
"Siapa bapak sebenarnya, kenapa bapak bertanya seperti itu pada anak saya, kenapa bapak tidak langsung bertanya saja pada Tristan nya langsung" Mama Mona mulai bersuara, ia tak tahan melihat anaknya di desak seperti itu.
"Saya hanya minta jawaban iya atau tidak jika kalian punya hubungan, tak perlu berbicara panjang lebar karena aku menghargaimu yang akan pergi, jika harus menjelaskan secara detail waktu kita tidaklah cukup" ucap seseorang tersebut dengan tegas.
"Anak saya memang dulunya mempunyai hubungan dengan Tristan tapi kini telah berakhir setelah kita mengetahui jika Tristan telah memiliki keluarga" jelas Mona, ia sangat geram sekali pada orang tersebut yang seolah - olah akan menyudutkan Kiara. "Sudah puas anda dengan jawaban saya, maka dari itu kami pamit pergi". Mama Mona lalu menarik tangan Kiara untuk segera pergi meninggalkan prang tersebut.
Setelah cukup jauh Kiara dan sang Mama berjalan akhirnya mereka memutuskam untuk berhenti sejenak melihat situasi takut jika oranh tersebut mengikutinya.
"Mam apa orang tersebut suruhan Mas Tristan ?" tanya Kiara.
"Hmm sepertinya bukan".
"Kenapa mama bisa yakin seperti itu ?"
"Jika ia adalah orang suruhan Tristan kenapa ia bertanya seperti itu sama kamu".
"Lalu".
"Entahlah Kiara, mama juga pusing memikirkannya. intinya kita harus waspada".
****
Kiara baru saja selesai menyegarkan tubuhnya, kini ia duduk di depan cermin. dan tiba - tiba terlintas pikirannya tentang Tristan.
"Kiara dia bukan milik mu, jangan kau rusak kebahagiaan orang lain jika kebahagiaan mu tak ingin di rusak juga oleh orang lain" gumam Kiara.
"Kak Kiara di tunggu Ayah dan Ibu di ruang tamu" ujar seseorang dari luar kamar, membuat Kiara tersentak dari lamunannya.
"Iya, kakak segera kesana" jawab Kiara dari dalam kamar.
Kini Kiara dan sang Mama sedang berada di rumah adik dari mendiang papanya, Kiara sengaja pergi untuk mencari ketenangan dan juga melupakan Tristan. ia sengaja pergi agar Tristan tak datang lagi menemuinya.
__ADS_1
"Kia, Om dan Tante merasa senang kamu mau berkunjung ke sini" ujar pak Surya yang merupakan adik dari mendiang papanya.
"Kiara dan Mama juga merasa senang bisa berkunjung ke sini, maaf Kiara dan Mama baru bisa datang sekarang" ujar Kiara.
"Anggap saja ini rumah kalian juga, jangan sungkan jika kalian membutuhkan sesuatu" ujar Bu Tuti yang merupakan istri dari pak Surya.
"Amel juga seneng akhirnya Amel punya teman di sini" Amel merupakan anak angkat dari pak Surya dan Ibu Tuti, Amel baru saja menginjak usia tujuh belas tahun. Pak Surya dan Bu Tuti di vonis tidak bisa memiliki keturunan sehingga mereka sepakat untuk mengadopsi anak.
Mona merasa senang karena di sambut baik oleh keluarga pak Surya, hal ini di luar dugaannya.
"Lupakan saja kejadian yang pernah terjadi, kita mulai lembaran baru, almarhum pasti senang melihatnya" pak Surya sangat mengerti tentang isi pikiran Mona.
"Om, sebenarnya kedatangan Kiara ke sini juga sekalian mau menanyakan lowongan kerja yang tempo hari tante bicarakan" jelas Kiara.
"Kia kamu serius ingin kerja di sini ?" Bu Tuti tak menyangka jika Kiara serius dengan pembicaraan mereka tempo hari. "Kia besok kamu bisa langsung datang ke sana, tante doakan semoga kamu di terima" ucap Bu Tuti yang bahagia.
