Maaf

Maaf
Bab 42


__ADS_3

Pak Rey, Wulan dan Kiara baru tiba di hotel tempat mereka menginap. Kiara terpaksa mengahadiri acara pak Handoko karena tak ingin membuat pak Rey kecewa. mereka menginap di hotel yang sama dengan acara pak Handoko hanya saja berbeda lantai.


Hari masih sore, acara pun masih lama, Kiara memutuskan untuk pulang kerumahnya sebentar melepas rindu dengan sang Mama.


untung saja pak Rey mengizinkan Kiara untuk pergi menemui sang Mama.


"Mama . . " teriak Kiara saat baru tiba di kediamannya.


"Kamu pulang nak, kenapa tidak memberi tahu Mama" sambut Mama Mona.


"Kiara lagi ada acara Mam di kota ini, urusan kantor" jelas Kiara.


"Ayo masuk nak, ada hal yang ingin Mama bicarakan".


"Apa Mam ?" tanya Kiara penasaran, lalu mengikuti sang Mama masuk.


Mama Moma lalu menceritakan ketika Rani mendatangi rumahnya, sengaja Mona baru bercerita karena ia ingin berbicara langsung dengan putrinya tersebut.


"Kenapa Mama baru cerita ?".


"Mama ingin cerita langsung sama kamu".


"Apa Rani marah - marah sama Mama ?".


"Tidak nak, sepertinya Rani menyangka jika Mama tak mengetahui permasalahan kamu, Rani kaget ketika Mama sudah mengetahui semuanya, bahkan dia tak banyak berkata - kata, dia juga sebentar di sininya". jelas Mama Mona.


"Mulai sekarang Mama harus hati - hati jika ada orang yang datang ke rumah, menurut Angga keluarga Rani bukan orang sembarangan katanya, Maaf yahh jika Kiara telah membuat Mama malu".


"Iya Mama akan lebih hati - hati".


"Kiara takut Mama di apa - apain oleh mereka, apalagi Kiara sekarang jauh dari Mama".


"Mama bisa jaga diri kok nak, tak perlu khawatir di sini juga banyak tetangga dan ada juga Bi Limah".


Adzan magrib berkumandang, akhirnya setelah shalat magrib Kiara pamit harus kembali ke hotel karena acara pak Handoko akan di mulai jam tujuh malam.


Tiba di kamar hotel, Wulan sedang bersiap - siap, Kiara pun berganti pakaian, memakai sedikit make up membuat Kiara semakin cantik.


"Ayo Kia, pak Rey sudah menunggu di depan" ujar Wulan.


"Ayo".


Mereka bertiga berjalan beriringan menuju tempat pesta, tamu yang hadir sudah banyak rata - rata dari kalangan pembisnis, ada juga dari ibu - ibu sosialita yang merupakan teman dari istri pak Handoko.


Acara tersebut berlangsung sangat meriah, bisa di lihat dari suasana yang begitu ramai, ternyata pak Handoko dan istrinya mengundang banyak orang.

__ADS_1


"Kia kamu juga datang" Tiba - tiba Tristan datang menghampiri Kiara yang sedang duduk sendiri.


"Kamu Mas".


"Kia boleh aku bicara ?".


"Bicara apa lagi Mas, kamu dan aku sudah tak memiliki hubungan apa - apa lagi, tolong hargai keputusan ku".


"Kia, kamu harus tahu bahwa Rani telah mendaftarkan gugatan cerai ke pengadilan".


"Itu bukan urusan ku lagi Mas, mau cerai atau pun tidak aku tidak peduli Mas !! seru Kiara.


"Kia Apa kesalahan ku begitu besar sehingga kamu tak mau memaafkan ku ?".


"Aku sudah memaafkan mu Mas tapi tidak untuk kembali mas".


"Kia aku tahu kamu masih sangat mencintai ku".


"Terlalu percaya diri sekali kamu mas, maaf aku permisi dulu" Kiara berlalu meninggalkan Tristan.


Tristan memperhatikan Kiara yang sedang berbincang - bincang dengan Wulan, pak Rey dan juga Dilan seorang pengusaha muda yang bisnisnya sedang naik daun. hatinya sakit kala melihat Kiara tertawa bahagia dengan yang lain membuat Tristan di bakar api cemburu.


