
"Kiara kenapa kamu bodoh sekali, kenapa kamu tidak mencari tahu terlebih dahulu, lihat Kiara atas perbuatan mu, satu keluarga hancur karena ulah mu" Kiara merutuki dirinya sendiri setelah selesai berbicara dengan Rani lewat sambungan telepon.
Rasa bersalah terhadap Rani kian besar, membuat Kiara merasa malu atas dirinya sendiri, dasar saja Kiara yang bodoh termakan rayuan si Tristan sehingga tanpa perpikir panjang ia langsung saja menerima Tristan.
Awalnya Kiara berpikir dengan dirinya pergi menjauh dari Tristan akan membuat hubungan Tristan dan Rani akan kembali seperti semula namun nyatanya apa yang di pikirkan Kiara salah besar, di saat dirinya pergi jauh ternyata Tristan malah menceraikan Rani.
Terlintas di pikiran Kiara tentang kejadian waktu di bandara, kenapa tiba - tiba ada orang yang menanyakan hubungannya dengan Tristan atau jangan - jangan orang itu adalah suruhan orang tua Rani atau suruhan Rani sendiri, tapi kenapa tadi Rani seolah belum yakin jika suaminya mempunyai wanita idaman lain. berbagai dugaan muncul di pikiran Kiara membuat ia kesulitan memejamkan matanya.
Pagi hari Kiara sudah siap untuk melamar kerja di tempat yang sudah tantenya katakan, walau pikirannya sedikit kacau namun ia berusaha menyembunyikannya dari keluarganya.
"Sepertinya kamu kurang tidur" tegur Mama Mona.
"Itu perasaan Mama saja".
Mona tak menjawab apa pun, ia tak ingin merusak mood anaknya yang ingin melamar kerjaan.
Kiara mengikuti tes wawancara dengan baik, namun sayang Kiara harus sabar menunggu selama tiga gari untuk mendapat jawaban di terima atau tidaknya.
Setelah selesai wawancara Kiara memutuskan untuk kembali ke rumah, karena sang tante sedang bekerja akhirnya Kiara memutuskan pulang dengan menggunakan taksi online.
Kedatangan Kiara di sambut Mona yang sedari tadi duduk di teras depan, semua penghuni rumah bekerja, hanya meninyakan Mona dan seorang pembantu yang datang pagi dan pulang pada sore hari.
"Sudah pulang nak, bagaimana ?"tanya Mona.
"Semuanya tadi berjalan lancar namun untuk pengumumannya harus nunggu tiga hari lagi" jelas Kiara seraya duduk di kursi.
"Semoga di terima".
"Amiin".
"Nak jika nanti kamu sudah kerja di sini, Mama pulang saja ya".
"Kok gitu sih, terus yang jaga Mama di sana siapa ?". sejujurnya Kiara tak ingin jauh dari sang Mama.
"Tapi gak enak kalau selamanya kita numpang di sini nak".
__ADS_1
"Untuk masalah itu sudah Kiara pikirkan, nanti jika memang Kiara sudah pasti di terima, kita akan cari kontarakan, kita akan memulai kehidupan yang baru di sini, untuk rumah yang di sama lebih baik kita kontarakan saja" jelas Kiara.
Mona terdiam, ia masih ragu dengan ke putusan anaknya, entah kenapa ia mempunyai perasaan yang tidak enak setelah mendengar rencana sang anak.
"Kiara ganti baju dulu Mam" ujar Kiara meninggalkan sang Mama yang masih asik duduk di teras depan.
*****
Rani pergi pamit untuk keluar rumah, ia tak berterus terang akan berkunjung ke rumah mertuanya karena ia yakin jika orang tuanya tahu mereka akan melarang keras.
Tak membutuhkan waktu lama untuk tiba di rumah mertuanya, Rani segera memarkirkan kendaraannya tepat di depan halaman rumah orang tua Tristan.
"Asalamulaikum" Rani mengucapkan salam, namun setelah berkali - kali mengucapkan salam tak ada jawaban dari dalam, Rani melirik jam di tangannya.
"Mungkin mereka masih di ladang" gumam Rani.
