lagi keputusan mu itu, aku tak ingin kehilangan kalian berdua" teriak Tristan ketika Rani berlalu begitu saja meninggalkan dirinya di cafe mawar.
Rani meninggalkan cafe tersebut dengan deraian air mata, ia pergi bukan karena sibuk namun ia sudah tak sanggup menahan lagi buliran bening di matanya.Hatinya begitu sakit harus memutuskan berpisah dengan lelaki yang di cintainya.
"Mas kenapa kamu baru berbicara seperti itu sekarang, kemarin ke mana saja ? *kamu terlambat mas*" batin Rani merintih membayangkan perpisahan dengan Tristan sudah di depan mata.
Ada rasa penasaran hadir di benak Rani kala melihat perubahan Tristan yang seakan - akan tak menginginkan perceraian tersebut, apa yang terjadi dengan calon mantan suaminya tersebut sehingga berubah secepat itu.
Flashback
"Rani, Papa harap kali ini kamu mau nurutin permintaan Papa dan Mama untuk bercerai dengan Tristan !" Seru pak Erik.
__ADS_1
"Untuk apa kamu mempertahankan lelaki macam itu, Jika sekarang perempuan selingkuhan Tristan meninggalkannya belum tentu Tristan bener - bener akan kembali pada mu, Papa yakin jika dia akan mencari perempuan lainnya lagi" lanjut pak Erik.
"Benar nak, Mama ingin lihat kamu bahagia, di hargai sebagai istri dan di perlakukan baik oleh suami mu" sahut sang Mama.
"Tapi Mas Yoga juga kok Mam". bela Rani.
"Papa tanya, apa kamu benar - benar sangat bahagia selama menjalin hubungan rumah tangga dengan Tristan ?". Rani terdiam.
"Pasti kamu jawab bahagia kan demi membelanya, nyatanya setiap malam kamu sering menangis mengeluhkan sikapnya yang cuek terhadap mu. Papa tahu kalian hanya berpura - pura harmonis dan romantis di hadapan orang lain". lanjut pak Erik.
"Kamu tinggal bersama di kota berharap hubungan kalian akan lebih baik, tapi nyatanya Tristan sering meninggalkan mu ia berangkat sejak pagi dan pulang hingga larut malam" sambung pak Erik.
"Papa jangan so tahu".
"Papa tidak so tahu Rani, karena semenjak Papa curiga jika Tristan punya perempuan lain diam - diam Papa telah menyuruh orang untuk mengawasi kamu dan juga Tristan" ujar pak Erik.
"Maafkan Papa yang melakukan itu, Papa tak tega melihat putri satu - satunya Papa di sakiti" tiba - tiba pak Erik mengeluarkan air matanya.
Rani tertegun melihat sang Papa menangis, itu artinya Tristan benar - benar telah membuat sang Papa sangat kecewa dan juga sakit hati.
"Pa, Ma, Rani siap berpisah dengan mas Yoga" Lirih Rani, suaranya sangat berat untuk mengatakan hal tersebut.
"Kamu serius ?" tanya sang Mama seakan - akan tak percaya.
"Iya, tapi dengan satu Syarat Alea harus tetap bersama ku, jangan biarkan Mas Yoga mengambil Alea dari tangan ku walaupun hanya satu detik saja". lirih Rani seraya berderai Air mata.
Ketiganya berpelukan seraya menangis, Rani menumpahkan semua tangisnya dalam dekapan ke dua orang tua.
"Menangislah sekarang karena esok kebahagiaan akan selalu bersama mu nak" ujar sang Mama.
__ADS_1
Flsahback off
Hari mulai gelap, Rintik - rintik hujan pun mulai turun membasahi permukaan bumi, Tristan terus melajukan kuda besinya berharap agar cepat melewati hutan dan segera tiba di kota.
Ketika memasuki Apartemennya, suasana hening langsung terasa, biasanya Tristan akan mendapat sambutan Istri dan juga anaknya, namun itu hanya Tristan rasakan beberapa minggu saja, kini semuanya hanya tinggal kenangan.
Rani yang di anggapnya memiliki sifat yang lemah apa lagi tentang perasaan ternyata anggapanya salah, kini Rani mampu lebih tegas dan tegar, Rani tak lagi menunjukan Air matanya atau dia hanya pura - pura tegar, entahlah Tristan tak bisa menebak perubahan yang terjadi pada Rani.
Pandangannya di edarkan ke seluruh penjuru ruangan berharap ada sebuah kejutan dari anak istrinya, namun ruangan itu tetap hampa dan sepi tak ada celotehan sang putri yang merengek minta mainan dan di ajak jalan - jalan, tak ada lagi suara bawel Rani yang menyuruhnya makan agar tidak sakit, tak ada lagi yang bergelayut manja di tangannya merengek minta pergi bersama layaknya pasangan suami istri yang bahagia.
"Kenapa kamu jadi seperti ini Tristan" batin Tristan.
Waktu terus berganti, Tristan terus merasakan kehampaan hatinya, hidupnya seperti kehilangan arah memenjak dirinya dan Rani berpisah, namun setelah seminggu Rani mengajukan gugatan sampai sekarang Tristan belum juga mendapat panggilan untuk persidangan pertama.
"Tristan nanti kamu hadir gak ke acaranya pak Handoko ?" tanya Aji teman kerjanya.
"Ya Pasti datang dong, nanti kalau gak datang bisa - bisa langsung turun jabatan" jawan Tristan.
"Bener juga tuh, oh iya Anak - anak yang lain dia rencana datang bawa pasangan masing - masing loh, kamu bawa gak ??".
"Itu kejutan buat kalian nanti" jawab Tristan, namun perasaannya bimbang, dengan siapa ia pergi ke acara tersebut, dengan Rani dan Alea tak mungkin karena mereka tidak tahu jika Tristan sudah menikah dan punya anak.
"Sendiri pun tak masalah, yang terpenting aku hadir di acara tersebut" gumam Tristan seraya merapihkan berkas - berkas yang berserakan di meja tempat kerjanya.
Tristan berangkat ke pesta sendirian karena tak ada yang bisa di ajak untuk bisa mendampinginya, Rani dan Alea tidak mungkin apa lagi Kiara dia jauh berbeda kota dengannya.
"Mana kejutannya ?" tanya Aji yang melihat Tristan datang sendirian.
"Kau ini bisanya meledek saja" gerutu Tristan.
__ADS_1
"Kenapa Kiara gak di ajak ?" tanya Kevin.
"Mereka sudah putus" bisik Aji pada Kevin.