
Kiara dan teman - temannya terkejut dengan ke datangan wulan yang secara tiba - tiba di ruangan mereka.
"Baik mbak".
Kiara mengekor mengikuti Wulan, secara Kiara belum tahu di mana letak ruangan pak Rey, dalam pikirannya ada apa lagi pak Rey memanggilnya.
"Kamu masuk saja, aku tunggu di sini" ujar Kiara.
Dengan perlahan Kiara mengetuk pintu ruangan pak Rey hingga terdengar jelas suara pak Rey menyuruhnya langsung masuk saja.
"Bapak memanggil saya ?".
"Silahkan duduk" pak Rey malah menyuruh Kiara duduk ketimbang menjawab pertanyaan Kiara.
"Jadi begini Klien kita kemaren tak jadi datang karena mereka mendapat musibah, jadi mereka meminta jadwal di udur, mereka memutuskan bahwa meeting akan di gelar di kafe hits nanti ketika jam makan siang, oleh sebab itu persiapkan diri kamu dari sekarang, dari sini kita nanti berangkat jam sebelas" Jelas pak Rey.
"Baik pak" jawab Kiara.
Kiara kembali ke ruangannya, mengerjakan tugas - tugasnya yang telah menumpuk di meja, untuk meeting hari ini Kiara lebih siap dari hari kemarin, ia lebih percaya diri.
Waktu terus berjalan, tepat jam sebelas Wulan datang memberi tahu bahwa mereka harus segera berangkat menuju kafe hitz. mereka di antar oleh sopir pribadi pak Rey. Kiara dan Wulan duduk di bangku belakang sedangkan pak Rey duduk di samping sang sopir.
jalanan tak begitu macet sehingga mereka tiba lebih awal dari perkiraan, Kiara dan Wulan terus mengekor pak Rey menuju tempat mereka Meeting.
"Sepertinya mereka masih dalam perjalanan, lebih baik kalian pesan saja minuman terlebih dahulu" ujar pak Rey ketika mereka sudah duduk di bangku masing - masing.
Kiara dan Wulan sama - sama memesan minuman orange jus untuk menyegarkan tenggorokan nya.
Orang yang di tunggu tak kunjung datang juga, terlihat pak Rey sudah gelisah dan juga seperti sedang menahan amarah, pasti ia merasa di permainankan jika mereka sampai tak datang lagi.
"Maaf kami terlambat, jalanan sangatlah macet" ujar seseorang membuyarkan lamunan pak Rey, Kiara dan juga Wulan.
__ADS_1
"Tidak apa - apa, saya mengerti karena ini waktu jam makan siang" pak Rey menyambut kedatangan para Klien dengan sangat ramah, sikapnya berbeda saat berbicara dengan Kiara.
"Perkenalkan, ini Wulan sekertaris saya, dan ini Kiara yang akan mempersentasikan kerja sama kita nanti" Ujar pak Rey pada kliennya.
"Kiara !!" suara yang sangat tak asing di telinga Kiara, ia pun menoleh ke arah sumber suara,betapa terkejutnya saat melihat orang yang di hadapannya.
"Kalian sudah saling mengenal ?" tanya pak Rey.
Kiara bingung harus menjawab apa, tak mungkin jika ia mengatakan mantannya, mau di taruh di mana muka Kiara saat pak Rey tahu bahwa dirinya berpacaran dengan suami orang.
"Iya kami dulu dekat pak, kita satu kantor" jawab Tristan.
"Saya tidak menyangka jika kamu kerja di sini Kia, kami sangat kehilangan mu di kantor" ujar pak Handoko yang merupakan mantan atasan Kiara.
"Kita mulai saja acara meetingnya" ujar pak Rey.
Selama Meeting berlangsung pandangan Tristan tak lepas dari Kiara, membuat orang yang mendapat tatapan tersebut pun menjadi merasa risih, namun Kiara bertekad hurus maksimal, ia ingin menunjukan pada Tristan jika ia bisa berdiri tegak walaupun tanpa dirinya lagi.
