
Tristan semakin frustasi saat berkali - kali mengunjungi rumah Kiara namun rumah tersebut kosong, di tambah ia tak bisa menghubungi nomor Kiara karena nomornya telah di blokir oleh Kiara.
Sementara Rani tiap hari mengerengek meminta untuk di pertemukan perempuan bernama Kia dan selalu berkata siap di madu.
Poligami bukanlah hal yang mudah untuk di lakukan, harus mampu adil itu menjadi syarat jika akan berpoligami, di pikiran Tristan tak ada niatan sedikit pun untuk melakukan hal tersebut, karena ia tak ingin menyakiti perempuan.
Apa Tristan tak ingin menyakiti perempuan, lalu bagaimana dengan perasaan Rani saat dirinya menduakan nya, lalu bagaimana perasaan Kiara saat tahu ternyata lelaki pujaannya telah memiliki keluarga. apa itu bukan hal yang menyakitkan ?.
Penampilan Tristan kian hari kian berantakan,dia seperti kehilangan arah hidupnya.
"Tri cewek banyak bukan Kiara saja, di putusin cewek ya nyari lagi, lo itu laki" tegur seorang patner kerjanya.
"Lo bisa ngomong kaya gitu karena gak ngerasain apa yang gue rasain" sahut Tristan.
"Lo gak tahu kalau gue pernah di selingkuhin, awalnya gue juga mikirnya juga pendek rasanya ingin mati saja kala itu, tapi setelah gue pikir jika gue terpuruk terus menerus pasti mantan pacar gue ngetawain gue karen gue tak mampu hidup tampanya, dari situ gue mikir gue harus bangkit gue harus nunjukin ke dia bahwa gue bisa cari lagi yang lebih dari dia" jelas patner kerja Tristan.
"Cerita kita beda" sahut Tristan dan berlalu menuju ke toilet. Keluar dari toliet, Tristan sudah di tunggu oleh atasannya.
"Tri ikut ke ruangan saya".
"Baik pak".
Tristan berjalan di belakang bosnya, jarang - jarang bosnya memanggil dirinya, atau jangan - jangan Tristan telah membuat satu kesalahan.
"Duduklah" ucap sang Bos ketika dirinya masuk keruangan bosnya. "Saya sengaja memanggil kamu ke sini karena ada tugas untuk kamu" jelas sang Bos.
"Tugas ?!".
"Iya betul, saya akan menugaskan kamu untuk kerja di lapangan".
"Bapak serius ?".
"Saya serius kamu akan saya tugas kan di sana selama satu bulan mulai minggu depan, Nanti sekertaris saya akan mengirimkan berkas - berkas yang perlu kamu persiapkan dan juga pelajari".
"Baik pak, terima kasih".
Ini adalah kabar yang sangat membahagiakan, kinerja Tristan mengalami peningkatan sehingga dia di percaya untuk kerja di lapangan.
"Tadi muka kusut sekarang senyum - senyum sendiri, lo masih waraskan ?" tegur teman kerjanya.
__ADS_1
"Ahh lo syirik saja, gue lagi bahagia, gue dapat tugas kerja ke luar kota, itu artinya gue bisa kerja sambil healing" jelas Tristan.
"Lo serius".
"Iya lah, gue berangkat minggu depan".
"Jangan lupa oleh - oleh".
"Siap".
Tristan kembali fokus ke pekerjaannya, menyelsaikan berkas - berkas yang harus segera di laporkannya. saking fokusnya Tristan tak sadar jika waktu pulang telah tiba.
"Heyy ayo pulang, kerja mulu, kaya kagak stres iya" tegur seorang temen Tristan.
"Emang ini sudah jam berapa ?".
"Jam empatlah".
"Yang bener ?".
"Lihat saja jam di tangan mu".
Seperti hari - hari sebelumnya Tristan setelah pulang bekerja akan mampir terlebih dahulu ke rumah Kiara, namun hari ini tak di lakukannya, Tristan memilih langsung saja menuju ke apartemennya.
