
"Ibu saja yang bicara dengan Angga ya" ucap Rani.
"Baiklah".
ibu mertuanya bangkit dan berjalan menuju kamarnya ia mengambil ponselnya untuk menghubungi Angga.
"Angga apa benar di kota Tristan punya wanita lain ?" tanya ibu mertua saat panggilanan teleponnya di jawab oleh angga.
Angga terkejut mendapat pertanyaan seperti itu dari ibunya Tristan, Dia mengira jika ibunya Tristan menghubunginya untuk menanyakan hutang kedua orang tuanya.
"Angga kenapa kamu diam, jadi benar Tristan punya wanita lagi di kota ?".
"A aku tidak tahu" Angga masih enggan mengungkapkan semuanya.
"Jangan bohong kamu, kalian tinggal bersama mana mungkin kamu tidak mengetahuinya" desak Ibunya Tristan. "Tristan sendiri sudah cerita jika dia punya wanita lain, bahkan dengan teganya dia telah menceraikan Rani".
Deg
Angga bener - bener terkejut dengan penuturan ibunya Tristan, bahkan ia tak menyangka jika Tristan akan menceraikan Rani secepat ini.
"Dasar kau lelaki tak tahu di untung, wanita seperti apa lagi yang kau cari" gerutu Angga dalam hati nya.
"Kenapa kamu diam saja, kamu pasti mengetahuinya kan ? cepat kasih tahu kami siapa wanita itu !!" desak Ibunya Tristan.
"Apa yang akan di lakukan jika kalian mengetahui wanita tersebut ?" tanya Angga penasaran.
"Sudah ku duga, pasti kamu telah mengetahuinya Angga, cepat beri tahu kami siapa wanita itu, kami tidak akan menyakitinya, kami hanya akan meminta pada wanita itu untuk menjauhi Tristan agar Tristan kembali pada Rani karena bagaimana pun di antara Tristan dan Rani ada Alea yang membutuhkan kasih sayang kedua orang tuanya yang utuh".
"Bodoh sekali kamu Angga kenapa berbicara seperti itu, Ahhh sekarang aku harus bicara apa ini" Gumam Tristan.
"Ayo Angga siapa wanita itu, kami janji tidak akan memberi tahu kalau kamu yang memberi tahu kami" pinta Ibunya Tristan.
"Maaf Bu, Nanti Angga hubungi lagi, Angga di panggil bos" Angga mematikan panggilannya secara sepihak, ia merasa beruntung sekali karena bos nya memanggil dirinya untuk datang ke ruangannya.
"Angga kasih tahu siapa nama wanita itu" pinta Ibunya Tristan, namun panggilan telah terputus. "Ahhh kenapa dia mematikan teleponnya" gerutu ibunya Tristan.
"Bagaimana bu ?" tanya pak Musa.
"Sepertinya Angga memang mengetahui semuanya, tapi dia ragu untuk memberi tahu kita, tadi saat dia ingin memberi tahu tapi dia di panggil oleh bosnya" jelas Ibunya Tristan.
__ADS_1
"Bu, Pak bagaimana kalau Mas Yoga telah mendaftarkan gugatan perceraian ke pengadilan ?" Rani yakin Tristan akan melakukan hal tersebut, karena Rani merasa Tristan benar - benar serius dengan wanita pilihannya di kota.
"Sepertinya dia belum sampai ke sama, karena tadi pagi dia bilang kerjaan kantornya masih banyak" jelas pak Musa.
"Oleh Karena itu sebelum Tristan ke pengadilan kita harus menemui perempuan itu terlebih dahulu". sambung ibunya Tristan.
"Jika harus menunggu Angga sepertinya belum tentu dia mau memberi tahu, bagaimana jika dia sudah dapat ancaman dari Tristan" jelas Rani.
"Lalu bagaimana ?" tanya pak Musa.
"Lebih baik kita ke kota, aku tahu alamat kantornya, lebih baik kita menemui orang kantor sana untuk menanyakan soal wanita tersebut" Saran Rani.
Pak Musa dan Istrinya pun setuju dengan saran dari Rani, Mereka pun akhirnya memutuskan untuk ke kota dengan menggunakan mobil Rani. sebelum berangkat Rani menghubungi ke dua orang tuanya.