Pesta terus berjalan hingga larut malam, para tamu sedang berdansa dengan pasangan masing - masing, Kiara dan Wulan duduk pojokan seraya memperhatikan orang - orang yang sedang berdansa. tiba - tiba seorang pelayan datang dengan membawa dua gelas minuman jus orange, satu gelas di berikan kepada Kiara dan satunya lagi di berikan pada Wulan.


Pelayan tersebut datang di saat yang tepat menurut Kiara karena dirinya sedang merasakan haus namun malas untuk berdiri mengambil minuman, Kiara takut bertemu Tristan lagi.


"Haus banget yah" ujar Wulan saat melihat gelas di tangan Kiara sudah kosong.


"Iya nihh".


"Mau nambah gak ?".


"Nggak ahh".


Setelah minum kepala Kiara mendadak terasa berat, sehingga Kiara memutuskan untuk pergi ke toliet, namun baru tiba di pintu toilet tubuh Kiara seketika menjadi ambruk tak dasarkan diri.


Waktu sudah menunjukan tengah Malam, pak Rey datang menghampiri Wulan untuk mengajaknya kembali ke kamar hotel.


"Tunggu sebentar pak, Kiara sedang ke toilet dulu".


"Kanapa kiara belum kembali padahal sudah dari tadi loh" batin Wulan.


"Pak saya coba susul ke toilet ya".Wulan mencari keberadaan Kiara di toilet, namun keadaan Toilet itu kosong.


"Kiara ke mana ?" wulan lalu mencoba menghubungi Kiara namun nomornya sudah tidak aktif membuat Wulan semakin cemas dengan keadan Kiara.

__ADS_1


"Mana Kiara ?" tanya pak Rey ketika melihat Wulan hanya berjalan sendirian.


"Kiara tidak ada pak, sudah saya coba hubungi tapi nomornya tidak aktif" jelas Wulan.


"Apa dia sudah kembali ke hotel duluan ?".


"Sepertinya tidak pak, karena dari tadi Kiara bersama saya, terakhir dia izin ke toilet" jelas Wulan.


"Coba kamu hubungi lagi" titah pak Rey.


Wulan berkali - kali mencoba menghubungi Kiara namun nomornya tetap tidak aktif, Wulan semakin cemas, perasaannya menjadi tidak enak.


"Kita ke kamar hotel saja dulu, kali saja dia sudah ada di sana".


"Kalau tidak ada bagaimana ?"


"Kita lapor polisi saja"


"Tapi kan belum ada dua puluh empat jam, mana mungkin polisi mau memprosesnya".


"Sudahlah kita balik ke kamar hotel saja, semoga saja dugaan kita benar jika Kiara sudah pulang duluan".


Pak Rey dan Wulan pamit pada yang punya acara, mereka harus pergi sebelum acaranya selesai karena harus mempersiapkan diri karena besok pagi - pagi sekali mereka sudah harus kembali.


Tiba di kamar hotel, Wulan mencari keberadaan Kiara, setiap menjuru ruangan tak luput dari pencarian Wulan, namun Kiara tak ada di sana.


"Pak Kiara tidak ada di sini" ujar Wulan.


"Kemana kita mencarinya, Kiara harus segera ketemu bagaimana pun besok pagi kita sudah harus kembali".


"Hmmm kita menuju pengelola hotel saja utuk melihat rekaman cctv" usul Wulan.


"Tapi ini sudah tengah malam".


"Kita coba saja pak".


Wulan dan Pak Rey menuju meja resepsionis untuk menanyakan prihal rekaman cctv di sekitaran tempat di gelarnya acara pak Handoko.


"Maaf pak kami tidak bisa memberikannya tanpa alasan yang jelas dan kami juga harus mendapat persetujuan manager hotel ini" jelas salah satu resepsionis.


"Tapi kami sangat membutuhkannya, teman kami hilang bahkan nomornya tak bisa di hubungi" ujar Wulan.


"Ini sudah peraturan dari hotelnya pak, bu".


"Ada apa ini ?" suara bariton tersebut membuat semuanya langsung menoleh ke arah sumber suara.

__ADS_1


__ADS_2