Tristan sudah mempunyai rencana untuk bisa mendapatkan Kiara kembali, sehingga ia tak terlalu pusing memikirakan Kiara yang tak dapat di hubunginya. Dirinya bertekad harus menyelesaikan masalah nya satu persatu.
Sementara Kiara baru saja tiba di kediamannya, dia merebahkan tubuhnya di kamar favoritnya, dia merasa sangat lelah hari ini setelah hampir seharian ia berada di pemakaman sang Ayah.
"Nak ayo makan dulu" teriak Mama Mona.
"Mandi dulu Mam" sahut Kiara, ia segera bangkit menuju kamar mandi, menyegarkan tubuhnya dengan guyuran air.
Selesai makan, Kiara dan Mama Mona duduk di ruang Televisi mereka menikmati siaran favoritnya.
"Nak lebih baik Mama tinggal di sini saja" Mama Mona kembali mengutarakan keinginannya.
"Kalau Mama di sini, Mama sendiran kalau Mama sakit siapa yang akan merawat Mama ?".
"Mama bisa jaga diri Mama baik - baik".
__ADS_1
"Tetap saja Kiara tak tenang jika meninggalkan Mama sendirian".
"Bagaimana jika Mama suruh Bi Limah kerja di sini, tinggal di sini nemenin Mama, kan Bi Limah tinggal sebatang kara, kerjanya juga serabutan juga" saran Mama Mona.
"Mama kenapa gak mau ikut Kiara ?". Mama Mona terdiam. "Mama ada masalah sama Om dan Tante, kan sudah Kiara bilang jika nanti kita pisah rumah, nanti setelah kita kembali ke sana kita cari rumah yang akan di kontrakan". sambung Kiara.
"Mama lebih betah tinggal di sini, karena tinggal di sini Mama lebih dekat dengan Ayah kamu".
Kiara terdiam, langkah apa yang harus di ambilnya, sejujurnya ia tak ingin berjauhan dengan sang Mama.
"Kalau gitu Kia batalkan saja kerja di sana" kata - kata itu meluncur begitu saja dari mulu Kiara tanpa berpikir panjang.
"Nak, sekarang kamu sudah dewasa, kamu harus mampu menentukan pilihan kamu dan jangan terpaku pada Mama".
"Mam, Kiara gak mau jauh dari Mama" Cairan bening pun berhasil lolos begitu saja.
Melihat hal tersebut membuat Mama Mona tak tega melihat putri kesayangannya, namun apa boleh buat ia lebih betah tinggal di sini.
"Nak coba saja dulu kerja di sana jika memang kerjaannya tidak cocok kamu bisa cari lagi, dan jika kamu betah kerja di sana, kan setiap weekend kamu bisa pulang ke sini"
"Tapi bagaimana dengan Mama ?".
"Mama akan baik - baik saja".
Pembicaraan tersebut mendapat kesepakatan jika Kiara tetap bekerja di sana dan sang Mama tinggal di sini, Kiara mencoba mendengarkan apa keinginan sang Mama, ia tak ingin membantah walaupun rasa berat jika harus berjauhan.
Baru saja Kiara memejamkan matanya ponselnya kembali berdering, lagi dan lagi ternyata Rani yang menghubunginya. kenapa dia selalu menghubungi Kiara atau dia sudah tahu semuanya. pertanyaan itulah yang terlintas kala Rani menghubungi Kiara.
Kiara membiarkan ponselnya berdering, tak ada niatan Kiara untuk menjawab panggilan tersebut, Kiara yakin jika Rani akan curhat masalahnya dengan Tristan dan ujung ujungnya membuat Kiara semakin merasa bersalah dalam masalah ini.
Setelah Rani berhenti menghubunginya, Kiara langsung menghubungi Angga.
"Ada apa Kia, kamu sudah ada jawabannya ?".
"Aku masih bingung, barusan juga Rani menghubungi ku namun aku abaikan" jelas Kiara.
"Apa Tristan juga masih menghubungi mu ?".
"Nomornya sudah aku blokir, namun kadang masih menggunakan nomor baru namun aku abaikan, sudah beberapa hari dia tak menghubungi dengan nomor barunya, mungkin dia mulai lelah" jelas Kiara.
__ADS_1