"Mam, Rani Titip Alea, kemungkinan Rani tidak pulang".
"Kamu di mana, jangan berbuat nekad" terdengar jelas suara sang Mama sangat mengkhawatirkan kondisinya.
"Ahh Mama ini punya pikiran jelek sekali, Rani ada urusan Mam, jika urusan sudah selesai Rani akan segera pulang".
"Urusan apa Nak ?".
"Udah siap Bu, Pak ?" tanya Rani pada kedua mertuanya.
"Sudah" jawab mereka dengan Kompak.
Perjalanan ke kota cukup memakan waktu, Jika perjalanan lancar mereka akan sampai pada sore hari.
"Bu, pak, sepertinya kita sampai di kota sore hari , bagaimana kalau kita bermalam di sama" ujar Rani.
"Terserah nak Rani saja" jawab pak Musa.
Selama perjalanan menuju kota tak banyak kata yang keluar dari mulut mereka, Rani fokus di balik kemudi, walau di dalam pikiran nya berkecambuk tentang si wanita dan juga suaminya. sedangkan pak Muda dan Istrinya mereka hanyut dalam pikiran masih - masing.
Hujan deras menemani perjalanan mereka seperti alam mengerti tentang perasan Rani saat ini.
Rani dan juga kedua mertuanya tiba di kantor Tristan tepat ketika jam pulang kerja, hal itu sangat menguntungkan bagi Rani, karena akan sangat mudah untuk bertanya tentang suaminya.
"Itu Tristan !" Seru pak Musa.
__ADS_1
"Iya benar itu Tristan" sahut Istrinya pak Musa.
Terlihat dari sebrang jalan Tristan keluar dari tempat kerjanya dengan menggunakan motor ke sayanganya.
"Kita ikutin saja Tristan, ibu yakin jika dia akan menemui wanita itu"
"Jangan bu, bagaimana jika mereka tidak bertemu. katanya mereka satu kantor jika ingin bertemu kenapa tidak pulang bareng saja" ujar pak Musa.
"Bu, yang di katakan bapak itu ada benarnya juga, bagaimana jika Mas yoga tak menemui wanita itu, kan sia - sia. lebih baik ibu dan bapak tunggu di sini, Rani akan turun dan menemui orang dan bertanya dengan Mas Tristan" jelas Rani, kedua mertuanya pun setuju, awalnya Ibunya Tristan ingin ikut dengan Rani namun pak Musa langsung memberi kode agar menuruti perkataan sang menantu.
Rani turun lalu ia berjalan ke arah gerbang kantornya Tristan, dia menunggu orang yang di rasa akan tepat untuk menanyakan tentang sang suami.
"Apa aku tunggu Kiara saja, tapi bagaimana jika Kiara sudah pulang" gumam Kiara.
"Pak boleh tanya, kalau Mbak Kiara sudah pulang ?" tanya Rani pada Security yang sedang berjaga.
"Kiara yang mana ya ?" tanya balik sang security.
"Hmm. . " Rani terlihat kebingungan karena ia tak mengetahui nama lengkap Kiara atau pun Foto Kiara. "Orangnya cantik dan dia pakai kerudung" jelas Rani.
"Mungkin yang di maksud Mbak itu, neng Kia" ujar salah seorang security yang mendengar percakapan Rani.
"Oh Neng Kia mah sudah gak kerja di sini lagi atuh" jelas Security tersebut.
"Begitu ya pak, terima kasih atas infonya".
Rani menjauh dari tempat security berdiri, ada sedikit keraguan untuk menanyakan tentang suaminya pada Security.
Setelah lama berdiri, Rani memberanikan diri untuk bertanya pada salah satu Karyawan yang kebetulan lewat di hadapannya.
"Mbak boleh bertanya sebentar" ucap Rani pada dua orang wanita yang kebetulan lewat di hadapannya.
"Mau tanya apa mbak ?" tanya salah satu wanita tersebut.
"Hmmm . . . Kenal dengan Karyawan bernama Tristan tidak ?" tanya Rani dengan sedikit ragu - ragu.
"Tristan . . " ucap keduanya dengan kompak.
"Yang Ini orangnya" Rani menunjukan Foto Tristan yang berada di ponselnya.
__ADS_1