Rani memutuskan untuk menunggu saja, karena ia yakin jika sebentar pagi mertuanya akan segera pulang karena waktu sudah menunjukan pukul dua belas siang.
Benar saja dugaan Rani, setelah menunggu selama tiga puluh menit akhirnya pak Musa datang bersama sang istri.
"Sejak kapan nak ?" tanya istri pak Musa.
Rani langsung menyalami ke dua mertuanya dengan penuh rasa hormat, walaupun Rani memiliki sifat manja namun kedua orang tuanya selalu mengajarkan tentang sopan santun.
"Rani juga baru datang, Rani kira Ibu dan bapak sudah pulang" ujar Rani.
"Mana Alea, Ibu sangat rindu sekali dengan cucu ibu ?".
"Alea ada di Rumah, Rani datang ke sini karena ada sesuatu hal yang ingin Rani bicarakan".
"Ayo masuk, kita bicara di dalam saja" ujar pak Musa, ia seakan - akan paham apa yang akan di bicarakan Rani.
Rani di persilahkan duduk, sedangkan istri pak Musa pergi ke dapur untuk mengambil makanan dan juga minuman, awalnya Rani menolak karena ia tak akan lama, namun Istri pak Musa tetap saja pergi ke dapur.
"Hmmm. ." Rani terlihat kebingungan, ia bingung harus mulai bicara dari mana.
__ADS_1
"Nak Rani maafkan Tristan, kami juga tidak mengerti kenapa Tristan melakukan ini semua" jelas Pak Musa.
"Apa Tristan sudah cerita ?" tanya Rani penasaran.
"Iya di sudah cerita, maafkan anak ibu ya nak Rani, ibu janji akan melakukan apa pun agar Tristan kembali lagi dan meninggalkan wanita murahan itu".
Deg
Hati Rani kembali merasakan ke sakitan untuk ke sekian kalinya, ternyata benar apa yang di katakan oleh Papanya tentang Tristan yang mempunyai wanita idaman lain.
"Jadi Mas Yoga punya wanita lain di kota !" Seru Rani, ia tak dapat lagi membendung cairan beningnya.
"Kamu tidak tahu soal itu ?" tanya pak Musa. Rani mun hanya menggelengkan kepalanya seraya terisak.
Melihat hal itu, pak Musa sangat marah dan murka terhadap Tristan. Istrinya pak Musa mendekati Rani, ia tak tega melihat Rani menangis merasakan kesedihan yang mendalam.
"Maafkan ibu dan bapak yang tak bisa mendidik Tristan dengan benar" ucap istri pak Musa seraya membelai rambut Rani. mencoba menenangkan Rani agar ia berhenti menangis.
"Bu, salah Rani apa, kurang Rani apa" lirik Rani di sela isak tangisnya. "Ketika Rani ingin ikut ke kota mas Yoga melarangnya dengan dalih takut aku ke repotan dalam mengurus Alea tapi sekarang ternyata Mas Yoga punya wanita lain di sana, Rani harus bagaimana" ucap Rani dalam pelukan ibu mertuanya.
"Ini bukan salah mu nak, tapi salah Tristan dia mudah tergoda dan wanita itu malah mau dengan suami orang" ucap ibu mertuanya.
"Ibu tahu siapa wanita itu ?" tanya Rani.kedua mertuanya menggelengkan kepalanya dengan kompak.
"Bu kita harus ke kota kita harus cari wanita itu" ucap Rani seraya berapi - api. ia tak bisa mengendalikan emosinya.
"Di kota itu luas lalu bagaimana kita mencarinya ?" tanya pak Musa.
"Ibu ada ide bagaimana kalau kita minta bantuan pada Angga, sepertinya iya banyak tahu soal Tristan, kan mereka tinggal bersama" saran ibu Mertua.
"Ibu benar" sahut pak Musa.
ibu mertuanya bangkit dan berjalan menuju kamarnya ia mengambil ponselnya untuk menghubungi Angga.
"Angga apa benar di kota Tristan punya wanita lain ?" tanya ibu mertua saat panggilanan teleponnya di jawab oleh angga.
__ADS_1