Kiara bersikap biasa saja, seolah - oleh dirinya dan Tristan tak pernah terlibat cinta, itu sengaja Kiara lakukan untuk menjaga privasinya di tempat yang baru, berbeda dengan Tristan, ia berusaha mendekati Kiara agar bisa bicara tentang permasalahannya.
"Kia, bisa kita bicara sebentar saja" pinta Tristan tanpa ragu walupun di sana ada pak Rey dan juga atasannya.
"Maaf sepertinya tidak bisa, saya sibuk dan harus segera kembali ke kantor banyak kerjaan yang harus segera di selesaikan" tolak Kiara.
"Pak boleh saya bicara sebentar dengan Kiara, hanya sebentar kok, saya janji akan mengantarkan ia kembali ke kantor" Tristan tak kehilangan akal, kini ia meminta persetujuan atasan Kiara, karena jika atasannya Kiara setuju pasti Kiara tak bisa menolaknya.
"Apa - apaan ini" batin Kiara yang kesal dengan ulah Tristan yang berbicara pada pak Rey.
"Hmmm baiklah, tapi tidak boleh lama - lama, karena Kiara harus kembali bekerja" ujar pak Rey.
Dalam hati Tristan bersorak riang mendengar jawaban pak Rey. "Aku harus bisa menyakinkan Kiara agar dia mau menunggu". batin Tristan.
__ADS_1
Pak Rey dan Wulan pergi meninggalkan kafe tersebut begitu pun dengan pak Handoko ia juga harus pergi karena masih ada urusan yang harus di urusnya sebelum kembali ke kantor pusatnya.
"Aku gak nyangka kita akan bertemu di sini, memang kita di takdirkan berjodoh, kemanapun kamu pergi pasti kita akan bertemu" ujar Tristan dengan bangganya.
"Katakan saja apa yang mau kamu bicarakan, waktu ku tidak banyak, apa kamu tadi tidak dengar apa yang di katakan oleh pak Rey" ujar Kiara dengan tegas.
"Kia, kenapa kamu mengakui semuanya pada Rani, kenapa kamu lakukan itu, aku tak ingin Rani menyakiti mu".
"Aku hanya ingin menyelesaikan semuanya, aku tak ingin berlarut dalam masalah ini, ya menang aku salah karena telah teledor memilih mu tanpa mencari tahu tentang dirimu terlebih dahulu, oleh sebab itu aku harus minta maaf karena aku salah pada Rani".
"Kia, kamu harus tahu aku telah menyerahkan Rani pada keluarganya, setelah aku kembalu dari sini aku akan urus surat cerainya, kita bisa menikah".
"Dengan segampang itu kamu bilang kita menikah ?!" Seru Kiara yang sangat geram dengan pernyataan Tristan.
"Bukan kah laki - laki tidak memiliki masa iddah ?".
Enak sekali cara Tristan berbicara, apa dia tidak memikirkan bagaimana dengan perasaan Rani dan juga Alea putri semata wayang mereka.
"Lalu Rani ?".
"Sudah ku bilang, aku tak mencintainya, aku hanya mencintai kamu Kiara !". Manis sekali rayuan seorang lelaki.
Kiara menyunggingkan senyum kecutnya, ia bener - bener muak dengan kalimat - kalimat yang terlontar dari Tristan, sudah tak ada lagi cinta di hati Kiara.
"Sudahlah, kembali lah pada anak dan Istri mu, mereka sangat membutuhkan sosok seperti mu".
"Kia apa aku salah memilih perempuan yang sangat aku cintai, memilih perempuan yang membuat hidup ku terasa berwarna ?".
"Cinta itu tak selamanya harus memiliki !!".
"Kia, Aku harus bagaimana lagi agar kamu mau mengerti tentang perasaan ini, apa aku harus mati agar kamu tahu betapa aku sangat mencintai mu" Tristan sangat terlihat seperti frustasi, ia bingung harus dengan cara apa lagi agar Kiara mau kembali padanya.
__ADS_1