Maaf

Maaf
Bab 12


__ADS_3

"Jawab Tristan !!" bentak pak Musa.


"I i iya Pak, Bu" Tristan kini telah jujur pada kedua orang tuanya, jika salah satu alasan dirinya ingin berpisah dengan Rani karena ada wanita lain di hatinya.


Pak Musa lagi - lagi ingin menghajar Tristan, ia seperti kesetanan saat mendengar pengakuan dari Tristan jika ia punya wanita lain, dan untung sang istri dapat menenangkanya.


"Nak, kenapa kamu melakukan ini semua, apa salah Rani ?" tanya sang ibu.


"Bu apa aku salah jika aku ingin hidup bahagia dengan wanita yang bener - bener aku cintai ?" Cair bening pun mengalir dari sudut mata Tristan.


"Tapi bukan begini caranya" ujar ibunya Tristan.


"Kamu puas dengan semua ini, ladang peninggalan kakek dan nenek kamu akan di sita oleh keluarga Rani, kita akan menjadi pengangguran !!" Pak Musa terlihat begitu geram dengan tingkah sang anak.


"Pak, bu harta itu mudah di cari, jika memang itu ladang rezeki kita suatu saat juga akan kembali lagi ke kita. satu pintu rezeki tertutup maka seribu pintu rezeki lainnya akan terbuka yang terpenting kita itu harus berusaha" jelas Tristan. "Untuk apa kita bergelimang harta jika hidup kita hanya dalam tekanan" sambung Tristan.


"Sudah di kasih apa saja kamu oleh wanita itu hingga kamu berani berbicara seperti itu pada orang tuamu !" Seru pak Musa kesal.


Ladang itulah yang menghidupi keluarga Tristan bahkan dari hasil ladang tersebut Tristan bisa bersekolah tinggi, sejak mendapat bantuan dari keluarga Rani, pak Musa harus terima jika pak Erik yang akan memborong hasil panen mereka dengan harga jauh dari kata layak, namun pak Musa tak ada pilihan lain, selain menerimanya dari pada tak mendapatkan apa pun.


"Jangan libatkan dia dalam permasalahan ini, dia bukan perempuan seburuk yang bapak dan ibu pikirkan " ucap Tristan membela Kiara.


"Mana ada perempuan baik yang mau merebut suami orang !" seru Ibunya Tristan. "Nak pikirkan lagi tentang keputusan mu ini, ingat di antara kamu dan Rani ada Alea, ia masih kecil dan butuh orang tua yang lengkap" sambung ibunya Tristan.


Anak - anaklah yang akan menjadi korban perceraian ke dua orang tuanya, kadang tak semua akan mengerti atau pun paham dengan istilah perceraian, baginya adalah selalu berada di samping ke dua orang tuanya kapan pun dan di mana pun.


Keputusan Tristan sudah tak bisa di ganggu gugat lagi, walaupun ia telah mendapat ancaman dari pak Musa tak membuat ia gentar, di hatinya hanya ada Kiara yang sebentar lagi akan di jadikan istrinya.

__ADS_1


"Pak bagaimana ini" sang ibu nampak sangat khawatir dengan keputusan sang putra. "bagaimana kehidupan kita ke depannya" Sambung ibu Tristan.


"Bapak juga pusing" pak Musa memijit kepalanya yang terasa mau pecah memikirkan sikap sang putra.


"Sepertinya kita harus segera bertindak dengan cara menemui perempuan itu" saran ibunya Tristan.


"Kita tidak tahu siapa wanita itu, bapak tak ingin tahu wanita itu juga. yang harus kita pikiran adalah bagaimana menghadapai keluarganya pak Erik". pak Musa tak bisa membayangkan bagaimana marahnya sang besan jika tahu menantunya mempunyai wanita idaman lain.


"Tadi saja anak buahnya sudah semena - mena dengan kita" sambung pak Musa. ia tampak sangat begitu cemas menanti amukan sang besan.


"Sudah ku bilang pak, mereka hanya memanfaatkan kita saja, salah satu alasan ku ingin pisah dari Rani karena tak ingin melihat ibu dan bapak di tindas oleh pak Erik" tiba - tiba Tristan datang ke kamar kedua orang tuanya.


