Maaf

Maaf
Bab 07


__ADS_3

Sinar mentari pagi yang masuk lewat celah jendela telah membangunkan Rani dari tidurnya, saat melirik ke tempat tidur sang suami ternyata sudah kosong.


"Mungkin dia sudah bersama Alea" ucap batin Rani.


Sudah menjadi kebiasaan jika Tristan berasa di rumah ia akan bangun pagi dan langsung mengajak Alea bermain atau hanya sekedar jalan - jalan keliling komplek rumah atau ke taman.


Bangkit dari tempat tidurnya Rani langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


"Sudah lama kamu tak menyentuh ku" gumam Rani seraya mengguyur seluruh tubuhnya, ada rasa sakit di hatinya tatkala mengingat Tristan selalu menolak keinginannya saat di ajak bercinta, Tristan selalu membuat alasan yang membuat Rani tak lagi mengajaknya.sebagi wanita yang normal Rani juga menginginkan sebuah kepuasan batin, bisa di hitung sejak menikah mereka hanya beberapa kali melakukannya apalagi setelah hadirnya Alea.


Selesai mandi ia pun menuju meja Rias, saat hendak mengambil sisir tiba - tiba selembar kertas jatuh ke lantai.


"Kertas apaan ini" gumam Rani seraya mengambilnya.


Karena penasaran akhirnya Rani membuka lipatan kertas tersebut kemudian membacanya secara perlahan.


"Maaf aku harus pergi tanpa pamit terlebih dulu pada kamu, Alea dan juga orang tua kamu, aku pergi ke kota untuk kembali bekerja, tak mungkin aku lama - lama meninggalkan kerjaan, nanti kinerja ku jelas di mata bos, Jika orang tua mu bertanya kenapa aku tidak pamit bilang saja aku harus ke kota karena ada kerjaan yang tak bisa di tinggalkan atau di wakilkan, aku akan kembali minggu depan. jaga Alea baik - baik, jika ada sesuatu yang terjadi pada Alea langsung hubungi nomor aku saja, ponsel ku sudah di perbaiki".


Itulah isi surat yang di tulis Tristan sebelum pergi meninggalkan rumah tersebut, ia sengaja menulis itu agar Rani tak kembali datang kembali ke kota untuk menemuinya.


"Aku tahu Mas sebenarnya kamu menghindar dari orang tua ku, aku paham jika kamu menikahi ku karena sebuah paksaan, tapi lihatlah kedua orang tua ku menikah karena paksaan tapi mereka bahagia sampai sekarang, aku berharap semoga hubungan kita seperti Papa dan Mama" gumam Rani.


Setelah semua beres Rani keluar kamar untuk sarapan, di meja makan ke dua orang tuanya sudah menunggu.


"Mana Tristan ?" tanya Sang Papa.


"Mas Tristan tadi pagi sudah berangkat ke kota, ada kerjaan yang tak bisa di tinggalkan" jawab Rani.


"Alah itu alasan saja !!" Seru sang Mama.


Rani tak menyahuti ucapan sang Mama, ia malas untuk berdebat dengan kedua orang tuanya yang berujung nanti dirinya di ceramahi habis - habisan.


"Kenapa kamu makan terburu - buru ?" tanya sang Mama.


"Aku lupa mah ada janji sama tetangga rumah, aku titip Alea Ma" ucap Rani seraya berlari kecil pergi meninggalkan ruangan makan.


"Mau ke mana dia ?" tanya Papanya Rani.


"Tadi Rani sudah bilang ada janji dengan tetangga rumah" jawab Mamanya Rani.

__ADS_1


"Suami dan Istri sama saja" umpat Papanya Rani.


Setelah mengetahui sang suami pergi tanpa izin, Rani jadi semakin penasaran dengan kehidupan sang suami di kota, karena rasa penasaran akhirnya Rani memutuskan untuk menyelidiki sang suami.


...πŸ₯€...


Perlahan Kiara kembali bisa tersenyum, apalagi sudah berhari - hari tak bertemu dengan Tristan, ia merasa lega karena kini Tristan tak lagi mengganggu kehidupannya, Kiara mun bertekad bangkit dan memulai hari yang baru.


"Ceria sekali anak Mama" ucap Mona seraya membelai rambut sang anak.