Berada di lingkungan keluarga yang baru membuat Kiara dapat sedikit meluapkan permasalahannya. ia tak peduli bilang orang - orang menyebutnya lari dari masalah yang telah membelitnya, namun baginya ini adalah cara dirinya terbebas dari semua masalah yang datang menimpanya.
"kenapa dia menghubungi ku lagi, apa dia sudah mengetahui semuanya ?" Gumam Kiara "Atau jangan - jangan pria itu suruhan Rani". Melihat nama Rani tertera di layar ponselnya membuat Kiara gelisah.
"Angkat jangan yah" ujar Kiara.
Setelah di pertimbangkan baik buruknya akhirnya Kiara menjawab panggilan dari Rani.
"Maaf jika aku mengganggu mu, tapi aku bingung harus cerita dengan siapa lagi, entah kenapa aku merasa nyaman ketika bercerita dengan mu" ujar Rani dari sebrang telepon, namun yang membuat Kiara heran suara Rani seperti sedang menahan tangisnya.
"Kamu memangis ?" tanya Kiara ragu.
"Iya Kia, bagaimana aku tidak sedih mas Yoga telah menceraikan ku, tanpa penjelasan apa pun".
Deg
__ADS_1
Kiara tersentak kaget mendengar penjelasan Rani, bahkan kini ia bisa merasakan bagaimana perasaan Rani sekarang.
"Kamu serius ?".
"Iya, tadi pagi Mas Yoga tiba - tiba datang kemudian ia mengucapkan talak di hadapan kedua orang tua ku, bahkan sebelumnya kita tidak ada pembicaraan apa pun".
"Apa kamu tidak menanyakan alasannya ?" Kiara tahu Tristan melakukan ini demi mendapatkan dirinya.
"saat mas Yoga mengucap talak aku tak bisa berkata - kata, aku hanya bisa menangis, tapi entah kenapa Papa ku sangat yakin jika Mas Yoga mempunyai wanita lain di kota".
Deg
Permasalahan yang Kiara hadapi semakin hari semakin sulit di atasi apalagi kini menyangkut perasaan seseorang. bukan lagi tentang Kiara dan Tristan namun ada Rani dan juga keluarganya.
"Kia, apa kamu tidak mengetahui apa pun tentang Mas Yoga ketika sedang di kantor ?".
Kiara terdiam, bingung harus bicara apa pada Rani, karena Kiaralah yang menjadi wanita idaman lain Tristan.
"Apa yang akan kamu lakukan jika bener dia mempunyai wanita lain ?" Kiara terpaksa bertanya seperti itu agar tau sikap Rani terhadap wanita idaman lain suaminya.
"Aku hanya akan meminta wanita itu untuk menjauh dari suami ku, agar suami ku mau kembali bersama ku karena bagaimana pun di antara kita ada Alea yang sangat membutuhkan kasih sayang dari ke dua orang tuanya" Kiara merasa sedikit lega setelah mendengar jawaban dari Rani. yang Kiara takutkan adalah Rani akan melabraknya lalu kemudian memviralkanya, seperti kebanyakan wanita yang suaminya selingkuh.
"Jadi benar jika mas Yoga mempunyai wanita lain di kota ?" tanya Rani.
"Aku tidak tahu Rani, karena kami bekerja beda gedung hanya satu perusahaan saja" jelas Kiara.
"Kia aku bingung harus bagaimana sekarang, Mas Yoga tak bisa di hubungi dia telah membelokir nomor ku" Rani kini mulai kembali terisak.
"Tenangkan diri mu, ini sudah larut malam lebih baik kamu tidur, jika memang kamu tak bisa menghubungi Tristan datanglah pada orang tuanya". Kiara berusaha tenang.
"Bener kata kamu Kia, aku harus mendatangi ibu mertua ku, ahh kenapa tidak kepikiran harus nya tadi aki langsung pergi ke sana, terima kasih Kiara telah mendengarkan keluh kesah ku".
__ADS_1