"Diam kamu, tahu apa soal beginian !" seru pk Musa.


"Pak, Bu, seandainya nanti setelah resmi bercerai aku ingin ibu dan bapak ikut aku ke kota, di sana kita memulai kehidupan baru" saran Tristan.


"Jangan bawa Kiara dalam masalah ini" bela Tristan.


"Jadi wanita itu bernama Kiara" sahut sang Ibu. Tristan menganggukan kepalanya pelan.


Tak ada lagi pembicaraan, akhirnya Tristan memutuskan untuk kembali beristirahat, ia harus menyiapkan mental demi menghadapi keluarga Rani nanti.


Pov Rani


Hidup ku serasa di sambar petir di siang bolong, tanpa ada asap atau pun api dan tanpa masalah apa pun tiba - tiba Mas Yoga suami ku pulang kerumah dan berbicara ingin mengakhiri rumah tangganya di hadapan kedua orang tua ku.


Rumah tangga yang ku bangun dengan segala perjuangan dan ku jaga dengan penuh cinta dan kasih sayang itu hancur dalam sekejap, tanpa ada pembicaraan terlebih dahulu dengan ku tiba - tiba Mas yoga menyerakan ku kembali pada Mama dan Papa.

__ADS_1


"Apa salah ku Mas" lirih ku di sela - sela isak tangis.


Di saat kedua orang tua ku marah dengan keputusan suami ku, lidah ku kelu untuk membelanya, bahkan tubuh ini pun terasa sangat kaku saat ingin melindungi suami ku dari amukan Papa.


Aku membiarkan suami ku pergi dengan begitu saja, seolah aku pasrah dengan ke putusannya, nyatanya aku syok dengan hal itu hingga pikiran ku tak bisa berfungsi dengan baik.


"Pa lakukan apapun asalkan jangan biarkan Mas Yoga menceraikan ku, aku tak ingin jadi janda, kasian Alea Ma, Pa" rengek ku pada ke dua orang tua ku.


Cinta ku yang besar pada Mas Yoga membuat aku gelap mata sehingga aku meminta pada ke dua orang tua ku untuk melakukan apa pun demi mendapatkan Mas Yoga, sekarang pun aku akan berusaha mempertahankan rumah tangga ku.


"Untuk apa lelaki macam itu, lebih baik kamu cari saja lelaki lain !!" seru Papa Ku, dari dulu memang beliau tidak begitu menyukai suamiku.


"Aku hanya ingin Mas Yoga !!" teriak ku lantang. rasanya tak rela jika Mas Yoga ku jatuh ke pelukan wanita lain.


"Jangan bodoh Rani !!" Seru Papa. "Berhenti menangisi lelaki seperti itu, lihat lelaki yang kamu perjuangan akhirnya seperti itu, Papa yakin jika dia di kota itu punya selingkuhan".jelas Papa ku.


Ada rasa nyeri di hati saat Papa berbicara jika suami ku mempunyai wanita lain, apa mungkin ia seperti itu ? rasanya tak mungkin ia melakukan hal menjijikan seperti itu, aku yakin jika penyebab suami ku menceraikan ku karena kedua orang tua ku sering berbuat semena - mena terhadap mertua ku.


"Mas Yoga tidak ada perempuan lain !!" seru ku. "Aku tau Mas Yoga melakukan ini semua karena Papa sering berbuat semena - mena terhadap mertua ku, jika aku di posisi Mas Yoga aku pun akan melakukan hal yang sama seperti Mas Yoga" Aku sering mendengar keluh kesah Suami ku saat Papa ku memborong hasil panen dengan harga yang sangat rendah.


"Kamu itu buta Rani, sudah jelas dia menyakiti mu, masih saja kau bela !!" Seru Papa.


Entah mengapa Papa seperti sangat yakin jika Suami ku memiliki wanita idaman lain. "Apa Papa diam - diam menyelidiki kegiatan suami ku" gumam ku dalam hati.


...🍿🍿🍿🍿🍿...


Haii para readerr author kembali nih buat kalian semua, semoga kalian setia menunggu kelanjutan dari cerita ini.

__ADS_1


__ADS_2