"Iya dong harus ceria, oh iya Mam Kiara juga bersyukur karena Kiara di Promosikan untuk naik jabatan di kantor". ujar Kiara seraya tersenyum.


"Kamu serius nak ?".


"Iya Mam".


"Semoga kamu beneran naik jabatan sayang, jika Ayah mu masih ada pasti akan bangga sekali pada mu nak".


"Nanti jika Kia libur kita ke makam Ayah ya".


"Iya nak".


Selesai sarapan Kia pun bersiap untuk berangkat bekerja, hari ini ia tak membawa motor kesayangannya, karena hari ini ia akan di jemput oleh seseorang.


"Nunggu jemputan".


"Hah jemputan !!, siapa ?".


"Temen Mam, Biasa aja kali ekspresinya" goda Kiara.


Ketika sedang berbincang - bincang dengan sang Mama terdengar suara motor berhenti di depan pagar rumah Kiara.


"Itu jemputan kamu ?" tanya Mama.


"Ia sepertinya itu" jawab Kiara seraya bangkit dari tempat duduk dan berjalan menuju pagar rumah.


"Asalamulaikum Sayang" ucap seseorang dari balik pagar rumah Kiara, seseorang tersebut tampak bahagia karena Kiara menyambut kedatangannya.


"Hah . . Kamu !!" Kiara mengentikan langkahnya ketika tahu siapa yang datang.

__ADS_1


"Itu bener temen kamu nak ?" tanya Mona saat melihat Kiara mengentikan langkahnya lalu mundur secara perlahan.


"Kita harus bicara Kia" ucap seseorang tersebut.


"Tristan !!" Seru Mona saat melihat sosok Tristan sedang berdiri di depan pagar rumahnya.


"Nak ini yang akan jemput kamu ?" tanya Mona, namun Kiara masih diam berdiri dengan sesekali mundur menjauh dari Tristan.


"Mam, kita harus bicarakan ini semua, aku yakin Kia masih sangat mencintai ku, kia hanya kecewa saja karena aku tak jujur padanya sejak awal tentang kehidupan ku" ucap Tristan.


"Tristan kok kamu ada di sini" Suara bariton yang membuat Tristan terkejut.


"Kamu yang sedang apa di sini ?" tanya Tristan balik.


"Aku sudah janjian akan berangkat bareng ke kantor dengan Kia" jawab seseorang dengan senyum kelicikan.


"Apa ?!!" Tristan kembali terkejut dengan pernyataan seseorang tersebut.


"Kalau tidak percaya tanyakan saja pada Kia".


"Kia apa itu benar ?" tanya Tristan.


"Iya aku memang sengaja minta tolong Angga untuk menjemput ku, karena motor ku sedang di perbaiki" jawab Kiara, entah punya kekuatan dari mana Kiara berbicara seperti itu. Angga pun tersenyum puas mendengar jawaban dari Kiara.


"Kenapa harus dia yang kamu minta tolong, kenapa kamu tidak menghubungi ku saja, aku siap mengantar kamu ke mana saja" ucap Tristan. "Sana kamu berangkat duluan,Kiara sudah ada aku dan aku yang akan mengantarnya ke kantor" Tristan mengusir Angga.


"Angga aku bareng kamu yah" Kiara tak menghiraukan omongan Tristan. Setelah pamit pada sang ibu Kiara langsung menuju tempat Angga parkir motor.


"Aku duluan takut telat" ucap Angga pada Tristan.


"Sial, pasti si Angga sengaja memanfaatkan situasi ini biar bisa mendapatkan perhatian Kiara" Gumam Tristan, Hatinya terbakar cemburu saat melihat wanita yang di cintainya jalan bersama pria lain.


Setelah Angga dan Kiara sudah tak terlihat lagi, Tristan pamit pada Mona ia juga tak ingin membuat nama baik di kantornya semakin buruk.


Hari ini Kiara bekerja dengan penuh semangat, banyaknya pekerjaan yang harus di kerjakan membuat Kiara lupa akan kejadian tadi pagi. saat sedang fokus bekerja tiba - tiba ponselnya berdering.


"nomor baru angkat apa jangan ya" gumam Kiara.


Karena penasaran akhirnya Kiara menjawab panggialan tersebut.

__ADS_1


"Apa benar ini dengan Kiara ?" tanya seseorang dari sebrang telepon.


...🍿🍿🍿🍿🍿...


__ADS_2